Saat akan menaruh pakaian kotor, Keyshia melihat jaket Ashton yang harus dia kembalikan. Jaket itu dia ambil lalu didekatkan kehidungnya. Aroma parfum Ashton masih tercium jelas yang membuat Keyshia merasa terbuai. Tidak bisa dipungkiri jika parfum yang memiliki harga fantastis memiliki aroma yang enak.
“Tahu dia pakai parfum dari brand apa, tidak akan membuatku bisa membelinya.” Jaket itu kembali Keyshia letakkan di tempat cucian. Nanti sepulang bekerja dia akan mencucinya dengan sangat hati-hati. Jika perlu, dia ingin mencari caranya di internet.
Keyshia kemudian bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Semua barang-barang yang akan dibawanya sudah Keyshia siapkan sejak tadi malam, tapi untuk kali ini akan ada tambahan satu tas kecil yang berisikan sarapan untuk Dylan.
Kemarin Keyshia sudah berjanji akan membuatkan Dylan sarapan, jadi sekarang dia menyiapkannya. Hanya bekal sederhana karena berasal dari sisa-sisa bahan yang ada di kulkas, tapi Keyshia yakin jika Dylan pasti akan menyukainya karena Dylan adalah pemakan segalanya.
Mengingat tentang bahan makanan, Keyshia ingat dia harus pergi ke supermarket untuk membeli bahan yang akan dia gunakan untuk membuat menu makan malamnya dengan Ashton. Sebenarnya, untuk melangsungkan aksi ini Keyshia sudah diberi atm oleh Sheena. Atm itu tentu saja akan selalu diawasi, jadi apa pun pengeluaran yang ada di sana, nantinya Sheena atau Gabriela akan mengkonfirmasinya lagi.
Keyshia mengerti kenapa Sheena sampai seperti itu, tapi tetap saja dia bukan seseorang yang akan mengambil hak yang bukan miliknya. Bahkan dia sudah memutuskan untuk membeli bahan sesuai dengan porsi makan malam yang akan dia buat nantinya. Jadi, dia tidak akan merasa terbebani dengan hal itu.
Keluar dari apartemen, Keyshia berpapasan dengan Fani. Seperti biasanya Fani selalu tampak bersemangat.
“Apa yang kamu bawa?” tanya Fani penasaran.
“Sarapan untuk Dylan.”
“Kamu membuatkannya sarapan? Oh ya Tuhan. Kenapa kamu mau melakukannya? Anak itu memaksamu?” Karena Keyshia selalu bersama Dylan, Fani jadi curiga jika Dylan memanfaatkan kebaikan Keyshia.
“Tidak. Ini karena aku mau berterima kasih padanya.”
“Karena apa?”
“Karena dia baik.”
“Kalian berdua memang selalu mencurigakan.” Fani mendekatkan bibirnya ke telinga Keyshia. “Kalian tidak berpacaran kan?” tanyanya curiga.
“Tentu saja tidak,” sergah Keyshia.
“Aku kira.”
Perjalanan mereka ke kantor terus diselingi oleh obrolan-obrolan yang topiknya terus berganti. Keyshia yang biasanya malah bergosip pun mau tidak mau menanggapi segala macam ucapan Fani tentang gosip-gosip terbaru yang berseliweran di dekat mereka.
“Bagaimana penyanyi baru dari Hebe Entertainment?” tanya Fani penasaran.
“Mereka sangat cantik. Bahkan suara mereka membuatku merinding.”
“Katanya itu langsung di produseri dan dikomposeri oleh Ashton, kan?”
Keyshia mengangguk membenarkan.
“Bagaimana bisa seorang pria yang terlihat memiliki aura yang swag membuat lagu yang menyentuh hati seperti itu?” kata Fani takjub.
“Semakin hari, dia memang semakin bersinar.” Keyshia pun masih tidak percaya jika hal itu dibuat oleh Ashton. Dengan semua hal yang sudah dibuatnya itu, Ashton selalu mendapatkan perhatian publik dan Keyshia yakin ini salah satu hal yang membuat Sheena kesal hingga ingin membuat Ashton menderita.
“Aku tidak sabar menunggu skandal mereka,” ucap Fani dengan riangnya.
“Mereka bahkan baru debut, kamu sudah menunggu skandal mereka.” Keyshia bergidik ngeri.
Dengan senyum penuh percaya dirinya, Fani berucap, “Skandal selalu memberikan pemasukan yang besar.”
Ucapan Fani hanya dibalas dengan senyuman oleh Keyshia. Setibanya di ruang kerjanya mereka, Keyshia langsung pergi menghampiri Dylan yang kebetulan sudah datang lebih dulu.
“Sesuai janjiku.” Diletakkannya tas bekal yang dibawanya.
Dylan memegang tangan Keyshia lalu berucap, “Kamu ternyata serius saat mengatakan itu.”
Buru-buru Keyshia menarik tangannya. “Tentu saja. Lebih baik kamu segera memakannya. Aku mau ke tempatku.”
Dylan menatap punggung Keyshia yang menjauh lalu mengalihkannya ke tas bekal yang baru saja dia dapatkan. Dia kemudian tersenyum tipis sambil membuka tas bekal itu.
Keyshia yang awalnya merasa beruntung karena hanya berada di dalam kantor segera menyesal dengan pemikirannya itu. Dia menjadi bulan-bulanan Amore. Di setiap ada kesempatan, Amore akan mengungkit kejadian kemarin dan menyinggung hasil yang dibuatnya berbeda dengan apa yang diharapkan.
Keyshia sadar jika dia hanya pelampiasan amarah Amore, tapi tetap saja dia tidak suka mendengarnya. Maka dari itu, di kepala Keyshia hanya terpikirkan jam pulang kantornya. Dan begitu jam pulangnya tiba, tanpa menunda-nunda Keyshia langsung beranjak keluar. Dia bahkan berjalan sangat cepat agar tidak berhadapan dengan Amore.
Tas yang Keyshia bawa tiba-tiba ditarik dari belakang. Begitu menoleh, Keyshia melihat sosok Gabriela yang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Kenapa kamu sampai buru-buru seperti ini?” tanya Gabriela penuh selidik.
“Bukankah aku sudah mengatakan jika aku akan pergi ke supermarket?” Seperti biasanya Keyshia akan melaporkan kemajuan pendekatannya pada Gabriela.
“Bagaimana jika aku mengantarmu? Kebetulan aku membawa mobil, jadi ini tidak masalah untukku.”
“Jika itu tidak memberatkanmu, tidak masalah.” Dia sudah sangat lelah hari ini, jadi kesempatan emas yang Gabriela tawarkan tidak akan dia tolak.
Gabriela kemudian mengantar Keyshia ke supermarket terdekat. Hanya mengantar tanpa menemani Keyshia berbelanja karena dia masih memiliki janji lainnya.
Keyshia menghabiskan cukup banyak waktu di supermarket. Apalagi dia sudah memutuskan untuk membuat menu makan malam secara lengkap dari hidangan pembuka sampai ke penutup mulut. Bahkan untuk minumannya Keyshia juga akan membuatkannya.
Kehangatan makan malam rumahan, itulah yang ingin Keyshia tonjolkan. Dia ingin menghangatkan hati beku Ashton dengan masakan dan suasana rumah yang hangat. Membayangkan rencananya akan berhasil membuat Keyshia tidak bisa menahan tawanya.
*
*
*
Hari yang Keyshia tunggu-tunggu pun tiba. Karena persiapan untuk makan malamnya butuh waktu, Keyshia memutuskan untuk cuti setengah hari. Lalu di apartemennya yang kecil, Keyshia menyiapkan semuanya dengan hati-hati.
Tidak banyak yang Keyshia buat hingga membuatnya tidak perlu membawa goodie bag yang besar. Semuanya baik-baik saja sampai Keyshia harus berjalan dengan membawa goodie bag dari ujung jalan sampai ke rumah Ashton.
“Be-berat…” rengeknya.
Napas Keyshia bahkan terengah-engah. Tapi walau begitu, masih tersisa setengah jalan lagi hingga dia sampai di pintu samping itu.
“Dia memang tidak punya hati.” Keyshia mengambil kembali goodie bag yang dia lepaskan.
“Semangat,” seru Keyshia sambil melanjutkan lagi perjalanannya.
Akhirnya Keyshia sampai di depan pintu samping rumah Ashton. Sebelum memanggil si empunya rumah, Keyshia lebih dulu memperbaiki penampilannya. Ini musim panas dan dia sudah berkeringat karena berjalan sebentar saja.
“Setidaknya ini tidak terlalu buruk.” Dimasukkannya bedak yang baru saja dia gunakan untuk touch up.
Detak jantung Keyshia mulai berpacu cepat saat dia membunyikan bel yang ada di sana. Sambil menunggu Ashton membukakannya pintu, Keyshia mencoba untuk menenangkan dirinya.
Bunyi pintu yang hendak dibuka sontak membuat tubuh Keyshia menegang. Sosok Ashton yang hanya menggunakan kaos hitam dan celana olahraga muncul dari balik pintu.
“Kamu datang tepat waktu juga.”
Keyshia mengangguk membenarkan.
Ashton melirik ke arah goodie bag yang dibawa Keyshia. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Ashton mengambil alih goodie bag itu.
Awalnya Keyshia terkejut dan ingin melayangkan protesnya tapi dia urungkan. Lalu menatap Ashton yang ternyata cukup peka.
Terus saja bersikap baik seperti ini, batin Keyshia. Jika Ashton memperlihatkan sikap tak acuhnya lagi, keinginan untuk menyerah itu pasti datang lagi.
“Apa kamu baru selesai olahraga?” tanya Keyshia mencoba untuk memecah keheningan.
“Ya.”
“Kebetulan sekali aku membuat sesuatu yang menyegarkan.”
“Aku menantikannya.”
Kali ini Keyshia lebih memperhatikan seluruh penjuru rumah Ashton yang dia lalui. Dia tidak henti-hentinya takjub hingga akhirnya dia dan Ashton sampai di ruang makan sekaligus dapur.
“Terima kasih,” ucap Keyshia atas bantuan Ashton yang membawakan goodie bag miliknya.
“Tidak perlu berterima kasih. Apa ada yang bisa kubantu?” tanya Ashton.
“Bagaimana jika menyiapkan alat makannya?”
“Memangnya kamu masak apa?”
“Makanan pembukanya aku membuat salad. Lalu makanan utamanya ada ayam dan kentang dan tidak lupa jus buah yang dicampur soda. Aku juga membuat puding buah untuk makanan penutupnya.”
“Kamu membuat semua itu sepulang kamu bekerja?” Ashton sedikit tidak percaya dengan hal itu. Itu terdengar sangat tidak mungkin. Apa Keyshia membohonginya?
“Iya aku membuatnya sendiri tentu saja. Apa kamu mau melihat foto-foto yang kuambil saat memasaknya di apartemenku?”
“Tidak perlu.”
Dalam diam Ashton memperhatikan Keyshia yang berusaha memanggang ayam dan kentang yang sudah setengah matang itu. Sambil menunggu itu matang, Keyshia menata makanan yang lainnya dan meletakkannya di meja makan.
“Kamu tidak masalah dengan ini semua kan?” tanya Keyshia.
“Kenapa baru bertanya sekarang?”
“Itu karena aku tidak membuat menu kesukaaanmu yang aku sendiri juga tidak tahu.” Keyshia tertawa canggung di akhir ucapannya.
“Aku makan apa saja. Jadi, kamu tidak usah khawatir.”
Tidak lama kemudian, oven berbunyi. Keyshia hendak mengeluarkan masakannya itu, tapi Ashton langsung menahannya.
“Biar aku saja.” Lagi-lagi Ashton mengambil alih.
Aroma lezat langsung tercium begitu Ashton mengeluarkannya. Aroma itu bahkan membuat Ashton sampai melirik ke arah Keyshia. Dia tampak masih tidak percaya jika Keyshia bisa memasak.
Lalu setelah menata ayam dan kentang, mereka bergegas ke meja makan untuk menyantap makan malam mereka.
“Aku membuat semua ini sesuai resep yang diajarkan Ibuku. Jadi, semoga saja kamu suka rasa masakan rumahan ini.”
“Aku pasti akan menikmatinya.”
Ashton mulai menyantap menu pertama. Diam-diam Keyshia menatap Ashton dengan rasa penasaran. Saat Ashton mulai mengunyah, terlihat kerutan di alis pria itu. Keyshia yang melihat itu sontak berhenti mengunyah.
Apa-apaan dengan ekspresinya? batin Keyshia panik.
Hanya sesaat ekspresi penuh kerutan itu sebelum Ashton kembali melanjutkan kunyahannya dengan anggukan. Lalu Ashton dengan cepat menghabiskan saladnya.
“Biar aku ambilkan,” cegah Keyshia saat Ashton hendak ingin mengambil menu utamanya.
Keyshia sangat percaya diri dengan menu utamanya ini, dia pun mengambilkan Ashton dengan porsi yang cukup banyak.
“Kamu menaruhnya terlalu banyak,” tegur Ashton.
“Kamu pasti akan ketagihan,” ucap Keyshia percaya diri.
“Aku suka sikap percaya dirimu itu.”
Kali ini Keyshia terang-terangan memperhatikan Ashton. Lagi-lagi kedua alis Ashton berkerut untuk beberapa saat sebelum dia kembali mengangguk lalu menyantap makanan itu tanpa berkata-kata.
“Apa kamu menyukainya?” tanya Keyshia.
“Ya, aku menyukainya.”
“Jujur saja kalau itu bukan seleramu.” Ekspresi Ashton membuat Keyshia ragu.
“Aku serius saat mengatakannya. Ini sangat enak dan ini mengingatkanku dengan Ibuku.”