Adik Manja

586 Kata
"Hoe mas, diam terus dari tadi, kesambet setan terminal?"ucap adik laki-laki Reihan. Pasalnya, sejak dari terminal sampai masuk mobil. Reihan cuma diam, duduk anteng ayem di samping sang adik yang sedang mengemudikan mobil membelah jalan kota Jogja. "Apa dek? tanya apa kamu tadi?" Reihan gelagapan sambil membenarkan posisi duduk. "Gak jadi! gak ada siaran ulang!" Adik Reihan ngambek. Masnya ini memang keterlaluan, sedari tadi dia ngoceh panjang kali lebar kali tinggi, menanyakan ini itu tapi bukan jawaban yang dia dapat malah mendapati Reihan melamun. "Ck, gitu aja ngambek, kayak anak perawan!" Cibir Reihan. Adiknya cuma diam. Melancarkan aksi merajuknya. Fachri Wiraatmadja, ABG labil berstatus adeknya Reihan. Terlahir sebagai anak bungsu membuatnya jadi objek sasaran kasih sayang orang tua dan tentu saja abangnya. Untung saja orang tuanya mendidiknya dengan cara yang tepat, meskipun dia manja tapi masih dalam batas wajar. Terlepas dari itu semua, Fachri adalah sosok anak SMA dengan fisik bak taruna. Badan tegap atletis, bagai pinang dibelah dua jika disandingkan dengan Reihan. Yariz merah yang dikemudikan anak manja ini memasuki kawasan kompleks perumahan jenderal berbintang. Fachri tetap dalam mode merajuk dan Reihan sudah lelah membujuk adek bungsunya. Fachri bersungut masuk ke rumah, setelah memarkirkan Yariz merah di samping mobil dinas Ayahnya dan menyapa tentara yang tengah berjaga di teras. Reihan mengikuti adeknya, menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu, disusul wanita paruh baya berdaster floral berjalan dari arah dapur membawa nampan berisi kue dan jus. "Mas Reihan." Sapanya membuat pria beda generasi itu kompak membuka mata dan menegakkan tubuh. "Bunda, apa kabar? sehat?" Reihan mencium punggung tangan Bundanya. "Alhamdulillah Bunda sehat, apalagi setelah mas mau menerima perjodohan itu." Raut ceria tergambar jelas di wajah ayu nyonya Wiraatmadja, membuat Reihan tak sampai hati membatalkan perjodohan itu "Reihan." Panggil pria paruh baya berpotongan cepak yang baru keluar dari sebuah ruangan. Pria tersebut berjalan ke sofa, ikut bergabung dengan istri dan kedua putranya. "Ayah apa kabar?" Reihan berdiri, mencium punggung tangan Ayahnya. "Alhamdulillah sehat mas. Sudah lama datangnya?" "Baru nyampe Yah. Anak manja Ayah nyetirnya lelet kayak siput. Masa terminal ke rumah hampir 2 jam lebih. Parah banget!" Reihan menonyor pelan kepala adek bungsunya yang asik main game. "BODO AMAT" balas Fachri ketus dan fokus menatap ponsel pintarnya. "Dek Fachri kenapa? sewot gitu?" tanya Bunda sambil menuang jus mangga ke dalam gelas milik Reihan. Fachri meletakkan ponselnya, dan mencomot gelas berisi jus mangga milik Reihan lantas meneguknya. Reihan hanya melirik sekilas. Fachri bukan anak pungut kan? bukan kok, dulu Reihan ikut menunggui ibunya waktu melahirkan anak manja ini. "Tanya tuh anak sulung Bunda! apa segitu frustasinya dijodohin. Sampai tega nyuekin adeknya." Fachri menjeda kalimatnya, "coba tanya lagi Yah! Siapa tahu mas Reihan terpaksa menerima perjodohan itu, takutnya nanti bunuh diri terus jadi headline akun gosip." "Ayah dan Bunda tidak memaksa mas Reihan menerima perjodohan ini kok. Mungkin Bunda sedikit memaksa, tapi itu semua demi kebaikan mas!" ucap tegas sang kepala keluarga memecah keheningan. Reihan diam di tempatnya, dia bingung harus bagaimana, dia tidak suka menerima ide itu, tapi di satu sisi dia tidak tega melihat Ayah, terlebih lagi Bundanya kecewa. Bismillah, Reihan memantapkan kembali niatnya, Ridho Allah tergantung Ridho orang tua. "Reihan ngikut apa kata Ayah dan Bunda." ucap Reihan membuat Bunda Rania tersenyum dan memeluk putra sulungnya dengan sayang. "Bunda jamin kamu tidak akan pernah menyesal menerima perjodohan ini. Dia gadis yang tepat buat mas Reihan." Jujur Reihan juga berharap demikian. Walaupun sampai detik ini dia belum tahu nama dan rupa gadis itu. Semoga dia gadis baik, tidak seperti gadis bar-bar di dalam bus yang dido'akan berjodoh dengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN