LG 7

1238 Kata
Albert memasuki supermarket untuk membeli kebutuhan yang diminta oleh seseorang yang kini tengah menempati apartemennya. Saat sedang asyik memilih buah sekaligus sayuran segar, Albert teringat dengan ponselnya yang dia taruh di atas meja kerjanya dan sekarang lupa dibawa. Karena hal tersebut, perasaan Albert seketika menjadi gelisah. Dia takut Cella menemukan ponselnya dan iseng memeriksanya, walau sebelumnya istrinya tersebut tidak pernah melakukannya. ”Semoga saja Cella tidak iseng memeriksa ponselku,” Albert berharap dalam hati. Setelah membayar barang belanjaannya, Albert bergegas menuju unit apartemennya dan menemui orang yang belakangan ini kerap mengganggu ketenangan pikirannya. *** “Bisakah kamu tidak selalu menyulitkanku?” Tanpa memberi salam terlebih dulu, Albert langsung mengajukan protes kepada orang yang berada di dalam apartemennya. Suara keras Albert membuat seorang wanita yang sedang menuang air di dapur terperanjat. “Kamu sudah datang ternyata. Pelankan suaramu, Al!” tegurnya karena volume suara Albert yang cukup tinggi. Albert mengabaikan teguran yang didapatnya. “Bagaimana keadaannya?” tanyanya sambil menaruh belanjaannya di atas meja makan. “Mereka baru saja tidur. Mau aku buatkan minum?” Wanita itu berjalan menghampiri Albert dan menawarkan minuman. “Gara-gara memenuhi keinginanmu, aku terpaksa meninggalkan istriku yang sedang tidur.” Albert mengempaskan bokongnya pada kursi di dekatnya. “Cella tidak mencurigaimu?” tanya wanita itu dengan tatapan penasaran. “Entahlah,” jawab Albert tak acuh. “Maafkan aku karena telah menyeretmu dalam masalah rumah tanggaku,” ucap wanita tersebut merasa bersalah. Albert menarik bahu wanita yang kini telah duduk di sampingnya tersebut. “Tidak perlu meminta maaf. Aku akan selalu ada untukmu, terlebih kamu adalah salah satu wanita berharga dalam hidupku,” ucapnya menenangkan. Dia mencium kening wanita itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. *** “Nyonya, Anda mau ke mana?” Amanda bertanya pada Cella yang sudah berpenampilan rapi. “Tadi Albert mengatakan pergi ke mana, Amanda?” Cella mengabaikan pertanyaan Amanda. Dia malah balik bertanya. “Tadi Tuan mengatakan sedang ke kantor, Nyonya. Namun, katanya hanya sebentar,” beri tahu Amanda sesuai perintah Albert. Cella berusaha membebaskan rasa sesak yang mengimpit rongga dadanya setelah mendengar jawaban Amanda. “Jika nanti Albert pulang, katakan aku sedang ke kafe,” pintanya dengan nada seperti biasa. “Oh ya, jika orang tuaku datang bersama Double Ell, tolong katakan aku keluar sebentar supaya mereka tidak khawatir,” imbuhnya. “Baik, Nyonya. Saya akan menyuruh sopir untuk menyiapkan mobil ....” “Tidak usah, Amanda. Aku akan mengendarainya sendiri,” sela Cella sebelum Amanda menyelesaikan kalimatnya. “Tapi, Nyonya, nanti Tu ....” “Aku yang akan bertanggung jawab, kamu tenang saja,” Cella kembali memotong kalimat Amanda, hingga akhirnya wanita muda tersebut hanya mengangguk ragu. Dengan perasaan campur aduk dan tetap memperlihatkan ketenangannya, Cella berjalan menuju pintu utama. Baru saja dia membuka sedikit pintunya, teriakan Double Ell sudah menerobos gendang telinganya. “Mommy, i miss you,” ucap Ella yang langsung menubruk tubuh Cella. Untung saja tangan Cella berhasil menggapai daun pintu, sehingga tubuhnya tidak terhuyung. Belum pulih dari keterkejutannya, Ello kembali menubruk tubuhnya setelah melihat sang kembaran yang memberinya contoh. ”I miss you, Mom.” Ello mengikuti kembarannya mengungkapkan rasa rindunya kepada Cella. Secara bersamaan Cella mengelus kepala Double Ell dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. “Mommy juga sangat merindukan kalian, Sayang,” Cella membalas ungkapan rindu anak kembarnya. “Yeay!” Double Ell bersorak bersamaan setelah mendengar ungkapan rindu sang ibu. “Gagal rencanaku menyambangi apartemenmu, Al!” ucap Cella dalam hati. ”Sekarang kamu beruntung sekaligus terhindar dari penyergapanku karena kedatangan Double Ell, tapi tidak untuk lain kali,” batinnya menambahkan. “Ayo masuk, Sayang,” ajak Cella setelah mengurai pelukan kedua anaknya. “Mommy dan Daddy juga. Kalian pasti lelah menjaga Double Ell hampir seharian,” sambungnya kepada orang tuanya. “Kami tidak lelah, Sayang. Justru kami sangat senang dan belum puas bersama mereka. Jika bukan karena Ella merengek minta pulang, mungkin mereka akan kami suruh menginap, “ ujar Sandra sambil menatap kedua cucunya. “Jika aku tidak ikut, mereka sangat susah disuruh menginap, Mom.” Cella kini sudah berjalan di samping Sandra, sedangkan Double Ell bersama Adrian telah mendahului mereka. “Di mana suamimu? Kamu mau ke mana?” selidik Sandra saat menyadari penampilan putrinya. “Albert sedang di kantor, Mom. Setelah pulang dari mengantarku periksa, dia ke kantor untuk mengurus beberapa pekerjaannya. Kalau aku sendiri awalnya mau ke kafe, Mom. Berhubung kalian datang, jadi aku batalkan saja niatku itu,” Cella menjawabnya dengan santai. Sandra mengangguk setelah mendengar jawaban Cella. “Bagaimana keadaanmu dan kandunganmu, Sayang?” tanyanya dengan nada cemas. “Aku baik-baik saja, Mom. Bahkan, mereka juga,” beri tahu Cella setelah menduduki salah satu sofa di ruang keluarganya. Sandra yang berniat mengikuti Cella duduk mengurungkan niatnya. Dia menatap sang anak sambil mengernyit. “Mereka? Maksudmu, sekarang kamu mengandung janin kembar lagi?” tanyanya memastikan. “Ya, Tuhan! Sayang ….” Sandra histeris bahagia saat Cella menjawab pertanyaannya melalui anggukan kepala. Sandra langsung duduk dan merengkuh putri semata wayangnya, walau dia masih diselimuti rasa tidak percaya atas kabar yang baru saja diketahuinya. “Ada apa, Nek? Kenapa berteriak?” Double Ell terlihat kesusahan mengatur napasnya setelah berlari ke tempat sang ibu dan neneknya duduk. “Ada apa dengan Cella, Sayang?” Adrian tak kalah khawatir mendengar Sandra histeris setelah dia ikut bergegas menghampiri istri dan anaknya. “Tidak ada apa-apa, Dad. Kalian tidak usah khawatir.” Cella menenangkan kekhawatiran anak dan ayahnya sambil mengulas senyum tipis. “Sayang, putri kita kembali mengandung janin kembar.” Sandra membagi kabar bahagia yang tadi diberitahukan oleh putrinya kepada suaminya setelah dia kembali bisa menguasai diri dari keterkejutannya. Seperti reaksi Sandra sebelumnya, Adrian juga sangat terkejut setelah mengetahui kabar tersebut. Namun, tak berselang lama, dia menghampiri Cella kemudian membawa putrinya tersebut ke dalam pelukannya. Menyaksikan tindakan tak biasa kakek dan neneknya terhadap sang ibu, Double Ell terlihat bingung. Mereka mengira telah terjadi sesuatu yang buruk menimpa ibunya, sehingga membuat sepasang anak kembar tersebut menangis bersamaan. “Nenek, Mommy kenapa?” tanya Ella di sela tangisannya. Tiga orang dewasa yang sedang berbagi kebahagiaan tersebut terinterupsi oleh tangisan melengking Ella. Bukannya segera menenangkan Ella, mereka malah tersenyum geli melihatnya. “Mereka sungguh lucu dan sangat menggemaskan,” Sandra berbisik kepada Adrian dan Cella saat melihat Double Ell yang kini sedang menangis sambil saling berpelukan. Cella hanya menanggapi bisikan sang ibu dengan senyuman. “Kemarilah, Sayang,” pintanya lembut. Suara lembut sang ibu langsung menginterupsi tangisan Double Ell. Mereka berlomba menjangkau ibunya yang kini telah merentangkan tangan. “Apakah perut Mommy sakit?” Ello menyentuh perut Cella dengan sangat hati-hati. Cella menjawabnya dengan gelengan kepala. “Perut Mommy baik-baik saja, Sayang,” Cella menegaskan sambil membawa Double Ell ke dalam dekapannya. “Jika perut Mommy tidak sakit, kenapa tadi Nenek berteriak dan Kakek bersikap seperti itu?” tanya Ella menuntut. Adrian dan  Sandra yang duduk mengapit Cella mengelus kepala Double Ell dengan penuh kasih sambil mengulum senyum. “Kakek dan Nenek berteriak karena bahagia, Sayang. Bahagia karena kalian akan mendapatkan dua orang adik sekaligus,” Adrian mewakili Cella menjawab pertanyaan Ella. “Benarkah?” tanya Double Ell serempak sambil menatap Cella. “Iya, Sayang,” jawab Adrian sambil mengangguk. “Hore!” Double Ell berseru senang. Mereka langsung mencium kedua pipi Cella secara bersamaan. Adrian dan Sandra ikut bahagia melihat kasih sayang cucu kembarnya kepada Cella, begitu juga sebaliknya. Adrian sangat menyesali perbuatannya dulu yang sempat mengabaikan keberadaan Cella dan cucunya semasih berada dalam kandungan sang anak.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN