Di sebuah meja di pojok restoran yang sedang ramai pengunjung terlihat Natalie sibuk menelepon salah satu humas perumahan untuk membicarakan rencana Dinar untuk datang berkunjung ke kawasan perumahan tersebut. Sambil mendengarkan Natalie berbicara di telepon Dinar menikmati jus jeruk yang baru saja tiba di meja mereka. Tak lama setelah itu Natalie pun menutup teleponnya dan ikut menyeruput minumannya yang telah tiba.
Bekerja hampir seharian penuh menata per paket skincare ternyata sangat menguras tenaganya. Natalie dan Dinar sampai menghela napasnya panjang, mengisi kekosongan oksigen di paru-paru mereka. Masih tercetak jelas gurat-gurat kelelahan di wajah mereka berdua.
“Gimana Nat? Mas Cahyo bisa?” tanya Dinar tak sabar.
“Iya dia bisa. Dia bilang satu jam lagi kita ketemu di sana,” kata Natalie.
“Ok sip! Semoga lancar ya. Thanks ya Nat, lu emang sahabat sekaligus asisten terbaik gue deh,” puji Dinar.
“Huuu ... peres lu. Udah ah yuk makan dulu,” ajak Natalie.
Dinar hanya tertawa karena Natalie menyebutnya peres. Padahl Natalie memang sangat-sangat membantu Dinar dalam hal apapun. Dinar pun memulai makan siangnya. Hawa lapar dan lelah membuat keduanya lahap menikmatii hidangan makan siang mereka tanpa berbicara.
Mereka kini sudah merasa kenyang dan Dinar segera membayar bill makanan meraka tadi. Setelah selesai makan siang keduanya langsung bergegas menuju perumahan Werkudara, itu adalah perumahan yang akan diambil oleh Dinar. Ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil Dinar, ia meminta Natalie agar kembali menghubungi Mas Cahyo selaku humas perumahan tersebut.
Niat Dinar memilih perumahan yang direkomendasikan oleh sahabatnya bukan lain adalah karena menimang jarak tempuh menuju salon dan klinik jika dihitung dari kediaman orang tuanya. Perjalanan lumayan menguras waktu tentu akan menghambat kinerja Dinar ketika dirinya akan mengecek tempat bisnisnya.
“Nat, tolong lu telepon lagi orang humasnya itu. Bilang kalau kita udah on the way. Sekalian tanya di mana kita bisa ketemuannya,” perintah Dinar sambil mulai menyalakan mobilnya.
“Oke gue telepon dulu ya,” kata Natalie menuruti perintah sahabatnya itu.
Dinar fokus dengan setir mobilnya sedangkan Natalie sibuk berbicara melalui telepon dengan Mas Cahyo yang tak lain adalah humas dari perumahan Werkudara. Dari hasil pembicaraan Natalie dan Mas Cahyo bawa beliau menunggu Dinar dan Natalie di kawasan blok C. Jadi mereka berdua diminta langsung menemuinya di sana.
“Nar, Mas Cahyo bilang kita langsung temui dia di Blok C, dia juga udah on the way ke sana,” kata Natalie begitu dia tutup teleponnya.
“Oke deh. Kita langsung ke Blok C ya,” kata Dinar sambil melanjutkan perjalanannya.
Mobil Dinar sudah tiba di pintu masuk perumahan tersebut. Kini dia langsung menuju blok C untuk bertemu dengan Mas Cahyo. Dinar meminta Natalie untuk membantunya mencari arah menuju tempat pertemuan mereka. Tempat tersebut tentunya sangat asing bagi Dinar sendiri.
“Nat, bantu gue cari Blok C nya ya. Gue agak keder kalau masuk perumahan baru,” ucap Dinar.
“Iya ini juga gue lagi lihat-lihat. Kalau sesuai urutan sih Blok C ada di depan sana Nar. Coba lu lurus terus sampai ada mobil putih itu, kali aja itu mobilnya Mas Cahyo,” kata Natalie.
“Oke ....” jawab Dinat lantas melanjukan mobilnya perlahan agar tidak kelewatan.
Ternyata dugaan Natalie benar, mobil berwarna putih yang terparkir di pinggir jalan itu adalah mobil milik Mas Cahyo. Itu artinya mereka sudah tiba di Blok C. Dinar mematikan mesin mobil dan segera turun untuk menemui humas perumahan bersama dengan Natalie.
Beberapa detik, Mas Cahyo terhipnotis oleh keelokan paras ayu dari Dinar. Kulit kuning langsat tubuhnya benar-benar menyilaukan, belum lagi kulit wajah Dinar tanpa cela dan noda. Sudah pantas jika Dinar dinyatakan sebagai icon klinik kecantikannya sendiri, tidak perlu merogoh kocek dalam untuk menyewa seorang brand ambassador skincare yang akan dia luncurkan bersama pembukaan klinik kecantikannya beberapa waktu ke depan setelah semuanya siap.
“Selamat siang Mbak Dinar, Mbak Natalie,” sapa Mas Cahyo begitu keduanya keluar dari mobil.
“Siang menjelang sore Mas, sorry ya jadi nunggu,” ucap Dinar sambil menjabat tangan Mas Cahyo.
Dinar merasa sungkan, dia yang menentukan jamnya, namun Dinar dan Natalie malah telat hingga merepotkan Mas Cahyo kembali mengatur waktu temu di antara kedua belah pihak. Beruntunglah Mas Cahyo sepertinya memahami kesibukan dari Dinar yang diketahuinya sebagai business woman.
“Oh nggak apa-apa kok Mbak, santai aja. Saya juga baru sampai kok, tadi malah ada kerjaan di luar,” ujar Mas Cahyo.
Selesai basa-basi mereka diajak Mas Cahyo untuk berkeliling di kawasan Blok C tersebut. Sang humas mengajak Dinar berkeliling sambil menunjukkan segala fasilitas yang akan didapatkan oleh Dinar jika dia tinggal di sana. Dinar meneliti di sekeliling lingkungan, menilai dari banyak segi sebelum dia menyetujui pembelian satu unit perumahan non subsidi di Blok C.
“Jadi jika Mbak Dinar menjadi penghuni di perumahan ini Mbak Dinar bisa menikmati segala fasilitas yang tersedia di sini,” kata si humas perumahan itu.
“Oh begitu ya Mas. Kira-kira fasilitasnya apa saja ya?” tanya Dinar ingin tau.
“Di sini kita ada sport centre yang dilengkapi kolam renang, jadi Mbak Dinar bisa menggunakannya kapan saja,” jelas Mas Cahyo.
“Oke, lalu ada apa lagi Mas?” tanya Dinar sambil terus berjalan.
Dinar, Natalie dan Mas Cahyo terus mengelilingi perumahan tersebut dan Mas Cahyo menunjuk ke salah satu minimarket yang ada di hadapan mereka. Di perumahan tersebut terbilang memiliki fasilitas lengkap untuk para penghuninya.
“Di sini juga ada minimarket jadi tidak perlu keluar gerbang jika hanya ingin membeli sesuatu yang mendesak,” ucap Mas Cahyo.
“Wah, lumayan juga ya jadi tidak harus keluar gerbang setiap saat,” kata Dinar mulai tertarik.
“Untuk sistem keamaannya sendiri bagaimana Mas?” tanya Natalie.
“Nah ini yang paling penting, untuk sistem keamaannya sendiri kita selalu menahan id setiap pengunjung dan memastikan bahwa pengunjung tersebut adalah benar tamu dari si pemilik rumah itu sendiri,” kata Mas Cahyo.
Dinar dan Natalie saling berpandangan dan menganggukkan kepala mereka sebagai tanda bahwa mereka terutama Dinar sangat tertarik dengan hunian yang sedang ia jelajahi ini. Suasana hunian tersebut memang sangat asri dan tentram sehingga membuat Dinar mudah tertarik dan ingin tinggal di sana.
Setelah berkelilin dan menunjukkan segala fasilitas yang ada Mas Cahyo mengajak Dinar dan Natalie kembali ke kantor pemasaran untuk berdiskusi kembali. Sesampainya mereka di kantor, Mas Cahyo ijin pamit untuk mengambil minuman untuk mereka. Sepeninggalan humas tersebut Natalie bertanya pada Dinar apa kesannya tentang perumahan ini.
“Gimana Nar perumahannya? Lu suka?” tanya Natalie.
“Bukan cuma suka Nat, tapi gue udah tertarik banget sama semua hunian di sini. Udah suasananya asri, keamanannya terjamin, fasilitasnya juga lengkap kan?” ujar Dinar meminta pendapat dari sahabatnya.
“Iya gue juga suka sih sama ini perumahan. Kalau lu jadi tinggal di sini kan gue bisa sering-sering nginep, biar ngerasain suasana baru juga,” canda Natalie.
Keduanya pun cekikikan membayangkan jika Dinar sudah membeli rumah tersebut. Ketika kedua wanita itu sedang asyik bergoyun datangnya Mas Cahyo dengan membawa dua botol minuman dingin untuk mereka.
“Silahkan diminum Mbak,” Mas Cahyo mempersilahkan mereka untuk minum.
