Pulang

1051 Kata
Yumna sedikit berlari, karena ketiduran alhasil dia sedikit terlambat datang ke terminal Tirtonadi sore ini. Dengan bermodalkan kepiawainya bersilat lidah, kemarin lusa dia lolos dari kedua malaikat maut alias ajudan papanya dan tidak jadi ikut pulang ke Jogja, malah berakhir papa mamanya yang mengunjunginya ke Surakarta. Yumna menjadikan kecelakaan tidak seberapa parah sebagai alasan, dengan kemampuan akting bak artis profesional dia merintih kesakitan dan berhasil mengelabuhi ajudan papanya. Sungguh luar biasa bukan. Terminal Tirnodadi selalu padat seperti biasanya, apalagi saat sedang weekend. Sebelum akhirnya busnya berangkat, Yumna melompat dengan nafas terengah. "Nduk, kamu masih dengar Mama kan. Suara di sebereang sana dia abaikan." Mamanya itu keterlaluan, telah merampas kesejahteraan hidup Yumna. Bagaimana tidak, pagi tadi saat dia akan menggesek kartu ATM ternyata saldonya kosong. Tanpa pikir panjang dia langsung menelfon mamanya, dan benar saja sang Mamalah dalang di balik kejadian ini. Yumna celingukan mencari tempat duduk dengan ponsel menempel di telinga kirinya "Mama jahat! Yumna baru kecelakaan! Bisa bisanya Mama nyuruh Yumna pulang dengan bermodalkan uang lima puluh ribu." Rengek Yumna membuat banyak pasang mata menatapnya. "Jangan kira Mama tidak tahu sayang. Kamu memang kecelakaan, tapi tidak begitu parah. Kamu saja yang melebih-lebihkan. Mama tidak akan mengembalikan saldomu sebelum kamu sampai Jogja.” Sepandai-pandainya Yumna beralasan, dia sampai melupakan kalau Mamanya itu sarjana psikologi yang bisa dengan mudah membaca raut wajah orang, apalagi orang itu adalah anaknya sendiri yang sudah dihafal karakternya luar dalam. "Bawel! ini Yumna juga sudah dalam perjalanan. Puas?" Yumna mengambil duduk di bangku paling belakang, bersebelahan dengan pria berseragam loreng yang menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan wajah tertutupi topi berwarna hitam. Wanita di seberang sana terkekeh "hati-hati ya Nduk! Amankan barang bawaanmu, biasanya di bus banyak pencopet! Kamu sih kemarin diajak bareng malah pilih pulang sendiri naik bus." "Mama kemarin setelah jenguk Yumna tidak langsung pulang ke rumah ya! kalau Mama lupa! Dan Yumna gak mau ikut papa sama mama kunjungan!" Dengus Yumna sebal. "Kalau sudah hampir sampai kamu kabarin Mama! Nanti biar dijemput om Muis! Kalau om Muis belum datang kamu jangan nunggu di tempat yang sepi!” Pesan Mama panjang lebar membuat Yumna memutar bola mata malas. "Kamu masih mendengar Mama sayang!" "Hmmmm." “Kamu duduk sama laki-laki apa perempuan? Kalau sama laki-laki kamu jangan terlalu....." "Udah ya Ma, Yumna ngantuk. Nanti Yumna kabarin lagi. Asslamualaikum!" Tut... Yumna mematikan sambungan terlfon secara sepihak. Mamanya tidak akan berhenti ngomel dari Sabang sampai Merauke jika obrolan ini tetap dilanjutkan. Selalu seperti ini! Mamanya terlalu over protektif setiap kali Yumna bepergian menggunakan bus atau kereta. "Penampilan udah mirip gembel. Pencopet juga mikir dua kali kalau mau ngambil tas gue! Mama suka berlebihan!" gerutu Yumna memasukkan ponselnya ke sling bag yang dia bawa. Yumna menengok ke arah pria berbaju loreng di sampingnya "lagian laki-laki yang duduk sama gue tentara, gak mungkin dia berbuat macem-macem!" ucap Yumna menyandarkan tubuh di kursi. Sebelum pikiran kotor mucul di otak nethink nya "Eh, tunggu! bisa saja kan pria ini tentara gadungan! Terus mau berbuat jahat ke gue," Yumna kembali menegakkan tubuh. "Siapa yang tentara gadungan?" Pecah suara pria disampingnya membuat Yumna menoleh ke asal suara. "Dokter m***m!" "Bocah tengil!" Ucap mereka kompak. Yumna kaget melihat wajah pria berpakain PDL TNI-AD adalah pria sama yang mengaku dirinya sebagai dokter tempo lalu. "Situ membohongi saya? Kemarin ngakunya dokter kenapa sekarang pakai seragam tentara. Situ penipu?" tuduh Yumna sambil memukuli pria berseragam loreng yang tak lain adalan Reihan Wiraatmadja dengan sling bag. Reihan menangkis pukulan itu "heh, bocah tengil! Hobi banget nuduh orang sembarangan! saya ini dokter militer! Otak isinya cuma suudzon mulu." Reihan menjitak kepala Yumna yang terbalut pashmina hijau membuatnya mengaduh. "Aw sakit, dasar pria m***m! Jangan salahkan saya, jika saya nethink. Orang situ ngaku ke saya sebagai dokter tanpa embel-embel dokter militer. Tidak salah dong saya curiga." Bantah Yumna keras. Untung mereka duduk di bangku paling belakang sehingga tidak begitu menarik perhatian semua penumpang. “Stop, call me pria m***m! Kemarin saya sempat berpikir akan mengikhlaskan biaya ganti rugi mobil, tapi setelah kejadian ini saya urungkan niat itu." Geram pria itu. "Saya juga tidak sudi hutang budi dengan situ. Saya akan tetap bayar! Dikira gak mampu apa?" "Bagus! Sini mana uanganya? Tiga juta tujuh ratus lima puluh ribu!" Reihan mengadahkan satu tangannya di depan Yumna. Benar-benar pria gila, bagaimana bisa dia mengindahkan semua ucapannya. Yumna hanya bisa menatap nanar tangan besar pria itu mau bayar pakai daun? Duit aja kagak punya. Batinnya. "Kenapa diam? Gak punya uang?" Reihan tersenyum licik, dia tahu gadis cantik di sampingnya ini sedang tidak memiliki uang. Sedari tadi Reihan medengar tanpa ada yang terlewat pembicaraan gadis ini dengan mamanya. Bukan bermaksud menguping. Salahkan saja Yumna yang berbicara terlalu keras, sampai membuat Reihan terbangun dari tidurnya dan tanpa sengaja mendengar semuanya. Tanpa dia ketehui ternyata gadis cantik itu adalah Yumna Khumaira, mahasiswi hukum pidana, berulang tahun setiap tanggal 17 Agustus sama seperti hari kemerdekaan negaranya. Hah? Apa Reihan gila, dia hafal di luar kepala nama gadis bar-bar yang sekarang menatap tajam ke arahnya. "Permisi mas, mbak...Tatap-tapannya bisa dilanjutkan nanti. Ini karcisnya." Pecah suara membuat kedua umat manusia berbeda jenis kelamin itu memutuskan kontak mata. Reihan mendongak menatap sebal kondektur yang menegaskan seolah dirinya dan gadis ini sedang menjalin kasih. Sedangkan Yumna sibuk menggledah sling bag mencari dompetnya. "Ini, berdua sama dia." Reihan memberikan pecahan uang lima puluh ribu kepada pak kondektur dari dalam saku bajunya, mengabaikan tatapan bertanya Yumna. Hati malaikat Reihan tak tega, melihat gadis ini mati kelaparan di jalan. Secara Solo-Jogja cuma membawa uang lima puluh ribu. My god. "Ini mas kembaliannya." Kondektur itu mengulurkan uang dua puluh ribu kepada Reihan "semoga langgeng sampai ke pelaminan mas, pacarnya cantik! Kalian pasangan serasi." Ucap pak kondektur. Reihan dan Yumna diam tak bergeming setelah mendengar ucapan tersebut. “Gue sama dia menikah? batin Yumna. “Aku jadi suami gadis ini? ucap Reihan dalam hati sambil menatap gadis yang saat ini juga tengah menatapnya. “ENGGAK MUNGKIN! teriak mereka berdua kompak dan sama-sama memalingkan wajah. Selanjutnya Reihan dan Yumna kompak membisu, diam tanpa sepatah kata. Mereka seakan melupakan perdebatan sengit yang belum temu ujungnya. Entah kenapa doa pak kondektur tadi seperti kaset rusak, terus berputar di otak mereka. Bahkan sampai bus berhenti di terminal Jogja . Tak ada salam perpisahan baik dari Reihan maupun Yumna, mereka berdua turun dari bus seperti orang tidak saling kenal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN