LG 5

1228 Kata
Cella bisa membaca sekaligus merasakan raut wajah Albert yang tampak berbeda setelah menerima telepon dari seseorang di mobil tadi, meskipun laki-laki tersebut tetap memberinya perhatian. Saat ini mereka sedang menunggu giliran di depan ruang praktik dokter Jasmine—dokter kandungan Cella. Sambil menunggu namanya dipanggil, Cella mengisi waktunya dengan membaca majalah seputar kehamilan yang tersedia pada rak kecil. Dia juga menyempatkan diri mencuri pandang ke arah Albert yang duduk di sampingnya sambil sibuk memainkan ponsel. Suaminya tersebut terlihat serius sekali berbalas pesan dengan seseorang yang kini membuatnya penasaran. “Ehem,” Cella sengaja berdeham agar perhatian suaminya teralih. Albert menoleh setelah mendengar deheman Cella. Dengan cepat dia menyudahi kesibukannya terhadap ponsel sebelum bertanya kepada istrinya. “Kenapa, Honey? Kamu haus?” Albert memberikan Cella air mineral yang tadi sempat dibelinya di mini market sebelum mereka tiba di rumah sakit. Walau tidak terlalu haus, tapi Cella tidak menolak ketika Albert memberinya sebotol air mineral. Dengan dibantu sedotan dia meminum sedikit air tersebut. “Apakah ada masalah di kantor?” Cella memberanikan diri bertanya. Albert tersenyum sambil menggeleng. “Tidak ada, Honey,” jawabnya menegaskan. “Oh ya, sepertinya sekarang giliran kita.” Albert melihat seorang perawat bersiap memanggil nama pasien selanjutnya. “Nyonya Gracella Anthony.” Perawat tersebut tersenyum saat melihat keberadaan nama yang dipanggilnya sedang menatapnya. “Bagaimana kabar Anda, Nyonya?” tanya perawat tersebut saat Cella dan Albert sudah berada di dekatnya. Perawat tersebut sudah lumayan dekat dengan Cella, jadi dia tidak terlalu canggung ketika berinteraksi basa-basi. “Baik, Andien,” jawab Cella ramah sambil menyunggingkan senyumnya. “Silakan masuk, Nyonya. Dokter Jasmine sudah menunggu kedatangan kalian.” Andien mengantarkan mereka memasuki ruangan Dokter Jasmine. *** Jassy—sapaan akrab Jasmine, sedang memeriksa kondisi Cella yang tengah berbaring. Albert tidak melewatkan sedikit pun pemeriksaan yang dilakukan oleh Jassy kepada Cella. “Bagaimana keadaannya?” Albert tidak bisa menahan diri untuk tetap diam ketika Jassy belum juga mengatakan apa pun. “Tidak sabar sekali kamu, Al.” Jassy tersenyum setelah menanggapi pertanyaan Albert. “Cella dan bayi-bayinya sehat,” beri tahunya. “Bayi-bayinya? Maksudnya, Cella mengandung bayi kembar lagi?” Albert tidak memercayai pendengarannya sekaligus kabar yang diberitahukan oleh Jasmine. Jasmine membenarkan melalui anggukan kepala sambil tersenyum. “Sekarang kita lihat bagaimana perkembangan mereka di dalam perut Cella. Saat pemeriksaan kemarin mereka belum terlihat, sepertinya yang satunya masih malu-malu,” Jasmine berbicara sambil mengoleskan gel pada perut polos Cella. Albert dan Cella dengan cermat sekaligus teliti memerhatikan layar yang terpampang di hadapannya. Raut bahagia keduanya sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Albert mencium punggung tangan Cella yang sedari tadi digenggamnya. “Terima kasih, Honey,” ucap Albert setelah Jasmine selesai melakukan pemeriksaan. “Kalian hebat bisa mendapatkan bayi kembar lagi. Aku mendapatkan satu bayi saja, susahnya minta ampun,” ucap Jassy kepada Albert yang tengah membantu Cella bangun dari posisi berbaringnya. “Kami tidak merencanakannya agar memiliki bayi kembar lagi. Berhubung kini Cella sudah dinyatakan mengandung bayi kembar lagi, maka kami pun tidak menolak. Kami sangat bahagia mengetahui keberadaan mereka. Bukankah begitu, Honey?” Albert meminta persetujuan Cella atas ucapannya. Cella menanggapi ucapan Albert dengan senyuman dan anggukan. Yang dikatakan Albert memang benar. Dia dan sang suami tidak pernah merencanakan untuk mempunyai bayi kembar lagi. Baginya mengandung bayi tunggal atau kembar bukanlah sebuah masalah, melainkan tetap menjadi anugerah. “Cell, karena kamu sudah pernah mengandung bayi kembar sebelumnya, aku rasa kehamilanmu yang sekarang tidak terlalu mengagetkanmu. Meskipun demikian, kamu harus tetap lebih banyak beristirahat dan selalu menjaga asupan gizimu. Mengenai morning sickness yang kamu alami, aku akan memberikanmu penghilang mual dan pusing serta vitamin,” Jasmine menjelaskan sambil menuliskan resep pada secarik kertas. “Terima kasih, Jass. Aku masih tidak menyangka bisa memperoleh anak kembar lagi.” Wajah Cella berseri-seri setelah mengetahui di dalam rahimnya kini sedang tumbuh dua malaikat kecilnya bersama sang suami tercinta. “Al, nanti bagi tips pada suamiku ya. Siapa tahu kami juga bisa memperoleh anak kembar seperti kalian,” pinta Jasmine sambil menaikkan sebelah alisnya. Ucapan Jasmine membuat Albert dan Cella tertawa. “Boleh, Jass. Nan ....” Albert tidak melanjutkan kalimatnya karena pinggangnya sudah lebih dulu dicubit oleh Cella. “Sakit, Honey.” Albert memegang tangan Cella agar berhenti mencubitnya. Kini giliran Jasmine yang tertawa saat melihat reaksi Cella atas candaannya. “Oh ya, Cell, kamu masih aktif mengurus kafe?” “Masih. Hanya saja belakangan ini aku jarang datang ke kafe,” jawab Cella jujur. “Kenapa, Jass?” tanyanya. “Sebaiknya sekarang kamu fokus dulu dengan kehamilanmu agar tubuhmu tidak kelelahan. Selain mengurus kafe, masih ada Double Ell yang menuntut perhatianmu,” Jasmine menyarankan. Tanpa berpikir lama, Cella pun menyetujui saran dari Jasmine. Setelah berbasa-basi sedikit dengan Jasmine, Albert dan Cella pun izin pamit. *** “Honey, ini benar-benar akan menjadi hadiah untuk Double Ell.” Albert tidak henti-hentinya berbahagia atas berita yang baru dia dapatkan. “Ternyata doa mereka terkabul,” Cella menanggapinya sambil mengusap perutnya dari luar dress. “Ah! Baru sebentar berpisah dengan mereka, aku sudah sangat merindukan kedua anak menggemaskan itu.” Cella mendesah ketika bayangan ceria Double Ell mengisi pikirannya. “Kamu mau kembali ke rumah Mommy?” Albert mengerti sekali ikatan batin antara istri dan anak kembarnya. “Tidak usah, kita langsung pulang saja. Lagi pula aku mau melatih diri berjauhan dengan mereka sebelum kita berangkat babymoon,” Cella menjawab sambil langsung bersandar pada pundak Albert yang sedang menyetir. Albert tercengang mendengar jawaban Cella. “Kamu menyetujui rencanaku untuk babymoon?” tanyanya memastikan. “Hm. Kenapa? Kamu berubah pikiran?” Cella yang sudah memejamkan mata bertanya balik. “Tidak, Honey. Aku akan mulai mencari destinasi yang cocok sebagai tempat kita babymoon,” jawab Albert antusias. Menggunakan sebelah tangannya dia mengusap kepala Cella yang bersandar di pundaknya. “Perginya jangan jauh-jauh,” Cella mengingatkan. “Setelah perayaan ulang tahun Double Ell saja kita pergi,” imbuhnya menyarankan. “Sesuai keinginanmu, Honey,” Albert langsung menyetujui permintaan Cella. “Sayang, apakah kamu sudah memberi tahu Jonathan dan Cindy bahwa kita mengundang mereka?” tanya Cella tanpa mengubah posisi yang sudah dianggapnya nyaman. “Sudah. Mereka sekeluarga pasti datang, lengkap dengan Tere dan Theo. Bagaimana dengan Icha dan Sammy?” Albert memelankan kecepatannya agar tidak membahayakan istrinya. “Mereka juga akan hadir. Sebenarnya aku tidak tega memaksa Icha agar datang. Berhubung aku sangat merindukannya, jadi mau tidak mau dia harus datang,” beri tahu Cella. Mendengar sifat memaksa Cella, Albert hanya tersenyum. Dia jadi teringat pada perdebatan antara Cella dan Sammy melalui video call karena sang istri menyuruh Icha harus datang di hari ulang tahun Double Ell, padahal wanita tersebut sekarang sedang hamil besar. *** Albert tidak tega membangunkan Cella yang terlelap di pundaknya. Dengan hati-hati Albert menyandarkan kepala Cella pada headrest sebelum dirinya keluar dari mobil terlebih dulu. Secara perlahan Albert memosisikan sebelah tangannya pada tengkuk Cella dan sebelahnya lagi di lutut sang istri. Dia menggendong Cella memasuki rumah yang ditempatinya bersama para malaikat tercintanya. “Amanda, siapkan makan siang untuk istriku dan bawakan ke kamar,” perintah Albert langsung ketika Amanda membukakan pintu. “Baik, Tuan. Nyonya kenapa?” tanya Amanda cemas. Albert tersenyum melihat wanita yang kini sedang tertidur pulas di gendongannya. “Hanya tidur,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya. “Syukurlah,” ucap Amanda lega. “Saya akan menyiapkan makan siang untuk Nyonya,” imbuhnya ketika Albert melangkah menuju kamar mereka.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN