Pertemuan Dua Keluarga

1560 Kata
di meja makan rumah begitu banyak tersaji berbagai hidangan, dari mulai rendang, capcay, buah, dessert dan kawan-kawannya. Yumna sendiri sampai bingung melihatnya. Bagaimana cara menghabiskan itu semua. Pasalnya selepas solat subuh, nyonya besar rumah ini nampak bersemangat 55 untuk memasak, dibantu mbok Jah, pembantu yang biasanya dipanggil saat rumah ada hajatan. Seperti hari ini misalnya, Yumna akan kedatangan keluarga calon suaminya yang sampai sekarang belum dia ketahui rupanya. Kalau namanya sudah tau, Reihan Wiraatmadja. Itu sih kata Mamanya. Mama Anita sudah cantik mengenakan kebaya brokat warna tosca sedang sibuk mondar mandir mengintrupsi mbok Jah menata makanan di meja. "Ya Allah, sayang kenapa belum berbenah. Calon mertuamu satu jam lagi sampai." Mama Anita panik melihat Yumna masih memakai daster doraemon, berlalu lalang mencomot kue. "Kamu mandi sekarang, 5 menit harus sudah selesai!" Mama Anita mendorong anak gadisnya untuk menaiki tangga, dan menyuruhnya mandi tanpa ada perlawanan berarti dari gadis itu. Tak sampai 5 menit, Yumna sudah keluar dengan wajah segar. Yumna berjalan ke arah ranjang bersprei doraemon dengan hanya memakai handuk kimono yang lagi lagi bermotif doraemon. Yumna mengangkat baju kebaya brokat senada dengan yang di pakai Mamanya, "Ma harus banget ya pakai baju ini?" "Wajib sayang. Kamu harus tampil cantik di depan calon suami mu. Kamu tidak lupa kan, kemarin sudah janji sama Mama loh." Ah...iya Yumna tidak akan melupakan kejadian semalam. Dengan wajah pasrah dia memasuki kamar mandi, mengganti kimononya dengan kebaya warna tosca. Jujur saja, Yumna sebenarnya malas memakai pakaian seperti ini, bikin panas dan gerah. Terlebih jarik yang dia kenakan menyulitkan dia berjalan. "Ini jarik, gak ada belahannya apa Ma" gerutu Yumna, "aku pakai gamis aja deh!" rengeknya lagi. "Ngawur! kamu itu gadis Jawa, jangan melupakan kodratmu. Jangan banyak ngomong! sini, Mama dandanin." Mama Anita manarik Yumna, mendudukkan putrinya di depan meja rias. Yumna meronta tidak suka, istilah Dandan versi Mamanya, tidak seperti dandan dalam arti sesungguhnya. Tidak ada eyeshadow, eyebrow, blushon, eyeliner, dan maskara. Cukup bedak bayi dan setetes madu untuk membuat bibir terlihat merah alami. No, itu bukan gaya Yumna. Yumna memblalak sempurna, menatap meja riasnya kosong tak berpenghuni "Loh, tas make up Yumna kemana?" "Mama buang! anak perawan jangan pakai make up berlebihan. Kamu sudah cantik dengan wajah polosmu." Mama Anita menaburkan bedak bayi ke wajah glowing Yumna, memoleskan madu ke bibir tipis yang sedang berkomat kamit membaca mantra. Yumna sedang merapal doa, semoga bibirnya tidak dihinggapi lebah. My god, menurutnya wajahnya sekarang lebih mirip p****t bayi karena ditaburi bedak. Padahal realitanya, Yumna terlihat begitu cantik, riasan wajah natural, kebaya pas melekat pada tubuh semampainya, jilbab satin berwarna tosca membingkai pipi chuby nya. Dia nampak anggun. “Sempurna! Yuk, turun...calon suamimu sepertinya sudah di bawah." Mama Anita menuntun Yumna keluar dari kamar. Sejak beberapa menit yang lalu, ruang tengah rumah Yumna terdengar begitu ramai oleh gelak tawa Papanya dan beberapa orang. Dengan langkah anggun Yumna menuruni anak tangga, di belakangnya ada sang Mama memasang senyum tak kalah anggun. Raut bahagia begitu kentara di wajah wanita berjilbab gold itu. Sesampainya di ruang tengah, mama Anita menyalami calon besan dan seorang pemuda yang mengenakan batik berwarna dasar abu dengan penuh takzim mencium punggung tangan Mama Anita. "Ayo sayang, Salim dulu sama orang tuanya mas Reihan." Intrupsi mama Anita lirih. Yumna bergeming dari tempatnya berdiri, menghampiri sepasang suami istri yang sedang tersenyum hangat kepadanya. Lalu mencium punggung tangan mereka berdua dengan khidmat. Kemudian, tangan Yumna terulur menyalami sosok pemuda, Oh bukan! pemuda ini lebih tepat disebut sebagai anak remaja. Wait! jadi? Yumna tertegun. Meneliti penampilan pemuda di hadapannya, badan tegap? Iya. Wajah tampan? masuk. Jangan bilang ini calon suaminya. Sungguh, pemuda ini masih cukup belia untuk diajak hidup berumah tangga. Oh my god, Otak Yumna keruh, kakinya lunglai seperti tak bertenaga. "Mari, mbak Rania silakan dinikmati kuenya. Mas Arfan Silakan, Ayo, Nak kuenya dimakan!" Mama Anita mempersilakan. Kedua pasangan paruh baya mengangguk dan tersenyum. Sedangkan pemuda yang diduga calon suami Yumna dengan tak tau malu mengambil brownis coklat lantas asik mengunyah. Ya Allah, dosa apa yang diperbuat Yumna di masa lalu. Rasanya dia ingin berteriak kepada orang tuanya. Dokter? dewasa? pria yang tepat? hah! Semua bullshit! Nyatanya pria ini jauh dari kata dewasa, dia lebih mirip bocah menyebalkan. Diakah yang akan menjamin hidup Yumna. Sumpah demi rakyat bikini bottom, pria ini lebih pantas disebut adik ketimbang calon suami. “Putrimu makin cantik mbak! Mas Reihan pasti akan suka dengan Yumna, betul kan sayang? " ucap Bunda Rania, menyikut pelan anak laki-laki di sampingnya. Anak itu menghentikan aktivitas mengunyahnya, mengangguk dan tersenyum hangat dengan mulut penuh makanan. Semua itu tak luput dari pandangan Yumna, dia bergidik ngeri. Membayangkan masa depannya akan berakhir suram. “Baiklah, Di. Reihan sudah menyetujui perjodohan ini dan ngikut apa kata kita sebagai orang tua. Bagaimana kalau putrimu? tanya Ayah Reihan. "Putriku sudah menyetujui perjodohan ini. Aku rasa mendunda niatan baik, bukan hal yang dibenarkan. Bagaimana kalau kita langsung membicarakan tanggal? " ucap Papa Yumna. Yumna semakin resah di tempatnya duduk. Dia merutuki kebodohannya menerima perjodohan ini. Rasanya, dia ingin kabur atau masuk kembali ke rahim Mamanya. Saat sholat istikhoroh tadi malam, Yumna begitu mantap dengan pria pilihan orang tuanya. Tapi setelah menyaksikan kenyataan yang ada, dia jadi ragu. Ting Tung.... Sura bel membuat Yumna menghembuskan napas lega, setidaknya dia bisa mengulur waktu. Sekalian ingin menghirup udara segar, menjernihkan pikiran yang mulai keruh dengan asumsi tentang calon suami ABG-nya. "Biar, Yumna yang buka." Ucap Yumna diangguki oleh para tetua di sana dengan senyum penuh arti. Yumna berdiri, beranjak dari tepat duduk. Berjalan menuju pintu utama dan membukanya. Ceklek! "Dokter m***m!" Pekik Yumna kaget. Begitu pula dengan pria yang Yumna panggil dokter m***m. You know lah, tentu saja Reihan si dokter ganteng yang memakai atasan batik berwarna dasar coklat tua, dia selalu tampan. Bukannya menyuruh masuk, Yumna malah menyeret Reihan sedikit menjauh ke teras depan. "Dokter mau nagih hutang? ini bukan waktu yang tepat Dok. ATM saya masih disabotase Mama. Lagi pula rumah saya masih ada acara." Rumah saya? jadi betul gadis bar-bar ini tuan putri rumah ini. Untuk sesaat otak Reihan blank, dia menatap gadis bar-bar yang malam ini terlihat begitu anggun dengan kebayanya. Reihan mulai mengaitkan kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini, entah suatu kebetulan atau gimana. Dua kali dia bertemu gadis ini tanpa sengaja. Di dunia ini tidak ada yang kebetulan, semua tak lepas dari campur tangan Tuhan. “Gih bapak pulang dulu aja, besok kembali lagi ke sini. Lagian bapak ini lebih mirip paspampres ketimbang rentenir yang nagih hutang. Masa nagih hutang pakai batik." Reihan terpaku, ini kali pertama dia menyaksikan gadis ini tertawa lebar memperlihatkan giginya yang ternyata gingsul. Satu kata, gadis ini manis. “Dih malah natap saya. Saya tahu pak, saya ini manis kalau lagi tertawa. Tapi bapak gak boleh jatuh cinta, saya sudah jadi calon bini orang." Yumna berbicara dengan nada kalem, tidak nyolot seperti biasanya. "Oh ya?" telisik Reihan. "Iya pak dokter." Yumna mendudukkan dirinya di undakan tangga teras rumah. Fix, Reihan yakin gadis ini yang kata Bundanya adalah gadis tepat penyempurna separuh agamanya, calon ibu persitnya, gadis yang akan mendampingi Reihan mengabdi kepada negara. Reihan ikut mengambil duduk di samping Yumna lalu bertanya, "kenapa tidak masuk, malah duduk lesu di sini?" "Kenapa pak dokter jadi kepo?" Yumna mendelik tak suka ke Reihan. Tapi detik berikutnya, "saya lagi galau pak dokter, saya sedikit menyesal menerima perjodohan ini." Yumna menopang dagunya dengan kedua tangan. Reihan menoleh ke arah Yumna "kenapa?" dahi Reihan mengerut. Kenapa gadis ini menyesal telah menerima perjodohan dengan dirinya yang begitu sempurna. Ayolah, Reihan tidak kepedean. Faktanya memang seperti itu. Kalau tak percaya, tanyalah semua wanita di luar sana. Tak ada yang sanggup menolak pesona Reihan Wiraatmadja. Kecuali satu wanita di masa lalu Reihan. Ah lupakan! "Bapak jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia kita berdua," ucap Yumna misterius "calon suami saya lebih mirip anak ABG labil masa! orang tua saya memang sengaja melempar saya ke neraka pak! Hiks." "HAH!” itulah satu-satunya respon yang bisa Reihan berikan. ABG? jelas jelas dia ini sudah berusia lebih seperempat abad. "Bapak aja kaget kan? apalagi saya." Yumna memijat pelipisnya seperti orang pesakitan. "Huahahaha......."Tawa Reihan Pecah. Kalau dia tidak salah menebak! Gadis ini mengira calon suaminya itu Fachri. "Bapak bukannya ikut prihatin malah menertawakan saya, nyesel saya ngajak bapak ngobrol baik-baik." Yumna mendengus sebal. "Oke oke, maafkan saya...jadi saya harus gimana? ada yang bisa saya bantu?" "Gimana kalau pak dokter pura-pura jadi pacar saya, supaya saya punya alasan untuk membatalkan perjodohan ini. Saya tidak sanggup kalau harus membina rumah tangga dengan remaja itu," entah apa yang terlintas di otak Yumna, sampai terbesit ide gila ini. Menawari pria yang bahkan belum dia ketahui namanya. Bertemu hanya dua kali, itupun tidak bisa dibilang baik. "Kenapa harus pura-pura, kalau kita bisa jadi pasangan yang sesungguhnya" Reihan menyeringai "Yuk masuk." Dia berdiri, menepuk celana bahan berwarna hitam yang dia kenakan lantas berjalan masuk ke rumah , meninggalkan Yumna di luar sendirian dengan berbagai macam tanya berkecamuk di otak. Dokter, dinas di Surakarta, tampan, dewasa. "Dokter m***m itu?" Astaga dragon. Batik pria itu sama persis seperti batik yang dikenakan pria paruh baya yang dia yakini adalah calon Ayah mertuanya. Garis wajah dokter m***m itu mirip dengan pemuda di dalam sana. Ya lord, untuk pertama kalinya Yumna menyesal atas segala keapatisannya, menyimpulkan sesuatu berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Dengan tenangnya dia mencurahkan isi hatinya kepada orang asing, dan orang asing itu ternyata calon suaminya. Dokter m***m itu adalah Reihan, dan Reihan adalah dokter m***m.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN