Love At The First Sight

1025 Kata
“Hhmm, tidak masalah. Kamu tidak apa-apa?" Pria itu hanya tersenyum melihat Alin yang ketakutan. "Gakpapa, aduh, betulan saja gak sengaja, Pak. Maaf." Skin meminta maaf untuk kedua kalinya. "Astaga, cantik betul gadis ini." Dalam hati Reyhan memperhatikan Alin yang terlihat tak enak hati dengannya. “Pak, aduh, saya betulan gak sengaja, Pak,” ucap Alin sekali lagi karena Reyhan hanya diam, tidak merespon ucapan Alin. “Ah, iya. Tidak ada, sudah lupakan,” jawab Reyhan kepada Alin. Karena merasa Alin terlalu lama berada di toilet, Nina menyusuknya dan melihat artisnya sedang berbicara dengan seorang pria di depan toilet. “Ada apa, Lin?” Nina menghampirinya dan melihat sepertinya Alin sedang dalam masalah. “Gue gak sengaja nabrak ini Bapak, udah minta maaf, Nin,” jawab Alin gelisah. “Kan saya bilang gakpapa, perkara ponsel jatuh, tidak apa, bukan hal besar kok,” jawab Reyhan santai. “Tapi ini keluaran terbaru, Pak. Saya tahu harganya,” jawab Alin tak enak. Karena tabrakan dengan Alin, ponsel Reyhan terjatuh dan rusak. “Sudah, tidak apa. Saya duluan yah, oiya, ini kartu nama saya,” pamit Reyhan memberikan kartu namanya kepada Nina karena Alin sepertinya tidak fokus. Setelah Reyhan pergi, Nina mengomel kepada Alin. Sederet nasehat ia berikan kepada artis sekaligus sahabatnya itu. “Ya ampun, Alin! Ganteng kek gitu Lo anggurin. Yang duduk disana juga suka sama Lo kali, yuk,” ucap Nina menggandengnya kembali ke mejanya. “Lo mah, apa-apa suka, apa-apa sikat! Gue semenyedihkan itu kah?” Alin pun tak kalah sewot karena Nina mengomel tiada henti. “Hahaha, ya gak sih, cuma Lo kudu bangkit. Lo cantik, banyak yang suka dan sekarang lo terkenal,” jawab Nina. Kenyataan yang Alin tidak sadari sejak ia didapuk sebagai bintang iklan Beauty Skin. “Iya, Nina bawel. Sumpah, Lo lebih berisik daripada Mama,” ucap Alin sewot. Nina hanya tertawa mendengar protes Alin kepadanya, baginya menjaga Alin jauh lebih penting daripada menghindari omelan artisnya itu. “Lo kalau merepet juga gak beda jauh dari Tante Yola,” jawab Nina terkekeh. “Hadeehhh, tuan putri kudu dijemput yah,” ledek Dimas melihat Alin dan Nina kembali ke kursinya. “Sorry, gue memang jaga dia bener. Takut diculik,” jawab Nina asal. “Nina!” Alin menatap tajam dirinya. “Dah ah, gue lanjut makan dulu. Lo kalau gak lapar, tunggu dulu yah,” jawab Nina cuek. Ia menikmati makanannya sambil sesekali menajamkan telinganya mendengar obrolan Alin dan Dimas. Cukup akrab dan Alin pun nyaman berlama-lama dekat dengan Dimas, membuat Nina bersyukur. Patah hatinya Alin saat ini sedikit berbeda karena menyangkut orang-orang terdekatnya. Alin yang terseok menerima kenyataan bahwa pria yang dicintainya ternyata teman dekat Yola. Namun, keberadaan Dimas seolah membantunya sedikit melupakan urusan hatinya. “Udah yuk, balik. Besok kita harus syuting pagi,” ucap Dimas kepada Nina dan Alin. Setelah membayar billing tagihannya, Dimas mengajak mereka kembali ke hotel untuk beristirahat. “By the way, makasih yah udah ditraktir makan,” ucap Alin kepada Dimas. Mereka berpisah di lift hotel untuk kembali ke kamar masing-masing. “Oke, see you girl!” Dimas mengucapkan salam perpisahan karena ia juga lelah. “Oke, bye, Dim!” Alin melambaikan tangannya kepada Dimas sebelum pintu lift tertutup. “Ciieee, udah banyak penggemar,” ledek Nina setelah keduanya masuk ke dalam kamar. “Apaan sih, Lo heboh bener?” Alin terkekeh melihat Nina yang tampak berusaha keras agar dirinya melupakan Tirta. Di saat Alin sedang berusaha menata hati dan karirnya, Tirta sedang melakukan sambungan telepon dengan rekannya Reyhan, “Baru kali ini, gue liat bidadari, asli cantiknya Indonesia banget!” Reyhan antusias pertemuannya dengan seorang wanita di depan toilet umum restoran tadi. “Ada lakinya gak?” Tirta terkekeh mendengar cerita sahabatnya. “Bego nya gue gak minta nomor telepon itu cewek. Tapi gue udah kasih kartu nama gue ke temennya,” jawab Reyhan apa adanya. “Yah, moga jodoh ketemu lagi, kenalan deh, kali aja cocok,” jawab Tirta santai. “Masih muda sih, maybe seumuran anak Lo,” jawab Reyhan memperkirakan usia wanita yang menabraknya tadi. “Alinka? Yah masih dua puluhan,” ucap Tirta. “Sekitar itu dah, by the way, proyek Beauty Skin gue bantuin apaan?” Reyhan dan Tirta memang saling support untuk urusan bisnis. Apalagi mereka ada kerjasama di beberapa proyek besar. “Promo aja sih, gue udah ada tim sebenarnya. Lo kasih saran atau apalah gitu,” ucap Tirta lagi. “Oke, ntar gue cek di lapangan deh, Bro. Gue lanjur dulu,” jawab Reyhan kepada Tirta. Pertemanan mereka terjalin saat keduanya menimba ilmu di London. Hingga keduanya sibuk dengan perusahaan masing-masing, masih menyempatkan diri saling mendukung satu sama lain. Reyhan yang sedang berada di salah satu kedai kopi, menikmati lamunannya mengenai Alinka, gadis cantik yang menabraknya tadi. “Semoga doa Tirta terkabul, gue ketemu lagi sama cewek itu,” gumam Reyhan sambil menyesap kopi hitamnya. Seperti biasa, ia menikmati kesendiriannya, kehidupannya hanya diisi dengan bekerja dan bekerja. Tak ubahnya seperti Tirta, hanya saja, sahabatnya itu kini sudah selangkah lebih maju karena akan menikah dengan kekasihnya. Kembali ke hotel tempat ia menginap, Reyhan teringat janjinya akan menghubungi wanita yang melahirkannya. “Astaga, otakku berhentilah memikirkan gadis itu! Oke, dia cantik dan mempesona, please gue mau call Mama!” Reyhan mengumpat sendiri karena bayangan wajah cantik Alin tidak semudah itu hilang dari ingatannya. Reyhan memilih membersihkan diri terlebih dahulu sebelum menghubungi sang Ibu yang sedang kurang sehat. “Ma, maaf Reyhan tadi ada tamu ajak ketemu di luar. Hasil lab gimana, Ma?” Reyhan menanyakan hasil pemeriksaan kesehatan mamanya. “Gak ada, baik semua. Kamu jangan kerja terus, mama minta kamu nikah lagi biar kamu gak apa-apa sendiri. Ada yang nemenin, ada yang urusin, sayang,” ucap Miranti kepada anaknya. “Iya, Mama sayang. Sabar yah, semoga ada bidadari cantik yang mau nikah sama anak Mama yang ganteng ini,” jawab Reyhan menggoda Miranti. “Ish, kamu yang bener dong, Mama bosan dengar janji palsu kamu. Katanya mau kenalin calon istri itu mana?” Miranti sekali lagi mengingatkan dirinya akan janjinya untuk mencari pendamping lagi. “Iya, Ma. Doain Reyhan cepat nyusul Tirta. Dapat istri cantik dan sayang sama anak Mama,” ucapnya kepada sang mama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN