Perjodohan Di Mulai

791 Kata
Di sebuah ruangan bercat dinding warna hijau, terlihat pria berseragam doreng tengah duduk termenung di kursi kebesarannya, memandang lekat kartu persegi yang dia pegang. Di sekelilingnya terdapat lemari kaca berisi obat obatan dari mulai antibiotik sampai analgetik narkotik. Tak ketinggalan brankar di seberang mejanya. Dari situ kita semua tahu pria ini berprofesi sebagai dokter, lebih tepatnya dokter militer bernama lengkap Lettu Ckm dr. Reihan Wiraatmadja. Orang terdekatnya suka memanggilnya Reihan. Kalau sedang bertugas dia dipanggil dokter. Beda lagi kalau kumpul sama junior atau adik asuhnya, dia lebih suka dipanggil Bang. Reihan masih betah memandangi kartu mahasiswa pemberian gadis bar bar yang di temuinya kemarin lusa. Akibat ulah gadis itu mobilnya harus menginap di bengkel untuk diperbaiki. Ah, mengingat itu membuat rasa gondok ke gadis itu kembali muncul. Reihan mencermati KTM milik Yumna Khumaira. Mahasiswa hukum pidana membuat Reihan menganggukan kepala maklum. Pantes gadis itu pandai bersilat lidah. Manik tajam Reihan berhenti, fokus menatap foto gadis berjilbab hitam beralmamater universitas terkenal di Surakarta sedang tersenyum anggun. Siapa sangka gadis bar bar ini sudah berusia dua puluh satu tahun, wajahnya sungguh baby face. Tapi Reihan tidak habis pikir, kenapa gadis itu memberikan kartu pentingnya sebagai mahasiswa hanya untuk jaminan, ribet banget bukan. Padahal dia bisa memberi Reihan nomor hape nya, itu lebih mudah. Ketimbang harus mencari alamat rumahnya yang ternyata berada di Jogja. Drt...drt... Getar suara ponsel di atas meja membuat acara melamun Reihan terhenti, dia melihat nama Bundanya berkedip di sana. Pasti Bundanya akan membahas pejodohan itu lagi. Menyebalkan! “Assalamualaikum mas Reihan." Salam Bunda di seberang sana saat Reihan menggeser tombol hijau. “Waalaikumsalam Bunda." Tumben nelfon siang siang begini. “Mas sibuk ya? Bunda ganggu dinas mas? " “Mas memang lagi dinas Bund. Tapi tidak sibuk. Ada hal penting?" “Mas besok libur kan? Nanti selepas dinas pulang ke rumah ya! Besok kita akan kerumah temannya Ayah." Ucap Bunda. Reflek Reihan berdiri, meletakkan kartu persegi di genggamannya di atas tumpukan buku kedokteran "yang anaknya mau dijodohin sama mas itu Bund?" tanya Reihan to the point. Dia tahu ke rumah sahabat ayahnya itu maksudnya adalah menemui gadis yang akan dijodohkan dengannya. "Iya. Untuk kali ini mas nurut sama Bunda! Umur mas itu sudah cukup untuk membina rumah tangga! Penghasilan mas juga sudah cukup untuk menghidupi anak orang! mau nunggu apa lagi?" Bunda sepertinya sudah lelah menasehati putra sulungnya. Di usia hampir menginjak kepala 3, Reihan masih betah melajang. Wajah tampan, karir cemerlang. Seharusnya mudah bagi dia untuk mendapatkan pasangan, tinggal menunjuk perempuan mana yang dia inginkan. Tapi itu tidak semudah membalikkan telapak tangan . Dalam dua puluh enam tahun hidupnya, dia belum pernah merasakan namanya jatuh cinta, tapi sekalinya merasakan kenapa harus dengan calon istri orang. Nahasnya sampai usianya dua puluh sembilan sekarang ini, dia belum bisa move on dari bayang-bayang perempuan itu, seorang guru hebat di pedalaman Indonesia yang dia temui 3 tahun lalu ketika Satgas. Reihan duduk kembali di kursinya dan memejamkan mata "baiklah Bund, mas pulang hari ini dan besok kita menemui gadis itu." Ucapnya. Menolak permintaan orang tua adalah hal yang paling sulit Reihan lakukan. Terlebih yang meminta adalah Bundanya, sosok wanita yang menjadi surganya. Meskipun dulu menolak, bukan berarti dia tidak mau. Reihan hanya menggu waktu yang tepat, saat hatinya sudah siap untuk jatuh cinta dengan orang baru. Dan kali ini mungkin kesempatan Reihan untuk mencoba melupakan perempuan yang mungkin sudah menikah dan memiliki anak. Disini dia hanya sendiri, mencintai sepihak, merasakan sakitnya cinta yang tak terucap. Semoga gadis pilihan Bundanya bisa memenangkan hatinya. "Coba bilangnya dari dulu mas. Bunda pasti sudah gendong cucu." Kesal Bunda. Pasalnya ini kali ke sepuluh Bunda menawari Reihan perjodohan. Nambah satu, sudah bisa membentuk kesebelasan sepak bola. Jika kali ini Reihan menolak , Bunda akan menikah paksakan putra sulungnya dengan putri sahabat suaminya itu. Dulu saat Reihan menolak Bunda masih maklum karena Reihan masih Letda. Tapi kalau sekarang, jangan harap Letnan! "Izin dok. Dokter Reihan ditunggu Danyon di kantor." Ucap salah satu ajudan Danyon saat memasuki ruangan Reihan yang pintunya memang terbuka. "Oke Zid, saya segera kesana." "Siap. Izin mendahului dok." Ucap Prada Yazid dan di angguki oleh Reihan. "Ya udah, sepertinya mas lagi sibuk. Besok kita menemui calonnya mas, ingat jangan sampai lupa! Bunda tutup telfonnya. Assalamualaikum." "Iya Bund, waalaikumsalam." Tut... Sambungan telfon dimatikan, Reihan meletakkan ponselnya di meja. Dengan cekatan dia memakai snelli yang tergantung di sandaran kursi, memasukkan ponsel ke saku dan mulai menata kembali bukunya yang berserakan di atas meja. Setelah dirasa semua sudah kembali rapi, ponsel, dan kunci motor sudah masuk saku, dia mengambil map coklat berisi hasil tes kesehatan para prajurit yang akan melakukan Satgas Pamtas-Ri di dalam laci untuk diserahkan kepada Danyonnya. Reihan memang tidak seperti dokter pada umumnya, saat bertugas harus menenteng tas hitam berisi perlatan medis dan antek-anteknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN