"Ma, berhenti dong! Yumna pusing ngelihatnya." Yumna bosan menatap Mamanya sedari tadi sibuk mondar-mandir membawa loyang kue.
Sejak Yumna menginjakkan kaki dengan selamat tanpa ada lecet sedikitpun ke rumah minimalis berlantai dua milik orang tuanya ini, disambut wajah cerah dan sikap berlebihan sang Mama. Kemudian, Yumna disuruh makan dan ditinggalkan duduk sendirian di meja makan.
Mamanya sedang sibuk memanggang kue di dapur, yang terletak tidak begitu jauh dari ruang makan, hanya tersekat pantry. Iya udah, itu saja sambutan selamat datang dari mamanya. Ya lord, sudah dibelain pulang bermodalkan uang lima puluh ribu, mamanya sama sekali tidak membahas perjodohan pun saldo ATM.
"Kalau psing sini sayang...bantuin Mama."
Yumna berdiri, menghamipiri sang Mama, "kembalikan saldo Yumna! Mama sudah janji mau mengembalikan kalau Yumna sudah pulang. And see Yumna sudah berdiri disini."
Mama Anita melambaikan tangan ke kiri dan kanan “no sayang. Mama akan mengembalikan saldo kamu, kalau kamu mau menerima perjodohan ini."
"Ih...Mama kok ngeselin. Perjanjian awalnya kan gak gitu." Yumna menghentakkan kaki bak anak kecil yang merengek minta mainan.
Mama menatap Yumna lembut "ayolah sayang! Kamu tidak akan menyesal, dia pria yang tepat buat kamu. Dewasa, karir bagus, tampan. Mama yakin putri Mama akan bahagia hidup bersama pria itu."
"Mama yakin sekali jika Yuma bakal bahagia? Yumna saja tidak kenal dan tidak mencintai pria itu," Yumna mendelik.
"Papa dan Mama yakin Nduk! Papa tidak mungkin menyerahkan putri Papa ke orang yang salah, kamu putri kesayangan Papa dan Mama." Timpal laki-laki berpakain PDH TNI-AU.
Yumna berlari mengahambur ke pelukan sang papa yang berdiri di samping meja makan. Sepertinya Papanya habis dinas. Ya begitulah tentara. Kadang Yumna sedikit membenci profesi Papanya yang merenggut waktu berkumpul dengan keluarga.
"Papa, Yumna kengen." Ucap Yumna manja, kemudian mencium punggung tangan Papanya.
Papa terkekeh, “putri Papa sudah besar. Kamu turutin omongan Mama mu ya Nduk. Percaya sama Papa, pria itu akan membahagiakanmu. Masalah cinta bisa datang seiring berjalannya waktu. Bukankah cinta datang karena terbiasa?”
"Pa, Yumna masih ingin melanjutkan kuliah bukan malah berakhir seperti ini. Umur Yumna masih muda, masa depan Yumna masih panjang." Yumna mencoba berunding, siapa tahu papanya berbaik hati mau membatalkan perjodohan ini.
"Setelah menikah kamu masih bisa melanjutkan pendidikan sayang, Mama yakin suamimu mengizinkan, bukankah ibu yang cerdas akan melahirkan generasi cerdas?" Mama Anita berjalan mengahmpiri Yumna, mengelus pelan lengan putri kesayangannya "usia gak jadi masalah, Yum. Mama menikah dengan Papa saat usia Mama 20 tahun." Lanjut sang Mama.
"Semua keputusan ada di kamu, Nduk. Papa dan Mama berharap kamu setuju. Besok mereka akan datang kesini untuk membicarakan tanggal." Papa mengelus sayang kepala Yumna, kemudian berlalu masuk kamar.
What the fuck... secara tidak langsung Papa meminta Yumna menerima perjodohan ini bukan? dia harus bagaimana? apakah dia harus menerima ide gila ini. Biasanya pilihan orang tua adalah yang terbaik.
"Dia bukan pengangguran kan, Ma? gak tua, buncit, kumisan, pemabuk, suka main pukul?" Yumna mendelik ke Mamanya.
Mamanya tertawa kencang "ya Allah Nak, pikiran macam apa itu," Mamanya menjentik pelan kepala Yumna "dia dokter dan punya usaha perhotelan, dia dinas di Surakarta. Nanti kamu tidak perlu bayar kos lagi, uang jajanmu akan bertambah. Hidupmu akan terjamin jika menikah dengan dia."
"Mama! Apa itu alasan mama menjodohkan Yumna dengan pria itu. Gaji Papa dari negara apa kurang buat menghidupi Yumna? usaha batu bara Papa bangkrut? Sampai Mama....."
"Jaga ucapan mu Yumna" Mama menyela, menempelkan jari telunjuknya di bibir tipis Yumna.
"Bukan itu alasannya. Setiap hari Papa bekerja keras agar bisa menghidupimu dengan layak. Tapi semakin hari Papa dan Mama semakin menua. Bisa saja Papa dengan tugas yang diemban, pulang hanya tinggal nama. Bisa saja pesawat yang Mama tumpangi saat menemani Papa kunjungan jatuh. Tidak ada yang tahu takdir Tuhan! Papa dan Mama hanya ingin memastikan kamu hidup bahagia dan tidak kekurangan. Setidaknya, jika Papa dan Mama tiada kamu berada di tangan orang yang tepat."
Mama Anita meneteskan air mata, reflek Yumna memeluk mamanya dan tangis keduanya pecah.
“Maafin Yumna, Ma. Yumna selalu berdoa agar Papa dan Mama panjang umur, bisa menggendong anak Yumna. Yumna janji akan menerima perjodohan ini, Yumna janji. I promise !" Yumna terisak di pelukan sang Mama.
"Mama tak pernah lelah mendoakan kebahagianmu Nduk! Jangan pernah berfikiran seperti itu lagi." Mama Anita melepas pelukannya dan mengusap air mata Yumna "berjanjilah sama Mama, apapun yang terjadi Yumna akan hidup bahagia dengan Reihan."
Sejak kejadian itu, di sepertiga malam tak hentinya Yumna bersujud memohon ampunan atas kelancangan mulutnya melukai hati sang Mama.
Robbighfirli....ini pertama dan terakhir kalinya Yumna melihat Mamanya menangis karena ucapannya. Dia berjanji.