Fiona terpingkal kaget dengan apa yang Rian lakukan tiba-tiba. Kedua matanya memerah menahan tangis. Bahkan tubuhnya sedikit gemetar sakit takutnya ia pada Rian. “Maafkan aku. Aku tidak bisa memasak,” lirih wanita itu takut. “Pokoknya aku tidak mau tahu. Mulai besok kau harus menyiapkan makanan untukku. Jangan makanan yang menjijikkan seperti tadi.” “Tapi... persediaan makanan tidak ada.” “Tidak ada tapi-tapian. Jika bahan makanan tidak ada. Maka belilah bersama dengan pengawalku.” “Baik,” ucap Fiona sambil mengangguk mengerti. Keheningan kembali di ruang makan itu. Fiona masih berdiri di hadapan Rian menunggu intruksi lelaki itu. Namun, tampaknya Rian sibuk dengan ponsel di tangannya. Kedua kaki Fiona sudah keram berdiri terus menerus. Sesekali wanita itu menganggkat kakinya satu