“Terima kasih Mas, maaf merepotkan,” jawab mereka serempak.
“Jadi bagaimana Mbak Dinar, apa Mbak Dinar tertarik dengan perumahan yang ada di Blok C ini?” tanya Mas Cahyo.
“Hmmm ... saya bukan hanya tertarik Mas tapi saya sudah memantapkan diri untuk tinggal di rumah yang Mas Cahyo tunjukkan tadi,” ucap Dinar dengan mata berbinar.
Mas Cahyo sangat senang mendengar jawaban Dinar. Karena sebagai calon pembeli Dinar termasuk calon pembeli yang tidak banyak maunya. Karena waktu sudah semakin sore maka Dinar mengajak Natalie untuk berpamitan dan berjanji akan datang esok hari untuk melakukan transaksi.
Setiap kali Mas Cahyo mendapatkan penghuni baru, maka dirinya juga akan mendapatkan komisi dari atasannya. Sesuai dengan kerja kerasnya dalam mencari pembeli dalam kondisi keuangan sulit seperti masa sekarang.
“Baiklah Mas kalau begitu saya mohon pamit terlebih dahulu. Saya akan kembali lagi esok hari untuk melakukan deposit pembeliannya,” kata Dinar.
“Baik Mbak, kalau begitu kami juga akan menyiapkan semua surat-suratnya besok,” ucap Mas Cahyo.
Setelah mereka bertiga bersalaman Dinar pun pulang ke rumah tapi seperti biasa dia mengantar Natalie terlebih dahulu sampai rumahnya. Di perjalanan Natalie kembali bertanya akan keyakinan Dinar untuk membeli rumah itu dan masih dengan jawaban yang sama yaitu dia benar-benar yakin karena selain suasananya asri dan nyaman yang lebih penting adalah letak rumah tersebut dekat dengan klinik Skincare yang akan dibukanya segera. Natalie pun turut bahagia dengan keputusan yang diambil Dinar.
Setelah Dinar mengantar Natalie dia segera kembali ke rumahnya karena di sana kedua orang tuanya sudah menunggunya untuk makan malam. Nisaka tengah sibuk menata makanan dan piring untuknya, suaminya dan juga putri tunggalnya ketika mobil Dinar mulai memasuki pekarangan rumah mereka. Begitu dia masuk ke dalam rumah dia disambut oleh aroma masakan ibunda tercintanya yang membuat perutnya menggeliat.
“Assalamualaikum Ma, Pa,” sapa Dinar.
“Walaikumsalam,” jawab Nisaka dan Adam secara bersamaan.
“Wah wanginya sedap sekali Ma, Dinar jadi lapar,” ucap Dinar sambil menyusul mamanya ke meja makan.
“Iya dong. Sudah sana mandi dan cepat kembali ke sini, kita makan malam sama-sama,” perintah Nisaka.
Dinar pun langsung melesat ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian untuk makan malam bersama keluarganya. Orang tua Dinar begitu sayang padanya karena di usianya yang masih muda dia sudah berhasil menjadi anak yang sukses, dan hasil pencapaiannya selalu membuat kedua orang tuanya bangga.
“Nar, bagaimana perkembanganmu soal perumahan yang katanya dekat dengan klinik skincaremu itu?” tanya Adam di sela-sela makan malam mereka.
“Baik Pa. Tadi Dinar habis dari sana dan rencananya akan kembali lagi besok untuk melakukan pembayaran,” ucap Dinar sambil mengunyah makanannya.
“Wah berarti kamu sudah mantap memilih rumah itu?” tanya Nisaka memastikan.
“Iya Ma. Rumahnya itu bagus, lingkungannya juga asri, fasilitasnya juga lengkap dan yang paling penting dekat dengan klinik,” kata Dinar penuh semangat.
Orang tua Dinar ikut senang dengan keputusan Dinar karena apapun itu pasti yang terbaik untuknya. Rencananya kedua orang tua Dinar akan turut serta mengecek perumahan pilihan anak sematawayangnya saat nanti kepindahan putrinya. Meski Nisaka tidak rela membiarkan putrinya tinggal di tempat berbeda darinya, namun Nisaka merasa semua ini sudah menjadi keputusan terbaik.
Dinar sudah besar, putrinya berhak menentukan pilihannya. Lagipula perumahan yang dipilih Dinar sangat strategis, memudahkan putrinya pergi ke manapun, membuat putrinya lebih nyaman dalam memantau salon dan klinik skincare miliknya secara bersamaan. Apalagi yang bisa orang tua Dinar lakukan selain mendukung setiap mimpi serta impian anaknya?