3. Klinik Skincare

1620 Kata
Beberapa hari setelah grand opening salon kecantikkannya membuat Dinar sibuk mondar-mandir ke tiga tempat berbeda. Namun Dinar lebih banyak memakan waktu di salon barunya ini. Karena disini dia masih harus memantau kerja para pegawainya. Pagi ini seperti kemarin dia sudah tiba di salonnya itu dan menyapa para pegawai dengan ramah. Menurut pegawainya sangat jarang ada seorang owner yang datang pagi-pagi demi memberi semangat pada mereka. Seperti pagi ini contohnya. “Pagi semua,” sapa Dinar begitu dia membuka pintu. “Pagi Mba Dinar,” jawab mereka bersamaan. “Gimana kabar kalian hari ini? Sehat semua kan? Atau ada salah satu dari kalian yang sedang tidak enak badan?” tanya Dinar penuh perhatian. “Kami semua baik-baik saja Mba,” jawab Desy yang ditunjuk sebagai kepala karyawan di sana. “Syukurlah,” timpal Dinar dengan senyum yang sangat ramah. Dinar memang selalu seperti itu sebelum mereka memulai aktifitasnya. Dia selalu memastikan bahwa seluruh pegawainya dalam keadaan yang sehat sehingga bisa bekerja dengan maksimal. “Kalian semua harus tetap jaga kondisi supaya tidak mudah tumbang,” pesan Dinar. “Iya Mba, terima kasih,” jawab mereka serempak. “Kalau begitu saya ke ruangan saya dulu,” pamit Dinar sambil melangkah dengan anggun. Setelah menyapa para pegawainya kini Dinar sudah duduk di kursi kesayangannya sambil membuka laptop dan jari-jari lentiknya mulai berselancar di sana. Saat ini Dinar memang punya rencana untuk membuka sebuah klinik perawatan kulit wajah atau yang biasa disebut skincare di daerah sini. Supaya tak jauh dari salon yang sudah ia buka. “Seharusnya surat ijin itu sudah tiba hari ini,” gumam Dinar dalam hati. Ketika dia sedang tenggelam di kesibukannya tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya itu. Dinar pun mempersilahkan orang itu untuk masuk dengan mata dan jari yang masih fokus dengan benda persegi berwarna putih itu. “Ya, masuk,” perintah Dinar. “Maaf Mba saya hanya ingin memberikan ini. Tadi ada kurir yang mengantarnya,” ucap Desy. “Oh oke Des, thanks ya,” jawab Dinar sambil meraih benda berwarna coklat berbentuk persegi panjang. “Sama-sama Mba. Kalau begitu saya permisi dulu ya,” ucap Desy. Sepeninggalan Desy dari ruangannya Dinar segera membuka amplop coklat tersebut dan meninggalkan laptop yang sejak tadi ia pandangi. Mata Dinar sangat berbinar begitu membaca tulisan di kop surat yang berasal dari amplop itu. “Surat Ijin Mendirikan Usaha. Alhamdulillah, akhirnya!” seru Dinar sambil menempelkan surat itu di dadanya. Dinar senang sekali karena surat ijin itu sudah ia terima. Buru-buru ia mengurus segala keperluannya. Karena dia belum sempat merekrut karyawan untuk mengurus klinik skincare tersebut maka Dinar sendiri yang akan mengurus segala keperluan pembukaan klinik tersebut. Gadis cantik itu segera mencari agendanya dan melihat apa saja yang harus dia lakukan selanjutnya. Langkah selanjutnya ternyata Dinar harus kembali meninjau lokasi klinik tersebut. Dia tak ingin pergi sendiri maka dia mencoba menelepon Tasya untuk menemaninya. “Halo Nat, temenin gue yuk,” ajak Dinar. “Ke mana? Masih pagi nih,” tanya Natalie heran. “Udah pokoknya lu dateng dulu aja ke salon gue, nanti gue jelasin di sana,” ucap Dinar. “Ya udah oke, lima belas menit lagi gue sampe,” kata Natalie. Dinar sibuk mengurus ini itu, menyiapkan ini itu sendiri. Dia menyesal mengapa dia tak merekrut karyawan lebih dulu sebelum surat ijin itu keluar. Dia juga tidak mungkin meminta salah satu pegawainya untuk membantunya di klinik. “Des, nanti kalau ada Natalie suruh langsung masuk ke ruangan saya ya. Saya mau ke toilet dulu,” pesan Dinar pada Desy begitu dia keluar dari ruangannya. “Baik Mba,” ucap Desy. Tak lama kemudian orang yang dimaksud tadi datang menghampiri Desy dan bertanya tentang keberadaan bosnya itu. Sesuai pesan Dinar maka Desy pun menyampaikannya pada Natalie. Wanita itu kini sudah berada di dalam ruangan Dinar sementara si owner belum keluar dari toilet. Natalie penasaran akan diajak kemana dia oleh Dinar. “Hai Nat, udah lama?” tanya Dinar begitu ia mendapati temannya sudah berada di ruangannya. “Ya lumayan udah sejam lah gue di sini,” ledek Natalie. Dinar hanya tersenyum tak menimpali ledekan temannya itu. Dia segera merapikan meja yang cukup kacau serta membawa sebuah map biru dan meraih tas yang tergeletak di bangku. “Yuk kita jalan!” ajak Dinar. “Kita mau ke mana sih Nar?” tanya Natalie penasaran. “Udah jangan bawel, nanti di mobil gue kasih tahu,” jawab Dinar. Mereka pun keluar dari ruangan Dinar. Di luar Dinar segera mencari Desy untuk berpamitan karena dia akan keluar sebentar. “Des, saya mau keluar dulu ada keperluan. Kalau ada apa-apa tolong kamu handle dulu ya, dan kalau ada yang mencari saya suruh langsung telepon saya aja,” pesan Dinar. “Baik Mba,” ucap Desy yang selalu patuh pada setiap ucapan Dinar. Sesuai janjinya tadi bahwa Dinar akan memberitahu Natalie tentang tujuannya. Natalie sangat tercengang begitu tahu bahwa Dinar akan mendirikan klinik skincare kepunyaannya sendiri. “Demi apa lu Nar, lu bakal buka klinik skincare?” tanya Natalie tak percaya. “Iya masa gue bohong sama lu?” ucap Dinar meyakinkan. “OMG! Dinar, sumpah gue seneng banget, semoga lancar terus ya Nar usaha lu,” kata Natalie mendoakan. “Aamiin, thanks ya Nat. Lu emang temen yang selalu dukung gue,” kata Dinar sambil tersenyum dan kembali fokus menyetir. Begitu keduanya telah sampai di ruko yang menjadi klinik tersebut Dinar berpikir bahwa dia harus tinggal di dekat sini. Tapi bagaimana caranya, dia tidak mungkin bisa mendapatkan tempat tinggal dekat sini dengan cepat. Sedangkan dia masih harus mengurus pembukaan kliniknya. Dia harus meminta bantuan pada Natalie untuk mencarikan dia tempat tinggal. “Nat, kayanya gue perlu bantuan lu nih,” ucap Dinar. “Bantuan apa? Bantuan dana? Kalau dana sih sorry to say, gue gak ada,” ucap Natalie dengan polosnya. “Ye, siapa juga yang butuh dana lu. Dana gue kan lebih banyak dari lu,” ledek Dinar. “Hahaha, s**l lu. Tapi bener juga sih ya,” ucap Natalie. Dinar pun tertawa yang kemudian diikuti oleh Natalie. Ya begitulah gaya bercanda mereka, selalu ceplas-ceplos tanpa mereka masukan ke hati. “Jadi lu butuh bantuan gue apa? Teman lu yang cantik ini akan siap membantu lu,” ucap Natalie. “Gue butuh tempat tinggal deket sini Sya, biar gue gak mondar mandir ke rumah gue,” jawab Dinar. “Oh jadi lu butuh tempat tinggal. Gue ada sih kenalan agen perumahan, nanti gue tanyain dia ya. Lu mau tipe rumah yang kaya apa?” tanya Natalie. “Ya yang jelas sih yang deket dari sini, jadi kan deket juga sama salon gue. Kalau bisa sih perumahan yang tadi kita lewatin tuh,” ucap Dinar. Natalie pun tanpa pikir panjang langsung menghubungi temannya yang bekerja di agen perumahan. Jam makan siang mereka akan bertemu dan membicarakan semuanya. “Nar, kenalin ini Mas Cahyo agen perumahan yang deket sini,” kata Natalie memperkenalkan seorang laki-laki putih memakai kacamata. “Halo, Cahyo,” sapa laki-laki itu. “Halo, Dinar,” balas Dinar. “Jadi temen aku ini butuh tempat tinggal di deket sini Mas, tapi kemungkinan untuk disewa dulu,” terang Natalie. Dinar pun menjelaskan bagaiman tipe rumah yang dia cari. Selain jaraknya harus dekat dengan salon atau kliniknya itu. “Oke baik. Bagaimana kalau yang ini?” tunjuk Mas Cahyo pada sebuah brosur. “Coba saya lihat dulu ya Mas,” pinta Dinar. Laki-laki itu pun memberikan beberapa brosur dari beberapa perumahan di sekitar klinik ini. Dinar dan Natalie sibuk melihat brosur itu satu persatu dan tak jarang Dinar pun menanyakan tentang ini itu pada Mas Cahyo. Setelah melihat beberapa brosur tiba-tiba mata Dinar tertuju pada sebuah rumah berlantai dua yang berada di kawasan blok C, kawasan itu tergolong ke rumah tipe menengah ke atas. Tanpa ragu Dinar pun menanyakan soal perumahan tersebut apakah masih tersisa unit yang dia inginkan. “Kalau yang ini bagaimana Mas? Masih ada unitnya?” tanya Dinar pada Mas Cahyo. “Oh oke saya cek dulu ya. Perumahan itu sangat bagus dan banyak peminatnya. Saya bantu cek dulu ya,” ucap Mas Cahyo. Dia pun sibuk menelepon seseorang terkait rumah itu. Natalie heran dengan pilihan yang dipilih Dinar. Dia kan nantinya akan tinggal sendirian tapi mengapa malah pilih rumah yang berlantai dua? “Unitnya masih tersedia Mba. Apa Mba mau langsung tinjau ke lokasi?” tanya Mas Cahyo. Dinar belum tahu pasti kapan dia akan tinjau langsung. Tapi yang pasti dia akan tetap mengambil rumah tersebut. Untuk peninjauan sepertinya tidak bisa hari ini. “Baik Mas, saya akan ambil. Tapi untuk peninjauan sepertinya tidak bisa hari ini, bagaimana kalau besok?” tanya Dinar. “Oh iya Mba tidak apa-apa,” jawab Mas Cahyo. Hati Dinar pun lega karena dia sudah mendapat tempat tinggal. Letaknya sangat strategis dan dekat dengan klinik kecantikan dan juga salon miliknya. Besok dia akan datang langsung ke lokasi untuk melihat-lihat rumah yang ia pilih. “Kalau begitu sampai jumpa besok ya Mba,’ ucap Mas Cahyo. “Iya Mas. Terima kasih karena sudah meluangkan waktunya untuk saya,” ucap Dinar. “Iya sama-sama. Itu kan sudah menjadi tugs saya,” jawab Mas Cahyo. Mas Cahyo pun pulang ke rumahnya. Hanya tersisa dua orang wanita cantik yang kelihatannya masih menikmati minuman mereka. “Nar, lu gak salah ambil rumah itu?” tanya Natalie. “Salah kenapa?” Dinar bertanya balik. “Ya gue ngeri aja sih, lu kan bakal tinggal sendirian,” ujar Natalie. “Sya gue kan buka klinik skincare pribadi nih dan dari bahan-bahan yang pilihan jadi gue butuh space yang luas untuk menyimpan mereka," pungkas Dinar. Dinar menjelaskan ke Natalie tentang maksud dan tujuannya membuka klinik skincare dan mencari tempat tinggal baru yang dekat dengan salon dan klinik Pada akhirnya Natalie mengerti dengan semua rencana Dinar. Setelah selesai mereka berdua kembali ke salon Dinar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN