Sekembalinya Dinar dan Natalie dari meeting dengan humas perumahan, mereka istirahat sejenak di salon milik Dinar. Sambil ngobrol ringan Dinar meminta pendapat Natalie soal rencananya klinik skincare yang akan ia buka. Dinar berharap salah satu mimpinya memperbanyak salon dan klinik kecantikan kulit akan segera jadi kenyataan.
Dinar merupakan wanita yang memiliki mimpi dan harapan cerah di masa depan. Sebagai wanita, Dinar tidak pernah mempunyai pemikiran mencari lelaki kaya, melainkan dirinya ingin memperkaya rekeningnya sendiri. Dinar beranggapan, wanita haruslah dapat mencari uang sendiri, karena kelak jika lelaki yang dia pilih melakukan sesuatu dan mengharuskan adanya perpisahan, ia masih bisa hidup sendiri tanpa mengkhawatirkan hidupnya akan menjadi tanggungan siapa.
Pemikiran baik itulah alasan mengapa Dinar semakin gencar memperlebar jangkauan bisnis dan usahanya di bidang kecantikan rambut serta kulit. Dinar menggaet banyak rekan, termasuk kenalan dari ranah kedokteran dan tenaga medis yang akan dia ajak bekerjasama menjalankan klinik skincare impiannya.
“Nat, menurut lu kapan ya gue launching klinik skincare gue itu?” tanya Dinar.
“Emang udah beres semuanya?” tanya Natalie.
“Hmmm … belum sih. Barang-barangnya belum datang semua, mungkin besok baru datang. Nanti lu bantuin gue beres-beres ya,” pinta Dinar.
“Oke siap, nanti info aja apa yang bisa gue bantu,” sahut Natalie.
Dinar Kembali membuka laptopnya dan mengecek segala keperluan kilnik skincare tersebut. Dia juga menelepon orang tuanya untuk meminta masukan kapan klinik tersebut bisa dibuka. Orang tua Dinar mengatakan mereka akan merundingkan ini semua dan akan memberitahu Dinar secepatnya.
Raut wajah gelisah di mimik muka Dinar tidak lepas dari kegelisahannya menunggu kabar dari seorang dokter estetika yang sampai sekarang masih belum memberikannya kabar tentang rencana kepindahan sang dokter ke Jakarta.
“Habis nelepon siapa Nar?” tanya Natalie.
“Biasa nelepon mama dan papa gue,” jawab Dinar.
“Oh. Nar gue ke toilet dulu ya,” pamit Natalie pada Dinar.
“Oke!” jawab Dinar dengan mata yang masih menatap laptop.
Sekembalinya Natalie dari toilet Dinar pun masih bergelut dengan laptop berwarna putih kesayangannya itu. Natalie heran melihat sahabatnya itu begitu serius hingga dia melongok ke arah benda kotak itu juga. Bibir Natalie mencebik, entah kapan sahabat baiknya tersebut akan meletakkan sejenak perihal bisnis yang tengah dia geluti. Setidaknya Natalie berharap Dinar berkencan dengan seorang lelaki.
“Lu lagi ngapain sih Nar dari tadi sibuk banget kayanya?” tanya Natalie.
“Ini gue lagi ngecek barang-barang yang buat klinik. Eh iya Nat besok lu bisa ke sini pagi-pagi kan?” pungkas Dinar menatap sahabatnya.
“Bisa dong, besok pagi-pagi gue udah di sini ya,” jawab Natalie.
“Oke gue tunggu lu di sini aja ya habis itu baru kita ke tempat klinik,” kata Dinar.
Natalie hanya mengangguk dan kembali ke tempat duduknya untuk mengambil tasnya sebelum dia menuju ke ruangannya. Karena selain sebagai sahabatnya Dinar dia juga merangkap sebagai kepala karyawan di salon milik Dinar tersebut. Dinar mempercayakan segala macam managemen salon kepada Natalie.
Selain Dinar sudah merasa percaya dengan Natalie, menurutnya juga Natalie dapat memegang penuh kepercayaan serta jalannya usaha salon rambut miliknya secara baik.
“Dinar, gue keluar dulu ya mau ke ruangan gue dulu sekalian mau cek keadaan di luar juga,” pamit Natalie pada Dinar.
“Oke Nat, kalua ada masalah sama karyawan langsung handle aja ya. Lu kordinasi sama Desy juga,” perintah Dinar.
“Siap Bos! Bye ….” Natalie keluar dari ruangan sang owner itu.
Karena terlalu serius bekerja Dinar tak menyadari kalau hari sudah senja. Sudah waktunya dia untuk pulang kerumah. Natalie mengetuk pintu ruangan Dinar sebelum ia memasukinya. Begitu Dinar mempersilahkan dia masuk betapa terkejutnya Natalie karena sahabat sekaligus bosnya itu masih berada di posisi yang sama.
Natalie menganga tidak percaya atas apa yang dia lihat. Bagaimana bisa Dinar masih melakukan kesibukan yang sama tanpa mengubah posisi nyamannya sekalipun.
“Nar belum kelar juga?” tanya Natalie penasaran.
“Sebentar lagi, kenapa Nat?” tanya Dinar.
“Ini udah jam lima loh, ayo kita pulang!” ajak Natalie.
“Ya ampun udah jam lima ya? Ya udah yuk pulang, gue beres-beres dulu ya,” ucap Dinar.
Selesai Dinar beres-beres dia dan sahabatnya langsung berjalan menuju mobil Dinar yang terparkir di depan salon. Setiap hari Dinar dan Natalie memang selalu pulang bersama, Dinar selalu mengantarkan Natalie terlebih dulu sampai ke rumahnya. Kebetulan, rumah orang tua Dinar melewati kediaman Natalie.
Hanya saja saat berangkat, Natalie harus datang lebih dahulu mengingat dirinya adalah kepala salon milik Dinar. Natalie harus memastikan segala keperluan salon tidak terkendala sebelum mereka masuk dalam jam kerja.
“Besok jangan telat ya Nat, soalnya kerjaan kita bakal banyak banget buat siapin klinik,” pesan Dinar.
“Siap Bos! Kalau gitu lu juga jangan begadang ya biar besok nggak kesiangan,” ucap Natalie.
“Oke, gue balik ya Nat ....” pamit Dinar dan langsung melajukan mobilnya.
Sesampainya ia di rumah dia langsung mandi dan pergi tidur karena esok pagi akan menjadi hari yang lelah untuknya. Dimulai dengan mengecek klinik skincare hingga harus menata produk-produk yang akan tiba di sana.
Esok hari Dinar bangun karena mendengar alarmnya yang terus berdering. Diraihnya ponsel di sampingnya begitu dia melihat jam di layar ponselnya, dia bergegas mandi dan bersiap-siap ke salon untuk bertemu Natalie. Sebelum berangkat dia menyempatkan menelepon Natalie untuk memastikan bahwa ia sudah bangun. Begitu Dinar keluar dari kamarnya dia menemui kedua orang tuanya di meja makan untuk sarapan bersama.
“Selamat pagi Ma, Pa,” sapa Dinar begitu dia sampai di meja makan.
“Selamat pagi Sayang,” ucap Mama dan Papanya secara bergantian.
Dinar pun duduk di sebelah mamanya dan mulai menyendok makanannya ke piring. Hari ini dia akan beraktivitas penuh maka ia memutuskan untuk makan nasi goreng buatan mamanya. Nisaka, yang tak lain adalah mamanya Dinar heran melihat anaknya makan berat saat sarapan. Putrinya itu biasanya hanya memilih roti dan s**u sebagai sarapannya.
Katanya, sarapan terlalu berat membuat Dinar merasa ngantuk saat bekerja, jadi wanita cantik itu benar-benar menghindari sarapan berat setiap pagi. Namun kali ini tentu saja berbeda.
“Tumben kamu makan nasi Din?” tanya Nisaka.
“Iya Ma, soalnya hari ini Dinar mau ngecek klinik sekaligus beres-beres paket yang akan tiba di sana,” jawab Dinar.
“Wah kelihatannya kamu akan sibuk sekali hari ini,” timpal Adam, ayah dari Dinar.
“Iya Pa, rencananya juga kalau keburu sekalian mau ngecek rumah yang akan Dinar beli itu,” ucap Dinar.
Melihat kegigihan putri tunggal mereka membuat orang tua Dinar sangat bangga. Selesai sarapan Dinar pun berpamitan pada kedua orang tuanya dan berjalan menuju salon untuk bertemu dengan Natalie.
Sesuai janji yang telah mereka sepakati tempo hari, Dinar bergegas melajukan kemudi besinya menuju salon miliknya, rupanya di salon Natalie sudah lebih dulu sampai di sana tepat waktu. Sahabatnya itu memang benar-benar bisa diandalkan. Semangatnya tak jauh berbeda dengan Dinar. Begitu Dinar memasuki salon dia langsung menghampiri sang sahabat, berniat mengajak Natalie untuk berangkat ke klinik secepatnya tanpa membuang waktu lebih lama lagi.
“Hai Nat udah sampe lu?” tanya Dinar begitu dia membuka pintu ruangannya.
“Iya baru beberapa menit yang lalu sih,” Jawab Natalie.
“Ya udah yuk berangkat!” ajak Dinar.
“Yuk. Udah nggak ada yang ketinggalan kan?” tanya Natalie memastikan.
Mereka berdua pun tak membuang waktu lagi. Keduanya langsung meluncur ke lokasi klinik yang akan Dinar resmikan nantinya. Ketika mereka tiba di sana mereka langsung membereskan klinik dan mengatur tata letak produk-produk yang sebentar lagi akan tiba. Begitu Dinar dan Natalie sedang berdiskusi mengenai hari baik untuk membuka klinik ini tiba-tiba datang sebuah truk besar yang kemungkinan berisi barang-barang keperluan klinik.
“Nar itu kayanya barang-barang skincare yang lu pesen deh,” kata Natalie sambil menunjuk ke arah mobil besar yang sedang berparkir di halaman klinik.
Ucapan Natalie membuat Dinar menoleh, satu pesan masuk di ponselnya memberitahu Dinar bahwa pesanan skincareya telah sampai di depan tempat kliniknya berada.
“Oh iya benar. Ke sana yuk!” Ajak Dinar.
Dinar dan Natalie memerintahkan pada supir dan orang suruhannya untuk menurunkan sekaligus memasukkan barang-barang tersebut ke dalam klinik. Ketika semua selesai tinggal Dinar dan Natalie yang menyusun letak skincare-skincare tersebut berdasarkan jenisnya.
Keringat sebesar biji jagung mulai membanjiri kening Dinar dan Natalie. Semangat kerja mereka berdua memang tidak bisa disepelekan lagi. Keduanya begitu kompak, saling bahu-membahu satu sama lain dalam menyelesaikan persiapan pembukaan klinik skincare Dinar.
“Nat kita susun sesuai jenis nya dulu aja ya supaya etalase kelihatan terisi dulu,” perintah Natalie.
“Oke. Jadi kita susun rak paling atas itu facial wash, terus bawahnya krim siang, krim malam. Gini ya Nar?” tanya Natalie mencontohkan.
“Nah iya gitu juga oke. Nanti di etalase selanjutnya kita isi pake toner, serum dan essensial gitu ya,” ujar Dinar.
“Nah untuk di etalase depan itu kita susun skincare per paket mulai dari yang acne sampai yang whitening. Jadi sekaligus buat contoh isi dari paket itu sendiri,” kata Natalie.
Dinar pun setuju. Dia memang tidak salah pilih sahabat. Selain pekerja keras, Natalie juga sudah mengetahui bagaimana selera Dinar. Oleh sebab itu dia selalu setuju dengan pendapat Dinar. Karena apapun yang dikemukakan oleh gadis itu selalu membuat Dinar puas.
Pekerjaan menyusun produk-produk skincare itu ternyata membutuhkan waktu yang cukup lama. Tak terasa mereka berkerja lebih dari tiga jam. Hingga tiba waktu makan siang dan perut keduanya terasa lapar barulah mereka sadar jika mereka sudah bekerja terlalu lama.
“Nat, lu laper nggak sih? Kok gue laper ya? Padahal tadi gue sengaja sarapan nasi loh biar nggak laper,” kata Dinar dengan raut wajah lelahnya.
“Dinar ... Dinar ... mau lu sarapan sampe sebakul juga kalo abis itu tenaga lu dipake buat kerja selama lebih dari tiga jam ya udah pasti laper lah,” celoteh Natalie.
“Iya juga si. Lumayan juga ya cuma nyusun-nyusun gini gak terasa udah hampir setengah hari,” kata Dinar.
Natalie hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya yang baru menyadari kalau dia sudah bekerja sudah pasti tak merasa apa-apa. Untungnya di klinik ini hanya ada mereka berdua jadi rasa lelah dan lapar lebih dirasakan oleh Dinar. Kalau di salon yang ramai gadis itu akan terus bekerja tanpa merasakan lapar jika tak diingatkan oleh Natalie.
“Nat ini kan sebentar lagi kelar, kalau kita kelarin dulu baru kita pergi makan siang gak apa-apa kan?” tanya Dinar.
“Ya gak apa-apa dong. Kan ini juga sebentar lagi selesai. Tapi lu kuat gak nahan laper?” tanya Natalie.
“Iya gue kuat kok. Lu sendiri gimana? Masih Ok kan?” tanya Dinar balik.
“Iya tenang aja. Gue selalu ngikut boss kok,” ledek Natalie.
Mereka pun tertawa bersama dan melanjutkan perkerjaan yang memang tinggal sedikit lagi. Dinar tiba-tiba teringat akan rencananya yang ingin berkunjung ke perumahan yang kemarin ditawari oleh seorang temannya Natalie dari agen perumahan. Sehabis makan siang dia berencana untuk mengajak Natalie pergi ke sana. Pekerjaan mereka pun selesai. Keduanya mencuci tangan merka terlebih dahulu baru setelah itu pergi ke luar untuk makan siang.
“Huft akhirnya kelar juga ya!” seru Dinar sambil menepuk-nepuk kedua telapak tangannya.
“Iya. Lumayan juga ya tenaga kita buat rapihin ini semua,” timpal Natalie sambil memperhatikan etalase-etalase yang kini sudah terisi penuh oleh paket-paket produk skincare.
“Yuk kita makan dulu. Laper ....” kata Dinar sambil menjinjing tasnya.
“Yuk!” kata Natalie mengikuti.
Karena rasa lapar yang sudah memuncak maka mereka memilih sebuah restoran sunda yang terletak tak jauh dari klinik tersebut. Mereka langsung memesan makanan yang akan mereka makan hari ini. Sambil menunggu pesanan mereka datang Dinar mengutarakan rencananya pada Natalie soal berkunjung ke perumahan itu.
“Nat, habis makan lu temenin gue ke perumahan yang kemaren di tawarin temen lu yuk!” ajak Dinar.
“Oh iya lu jadi mau tengok itu perumahan?” tanya Natalie.
“Iya jadi makanya habis makan coba deh lu hubungin Mas Cahyo nya buat kita ketemu di sana,” perintah Dinar.
“Oke. Gue telepon sekarang aja deh takut dia sibuk. Nanti kalau kita udah ke sana tahu—tahunya dia nggak ada kan buang—buang waktu,” kata Natalie.
Dinar berpikir apa yang diucapkan Natalie ada benarnya. Maka dia pun setuju dengan usul sahabatnya itu. Natalie memang selalu membuat Dinar bangga dengan segala kemampuannya. Maka wanita cantik itu pun segera menghubungi orang yang membantu Dinar mencari rumah tersebut dan mengutarakan maksud Dinar tadi.
Setidaknya mereka tidak semakin membuang waktu dan tenaga yang mana sudah terkuras habis untuk menyusun beberapa barang di klinik kecantikan milik Dinar.