Ini... ini pembunuhan!
Melihat adegan ini, pupil Qin Ming terus melebar dan kengerian menjalari hatinya.
Ingin rasanya dia melarikan diri, tetapi dia takut menimbulkan suara dan menarik perhatian kedua pria itu.
Akhirnya dia bersembunyi di balik batu nisan sampai mereka pergi, lalu menjulurkan kepalanya dengan hati-hati.
Haruskah dia pergi sekarang?
Atau bagaimana?
Qin Ming bimbang.
Setelah tahu bahwa Ma Lu mengandung anak pria lain, hatinya sudah mati rasa dan dia sedang tidak ingin mencampuri urusan orang lain.
Namun, sejak kecil benih-benih kebaikan sudah tertanam dalam hatinya. Dia tidak bisa membiarkan wanita itu mati begitu saja.
Menyelamatkan nyawa lebih penting dari apa pun!
Qin Ming membulatkan tekad, lalu
melirik ke samping dan seketika itu juga melihat belati yang berkilat tergeletak tidak jauh darinya.
Dia bisa langsung menebak bahwa belati itu pasti tanpa sengaja ditinggalkan oleh kedua pria tadi. Belati itu muncul tepat saat Qin Ming membutuhkannya.
Qin Ming lalu mengambil belati itu dan melompat ke sungai.
Sementara itu, kedua pria tadi berjalan sampai ke jalan raya di luar permakaman. Sebuah SUV mewah terparkir di sana.
Keduanya hendak masuk ke mobil dan pergi ketika Kakak Song tanpa sadar menyentuh sepatu botnya.
Ekspresi wajahnya seketika berubah.
"Oh tidak, belatiku hilang. Mungkin tadi terjatuh ke sungai. Ada sidik jari di belati itu. Kita harus segera kembali dan mengambilnya..."
Mereka segera berlari menuju ke sungai.
Sungai itu tidak terlalu dalam, hanya sekitar 6 hingga 7 meter.
Qin Ming sangat pandai berenang. Dia menahan napas dan langsung menyelam ke dasar sungai. Tak lama kemudian, dia menyentuh karung itu.
Saat ini tidak ada pergerakan dari dalam karung.
Qin Ming memotong tali pengikat karung dengan belati dan menyeret karung itu ke tepi sungai dengan susah payah.
Dia membuka ikatan karung itu dan melihat seorang wanita yang sangat cantik.
Sekalipun rambut dan pakaian wanita itu telah lama terendam air sungai, sulit untuk menyembunyikan kecantikannya yang sempurna.
Dia memiliki mata yang indah dan hidung yang mungil. Alisnya tertata dengan baik. Dengan wajah sesempurna itu, kecantikannya.
Dia mengenakan atasan putih dan rok pendek. Kakinya yang jenjang dan ramping terbalut stoking tipis sewarna kulit.
Dengan pakaian basah kuyup melekat di badan, lekuk tubuhnya yang ramping dan menawan terlihat semakin jelas!
Benar-benar cantik!
Qin Ming terkagum-kagum.
Dahulu dia selalu berpikir bahwa Ma Lu sudah cantik. Namun, dibandingkan dengan wanita di hadapannya, Ma Lu benar-benar tidak ada apa-apanya!
Tentu saja sekarang bukan waktunya bagi Qin Ming untuk terpesona.
Wanita itu sudah tenggelam cukup lama. Wajahnya pucat, napasnya hampir tidak terdeteksi, dan tanda-tanda vitalnya juga mengkhawatirkan.
"Aku tidak bermaksud kurang ajar. Maafkan aku... " ujar Qin Ming sambil tersenyum meminta maaf.
Qin Ming lalu menekan d**a wanita itu dengan satu tangan dan menekan perutnya dengan tangan satunya. Selanjutnya, Qin Ming menunduk dan menempelkan mulutnya ke mulut wanita itu.
Dia memulai CPR.
"Uhuk ... "
Wanita itu memuntahkan cukup banyak air dan terbatuk-batuk. Bulu matanya sedikit bergetar dan dia akhirnya mulai sadar.
Lin Wanqing merasakan kehangatan di bibirnya, lalu pupilnya melebar dan dia menendang Qin Ming.
Qin Ming ditendang hingga tercebur ke sungai.
"Apa yang kamu lakukan? Aku sudah berbaik hati menyelamatkan nyawamu. Tidak apa-apa kalau kamu tidak berterima kasih, tapi kenapa kamu menendangku?" gerutu Qin Ming
Setelah beberapa kali terpeleset, dia akhirnya berhasil merangkak ke tepi sungai. Kondisinya terlihat makin menyedihkan.
"Kamu menyelamatkanku?"
Lin Wanqing tercengang, lalu teringat bahwa dirinya diculik oleh para berandal dan dilempar ke sungai.
"Maaf, aku ... aku tidak bermaksud kasar. Kukira kamu ... "
Lin Wanqing tersenyum malu. Wajah cantiknya memerah, lalu dia menarik napas dalam-dalam dan segera menenangkan diri.
"Terima kasih telah menyelamatkanku. Namaku Lin Wanqing. Siapa namamu?"
"Namaku Qin Ming."
Qin Ming memeras pakaiannya yang basah kuyup. Dia tahu bahwa insiden tadi hanya kesalahpahaman, jadi dia tidak marah.
"Qin Ming, di mana kedua berandal itu? Ke mana mereka pergi?"
Lin Wanqing melihat sekeliling. Ekspresinya terlihat sangat cemas dan dia masih ketakutan.
"Mereka sudah pergi-"
Sebelum selesai bicara, Qin Ming tiba-tiba teringat sesuatu dan raut wajahnya berubah. "Gawat! Mereka meninggalkan sesuatu di sini dan bisa kembali kapan saja. Ayo cepat pergi!" seru Qin Ming sambil membantu Lin Wanqing berdiri.
"Kalian mau kabur? Sudah terlambat!"
Terdengar ejekan seseorang. Kedua pria itu sudah kembali dan langsung menghadang Qin Ming dan Lin Wanqing.
"Sial! Kenapa selarut ini masih ada orang di permakaman? Kalau kita tidak kembali, semua akan kacau balau!" ujar Kakak Song dengan geram.
"Kakak Song, keluarga Lin sangat kuat dan kita mungkin akan segera dilacak. Kita tidak punya banyak waktu. Cepat bunuh mereka. Kita tidak boleh membuat kesalahan apa pun!"
Seorang pria yang mengenakan setelan jas hitam tersenyum jahat, lalu mengeluarkan belati dan mengepung mereka bersama Kakak Song.
"Nona Lin, aku akan menghentikan mereka. Lari!"
Tekad Qin Ming sudah bulat dan dia berdiri di depan Lin Wanqing. Qin Ming mencengkeram belati yang ditinggalkan oleh Kakak Song dan bersiap menghadapi kedua berandal itu dengan gagah berani.
"Kalau aku pergi, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Lin Wanqing.
Dia merasa bimbang.
"Kalau memang harus mati, aku akan mati. Tidak masalah. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku."
Qin Ming tersenyum pahit, berbalik, lalu menerjang Kakak Song dan komplotannya tanpa ragu-ragu.
Tubuh Lin Wanqing bergidik ngeri. Senyuman Qin Ming menyiratkan begitu banyak emosi, di antaranya kekesalan, kesedihan, dan keputusasaan dalam hidup.
Melalui senyum itu, Lin Wanqing sepertinya bisa memahami kerapuhan dan kesedihan batin Qin Ming. Benar-benar jauh berbeda dari keberanian dan ketangguhan yang dia tunjukkan saat ini.
"Bodoh!"
Pria berjas hitam itu mencibir dan menendang d**a Qin Ming.
Buk!
Pria itu adalah master seni bela diri dan Qin Ming yang hanya orang biasa sama sekali bukan tandingannya.
Qin Ming ditendang sejauh 2 hingga 3 meter dan belati di tangannya pun terjatuh.
Pria berjas hitam itu tersenyum dingin. Belati dalam genggamannya bergerak naik turun, lalu pria itu menikam d**a Qin Ming kuat-kuat.
Darah berceceran di mana-mana!
"Tidak..."
Melihat adegan ini, wajah Lin Wanqing memucat dan dia jatuh terduduk.
Meskipun Qin Ming hanya orang asing, tapi pria itu rela mati demi menyelamatkannya. Pengorbanan Qin Ming membuat kesedihan Lin Wanqing tak terbendung lagi.
Sementara itu, darah tersembur dari d**a Qin Ming dan dalam waktu singkat liontin giok di lehernya sudah berlumuran darah.
Tak seorang pun memperhatikan pendar cahaya putih pada liontin giok itu. Cahaya lembut mengaliri tubuh Qin Ming di sepanjang lukanya.
"Aku adalah leluhur Qin. Namaku Pengzu. Setiap keturunan keluarga Qin dapat mewarisi peninggalanku
Menjelang kematian, pikiran-pikiran kacau berkecamuk dalam benak Qin Ming.
Beberapa saat kemudian, dia terlihat hidup kembali. Wajah pucatnya diwarnai rona merah yang tidak normal dan ada kekuatan asing dalam tubuhnya.
"Lin Wanqing, sekarang giliranmu!"
Pria berjas hitam itu menyeringai dan mendekati Lin Wanqing selangkah demi selangkah sambil menodongkan belati.
Lin Wanqing terduduk lemas di tanah. Sorot matanya dipenuhi keputusasaan dan duka.
"Hati-hati!" pekik Kakak Song.
Namun, sudah terlambat.
Qin Ming mengambil belati yang tergeletak di tanah dan tiba-tiba bangkit, lalu menikam pria berjas hitam itu habis-habisan dari belakang.
"Kau ..."
Si pria berjas hitam tiba-tiba berbalik dengan mata terbelalak dan raut wajah tidak percaya. Diiringi suara gedebuk, tubuhnya jatuh ke tanah. Wajahnya masih terlihat tidak tenang meskipun ajal telah menjemputnya.