20.

1491 Kata

Halo, aku kembali dengan kisah Kiano dan Nanaz. Setiap menulis akan ada masa-masa di mana penulis merasa jenuh, dan kemari aku mengalaminya. Harap maklum, ya. Thank you, dan jangan lupa komentarnya, hehehe. **** “Eh, Naz, gibah, yuk!” Mila mendekatkan kepalanya ke sisi Nanaz dan berkata dengan suara yang dipelankan, agar orang-orang di sekitar mereka tidak mendengarnya, “Itu, kamu perhatiin nggak tadi? Kok, kayaknya gunungnya Milka makin gede, ya?” Hmmm, sudah Nanaz duga. Dari gelagatnya, ia tahu kalau Mila memang akan mengajaknya membicarakan Milka. Bahkan, pada saat Milka mencondongkan payudaranya tadi, Mila sempat melotot. Beliau juga tak henti-hentinya menatap Milka dengan pandangan menilai. Akan tetapi, agaknya Milka tidak mau ambil hati, malahan ia cenderung kelihatan bangga. “I

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN