Selesai makan malam Dinar dan orang tuanya kembali duduk bersantai di ruang tamu sambil membahas rumah yang akan ia beli itu. Dinar meminta bantuan Mama dan Papanya untuk menyiapkan dokumen-dokumen untuk melengkapi surat-surat pembeliann esok hari.
Dana memang seratus persen dari kerja keras Dinar selama ini. Dinar enggan menerima satu peserpun uang pemberian orang tuanya dengan dalih dirinya sudah cukup anggaran melunasi langsung komplek perumahan tersebut tanpa perlu mendapatkan subsidi dana dari kedua orang tuanya. Anak tunggal Nisaka dan Adam benar-benar membuktikan diri bahwa dirinya mandiri, serta mampu mencukupi kebutuhannya sendiri tanpa merepotkan kedua orang tuanya.
Bahkan, Dinar sampai membelikan beberapa kebutuhan pangan di rumah orang tuanya setiap tanggal satu di tiap bulannya sebagai suplaian makanan darinya sebagai seorang anak yang ingin membanggakan kedua orang tuanya.
“Ma, Mama masih simpan semua dokumen-dokumen penting aku kan?” tanya Dinar.
“Semuanya ada di laci di dalam kamar kamu Nar. Memangnya apa saja yang kamu butuhkan?” tanya Nisaka.
“Ya surat-surat standard aja sih Ma kaya KTP Dinar, KTP Mama sama Papa, Kartu Keluarga kita, itu yang penting sih Ma,” ucap Dinar.
Teruntuk Dinar yang masih berada satu Kartu Keluarga dengan kedua orang tuanya, maka kartu pengenal Adam dan Nisaka juga diperlukan dalam serah terima rumah dan pembayaran secara sah di mata hukum sebagai pertanggungjawaban nantinya. Belum lagi kenyataan dirinya masih seorang single di usianya sekarang ini.
“Ya itu semua ada di kamarmu. Ayo kita siapkan sekarang supaya besok tidak buru-buru,” ajak Nisaka.
Dinar menuruti ajakan Nisaka dan berjalan menuju kamarnya. Mereka meninggalkan Adam di ruang tamu yang sedang menonton televisi. Di dalam kamar Dinar, Nisaka membantunya menyiapkan surat-surat penting yang tadi ia sebutkan. Nisaka memasukkan mereka ke dalam sebuah amplop coklat dan meletakkannya di atas meja di samping tempat tidur Dinar.
Lebih baik semua dipersiapkan sedari awal, agar tidak ada satupun yang terlupakan ketika Dinar sudah berada di sana untuk melakukan transaksi pembelian satu unit perumahan di Blok C. Komplek perumahan tak jauh dari tempat-tempat usahanya, membuat Dinar merasa dimudahkan dengan jarak tempuh yang terbilang relative tidak menguras waktu perjalanan.
“Semua sudah disiapkan ya, besok jangan lupa dibawa,” pesan Nisaka.
“Siap Ma. Terima kasih ya Ma,” ucap Dinar sambil merangkul mamanya.
“Iya sama-sama. Sekarang lebih baik kamu tidur karena seharian tadi kamu habis membereskan klinik kan?” kata Nisaka.
“Iya Ma Dinar memang merasa lelah sekali malam ini. Dinar langsung istirahat ya Ma,” pamit Dinar.
Tak lupa Nisaka mengingatkan Dinar untuk mengkonsumsi supplement sebagai daya tahan tubuh agar Dinar tidak tumbang. Setelah itu barulah Nisaka meninggalkan Dinar untuk tidur dan keluar dari kamar putri tercintanya. Sekembalinya Nisaka dari kamar Dinar dia mengajak Adam, suaminya untuk beristirahat juga karena hari semakin larut. Mereka harus bangun pagi karena Dinar akan mengajak mama dan papanya ke perumahan Werkudara.
Sementara di tempat lain, tepatnya di kediaman Renjana kembali terdengar pertengkaran dari dalam rumah berlantai dua tersebut. Pertengkaran bermula ketika Linda dengan sengaja menunggu kepulangan Renjana, suaminya di ruang tamu dengan posisi lampu dimatikan agar keberadaan dirinya tak diketahui oleh Renjana. Begitu laki-laki itu membuka pintu dan menyalakan lampu Linda langsung menyambutnya dengan segala tuduhan yang tidak jelas.
Manik mata Linda mengamatinya secara lekat, Renjana merasa dirinya diperlakukan seperti seorang lelaki yang tertangkap basah sedang berselingkuh dengan wanita lain di belakang istrinya.
“Darimana saja kamu jam segini baru pulang Mas?” tanya Linda ketus dengan suara yang cukup tinggi.
“Dari kantorlah, memangnya mau dari mana lagi?” jawab Renjana sudah mulai malas.
“Mana ada dari kantor sampai jam segini? Kamu pikir aku bodoh?” bentak Linda.
“Mau kamu apa sih? Kamu tanya dan sudah ku jawab tapi masih aja salah, lalu aku harus jawab apa?” tanya Renjana sambil membuka jasnya dan meletakkannya di kuri yang berada di meja makan.
Linda menyusul suaminya yang sedang menuangkan minum di meja makan. Bukannya menyuguhkan sang suami dengan senyum dan air putih dia malah menyambut Renjana dengan tuduhan tak jelas serta langsung memeriksa jas yang tadi dilepaskan oleh suaminya. Kegilaan Linda semakin menjadi-jadi, wanita itu berkecimpung di dalam sugesti buruk yang dia ciptakan sendiri.
“Sudahlah Mas jawab saja dengan jujur, Mas dari mana sampai selarut ini? Ditelepon dari tadi juga susah, tidak ada jawaban!” tanya Linda sambil mengangkat jas Renjana.
Renjana menatap istrinya, kepalanya menggeleng lemah mendengarkan pertanyaan tidak masuk akal dari sosok wanita yang telah dia pilih menjadi pendamping hidupnya.
“Astaga Linda ... harus berapa kali aku jawab, aku dari kantor. Tadi habis bertemu klien di luar lalu kembali lagi ke kantor mengambil berkas untuk besok, makanya aku pulang terlalu malam,” jelas Renjana lagi.
Bukannya mempercayai ucapan Renjana Linda malah semakin menjadi menuduh Renjana habis berkencan dengan seorang wanita. Karena Linda menemukan wnagi perfume perempuan di jas yang ia kenakan. Linda melempar jas kebesaran milik suaminya, matanya berkaca-kaca menahan tangis.
“Kamu bohong Mas!” bentak Linda.
“Bohong apa lagi?” balas Renjana dengan suara yang mulai meninggi.
Siapapun lelaki akan merasa disudutkan oleh pertanyaan istrinya yang selalu saja menuduh tentangnya berselingkuh. Renjana rela mengurangi jam tidurnya demi memberikan kehidupan layak dan nyaman bagi Linda. Akan tetapi Renjana tidak akan pernah rela apabila kesetiaannya dipertanyakan oleh sang istri.
Renjana memiliki komitmen dalam berhubungan, dia tidak akan berlaku curang, terlebih dia menikahi Linda karena Renjana mencintai wanita itu. Lantas apa alasan Renjana sampai tega berselingkuh di belakang Linda? Tentu saja tidak ada, semua stigma negative perihal perselingkuhan Renjana berasal dari pemikiran Linda yang selalu saja menaruh curiga terhadap suaminya sendiri.
“Parfume siapa ini?” tanya Linda sambil mneyodorkan jas milik Renjana tepat di depan wajah sang suami.
“Parfume apa?” tanya Renjana bingung.
Ocehan Linda semakin lantang dan tak berarti membuat kepala Renjana ingin pecah. Sudah berkali-kali dijelaskan bahwa dia habis bertemu klien dan pulang terlalu larut tapi masih saja dia dibilang berbohong. Beberapa parfume memang memiliki kandungan menyengat, menempel dengan mudah saat mereka tanpa sengaja bersenggolan.
“Mas sudah jelas-jelas ini wangi parfume wanita kenapa kamu masih saja mengelak? Memang wanita mana lagi yang kamu ajak berkencan sampai larut begini hah?” desak Linda dengan suara yang sangat lantang.
“Astaga Linda, aku tidak berkencan dengan siapapun! Hanya karena masalah parfume lalu kamu tuduh aku selingkuh?” tanya Renjana.
“Aku tidak akan menuduhmu jika tidak ada bukti. Tapi inilah buktinya!” Linda kembali menyodorkan jas Renjana dan melemparnya ke arah suaminya berdiri.
Begitu jas sudah di tangan Renjana barulah dia ingat bahwa tadi dia memang meminta parfume Nadia saat ingin bertemu klien karena parfume milikny tertinggal di rumah. Tapi rasanya percuma saja dia menjelaskan hal itu pada Linda, karena tentunya istrinya itu tidak akan mempercayainya begitu saja. Apakah perlu Renjana sampai meminta rekaman CCTV di ruangan tempat dirinya meminta parfume salah seorang rekan kerjanya?
Mengingat hari semakin larut dan suasana semakin sunyi, Renjana takut suara Linda dan dia didengar oleh tetangga mereka. Maka Renjana berusaha untuk membujuk Linda untuk tidur dan membahasnya esok hari.
“Sudahlah daripada kamu mikir yang macam-macam sekarang lebih baik kita tidur. Udah malam gak enak sama tetangga kalau ada suara ribut-ribut,” ajak Renjana.
“Mas! Aku nggak akan pernah mau tidur, apalagi mengijinkan kamu untuk tidur duluan sebelum kamu mengakui semuanya!” cecar Linda.
“Mengakui apa? Apa yang harus aku akui Linda?” pekik Renjana.
Lelaki itu sampai mengusap wajahnya frustasi. Renjana sudah lelah atas pekerjaannya seharian penuh. Renjana tidak sanggup berdebat banyak dengan istrinya. Yang Renjana inginkan adalah kepulangannya ke rumah untuk mendapatkan tempat beristirahat paling nyaman.
“Ya jujur saja siapa pemilik parfume yang baru saja bersamamu?” tanya Linda.
Renjana tak menjawab pertanyaan Linda. Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil berlalu ke lantai dua di mana ruangan kerjanya berada di sana. Linda semakin jengkel karena Renjana tidak menjawab pertanyaannya tapi malah meninggalkannya begitu saja. Disusulnya Renjana ke atas sambil berteriak-teriak memanggil nama suaminya.
“Mas! Mas! Mas Renjana! Kenapa tidak menjawab pertanyaanku Mas?” teriak Linda sambil menyusul Renjana.
Renjana begitu menutup pintu ruangan kerjanya dan tidak memperdulikan teriakan Linda. Sesampainya di depan pintu Linda terus menerus mengetuk pintu ruangan tersebut sambil kembali berteriak. Karena merasa sangat berisik maka dengan sangat terpaksa Renjana membukakan pintu dan bicara yang sejujur-jujurnya. Jika setelah itu Linda masih tidak percaya maka Renjana menyerah tidak tahu lagi harus berbuat apa.
“Bisa diam nggak sih kamu Lin!” bentak Renjana begitu ia membuka pintu.
“Aku sudah bilang aku akan diam kalau kamu sudah jujur. Jadi tunggu apa lagi?” bentak Linda.
“Gini ya Lin, tadi sore itu aku ada bertemu klien di luar. Karena parfume aku ketinggalan di rumah maka aku meminta parfume Nadia, puas?” tanya Renjana.
“Bagaimana mungkin parfume bisa tertinggal dan kenapa harus meminta pada Nadia? Memangnya tidak ada temanmu yang laki-laki?” tanya Linda lagi.
Renjana menjelaskan bahwa tadi dia bertemu klien secara dadakan, dimana jam kantor memang sudah selesai. Dan karena Nadia adalah sekertaris yang mengurus surat-surat di kantor Renjana maka dia masih berada di sana jika Renjana belum pulang. Dan karena hari sudah sore, wangi pakaian Renjana sudah berasa tidak enak. Sedangkan pertemuannya dengan klien harus dilakukan hari ini juga. Maka Renjana meminta parfume Nadia untuk ia semprotkan ke jasnya agar dia tetap wangi saat bertemu klien.
“Apa kamu yakin Mas itu yang terjadi?” tuduh Linda sekali lagi.
“Kamu minta aku mengatakan yang sejujurnya. Setelah aku katakan semuanya kamu malah meragukanku. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu Linda,” decak Renjana sambil menggelengkan kepalanya.
“Aku hanya takut kalau kamu bermain dengan perempuan lain di luar sana. Karena semua gerak-gerikmu mengarah ke sana Mas!” kata Linda.
“Gerak-gerik yang mana lagi! Ya Tuhan sebenarnya setan apa yang merasukimu?!” kata Renjana kehabisan akal.
Linda mengatakan bahwa gerak-gerik yang dia maksud adalah akhir-akhir ini dia susah menghubungi Renjana di saat jam kerja. Jika Linda ingin ke kantornya Renjana selalu mencegahnya dengan alasan dia lebih sering berada di luar kantor. Selalin itu sudah beberapa minggu ini Renjana selalu pulang larut dengan berbagai alasan. Dan yang lebih membuat kecurigaan Linda bertambah adalah dia menemukan aroma parfume di jas suaminta bersamaan dengan telatnya Renjana tiba di rumah.
“Apa semua kecurigaan aku itu salah Mas? Jelas-jelas gerak-gerik dan buktinya semua mengarah ke perselingkuhan,” kata Linda.
“Ya jelas salah! Semua tuduhan kamu itu sangat tidak masuk akal!” bentak Renjana.
“Tidak masuk akal bagaimana sih Mas?” kata Linda tak mau kalah.
Renjana mengatakan bahwa semua yang diucapkan Linda sama sekali tidak masuk akal dan terlihat konyol. Dia bekerja dari pagi hingga sore dan kadang malam semua untuk Linda dan calon anak mereka kelak. Tapi bisa-bisanya Linda malah menuduhnya yang tidak-tidak.
Rasa lelah dari kantor bukannya terobati oleh perhatian dan kasih sayang dari sang istri yang ia dapatkan malah tuduhan dan pikiran-pikiran buruk yang dilontarkan istrinya pada dirinya hal itu membuat tubuh dan otaknya semakin lelah. Renjana sudah tidak kuat lagi menghadapi Linda. Lelaki itu memilih menjadi tuli mendadak daripada harus terus-menerus meladeni tuduhan istrinya yang tidak pernah terbukti benar.
Daripada Renjana semakin tersulut emosi, mungkin lebih baik lelaki itu mendiamkan istrinya sampai Linda mendapatkan kembali akal sehatnya.