Terlihat gadis semampai dengan penuh minat menarik gas Honda Vario 125 membelah jalanan kota Surakarta.
Jalanan sore ini nampak lenggang, membuat Yumna leluasa menyalurkan bakat terpendamnya menjadi Valentino Rossi versi wanita.
Tadi setelah berhasil melarikan diri dari kejaran malaikat maut alias ajudan Papanya, dia berlari marathon menuju parkiran kampus, mengabaikan umpatan semua orang yang ditabraknya. What the...! dia merasa seperti buronan yang melarikan diri menghindari peyergapan.
“Ntar kalian bilangin ke ajudan itu, gue lagi penelitian di Polres pulangnya malam. Ah pokoknya kalian harus bilang gue lagi sibuk pake banget.” Ucap Yumna panik saat melihat ajudan papanya celingukan mencari keberadaannya, tak jarang kedua tentara muda itu bertanya kepada mahasiswa yang sedang berkoloni.
“Bersahabat sama lu itu banyak mudhortnya, Yum. Bohong mulu kerjaan gue, bangsad lu emang."
Ibra mulai meratapi dosanya yang setinggi gunung Lawu, karena terus menerus jadi pembohong demi kelanggengan persahabat mereka. Demi Yumna apapun akan dilakukan.
Tidak, Ibra tidak memiliki rasa lebih, selain sebagai sahabat sejak SMA. Entah apa yang membuat Ibra tidak tertarik, padahal Yumna sosok wanita sempurna yang bisa dijadikan pertimbangan untuk dinafkahi.
“Masya Allah, malaikat turun dari surga. Ganteng banget."
Sepertinya tukang olshop terpesona melihat kedua tentara berjalan ke arahnya, dengan Yumna yang sudah lari tunggang langgang meninggalkan Ibra yang menoyor pelan kepala Abel.
Yumna yakin saat ini kedua tentara muda itu pasti sedang mengintrogasi Ibra dan Abel. Yumna berani taruhan, kalau Abel akan berkata jujur karena tidak tahan dengan pesona sang ajudan. Nasib punya sahabat penggila pria berseragam, dengan sekali kedipan pasti kedua tentara muda itu bisa mengkorek informasi akurat dari Abel.
Sekarang Yumna tidak tahu harus bersembunyi di mana, tempat persembunyiannya pasti sudah dibeberkan oleh mulut ember Abel. Pergi ke mall tidak mungkin, apalagi pulang kerumah kos. Apa dia ke kantor polisi saja? minta perlindungan di sana. Kan polisi pengayom masyarakat. Oh no, otak Yumna masih cukup waras untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri dan keluarganya.
BRAKKK!
Suara benturan benda keras membuat semua orang menghentikan aktivitas. Mereka berbondong datang, menyaksikan gadis cantik jatuh terkapar tertimpa body motor, walaupun tidak sampai pingsan. Beberapa orang sibuk membantu memindahkan posisi motor, sisanya membantu gadis cantik itu berdiri.
"Adek, tidak apa-apa?" tanya beberapa orang memastikan jika korban tabrakan tunggal dalam keadaan sehat.
Yumna berusaha mengembalikan nyawanya yang berterbangan kemana mana, setelah tanpa sengaja menabrak mobil yang terparkir di pinggir jalan. Astaga, ceroboh sekali.
Beberapa orang mulai panik melihat gadis cantik itu tidak memberikan respon, kendati sudah dalam posisi berdiri Yumna masih merem melek dengan nafas tidak beraturan, dia shock.
"Saya tidak apa apa, terima kasih semua sudah membantu." Ucap Yumna setelah nyawanya terkumpul.
Dia tidak enak hati melihat semua orang panik akibat kecerobohannya dalam berkendara. Karena kebanyakan melamun menyusun rencana membuat dia hilang fokus, keluar dari garis jalan dan menabrak mobil Toyota Fortuner hitam yang sedang terparkir.
Semua orang bernafas lega "syukurlah, apa perlu di panggil ambulance dek ?" tanya ibu berkerudung merah.
Sedangkan laki laki disamping ibu itu sibuk mendial nomor polisi membuat Yumna ketar ketir.
"Mohon maaf Pak, bapak tidak perlu menghubungi pihak kepolisian. Saya rasa masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan, mengingat saya sendiri yang menjadi korban tunggal. Dan soal kerusakan mobil, saya akan ganti rugi"
"Dan ibu terimakasih telah mengkhawatirkan saya, saya masih sanggup nyetir lagi." Ucap Yumna tegas.
Masa iya masalah sepele seperti ini harus melibatkan Polisi. Yang benar saja. Bisa tambah runyam permasalahan.
Semua orang mengangguk paham, bapak tadi kembali memasukkan ponselnya ke saku. Karena dirasa korban dalam kondisi baik semua orang pergi meninggalkan Yumna yang bernafas lega, sebelum akhirnya melotot sempurna menatap bamper belakang mobil lecet tak berupa.
Sial, uang sakunya selama sebulan bisa terkuras habis untuk ganti rugi akibat kecerobohannya yang iyuh banget. Masa mobil berhenti ditabrak, dasar Yumna.
Apa dia kabur saja? mumpung sang empunya mobil belum datang. Tidak tidak. Orang tuanya tidak pernah mendidik Yumna menjadi pecundang.
Mungkin Yumna harus mencoba bernegosiasi dengan pria tegap, berpakain T-shirt putih dan celana jeans selutut yang kemungkinan besar pemilik mobil ini.
Pria dengan tinggi proposional itu berjalan santai dari arah depan membuat jantung Yumna bertalu talu saat matanya tanpa sengaja bertatapan dengan pemilik netra tajam yang menghampiri Yumna dengan pandangan terkejut.
"Adek tidak apa apa? Korban tabrak lari ya?" tanya pria tampan itu panik saat melihat baju yang dikenakan Yumna kotor terkena debu jalan.
Beralih menatap kedua lutut Yumna yang memperlihatkan rembasan darah. Siapa gerangan yang tega menabrak adek cantik ini? Pikirnya.
"Hah, Adek? Situ pikir saya ini adek situ?" Yumna tidak habis pikir kenapa pria berkulit hitam manis ini memanggilnya adek.
Jangan salahkan pria itu, meskipun sudah berusia dua puluh satu tahun tapi wajah Yumna masuk kategori baby face. Membuat siapa saja orang yang tidak mengenalnya mengira dia masih anak SMA.
Pria tampan itu terkekeh "Ya bukan sih. Mau saya bantu obatin lukanya? " tawar pria itu, dengan pandangan tak lepas menatap Yumna dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Mengagumi ciptaan tuhan yang begitu sempurna, wajah cantik, bulu mata lentik, alis tebal membingkai mata bulatnya, hidung bangir, bibir tipis berwarna merah alami "bidadari" Gumam pria itu tanpa sadar.
Yumna melotot tajam. Apa baru saja pria dewasa ini menjadikannya fantasi jorok. s**t!
"Eh, situ jangan kurang ajar ya. Mau saya colok matanya." Suara tajam Yumna menyadarkan pria itu dari rasa kagumnya.
Bodoh. Apa yang barusan dia lakukan. Pasti gadis cantik ini mengira dia pria mata keranjang.
"Maaf, saya bukan pria seperti itu. Saya tidak bermaksud.......”
"Tidak bermaksud apa? Ha ? Apa? dasar, pria m***m. Sela Yumna. Mengumpati pria tak berdosa itu"
Ternyata oh ternyata mulut gadis ini tidak secantik parasnya.
Jangan sembarangan nuduh kamu. Dalam kamus hidup saya tidak ada namanya menyakiti ataupun melecehkan seorang perempuan. Saya sangat menghormati perempuan. Dasar bocah tengil." Balas pria itu kesal bukan main.
"Saya bukan bocah, saya itu sudah ma.....aww, Lenganku. Shhhh!" Yumna mendesis. Memegangi lengan kanannya yang sakit saat digerakkan. Niat hati ingin menuding pria itu, apalah daya tangannya kesleo.
“Are you okey?" pria tampan itu panik. "Kamu tunggu di sini! " lanjutnya seraya membalik tubuh hendak megambil kotak P3K di dalam mobil dan.....
“ASTAGHFIRULLAH, siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini?" kaget pria itu. Karena terlalu fokus memperhatikan gadis cantik yang dikira korban tabrak lari, sampai tidak melihat bamper belakang mobilnya lecet tak karuan.
“Emmm.....itu, anu...emmmmm" Yumna melirik kanan kiri kebingungan.
"SIAPA?" buru pria itu tidak sabaran.
Yumna tambah panik, dia tidak mau jadi pembohong tapi juga takut melihat pria itu melototkan mata angker.
"Sa-ya." Aku Yumna tergagap. Lebih baik mengaku, toh dia juga tidak pandai berbohong.
"HAH KAMU?" teriak pria itu membuat Yumna terlonjak kaget.
"Kok bisa mobil berhenti kamu tabrak ?" lanjut pria itu tak habis pikir.
“Ya bisalah. Salah situ juga ngapain pake parkir di sini segala" elak Yumna tak ingin disalahkan. Yumna tetaplah wanita, selalu merasa dirinya benar.
“Emang di sini ada rambu dilarang parkir? gak ada kan! Sudah jelas yang salah itu kamu! Bisa bisanya nyalahain saya." Maki pria itu dengan wajah merah padam.
"Situ juga salah kalik! Kalau situ gak parkir mobil di sini, pasti insiden konyol ini tidak akan terjadi. Dasar pria mesum." Ucap Yumna jengkel.
Jiwa anak hukumnya begitu melekat pada dirinya, walaupun salah Yumna tetap keukuh mempertahankan argumennya. Standing aplause buat Yumna! Luar biasa.
Pria itu mengelus d**a sabar. Sebenar apapun dia di mata hukum maupun di mata semua orang, gadis belia ini tidak akan menyerah untuk mendebatnya.
"Mimpi apa aku semalam? Ketemu gadis bar-bar seperti ini." Gumam Pria itu.
"Heh, pria m***m. Saya dengar ya kamu ngomong apa...Shhhh! Lenganku." Rintih Yumna kesakitan membuat pria itu tidak tega membalas umpatannya.
"Ikut saya! Saya tidak bisa membiarkan lukamu infeski." Pria itu menarik pelan lengan kiri Yumna. Membuka bagasi mobil dan mendudukkan Yumna di sana.
Lantas pria itu berlari membuka pintu depan, mengambil kotak P3K dan kembali jongkok di hadapan Yumna.
"Maaf, saya akan membersihkan lukamu. Bisa sedikit diangkat gamisnya?" tanya pria itu hati hati, takut kalau gadis ini menganggapnya pria kurang ajar lagi.
"Tidak perlu, saya akan membersihkan sendiri saat sampai kos." Tolak Yumna.
Enak aja, Yumna hanya memakai hot pants, ya kali dia akan menyibak gamisnya dan menunjukkan kaki mulusnya ke pria m***m ini.
Pria itu bangkit dari acara jongkoknya "oke, sepertinya kamu memang tidak percaya dengan saya. Kalau begitu saya akan memeriksa lenganmu." Kata pria itu. Dia tidak tega melihat Yumna terus-terusan memegangi lengannya kesakitan .
"Tidak usah, bukannya sembuh malah tambah parah nanti. Situ kan bukan dokter." Lagi lagi Yumna menolak dengan nada ketus.
Pria tampan tadi tertawa. Kalau dipikir pikir gadis ini lucu juga, tidak terlalu buruk. Terlepas dari kejudesannya.
"Kebetulan saya ini dokter, sudah memiliki izin praktik. Kamu tidak perlu khawatir." Yumna menarik lengan kanannya saat pria itu mencoba membantu memeriksanya.
"Jangan sentuh saya. Saya tidak mau jadi korban malapraktik, karena saya lebih percaya kamu itu dokter gadungan."
Mana ada dokter ganteng banget seperti ini, alis rapi walaupun tidak tebal, hidung mancung, rahang tegas, badan tegap, otot lengan yang pas. Dia lebih mirip foto model dibanding dokter.
"Ck, keras kepala. Apa perlu saya tunjukkin ijazah dokter saya? Sinikan lenganmu!" pria itu menarik paksa lengan Yumna.
"Awh....lepasin tangan saya atau saya teriak! Aduh Mama bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padaku. Tolong! "
Yumna panik saat pria itu menyentuh tangannya yang entah sejak kapan lengan bajunya sudah tergulung sebatas siku.
Pria itu menatap Yumna jengah "kamu bisa menuntut saya jika hal buruk terjadi. Saya mohon berhentilah bicara!" pria itu kembali meraba lengan Yumna. Apa tangan gadis ajaib ini patah? Sepertinya tidak.
"Berani situ nyuruh saya diam di saat nyawa saya lagi terancam! Awas jika lengan saya tambah parah, saya tuntut kamu. Dasar pria m***m bilang aja mau nyentuh saya." Dumel Yumna, tak urung tetap membiarkan pria itu memijat lengannya pelan.
"Berhenti bilang saya pria m***m. Jika bukan karena sumpah dokter saya. Saya juga ogah nolong pasien crewet kayak kamu. Nyusahin aja...sudah bikin mobil saya lecet, mau kamu saya laporin ke pihak berwajib!" Pria itu ngomel panjang lebar tanpa menatap Yumna.
Yumna mengerjapkan mata lucu, apa dia baru saja diancam akan di laporkan polisi? Ck, berlebihan sekali pria ini.
"Sepertinya lengan mu hanya kesleo, tidak sampai patah tulang. Saya tidak akan memasang perban" ucap pria itu "mungkin ini akan sedikit menyakitkan. Lanjutnya sambil menarik kuat lengan Yumna.
Krekk
"Huwa.....Mama lengan Yumna patah Ma. Papa tolong jatuhkan rudal ke rumah dokter gadungan ini." Tangis Yumna pecah. Reflek pria itu membekap mulut Yumna.
"Diam bocah, kamu bisa menarik perhatian semua orang. Coba gerakkan lenganmu pelan- pelan." Ujar pria itu tapi detik berikutnya....
"Aw aw..."Pria itu memandang telapak tangannya yang memerah akibat gigitan Yumna, "Kamu...!" Pria itu kesal bukan main.
"Apa? Saya apa? Situ mau membunuh saya. Pegap tau gak! "
Tak urung Yumna akhirnya mengikuti saran pria, menggerakkan lengannya dan voilaa! Lengan Yumna sudah kembali normal, dia mengepalkan tangannya ke sana ke mari membuat pria itu memundurkan tubuhnya dua langkah ke belakang.
Yumna menghentikan aktivitas meninjunya dan tersenyum lebar sambil memandang pria itu dengan tatapan takjub. Sekarang dia percaya kalau ada dokter seganteng ini.
"Emmm, terima kasih sudah menolong saya dan maaf soal tuduhan tadi." Yumna merasa bersalah sekarang.
Namun diluar dugaan, pria itu malah tersenyum manis madu membuat jantung Yumna cenat cenut.
"Its okey. Next time, jangan sembarangan nuduh !"
Pria itu mengulurkan tangannya, membantu Yumna turun dari bagisi mobil.
“Apa yang terjadi mbak ? Mbak Yumna tidak apa apa?"
Pecah suara membuat dua insan dengan tangan saling bertautan menolehkan kepala. Ada dua tentara berpakain PDL TNI-AU sedang menatap Yumna dengan wajah cemas.
"Apa pria ini menyakiti mbak Yumna?" tentara bername tag M. Iqbal mendelik tajam ke pria tampan di hadapannya.
"Saya baik om ga usah khawatir. Saya tadi mengalami kecelakaan tunggal dan pria ini dokter yang membantu saya." Jelas Yumna ke dua ajudan yang berhasil menemukannya.
Celaka, roma roma Italia dia memang harus pulang ke Jogja.
"Syukurlah mbak. Kami diberi perintah untuk menjemput mbak Yumna." Ucap tegas tentara bername tag Abdul Muis.
"Baiklah saya nyerah, kita pulang sekarang. Om Iqbal bawa motor saya ke kos dan saya akan ikut mobil om Muis."
Yumna menyerah, dia tidak ingin berdebat. Dia terlampau lelah.
"Siap mbak." Ucap Iqbal kemudian berjalan menuju motor Yumna yang distandar di pinggir jalan. Kondisinya lebih parah dari bamper mobil milik pria itu.
Berbicara bamper mobil membuat Yumna ingat sesuatu kalau dokter tadi belum beranjak dari sini. Dia sedang berdiri mematung menyaksikan perbincangan Yumna dengan sang ajudan.
"Eh, pak dokter. Saya minta maaf karena membuat mobil bapak lecet. Meskipun ini bukan murni kesalahan saya."
Pria itu membelalakkan mata tak percaya. Wow, amazing! Gadis ini luar biasa menjengkelkan, sudah salah tapi tidak mau mengakui. Pria itu hanya bisa merutuki dirinya sendiri, sepertinya habis ini dia harus buang sial. Semoga, di masa depan dia tidak dipertemukan dengan gadis ini lagi.
"Sebagai tanda permintaan maaf, saya akan memberi uang ganti rugi untuk biaya kerusakan mobil bapak. Tapi berhubung hari ini belum ada uang cash. Kita bisa membicarakan ini lain hari." Ucap Yumna panjang lebar membuat pak dokter mengerutkan dahi.
"Anda jangan khawatir" Yumna membuka tas punggungnya mengeluarkan dompet "Ini tanda pengenal saya sebagai jaminan, bapak bisa mencari saya di alamat ini." Yumna menyerahkan kartu persegi dan diterima pria itu dengan berbagai macam tanya menghiasi otaknya.
"Saya duluan." Pamit Yumna berjalan tertatih menuju honda jazz putih di seberang jalan.
"Mari mas, saya permisi." Ungkap om Muis dan diangguki pria tampan itu.
Om Muis berjalan mengikuti Yumna dari belakang, membukakan pintu untuk Yumna, sebelum akhirnya dia sendiri duduk di balik kemudi, perlahan tapi pasti mobil putih itu melaju, hilang ditelan kendaraan yang berlalu lalang di jalanan sore kota Surakarta.
Semua tak luput dari pandangan Pak dokter tampan yang masih belum bergeming dari tempatnya sambil memegang kotak P3K.
Spesies jenis apa pasien ku tadi? Sampai ada 2 tentara yang mengawalnya?