LG 6

1458 Kata
Tepat saat Albert membaringkan tubuhnya, mata Cella terbuka. “Hm. Sudah sampai?” tanyanya dengan kesadaran yang belum sempurna. Albert mengangguk. “Kita sudah berlabuh di peraduan, Sayang,” jawabnya sambil mengecup kedua mata Cella secara bergantian. “Temani aku tidur.” Cella menarik tengkuk Albert tanpa aba-aba. Untung saja keseimbangan Albert terkontrol, jika tidak dia pasti akan langsung membentur perut Cella. “Pelan-pelan, Honey. Aku tidak mau menindihmu dan menyakiti mereka,” tegurnya lembut. Dia langsung menaiki ranjang dan berbaring di samping istrinya. “Maaf,” ucap Cella sambil menyusupkan kepalanya pada d**a bidang Albert. Albert mengeratkan pelukannya pada tubuh Cella. “Kita makan siang dulu, Sayang. Apalagi tadi pagi kamu tidak menghabiskan sarapanmu,” ajaknya yang sesekali menghirup aroma rambut sang istri. “Aku tidak lapar,” jawab Cella setengah berbisik. “Sayang, apakah kamu tidak kasihan dengan mereka? Kedua anak kembar kita yang sedang tumbuh di dalam perutmu sangat membutuhkan asupan gizi agar tetap sehat.” Kini Albert merenggangkan pelukannya agar bisa menatap wajah Cella. “Masuk!” serunya tanpa mengubah posisinya ketika mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar. Seperti yang diperintahkan Albert, Amanda masuk sambil membawa nampan berisi hidangan makan siang untuk Cella. Tanpa menunggu perintah lagi, Amanda langsung meletakkan nampan di tangannya pada coffee table yang ada di dalam kamar tersebut. “Saya permisi, Tuan,” Amanda berpamitan setelah selesai menjalankan tugasnya. “Terima kasih,” Albert menanggapinya tanpa menoleh. Amanda keluar dan menutup pintu kamar Albert dengan sangat pelan karena takut menggangu tidur Cella. ”Jika diperhatikan belakangan ini Nyonya sangat manja kepada Tuan. Apakah kini beliau mengandung bayi perempuan? Kadang kala Nyonya juga sering bersikap ketus pada Tuan. Apakah pertanda beliau mengandung bayi  laki-laki? Atau jangan-jangan Nyonya mengandung bayi kembar sepasang lagi?” batin Amanda bertanya-tanya mengenai sikap Cella belakangan ini. *** “Sayang, ayo bangun. Habis makan kamu boleh melanjutkan tidur lagi. Aku akan menyuapimu.” Albert dengan gigih membujuk Cella yang sudah memejamkan mata. “Hm,” Cella hanya menanggapi ucapan Albert dengan gumaman karena dia sangat malas membuka matanya. Albert tidak kehilangan akal saat Cella mengabaikan ucapannya. Albert melepaskan pelukannya pada tubuh Cella sebelum menuruni ranjang untuk mengambil nampan di atas coffee table. Albert mencelupkan sendok ke dalam mangkuk yang berisi sup sayur, kemudian menempelkannya pada bibir Cella. Dengan mata tetap terpejam, Cella mencecap sendok yang ditempelkan pada bibirnya tersebut. “Lezat,” ucapnya. Albert tersenyum menang melihat respons Cella. “Ayo makan dulu, Sayang. Jika kamu tetap tidak mau makan, maka jangan salahkan aku yang menghabiskannya,” gertaknya lembut. “Nah! Sekarang duduklah. Hari ini aku akan melayanimu,” imbuhnya saat melihat Cella langsung membuka mata setelah mendengar gertakannya. Albert memangku nampan dan mulai menyuapi Cella. Albert melihat Cella mengernyit saat sang istri mulai mengunyah makanannya. “Kenapa? Mual?” Dengan sigap Albert mengambilkan air untuk istrinya. Cella menerima gelas berisi air dan segera meminumnya. Perlahan dia menelan sayur yang telah dikunyahnya sambil mewaspadai reaksi perutnya. Untungnya yang dia takutkan tidak terjadi. Cella tersenyum karena berhasil menelan makanannya tanpa harus dia muntahkan kembali. “Lagi,” pinta Cella kepada Albert yang dari tadi lekat mengamatinya. “Perutmu sudah tidak mual lagi?” Albert langsung menyuapi Cella setelah pertanyaannya hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh sang istri. “Kamu juga ikut makan,” ucap Cella di sela-sela kegiatan mulutnya mengunyah. Awalnya Albert menggeleng, tapi tak lama kemudian dia menghela napas karena melihat Cella sudah memasang raut protes sekaligus menghentikan kunyahannya. “Baiklah, Nyonya,” ucapnya pada akhirnya. Albert ikut menyuapkan makanan yang seharusnya untuk Cella ke dalam mulutnya. Albert dan Cella secara bergantian saling menyuapi, hingga makanan tersebut tak tersisa. Tanpa Albert duga, Cella meminta kepada Amanda agar membawakannya makanan kembali. “Ternyata benar yang dikatakan Mommy. Istriku makan dengan lahap setelah aku suapi,” ucap Albert dalam hati. Dia lega melihat Cella menelan makanannya tanpa terinterupsi oleh rasa mual. *** Albert masih menemani Cella yang tengah bersandar pada kepala ranjang setelah mereka menghabiskan makanan bersama. Dia meminta Amanda datang ke kamarnya untuk membereskan peralatan makannya. Berhubung hari ini Albert tidak ke kantor dan anak kembar mereka masih berada di rumah mertuanya, dia memutuskan hanya ingin berada di dekat Cella. Albert ingin menghabiskan waktunya hanya berdua bersama Cella, mengingat kegiatan tersebut sangat jarang bisa mereka lakukan di rumah karena Double Ell yang senantiasa mengekori sang istri ke mana pun. Bahkan, ketika Cella berada di kamar mandi pun Double Ell akan setia menunggunya di depan pintu. “Mengantuk?” Albert mengalihkan pandangannya dari televisi ketika mendengar istrinya menguap. Tanpa menjawab, Cella mengubah posisi kepalanya. Kepala Cella yang tadinya disandarkan di pundak Albert, kini telah berpindah ke d**a hangat sang suami. Albert tidak melarang Cella tidur seperti itu, dengan lembut dia menarik tubuh sang istri agar lebih merapat. Seperti biasa saat Cella sudah benar-benar terlelap, baru dia akan memperbaiki posisi tidur istrinya tersebut. Albert mengambil remote di atas nakas, kemudian menekan tombol off. Dia lebih tertarik mendengar deru napas halus Cella, dibandingkan acara yang disuguhkan oleh channel televisi di depannya. Albert terhipnotis oleh suara napas Cella, sehingga dia mulai merasakan matanya memberat. Setelah membawa Cella pada posisi nyaman, dia membaringkan dirinya dan memberikan kehangatan pada tubuh kurus sang istri. Albert meraih tangan Cella dan membandingkan jari-jarinya dengan miliknya. “Kembali berbeda,” Albert mengomentari jari-jari tangan Cella dengan nada lirih. “Jika setiap hamil kondisimu seperti sekarang, maka kehamilanmu kali ini akan menjadi yang terakhir. Dengan kehadiranmu, Double Ell, dan calon anak kembar kita selanjutnya sudah sangat membuat hidupku bahagia,” imbuhnya sambil meletakkan tangan Cella pada lehernya. Albert menatap intens wajah Cella yang tanpa make up. Wajah yang selalu membuatnya enggan pergi ke mana-mana dan senantiasa memanggilnya untuk segera kembali ke rumah. “Wajah ini yang selalu membuatku bersemangat. Wajah ini pula yang selalu menyambutku ketika mataku terbuka.” Albert mendaratkan bibirnya pada kening Cella cukup lama sambil ikut memejamkan mata. Dia begitu meresapi sentuhannya pada kulit