Buka Mata Buka Hati

1038 Kata
Sejujurnya, tanpa Alin bekerja keras mengambil job dimanapun, ia tetaplah Alin yang mendapatkan limpahan materi dari Yola. Walaupun tidak sebesar pemberian Tirta, nyatanya gadis itu cukup beruntung walaupun dibesarkan oleh single mom seperti Yola. "Lin, udah belum? Kita pesawat pagi, lho." Nona yang sedang bersiap memanggil Alin yang masih berada di dalam kamar mandinya. "Dikit lagi, ini dah beres kok." Alin keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk kimononya. Bergegas berganti pakaian, ia memakai riasan sederhana. Hal yang disukai Nina dari Alin adalah kesederhanaannya tidak mengurangi pesonanya sebagai seorang model. “Lo memang beda, gak perlu dandan kek lenong tapi beuh, keren,” ucap Nina memuji kecantikan sahabatnya itu. “Udahan ah cari mukanya, Lo udah dibayar mahal sama Om Tirta, masih kurang?” Alin terkekeh kecil melihat sahabatnya yang menatap kagum dirinya. “Ya gak, Lin. Memang itu kenyataan kok,” jawab Nina sambil mengunci pintu kamar hotel itu. Melakukan prosedur check-out sebelum keduanya berangkat ke Denpasar. “Lo mau sarapan disini apa di Juanda?” tawar Nina kepada Alin setelah menyelesaikan administrasi di meja resepsionis. Ia menghampiri Alin yang duduk salah satu sofa di lobby hotel bintang lima itu. “Di Juanda aja dah, gue penasaran pengen makan disana,” jawab Alin beranjak dari duduknya, menyeret kopernya yang berukuran sedang, ia membantu Nina yang juga membawakan satu koper lainnya. Keduanya kompak memasuki mobil yang sudah disediakan oleh Beauty Skin sebagai fasilitas untuk Alin. “Lo mau makan apaan?” Nina bertanya kepada sahabatnya. “Gue kemaren lihat ada soto bangkalan, mau dong,” jawab Alin yang menginginkan makanan berkuah pagi ini karena cuaca sedang mendung. NIna mengajaknya ke kedai soto yang diminta Alin karena ia juga lapar, memesan makanan dan duduk di salah satu kursi yang disediakan. “Lo gak ngabarin Tante Yola?” Nina yang sedang menikmati sotonya bertanya kepada Alin. “Udah japri, tapi kayaknya lagi riweh juga, nanti juga dibaca,” jawab Alin sekedarnya. “Ya udah, yang penting Lo udah ngabarin. By the way, rencana Lo gimana?” “Gue harus tinggal terpisah sama nyokap. Gila aja gue lihat mereka tiap hari. Gak bisa, Nin. Gak baik buat gue dan Mama, makanya Lo bantu gue dapat kerjaan,” jawab Alin tetap memantapkan rencananya. “Kalau Pak Tirta sih gue yakin dia bolehin, tapi, kalau Tante Yola gue nggak yakin,” ucap Nina setelah meneguk teh hangatnya. “Ya harus boleh, gue bakal nekan Om Tirta, gimana caranya harus boleh,” jawab Alin terkekeh. Ia meminta Nina membayar ke kasir sebelum mereka menuju gate yang dituju, karena penerbangan menuju Denpasar akan segera berangkat. Alin dan Nina memasuki pesawat, mencari tempat duduk sesuai yang tertera di tiket. Alin duduk deretan kursi yang berjejer tiga. Nina tetap seperti biasanya, duduk di kursi dekat jendela, tak lama kemudian satu penumpang pria datang dan meminta izin kepada Alin untuk meletakkan barang diatasnya. Karena penasaran Nina memperhatikan pria itu, sepertinya tidak asing baginya. “Wait, Dimas?” Nina yang sempat curiga, akhirnya yakin bahwa pria itu adalah Dimas, artis yang akan dipasangkan dengan Alin dalam proyek Beauty Skin di Denpasar. “Iya, Mbak?” Dimas menerima uluran tangan Nina yang ingin berkenalan dengannya. “Saya Nina, manager Alinka, yang akan jadi partner Kakak di iklan Beauty Skin,” jawab Nina antusias memperkenalkan diri. “Ouw, sorry. Kebetulan neh, ketemu disini,” jawab Dimas santai. Pria itu memang tampan dan mempesona, sayangnya Alin masih terbelenggu pada cintanya yang tak mungkin lagi tergapai. “Ayo Alin, ada cogan, jangan mikirin pria tua itu!” Batin gadis itu menjerit. Ia menjawab sapaan ramah dari Dimas, seorang artis dengan popularitas yang bagus. “Sepertinya kita perlu ngobrol, yah, itung-itung menciptakan chemistry,” ungkap Dimas yang diam-diam terpesona pada Alin. “Boleh aja, kakak nginap dimana?” Alin cukup antusias dengan teman barunya, sebagai sahabat sekaligus sahabatnya, ia cukup lega karena sejenak gadis itu bisa mengalihkan perhatiannya dari patah hatinya. Nina tahu, perubahan Alin cukup drastis jika sudah bersamanya, lebih banyak diam dan kurang bersemangat. Karena menginap di hotel yang sama, mereka memutuskan untuk satu mobil untuk memudahkan berkoordinasi mengenai iklan yang akan mereka bintangi itu. Selama perjalanan menuju hotel, keduanya menyempatkan diri untuk bertukar nomor ponsel. “Nanti ketemu lagi, Lo bisa istirahat Lin. Kayaknya kurang tidur.” Dimas berpamitan untuk masuk ke kamarnya, beristirahat sambil menunggu waktu meeting dengan management Beauty Skin. “Oke, Kak. See you,” jawab Alin melambaikan tangannya kepada pria ganteng itu. “Ehem, ganteng aslinya sumpah!” Nina menatap Dimas yang sudah menjauh. “Kayaknya ganteng begitu, mustahil gak ada pasangan, Nin,” ucap Alin tiba-tiba. “Belum tentu lah, kita lihat aja kedepannya, gak ada yang gak mungkin di dunia ini,” jawab Nina optimis. “Gue masih bisa merem kan? Ngantuk berat neh,” ucap Alin ketika mereka sudah menyelesaikan administrasi di meja kasir. “Boleh, jam sebelas gue bangunin. Lo mandi dan meeting sama management,” jawab Nina. “Akhirnya, ketemu kasur lagi gue,” ucap Alin terkekeh ketika Nina membuka kamar untuk mereka. Alin meletakkan kopernya di pinggir lemari dan mencuci wajahnya sebelum merebahkan dirinya di ranjang empuk kamar tersebut. Membuka ponselnya, Alin membalas pesan singkat dari Yola dan mengabarkan bahwa ia sudah berada di denpasar. Sedangkan di Jakarta, Tirta yang sedang tenggelam dengan banyaknya pekerjaan mencoba menanyakan keadaan lokasi syuting di Denpasar. “Outdoor Pak, tapi mereka sudah antisipasi dengan syuting pagi-pagi.” Sekretaris Tirta yang sudah berkomunikasi dengan tim di Denpasar meyakinkannya bahwa Alin akan aman dan nyaman bersama tim Beauty Skin. “Ya sudah kalau begitu, aku hanya memastikan anak itu dapat bekerja sesuai harapan kita dan tentunya Yola tidak akan kapok kasih izin,” jawab Tirta apa adanya. “Ada lagi Pak?” “Gak ada, saya ada janji mau cek baju sore ini, pastikan tidak ada pertemuan penting atau pekerjaan yang urgent sebelum saya jalan,” jawab Tirta sambil memberikan beberapa dokumen yang sudah selesai ia tanda tangani. “Sepertinya tidak ada, pak. Aman kalau Bapak tinggal sore ini,” jawab sang sekretaris itu. “Oke, tolong pesankan saya makan siang disini aja. Saya gak keluar kantor sampai sore,” ucap Torta kepada sekretarisnya. Padatnya pekerjaan dan waktu pernikahannya dengan Yola semakin dekat membuatnya keteteran menghandle bisnisnya. Beruntung, Tirta mendapatkan rekan dan anak buah yang sigap membantu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN