Tangan besar itu dengan cepat mengetik serangkaian balasan pesan demi pesan yang dia dapatkan. Dia sudah melakukan ini sejak lima menit yang lalu dan begitu dia sudah selesai, dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil.
Bunyi pesan yang masuk kembali mengalihkan fokus Ashton. Pesan kali ini berasal dari sahabatnya Dave.
Dave: Sudah sampai mana?
Ashton: Parkiran
Bukannya langsung masuk. Ashton masih tetap duduk diam memandangi beberapa orang yang berlalu-lalang di depan mobilnya. Dia hanya perlu masuk ke dalam gedung itu, tapi entah kenapa dia mendadak enggan untuk masuk. Rasa enggannya ini mungkin akibat perasaannya yang mendadak tidak nyaman. Seakan-akan ada sesuatu yang akan menimpanya.
Dave: Kenapa lama sekali?!
Kembali Ashton mendapati pesan dari Dave. Matanya dengan serius memandangi layar ponselnya itu. Bibirnya bahkan tampak berkerut saat membaca serangkaian pesan yang kembali dia dapatkan.
Dave: Masuk sekarang atau kubunuh!
Pada akhirnya Ashton memilih untuk beranjak ke dalam club. Kartu anggota yang menjadi akses masuk ke dalam club dia perlihatkan pada orang-orang yang berjaga di depan pintu.
Begitu melewati pintu masuk, hingar bingar musik dan tawa orang-orang terdengar memenuhi telinga. Ashton yang sudah hafal club malam ini pun langsung pergi menuju ke area duduk di mana Dave dan yang lainnya biasa duduk.
Di cahaya yang remang-remang itu, Ashton akhirnya melihat sosok Dave yang duduk bersama seorang wanita. Ashton menghela napas berat begitu menyadari dirinya ditipu. Dia kira akan ada banyak teman-temannya. Tapi dia malah hanya mendapati Dave dengan wanita yang entah itu siapa.
“Akhirnya kamu datang.” Dave berseru riang begitu Ashton duduk.
Ashton tersenyum kecut sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Ya, terima kasih sudah mengundangku. Tapi, di mana yang lain?”
Tatapan Ashton yang tajam membuat senyum Dave yang lebar dan lepas mendadak berubah menjadi senyum kaku yang kemudian disusul oleh tawa sumbang.
“Mereka tampaknya tidak jadi datang.”
Tatapan Ashton yang semakin tajam membuat Dave buru-buru mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan bukti jika dia sudah mengirimkan pesan pada beberapa teman-temannya.
“Aku tidak mungkin berbohong padamu,” ucap Dave bangga.
“Tidakkah kamu harus mengenalkan temanmu itu?”
Wanita yang bersama Dave yang sedari tadi diam mengamati interaksi Ashton dan Dave akhirnya bersuara. Dia tersenyum manis ke arah Ashton saat pandangan Ashton beralih ke arahnya.
“Ah benar, ayo kalian berkenalan,” ucap Dave.
“Sasha.” Wanita tadi mengulurkan tangannya ke arah Ashton.
Uluran tangan itu mau tidak mau Ashton jabati.
“Ashton. Senang berkenalan denganmu,” katanya mencoba untuk ramah.
“Apa benar kamu akan memproduseri lagu Andromeda?”
“Andromeda, siapa itu?”
“Idol Kpop. Dave yang mengatakannya padaku.”
Ashton seketika menatap Dave dengan tajam. Dia tidak percaya jika Dave membocorkan hal seperti ini. Sepertinya dia harus mulai melarang Dave untuk berkeliaran di sekitarnya. Berkolaborasi dengan idol Kpop jelas hal yang cukup merepotkan karena semuanya harus serba dirahasiakan hingga teaser untuk comeback diluncurkan.
“Apa kamu bisa mempertamukanku dengan mereka saat kalian akan rekaman?”
Oh, ini jelas hal yang merepotkan bagi Ashton.
“Tidak ada hal yang seperti itu.”
“Bagaimana jika tanda tangannya saja?”
“Kamu hanya ditipu oleh pria di sampingmu karena aku tidak mau berurusan dengan seorang idol dan kamu tahu kenapa?” Ashton menegakkan tubuhnya lalu mencondongkan tubuhnya kearah Sasha. “Itu karena kalian sebagai fans terlalu merepotkan dengan segala tuntutan kalian.”
Ashton bangun dari duduknya.
“Mau ke mana?” tanya Dave menahan kepergian Ashton.
“Bermain.”
“Apa aku boleh ikut?”
Bukan Dave yang menawarkan diri, melainkan Sasha.
Ashton mengeluarkan senyum terpaksanya yang membuat Sasha malah salah paham. Sasha yang hendak bangun dari duduknya seketika tertahan karena ucapan Ashton.
“Aku akan pergi sendiri,” ucap Ashton yang membuat mata Sasha membatu lalu dengan gerak lambat kembali ke posisi semulanya.
“Dia memang sangat sensitif akhir-akhir ini.”
Ashton bisa mendengar ucapan Dave yang menenangkan Sasha. Karena dia sudah terlanjur ke sini, Ashton pun memutuskan untuk pergi ke area berjudi. Dia sebenarnya bukan tipe yang suka berjudi, karena dia akan melakukannya jika harinya terlalu buruk.
*
*
*
Keyshia memandang Fani tetangga flatnya itu dengan gusar.
"Aku tak nyaman," bisik Keyshia.
Fani meneguk minumannya yang terasa menyengat di tenggorokannya itu. Lirikannya pada Keyshia pun terlihat geli. Keyshia benar-benar seperti gadis udik yang tidak pernah pergi ke club seperti ini.
“Kamu benar-benar terlihat seperti gadis desa yang tidak pernah pergi ke club.”
“Tentu saja aku pernah, tapi tidak ke tempat yang seperti ini.”
Saat belum genap 18 tahun saja Keyshia sudah pernah minum alkohol yang disediakan di pesta ulang tahun temannya. Barulah setelah dia melewati masa legal untuk pergi ke club, dia pergi ke sana bersama teman-temannya. Sayangnya karena tidak pandai minum, Keyshia jadi jarang pergi ke club. Hingga usianya sekarang, kepergiannya ke club malam bisa dihitung dengan dua tangan. Dan selama itu, dia tidak pernah masuk ke dalam club se-elit ini!
“Di sini sangat bagus bukan?” ucap Fani dengan bangganya.
“Yah.” Tenggorokan Keyshia terasa kering yang membuat suaranya terdengar serak.
"Dan mulai sekarang kamu harus membiasakan dirimu dengan semua ini.” Dia kemudian merangkul Keyshia yang membuat tubuh Keyshia oleh ke arah Fani yang duduk di sampingnya.
“Baiklah.” Keyshia menghembuskan napasnya perlahan. Di depannya ada segelas minuman yang dipesankan oleh Fani, dia pun meminum minuman itu karena sudah merasa terlalu haus.
“Aku memesankan yang rasanya enak untukmu dan itu tidak memiliki kadar alkohol yang tinggi.”
Ucapan Fani sejalan dengan apa yang Keyshia rasakan setelah meminum minuman itu. Untuk beberapa saat mereka duduk diam menikmati minuman mereka hingga Fani tiba-tiba bangun dari duduknya.
“Aku mau turun. Apa kamu mau ikut?” ajak Fani.
“Aku akan menyusul.”
“Jika ada sesuatu, aku akan meneleponmu. Ingat itu,” pesan Fani.
“Ya.”
Akhirnya Fani pergi meninggalkan Keyshia sendirian. Sambil menikmati minumannya, Keyshia memandangi orang-orang yang menari di bawah sana. Mereka tampak bersinar di bawah gemerlap lampu yang berkelap-kerlip. Pakaian yang mereka kenakan juga membuat mereka tambah terlihat menyilaukan. Tidak seperti yang sekarang dikenakan Keyshia tidak menggunakan barang remeh-temeh seperti yang sering dia kenakan.
Keyshia yang fokus memandangi orang-orang yang menari terkesiap saat merasakan seseorang duduk di tempat yang ditinggalkan Fani.
Keyshia pun menoleh dan mendapati seorang pria yang menatapnya dengan senyum yang mengembang lebar.
“Kenapa Fani meninggalkanmu?” ucap pria itu.
“Kamu mengenal temanku?” tanya Keyshia ragu.
“Tidak ada yang tidak mengenal Fani dan dia juga temanku di sini.” Dia mengulurkan tangannya. “Ruben,” katanya memperkenalkan diri.
Mendengar pria di depannya ini mengenal Fani, Keyshia pun menjabat tangan itu tanpa ragu. Dia tersenyum manis lalu berucap, “Keyshia.”
“Kenapa kamu tidak ikut bersama Fani?” tanya Ruben.
“Aku masih merasa lelah. Ini mungkin efek aku baru saja pulang bekerja.”
“Semalam ini?”
“Ini tidak terlalu malam bukan?” Keyshia tertawa kecil di akhir ucapannya.
“Karena besok weekend, tentu ini tidak terlalu malam.”
Mereka mulai mengobrol hingga gelas minuman Keyshia habis. Awalnya Keyshia ingin pergi setelah menghabiskan minumannya. Sayangnya, dua gelas minuman datang diantar ke tempat mereka.
“Aku mentraktirmu.” Ruben menyodorkan minuman itu.
“Kamu seharusnya tidak perlu melakukan ini.” Walau begitu, Keyshia tetap menerima minuman itu.
“Minumanmu sudah habis, jadi aku ingin ditemani minum.” Ruben menyesap minumannya. “Apa kamu berniat untuk turun?”
“Aku baru pertama kali di sini. Jadi, aku ingin melihat-lihat.”
Ruben tersenyum sambil mengangguk.
“Apa kamu ingin kutemani? Tidak enak jika pergi sendirian, apalagi di tempat seperti ini.”
“Bukankah lebih berbahaya jika aku bersamamu?” goda Keyshia.
Ruben tertawa. “Aku bukan orang asing. Aku teman Fani.”
Apa yang dikatakan Ruben memang ada benarnya bagi Keyshia. Pergi melihat-lihat keadaan club dengan Ruben bisa menghalau pria-p****************g yang akan mendekatinya.
“Baiklah kalau begitu.”
“Habiskan dulu minumanmu,” ucap Ruben lalu kembali menyesap minumannya dengan seringai yang Keyshia tidak lihat.