halus Cella, hingga akhirnya dia pun menyusul sang istri ke alam mimpi. *** “Sekarang apalagi? Jika kamu masih memintaku untuk menyetujuinya, aku tetap menolaknya. Pendirianku tidak akan berubah. Sekali lagi aku tegaskan padamu untuk tidak berpikiran konyol. Aku tidak akan pernah menyetujui permintaanmu itu!” Albert dibuat kesal oleh seseorang yang sedari tadi menghubunginya, sehingga membuatnya beranjak dari samping Cella. Dia sengaja menerima telepon di ruang kerjanya agar tidak mengganggu tidur sang istri. “Kamu harus ingat bahwa istriku kini sedang hamil. Sudah pasti aku tidak akan pernah bisa meninggalkannya hanya untuk mengunjungimu. Jangan bertindak yang aneh-aneh!” Albert membentak lawan bicaranya tersebut. “Jangan sampai kamu diketahui sedang berada di apartemenku oleh siapa pun!” Albert mengingatkan orang yang sedang diajak berkomunikasi. “Tidak bisa! Saat ini aku tidak bisa mendatangimu ke apartemen. Istriku sedang tidur, lagi pula anak-anakku juga belum pulang,” Albert memberitahukan kepada orang di seberang tentang alasannya tidak bisa pergi. “Apa?! Mengapa kamu baru mengatakannya? Baiklah, kalau begitu aku akan segera ke sana.” Albert terkejut mendengar kabar yang diberitahukan oleh penelepon di seberang tersebut. Di luar sana, air mata Cella menetes saat mendengar pembicaraan Albert dengan seseorang yang dia yakini seorang wanita. Sebelum Albert mengetahui keberadaannya, Cella dengan langkah tergesa kembali menuju kamarnya dan memosisikan dirinya seperti semula. Dia ingin menyelidiki sendiri dengan siapa kini suaminya menjalin hubungan. Jika benar Albert berselingkuh dan dirinya berhasil mendapatkan bukti yang akurat, maka dia akan melabrak suaminya tersebut. Bahkan, dia tidak perlu berpikir berulang kali untuk melayangkan gugatan cerai. ”Jangan harap kali ini aku akan memaafkanmu!” ucap batin Cella kesal. *** Albert tersenyum melihat Cella yang masih tertidur pulas. Dengan langkah perlahan dia berjalan menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Setelah selesai dia menghampiri ranjang Cella, kemudian mencium keningnya. “Sayang, aku keluar sebentar. Istirahatlah,” ucapnya. Seusai berpamitan dan mencium pipi Cella, Albert pun segera keluar kamar. Dia akan mendatangi apartemennya untuk menemui seseorang yang beberapa hari ini menjadi penghuni tempat tersebut. Sebelum menuju apartemennya, terlebih dulu dia akan singgah ke supermarket untuk membelikan keperluan yang tadi diminta oleh seseorang tersebut melalui sebuah pesan singkat. Dia memang sengaja melarang seseorang tersebut untuk keluar dari apartemennya. “Amanda,” panggil Albert setelah berada di luar kamarnya. “Iya, Tuan.” Amanda langsung menghampiri Albert ketika namanya dipanggil. “Amanda, jika istriku bangun katakan padanya bahwa aku ke kantor sebentar,” pinta Albert pada Amanda. “Baik, Tuan,” jawab Amanda patuh sambil mengangguk. *** Di dalam kamar setelah kepergian Albert, Cella duduk sambil menyandarkan kepalanya pada headboard. Dia mendengkus kesal di tengah-tengah lelehan cairan bening dari pelupuk matanya. “Keluar sebentar untuk menemui selingkuhanmu?” Cella bergumam dengan nada mengejek. “Jika dulu aku diam saja melihatmu yang terang-terangan berselingkuh, maka tidak untuk sekarang. Kamu harus memilih antara aku atau dia!” imbuhnya sambil menghapus air matanya dengan kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN