Cinta Alin kepada Tirta memang bukanlah isapan jempol belaka. Bagaikan ingin menggapai sesuatu yang berada di dalam lemari kaca, tapi hanya bisa dipandang namun tak bisa dimiliki. Gadis itu sadar diri, tidak mengapa jika ia merasakan sakit sesaat asalkan dapat melihat senyum Yola ketika berada di samping pria yang dicintainya.
"Toh, memang Mama kelihatan kok cintanya sama Om Tirta. Kan dia udah anggap gue anaknya. Yah, ikuti saja. Gue akan belajar memposisikan diri sebagai anaknya juga. Walaupun hanya anak tiri," jawab Alin ketika Nina bertanya mengenai apa yang ia rasakan.
“Gue yakin Lo bakal dapat yang jauh lebih baik dari Pak Tirta, tapi Lo kudu sabar dulu,” jawab Nina sambil menikmati makan siangnya.
Meeting dengan pihak Beauty Skin memang sudah selesai, Alin dan lainnya dipersilahkan menikmati makan siang di hotel tersebut. Alinka Hermawan memang pendatang baru di dunia entertainment, namun kesempatan untuk mendapatkan iklan bergengsi dari Beauty Skin juga sayang jika dilewatkan begitu saja.
"Lin, kalau bisa, sering ngobrol sama Dimas yah, biar chemistry nya dapat. Gak kaku pada saat di lokasi." Salah satu dari tim management Beauty Skin menghampiri Alinka yang sedang menikmati hidangan makan siangnya.
"Iya, Bu. Kebetulan juga tadi satu pesawat, jadi udah ngobrol kok," jawab gadis itu sopan.
"Terima kasih, silahkan lanjutkan makannya," pamit wanita berkacamata itu kepada Alin.
Setelah penutupan meeting internal dengan Beauty Skin, Alinka dan Nina kembali ke kamarnya untuk mempersiapkan bekal syuting esok hari. Tak berbeda jauh dengan Dimas yang menjadi partner Alinka nanti, ia pun juga sibuk dengan tim managementnya.
"Cewek yang di pesawat itu yang jadi partner Lo? Lumayan oke sih, seksi tapi masih polos," komentar manager Dimas mengenai Alinka.
"Jangan macam-macam, walaupun sekuter begitu, dengar-dengar nyokapnya mau merit sama Pak Tirta, pemilik Beauty Skin," ucap Dimas mengingatkan sang manager.
"Serius Lo? Tau dari mana? Perasaan Lo juga jarang-jarang update gosip," kata Kemal, manager Dimas itu penasaran.
“Gue lihat medsos Alin di tag sama Pak Tirta, tapi gue salut, dia beneran kerja disini. Gak main koneksi,” jawab Dimas yang terlihat jelas tertarik dengan Alin.
“Lo suka sama dia?” Kemal yang sedang memeriksa draft perjanjian kerjasama artisnya itu bertanya.
“Iyalah, normal kali. Kenapa?”
“Ya gak ada, Lo dicariin sama Pak Candra, katanya mau ketemu,” kata Kemal sambil menunjukkan chat Candra kepadanya.
“Ya aturin jadwal lah. Gue apa kata Lo,” jawab Dimas santai.
Malam ini, Dimas mengajak Alin bertemu, sekedar untuk makan malam dan berbincang santai. Tepat pukul tujuh malam, mereka bertemu di lobby hotel.
“Wow, cantik.” Dimas terang-terangan memuji kecantikan Alin yang malam itu memakai hotpants dipadukan dengan kaos putih. Penampilan santainya membuat Dimas semakin kagum dengan kecantikannya.
“Hahaha, bisa aja. Jadi, mau ngajak makan dimana?” Alin yang memakai sneakers putih itu bertanya kepada Dimas.
“Yang enak-enak lah, kita ke dekat pantai aja.” Dimas mensejajari langkah Alin, sedangkan, para manager mengikuti dari belakang.
“Boleh, aku gak diet deh, pengen bebas makan apa aja,” jawab Alin terkekeh karena mendapatkan tatapan tajam dari Nina.
“Gak takut gendut?” Dimas menggoda Alin yang memang hobi makan.
“Ya diet lagi lah,” jawab Alin tertawa.
Dinner di sebuah cafe di daerah Kuta, keduanya tampak akrab dan saling bertukar pengalaman.
“Jadi, Lo gak ada cita-cita jadi artis?” Dimas terkejut dengan pengakuan Alin yang sebenarnya ingin menekuni dunia perbankan.
“Iya, tapi Mama iseng, kirim foto aku ke agency. Yah, lumayan lah buah tambahan uang jajan,” jawab Alin apa adanya. Dibesarkan tanpa kasih sayang seorang ayah, membuatnya bangga kepada sosok Yola yang memilih fokus membesarkan dirinya.
“Kirain memang Lo nya yang pengen, Lin.” Dimas cukup antusias mendengar kisah hidup gadis itu, ketertarikannya pada Alin memang terlihat jelas oleh Nina.
“Artis Lo suka sama artis gue?” Nina sedikit berbisik kepada Kemal, manager Dimas.
“Kayaknya, jomblo kok, wajar lah,” jawab Kemal santai.
“Masa sekelas dia jones?” Nina seakan tak percaya dengan ucapan Kemal.
“Suer, gue gak boong. Dimas baru aja kosong dua mingguan ini,” jawab Kemal meyakinkan Nina.
“Bukan, gue jaga nama baik Alin aja. Dia kurang update kalau soal kondisi teman-teman artisnya,” jawab Nina apa adanya mengenai Alin yang tidak sekepo dirinya.
“Keliatan sih, kita samperin apa gimana neh?” Kemal yang sedang berkoordinasi dengan Nina untuk syuting besok pagi mengajaknya ke meja tempat dimana Dimas dan Alin sedang berbincang.
“Udah pesen makan?” Nina duduk di sebelah Alin bertanya.
“Udah, Lo udah gue pesenin sama Kak Kemal juga,” jawab Alin.
“Oke, untuk besok, kita diminta stay di lokasi jam 6 pagi. Untungnya gak jauh sih dari hotel, kita bisa jalan setengah jam sebelumnya.” Kemal memberikan informasi kepada Alin dan Dimas.
“Paling gak, ya gak subuh juga kita di lokasi,” jawab Alin terkekeh kecil.
“Ya resiko juga sih kalau memang harus di lokasi subuh-subuh,” jawab Dimas menjawab ucapan Alin.
“Iya, mau gimana lagi, udah pekerjaan kita begitu,” ungkap Alin.
“Betul, tapi ini proyek gede, kita dibayar diatas rata-rata fee kita dengan klien lain. Mereka berani lho minta kita gak ambil produk setipe dengan Beauty Skin,” jawab Dimas kepada Alin.
“Yah, kalau gue kan memang iklan pertama, ya dapatnya gitu dah,” ucap Alin pasrah.
"Iklan pertama tapi langsung dapat yang kakap, kan keren, Alin." Dimas sekali lagi memujinya.
"Jangan gitu, ntar gue terbang sampe lupa turun ke darat," jawab Alin terkekeh.
Segala kontrak dan lainnya memang Nina yang mengurusnya, Alin hanya terima jadi dan fokus dengan pekerjaan yang harus ia lakukan. Nina yang ditunjuk langsung oleh Tirta menjadi manager Alin memang sudah expert di bidangnya.
"Yah, Lo hati-hati aja. Pesen gue cuma itu, gak selamanya kawan akan tetap jadi kawan, dalam hitungan detik bisa jadi lawan." Dimas mengingatkan Alin karena gadis itu menurutnya masih polos.
"Oke, by the way, gue ke toilet bentar yah. Nin, titip tas gue," pamit Alin kepada managernya.
"Iye, dijagain sepenuh hati." Nina meledeknya karena untuk pertama kalinya Alin memiliki tas branded di atas rata-rata harga yang ia punya.
"Kenapa dia?"
"Biasalah Dim, ini tas pertama doi. Harganya udah setara nilai kontrak dia di sebelah. Dibeliin calon bokapnya," jawab Nina.
"Ouw, Lo jagain dia bener deh, itu cewek masih polos. Ngeri gue," ucap Dimas menatap Alin yang sudah menjauh.
"Gimana kagak, gue dibayar mahal sama orang tuanya. Lo kalau mau sama dia juga yang bener, jangan cuma cap cip cup kembang kuncup. Yang Lo hadapin udah bukan gue lagi, Bokapnya!"
"Setdah, Lo tau aja Nin." Dimas tersenyum malu-malu karena usahanya untuk mendekati Alin terbaca oleh Nina.
Sementara itu, Alin yang baru saja keluar dari toilet, tidak sengaja menabrak seorang pria. Alin mengira jika usianya tidak terlalu jauh dari Tirta.
"Aduh, maaf Pak. Saya gak sengaja, buru-buru." Alin yang panik berusaha meminta maaf kepada pria itu.