Malaikat Maut

1164 Kata
"YUMNA! Kamu itu sebenarnya niat ingin lulus tepat waktu atau tidak?" tanya bu Candra murka, menatap tajam mahasiswi cantik di hadapannya. Bukannya takut mahasiswi tadi malah mendengus sebal, "ya niat lah Bu, gimana sih." Mahasiswa mana coba yang betah berlama-lama di sini ? menjadi mahasiswa abadi sekaligus donatur tetap kampus. Semua orang pasti ogah kecuali anak sultan yang kebingungan mau nyodakohin uangnya kemana. "Berani kamu sama saya! bentak bu Candra membuat mahasiswi cantik itu nyengir kuda." Nama lengkapnya Yumna Khumaira, mahasisiwi tingkat akhir fakultas hukum yang tengah dipusingkan dengan riwehnya nyusun skripsi. “Sudah berapa kali saya bilang perbaiki typo mu!" Bu Candra mencoret kertas skripsi Yumna dengan bolpoint merah, membuat mata bulat Yumna membola sempurna. “Yah Bu..baru juga 5 kali." Protes Yumna tidak terima, melihat hasil kerja rodinya selama seminggu dicoret tanpa sisa. Yumna memang mahasiswi tunggal bernyali besar, tak pernah gentar menghadapi kekejaman bu Candra. Dosen jurusan pidana yang killernya naudzubillah. "Ngejawab terus dari tadi! mau kamu saya coret dari daftar mahasiswa bimbingan saya!" geram bu Candra. Yumna bergidik ngeri. Meskipun dia terpaksa memilih bu Candra sebagai PS nya a.k.a pembimbing skripsi, tapi dia juga tidak mau diblack list, yang itu artinya harus mencari PS baru dan mulai menyusun kembali skripsinya dari nol. Oh big no! “Ini, yang saya lingkari merah kamu ketik ulang. Bimbingan selanjutnya saya tidak mau tahu kamu sudah harus menginjak bab selanjutnya." Bu Candra menyerahkan map biru berisi kertas skripsi dan diterima Yumna dengan tangan gemetar. "Ba-ik Bu."Jawabnya tergagap. Baru saja disanjung sebagai mahasiwa bernyali besar. Akhirnya kicep juga dihadapkan dengan Raden Ajeng Dr. Candrawati Suryodiningrat, M.H. , nama lengakap bu Candra berikut gelarnya. Tapi percayalah, meskipun memiliki gelar Raden Ajeng, bu Candra tidak sekalem dan selembut putri keraton. Terbukti semua mahasiswa di kampus Yumna ciut nyalinya jika berhadapan dengan bu Candra. "Ya sudah, itu Saja. Kamu boleh keluar." Kalau mengumpati orang tua tidak dosa, pasti sekarang Yumna akan mengumpati PS nya yang dengan angkuh mengangkat dagu gandanya mengusirnya halus keluar dari ruangan ini. Tapi berhubung mengumpat itu dosa, akhirnya tanpa mengurangi rasa hormat Yumna keluar dari kandang singa setelah mencium tangan bu Candra dengan khidmat, tak lupa mengucapkan terima kasih. Terima kasih untuk apa? tentunya untuk segala coretan di kertas yang Yumna perjuangkan sampai harus begadang. “Gimana nyuk? diapain lu di dalam? gak dikasih siraman qolbu lagi kan?" tanya laki laki tampan berambut gondrong saat Yumna baru memunculkan satu kakinya di ambang pintu. "Lu baik-baik aja kan say?" kalau ini suara Abella Anastasya, dari gaya bicaranya kalian semua pasti tahu selain jadi mahasiswi jurusan perdata gadis imut ini owner olshop terkenal. Yumna berjalan menuju bangku panjang di depan ruangan bu Candra, diikuti kedua sahabatnya "kayaknya gue harus buang sial,di coret lagi masaaaa," jawab Yumna dengan wajah tertunduk lesu. Anak hukum pidana Universitas Sebelas Maret ini lagi pening membayangkan kertas hasil kerja rodinya berakhir di tong sampah. "Masih mending say, daripada disuruh ngulang nyari judul." "Lu sih nyuk, udah tahu Bu Candra kayak godzila malah dipilih jadi PS." Pria berambut gondrong bernama lengkap Raditya Ibrahim menyalahkan Yumna, membuat sang empunya nama mendelik ke arahnya. “Enak aja lu nyalahin gue. Kalau boleh jujur nih, sebenarnya gue juga ogah milih Bu Candra. Angkerrrr!” Yumna mendudukkan pantatnya di antara Abel dan Ibra. Kedua manusia yang mendeklarasikan diri sebagai sahabat baik. Terhitung sejak MOS SMA. Kecuali Abel, gadis berkuncir kuda ini baru mendeklarasikan dirinya sebagai sahabat baik Yumna dan Ibra ketika mereka ospek fakultas beberapa tahun yang lalu. “Yaudah ganti pak Jamal aja say" Celetuk Abel. "Haduh Abel. Bisa tambah pening kepala gue tiap hari denger pak Jamal ngomel pake bahasa Bataknya itu." Membayangkan pak Jamaludin Hasibuan mencoret skripsinya dan ngomel meggunakan bahasa Batak membuat Yumna bergidik. "Alah kebanyakan drama lu Yum. Buktinya gue masih idup ampe sekarang." Sebagai anak bimbingan pak Jamaludin Hasibuan, Ibra tidak terima Yumna mendramatisir pak Jamal sedemikian rupa. Meskipun tidak bisa dipungkiri, Ibra sebenarnya juga pusing! setiap bimbingan harus mendengar pak Jamal ngomel kuadrat alias ngomel ngomel dengan logat Batak. “Tau deh...mentang-mentang udah seminar sombong lu nyuk. Durhaka lu berdua sama gue. Mana yang katanya sahabat setia." Cibir Yumna. di antara mereka bertiga, memang hanya Yumna yang skripsinya masih jalan di tempat. Ibra sudah seminar bulan lalu, sedangkan Abel minggu depan juga akan mengikuti jejak Ibra. "Ya kali say, gue sama Ibra harus jadi mahasiswa legend cuma gara gara setia nunggu lu nyelesain skripsi yang entah kapan kelarnya. Itu namanya bukan setia tapi goblok." Sarkas Abel membuat Yumna mendegus. “Kalau gak niat nyelesain skripsi minta DO aja Yum, gak tega gue sama uang lu yang terbuang sia-sia." Ibara meraup wajah Yumna. Kedua sahabatnya tahu, Yumna memang sengaja mentarik ulur skripsinya untuk menghindari perjodohan yang direncanakan kedua orang tuanya. Seperti 2 bulan terakhir, mamanya selalu menelfon dan menyuruh Yumna pulang ke Jogja, tapi Yuman selalu menolak dengan alasan masih harus bimbingan skripsi dan penelitian. "Laknat lu nyuk, harusnya gue yang lu kasianin." Yumna menepis tangan Ibra "awalnya gue mau bimbingan betulan hari ini. Tapi, pagi tadi nyokap kembali neror gue nyuruh pulang. Terpaksa gue revisi ulang tuh skripsinya, gue buat typo di sana sini. Biar punya alasan untuk tidak pulang." Lanjutnya. "Mau sampai kapan sih Yum main kucing- kucingan sama keluarga lu? lu kan jomblo dari lahir, terima aje kenapa perjodohannya, dari pada skripsi yang jadi korban. Dosa gue juga udah banyak tiap hari bohongin tante Anita.” Ibra geleng kepala menghadapi keras kepalanya Yumna. Dia tetap kekueh tak mau pulang untuk sekedar melihat atau berkenalan dengan calon suami pilihan orang tuanya. Tante Anita, mamanya Yumna sebenarnya tidak percaya jika putrinya sibuk bimbingan skripsi dan kegiatan organisasi kampus. Akhirnya, tante Anita mengcrosh ceek sendiri ke Ibra. Karena mendapat ancaman dari Yumna membuat Ibra yang berhati ibu peri rela berbohong. Mengatakan Yumna memang sibuk kuliah. Padahal aslinya sedang sibuk belanja atau kegiatan hura-hura lainnya bersama Abel. "Gue takut gengs. Kalau calon gue itu tua, kumisan, buncit, pengangguran, suka main pukul, pemabuk. Agrhhh.... bisa madesu hidup gue." Ucap Yumna putus asa membayangkan calon suami pilihan orang tuanya. "Gue sih yakin, orang tua lu gak bakal menyerahkan anak tunggalnya pada sembarang orang, apalagi pengangguran. Coba aja dulu, Yum." Abel ikut angkat bicara. Mengingat Yumna putri tunggal Komandan Wing Pendidikan Terbang Lanud, pasti orang tuanya tidak akan menjerumuskan Yumna ke dalam lembah penyiksaan. Semestinya orang tua Yumna sudah pertapa tujuh hari tujuh malam sebelum memilih calon suami untuk putri tunggalnya itu. Tapi dasar Yumna yang kepala batu. Tak jarang mamanya mengancam akan mengirim ajudan untuk menyeret Yumna pulang ke Jogja, bahkan saking geramnya sampai mengancam akan menjemput Yumna dengan pesawat tempur. Tapi lagi lagi Yumna tetap tegak pada pendiriannya, dan menganggap omongan mamanya hanya bualan semata. Mungkin tidak untuk kali ini. Mamanya benar mewujudkan ancamanya. Bukan bukan. Bukan mengirim pesawat tempur, tapi megirim dua ajudan berpakain PDL TNI-AU. Keduanya tengah berjalan di koridor kampus membuat mata kaum hawa segar seketika. Tapi tidak dengan Yumna, tubuh gadis cantik itu menegang sempurna saat matanya menangkap sosok malikat maut dalam hidupnya. Mampus gue !
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN