LG 4

1360 Kata
Ella dan Ello sedang bermain ditemani Adrian di ruang keluarga kediaman Christopher. Begitu kemarin Albert memberitahukan akan menitipkan sepasang cucu kembarnya, hari ini Adrian sengaja meliburkan diri dari kantornya. Dia akan menghabiskan waktu bersama kedua cucunya tersebut. Cella duduk sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Albert yang sedang memeluknya dari samping. Kini Cella sudah tidak malu lagi mengumbar kemesraannya bersama Albert di hadapan Sandra. “Anak Mommy akhir-akhir ini sangat manja,” Albert memberitahukan perubahan tingkah istrinya kepada mertuanya. “Tidak boleh? Ya sudah.” Cella hendak menjauhkan kepalanya dari pundak Albert, tapi dengan cepat ditahan oleh suaminya tersebut “Tentu saja sangat boleh, Honey. Malah aku senang kamu seperti ini.” Albert menarik kepala istrinya agar lebih menempel pada pundaknya. Sandra hanya tersenyum geli melihat tingkah anak dan menantunya. “Ngomong-ngomong, kalian mau ke mana sampai menitipkan Double Ell? Bukankah biasanya Cella paling tidak bisa berjauhan dengan mereka?” Sandra menyela perbincangan pasangan muda di hadapannya. “Kami akan ke rumah sakit ....” “Kenapa denganmu, Cell? Apakah kandunganmu bermasalah?” Sandra memotong ucapan Albert. Senyumnya yang tadi menghiasi bibirnya seketika lenyap. Bahkan, kini dia menatap Cella dengan ekspresi cemas. “Kandunganku baik-baik saja, Mom. Cuma ....” “Cuma apa, Sayang?” Sandra kembali memotong perkataan Cella. “Morning sickness yang dialami Cella sepertinya berlebihan, Ma. Jadi, aku memutuskan untuk mengajaknya ke rumah sakit guna memeriksakan sekaligus memastikan kondisinya. Oleh karena itu aku menitipkan Double Ell di sini. Mommy tahu sendiri bagaimana aktifnya mereka,” Albert mewakili Cella menjelaskan kepada Sandra. “Apa perlu untuk sementara waktu kamu tinggal bersama kami dulu, Cell? Mommy tidak mau terjadi apa-apa padamu, Sayang.” Sandra baru menyadari bahwa wajah putri semata wayangnya sedikit pucat. “Tidak usah, Mom. Aku tidak apa-apa. Aku memang merasa bahwa kehamilanku yang sekarang lebih cepat membuatku lelah. Namun, aku baik-baik saja. Mommy tidak usah terlalu mengkhawatirkanku. Lagi pula sudah ada Albert yang selalu siaga untuk aku repotkan. Dia juga selalu membantuku dalam mengurus Double Ell,” Cella menenangkan sang ibu agar tidak mengkhawatirkan kondisinya. Sandra mengangguk, meski raut wajahnya tetap memperlihatkan kecemasan. “Jika kamu tidak mau tinggal di sini, biar Mommy saja yang akan ke rumah kalian untuk menjaga Double Ell ketika Albert bekerja. Mommy tidak menerima penolakan,” Sandra menegaskan ucapannya. “Saat mengandung Double Ell, kamu sendirian menjalaninya,  padahal hal tersebut adalah baru pertama kalinya kamu alami. Kini biarkan Mommy ada di sampingmu untuk merawatmu, Sayang. Mommy belum bisa memaafkan kesalahan Mommy waktu itu. Tolong izinkan sekarang Mommy menebusnya,” imbuhnya penuh penyesalan. Ucapan Sandra secara tidak langsung kembali mengoyak sekaligus mengiris batin dan hati Albert. Ibu mertuanya saja belum bisa memaafkan diri sendiri atas perbuatan yang dilakukannya terhadap Cella. Bagaimana dengannya yang secara terang-terangan menyakiti hati istrinya tersebut. “Al, kamu harus menjaga putriku sebaik mungkin. Jangan sampai kehamilannya kali ini kembali mengancam nyawanya,” titah Sandra tegas kepada Albert. “Pasti, Mom. Mulai besok aku akan hanya ke kantor jika ada pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan. Selama masa kehamilan Cella, aku akan ikut menemaninya di rumah,” Albert meyakinkan kepada Sandra. “Tindakan kalian ini sungguh-sungguh berlebihan.” Cella mendengkus mendengar percakapan suami dan ibunya. “Ini demi kebaikanmu, Honey,” Albert membela diri sambil membelai lembut pipi Cella. “Sayang, mengapa setiap hamil tubuhmu kehilangan bobotnya?” Sandra heran dengan perubahan fisik putri semata wayangnya. “Setiap makanan yang masuk selalu dimuntahkan, Mom. Setiap dipaksa makan, bilangnya mengantuk dan tidak lapar,” Albert mengadukan kondisi Cella kepada Sandra. “Kamu pernah mencoba menyuapinya?” Sandra bertanya dengan nada hati-hati. Albert menggeleng. “Aku pernah menanyakan mau disuapi atau tidak, Cella bilangnya tidak usah,” jawabnya begitu saja sambil melihat wajah Cella yang mulai memerah. “Seharusnya kamu langsung menyuapi Cella saja, Al. Tidak usah kamu tanyakan dulu padanya. Sewaktu Mommy mengandung Cella, Mommy tidak bisa makan tanpa disuapi oleh Daddy. Setelah Daddy menyuapi Mommy, makanan yang Mommy masukkan ke mulut tidak pernah keluar lagi.” Sandra mengedipkan sebelah matanya kepada Cella. Albert manggut-manggut mendengar cerita Sandra. “Kalau begitu setiap makan aku akan menyuapinya, Mom.” Merasa gemas melihat wajah Cella, akhirnya dia pun mengecup cepat bibir sang istri. “Al, apakah kamu tidak malu? Mommy masih duduk manis di hadapan kita.” Cella berusaha menjauhkan bibirnya yang kembali ingin dikecup oleh suaminya. “Sudah, sudah, kalian jangan keasyikan bermesraan di sini. Sebaiknya sekarang cepat ajak istrimu ke rumah sakit,” Sandra menginterupsi kejahilan Albert. “Oh ya, sepulangnya dari rumah sakit, kalian jangan menjemput Double Ell ke sini. Mommy dan Daddy yang akan mengantarkan mereka ke rumah kalian.” Sandra berdiri yang diikuti oleh Cella dan Albert. “Baiklah, Mom. Aku mau berpamitan dulu kepada mereka.” Cella hendak melangkahkan kakinya menuju tempat kedua anak kembarnya bermain. “Ikatan batin kalian sangat kuat,” ucap Sandra ketika melihat suaminya menggandeng tangan Double Ell di sisi kiri dan kanannya mendekat ke arah mereka. “Mau bagaimana lagi, Mom. Kita sudah melewati susah dan senang bersama-sama,” jawab Cella sambil mengulurkan kedua tangannya kepada Double Ell. Hati Albert kembali berdenyut nyeri mendengar jawaban polos istrinya. Dia tidak menyalahkan Cella berkata demikian karena istrinya tersebut mengatakan sebuah kejujuran. “Sayang, kalian jangan nakal dan tidak boleh bertengkar. Mommy dan Daddy akan pergi ke rumah sakit sebentar,” Cella mengingatkan Double Ell sambil menunduk. “Oke, Mom. Nanti sampaikan salam kami kepada saudara kami di sini ya. Katakan padanya bahwa kami sangat menantikannya,” jawab Ella sambil mengelus perut Cella. “Siap dilaksanakan, Sayang.” Saat Cella ingin berjongkok memeluk Double Ell, Albert dengan sigap mengangkat kedua anaknya tersebut dan mendekatkannya padanya. “Kami sangat menyayangimu, Mom,” ucap Double Ell serempak setelah mencium pipi Cella. “Mommy juga, Ell.” Cella balik mengecup bibir Double Ell secara bergantian. Sandra bersama Adrian sangat terharu melihat kedekatan ibu dan anak di hadapannya tersebut. Cella kini sudah menjadi seorang ibu yang sangat disegani sekaligus dicintai oleh anak-anaknya. “Tuhan, lindungilah selalu putriku,” doa Sandra dalam hati. “Kalian tidak menyayangi Daddy?” Albert cemburu melihat anak dan istrinya saling mengungkapkan perasaan. Mereka kompak menggeleng, tapi sedetik kemudian ketiganya berkata, “Kami juga sangat menyayangimu, Dad.” “Ell, ayo turun, supaya orang tua kalian tidak kesiangan,” Adrian dengan nada lembut, tapi berwibawa memanggil Double Ell. Albert menurunkan Double Ell dari gedongannya. “Mom, Dad, kami berangkat dulu. Kami titip mereka pada kalian.” Albert dan Cella secara bergantian mencium pipi orang tuanya sebelum meninggalkan rumah. *** Ponsel Albert berdering ketika dia dan Cella melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit. Deringan ponsel tersebut pun menganggu obrolan mereka. “Siapa, Al?” tanya Cella ingin tahu karena melihat kening Albert mengernyit. Albert tersenyum kaku sebelum menjawab pertanyaan istrinya. Dia memutuskan menolak panggilan masuk pada ponselnya tersebut. “Bukan orang penting, Honey,” jawabnya santai. Cella mengetahui bahwa Albert tengah berbohong, tapi dia tidak menuntut agar suaminya mau jujur. Dengan sedikit kecewa, dia hanya menanggapi jawaban Albert melalui anggukan gamang. Selang beberapa menit mereka melanjutkan obrolan yang tertunda, ponsel Albert kembali berbunyi, tapi pertanda pesan masuk. Albert melambatkan laju mobilnya dan membaca pesan masuk tersebut sekilas. Wajahnya datar saat membaca pesan tersebut, ekspresinya itu tidak luput dari pengamatan Cella. Tanpa membalas pesan tersebut, Albert kembali memasukkan ponselnya pada saku kemejanya. Baru saja ingin memulai obrolan lagi, ponselnya sudah lebih dulu kembali berdering. “Terima saja dulu, Al,” pinta Cella ketika mengetahui nada panggilan masuk pada ponsel suaminya. Dengan kesal Albert menjawab panggilan itu, “Aku tidak bisa menemuimu sekarang! Jangan berpikiran gila!” Selesai berbicara, Albert langsung menutup teleponnya secara sepihak. Bahkan, dia langsung menonaktifkan ponselnya. “Siapa?” tanya Cella waspada saat dia mendengar nada kesal suaminya ketika menjawab panggilan masuk. “Bukan orang penting,” Albert menjawab dengan nada yang masih kesal. Hatinya masih diselimuti kekesalan, sehingga jawaban yang keluar dari mulutnya pun bernada ketus. Cella tidak melanjutkan keinginannya untuk bertanya lebih jauh, meskipun di dalam hatinya kini telah dipenuhi oleh rasa penasaran. Dia hanya ingin mengetahui orang yang baru saja menghubungi Albert sampai membuat suaminya tersebut sangat kesal. ”Akankah terulang kembali?” batin Cella bertanya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN