Albert pulang dengan perasaan bersalah menggeluti hatinya. Bagaimana tidak, niatnya yang hanya pergi sebentar ternyata tidak berhasil ditepati. Kini dia pulang saat posisi matahari telah tergantikan oleh bintang, bukannya dia takut istrinya marah, melainkan takut jika istrinya menyambutnya seperti biasa. Memiliki istri yang mempunyai karakter seperti Cella selalu membuatnya belajar peka terhadap sikap yang diperlihatkan oleh istrinya itu.
Jika Cella mendiamkannya apabila Albert melarangnya melakukan sesuatu, itu wajar. Namun, jika Cella bersikap seperti biasa jika Albert melakukan kesalahan, itu yang harus Albert waspadai, karena sikap Cella yang seperti itu selalu berhasil menyiksa Albert.
“Baru pulang?” Suara lembut milik Cella berhasil membuat Albert tersentak.
“Eh ... iya. Hmmm ... kamu belum tidur?” Albert merasa pertanyaannya tidak memerlukan jawaban, karena dia bisa melihat sendiri kini istrinya sedang berjalan menghampirinya.
“Belum, aku menunggumu,” jawab Cella, kemudian melingkarkan lengannya pada lengan Albert, dan Cella bisa merasakan tubuh Albert menegang dengan perlakuannya.
“Double Ell sudah pulang?” Albert bersusah payah mengatur nada bicaranya karena kini dia dilanda kegugupan.
“Sudah dari sore tadi,” jawab Cella sambil mengendus aroma tubuh suaminya.
“Sayang, kamu sudah makan?” Albert baru menyadari jika Cella akan memuntahkan makanannya apabila tidak dia suapi.
Masih setia mengendus aroma menggoda suaminya, Cella menggeleng. “Aku ingin makan bersamamu,” ujarnya manja.
Albert langsung merengkuh tubuh Cella, “Maafkan aku, Honey,” ujarnya merasa bersalah. “Ayo, kita makan. Aku akan menyuapimu sampai kenyang.” Albert menggiring Cella menuju meja makan.
“Mandilah dulu, biar ....”
“Tidak, Honey. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu, dan mereka.” Albert menyela ucapan istrinya. “Maafkan Daddy, Twins,” tambahnya sambil mengelus perut Cella.
“Gendong,” bisik Cella malu pada Albert. Cella sendiri merutuki kemanjaannya terhadap suaminya. Dia tadi sangat ingin menginterogasi suaminya yang pulang malam. Namun, apa daya, hormon kehamilannya lebih memihak suaminya.
“Dengan senang hati, Honey.” Albert langsung membawa Cella ke dalam gendongannya. Sebelum melangkah menuju meja makan, Albert mengecup sekilas bibir manis istrinya.
Cella menggeleng, sehingga Albert menatap istrinya penuh tanya. “Kenapa, Honey?”
“Aku ingin kamu mandi dulu, dan kita makan di kamar,” ujar Cella sambil mencari posisi nyaman pada d**a suaminya.
“Tapi ....”
“Jangan membantah!” sergah Cella dengan tegas, sehingga Albert hanya bisa mendesah.
“Baiklah ... Nyonya Anthony.” Albert pun menurutinya, dia membawa Cella menuju kamar tidur mereka.
“Mood-nya cepat sekali berubah. Kadang sikapnya sangat lembut, kadang juga suka memerintah. Apakah ini karena dia mengandung anak kembar lagi? Ataukah janinnya kembali kembar sepasang?” pikir Albert sambil berjalan menuju kamar mereka.
***
Albert sedang mengacak-acak ruang kerjanya mencari keberadaan ponselnya yang tertinggal tadi. Selesai mandi tadi, dia bersama istrinya menikmati makan malam, tentu saja dia menyuapi Cella agar makanan yang tertelan tidak dimuntahkan kembali. Cella sempat menceritakan kegembiraan Double Ell saat mengetahui calon adiknya ada dua, dan itu kembali membuat rasa bersalahnya semakin besar karena melewatkan moment tersebut. Selanjutnya, karena sudah larut malam, Albert menyuruh istrinya tidur, dan dia pun menemaninya. Saat dia sudah memastikan Cella terlelap, dia kembali ke ruang kerjanya untuk menemukan ponselnya. “Bukankah terakhir tadi aku letakkan di sini? Mengapa sampai sekarang tidak berhasil aku temukan?” tanyanya sendiri.
Albert tidak menyadari tatapan kecewa, marah, dan terluka dari mata wanita yang kini tengah mengamatinya dari ambang pintu yang tak tertutup. “Ternyata dia sedang mencari ini,” dengus Cella sambil memerhatikan benda tipis, tapi berbobot di tangannya.
Setelah mengembuskan napas dengan keras agar suaranya tidak terdengar serak, Cella memutar handle pintu dengan pelan, “Ada masalah, Al?”
Suara tiba-tiba Cella menghentikan aktivitas Albert yang sedang mengacak laci pada meja kerjanya. Albert terkejut melihat Cella sudah berdiri di depannya yang terhalang meja. Karena diliputi kegugupan Albert menjawabnya terbata, “Ah ... ti ... dak. Mengapa kamu bangun, Honey?”
“Aku merasakan kamu tidak ada di sampingku, makanya aku terbangun.” Cella menjawab dengan nada biasa, tapi matanya menatap intens suaminya. “Kenapa ruang kerjamu berantakan begini? Apa ada sesuatu yang sedang kamu cari, dan tak kamu temukan?” tambah Cella sambil memerhatikan sekelilingnya.
“Oh ... aku hanya mencari berkas yang lupa aku letakkan di mana.” Albert beranjak ke samping Cella. “Sudahlah ... besok saja aku kembali mencarinya, lagipula berkas itu tidak terlalu penting. Ayo ... sebaiknya kita tidur,” tambahnya sambil membalikkan tubuh istrinya.
“Kita cari bersama saja, siapa tahu ketemu. Ayo ... aku bantu mencarinya,” tolak Cella.
“Tidak usah, Honey. Biar besok saja aku cari, siapa tahu saat bangun besok aku ingat di mana aku meletakkannya.” Albert kembali membujuk Cella.
Kesabaran Cella akhirnya menipis. Dengan emosi dia menatap tajam suaminya, dan memperlihatkan benda tersebut di depan suaminya. Benda yang sedari tadi dia genggam, dan tidak dilihat oleh suaminya. “Berkas ini yang kamu cari, dan kamu maksud?” Cella dengan jelas melihat tatapan terkejut suaminya.
“Cella ... kembalikan ponselku,” pinta Albert lembut
“Kenapa terkejut begitu, Al? Bolehkah aku meminjamnya sebentar? Aku ingin mengirim foto yang waktu ini diambil menggunakan ponselmu, lagipula bukankah berkas yang hendak kamu cari, bukan benda ini?” tanya Cella beruntun.
Saat Cella hendak membuka kunci pada layar ponsel itu, dengan gerakan cepat Albert merebutnya. “Ini privasiku, Cell!” geram Albert.
“Privasi, atau kamu takut jika aku mengetahui siapa wanita selingkuhanmu, Al?” tanya Cella sinis.
Mata Albert membesar mendengar pertanyaan istrinya, “Siapa yang selingkuh? Jangan berbicara sembarangan kamu, Cell!” bentak Albert.
“Jika bukan selingkuhanmu, lalu siapa yang kamu sembunyikan di apartemenmu sekarang?” teriak Cella. “Tidak perlu kamu menyembunyikan selingkuhanmu di sana dariku. Bawa saja dia ke rumah ini, beserta anaknya. Biar aku, dan anak-anakku saja yang keluar dari sini,” tambah Cella marah.
Albert tercekat mendengar nada marah dari mulut istrinya, sekaligus merasa bersalah karena sempat membentak istrinya. “Honey, maafkan aku. Aku tidak berselingkuh dengan siapa pun. Semua tuduhanmu itu tidak benar.” Albert mencoba menggapai tangan Cella, tapi dengan cepat ditepis oleh Cella.
“Lalu siapa wanita yang kini menempati apartemenmu? Siapa, Al?” tuntut Cella.
“Dia ... sudahlah, Honey, itu tidak penting. Besok aku jelaskan semuanya, sekarang tolong jangan dibahas lagi. Kamu harus istirahat.” Albert kembali mencoba membujuk istrinya.
“Siapa, Al? Jangan mengalihkan pembicaraan!” hardik Cella. “Katakan!” tuntut Cella kembali.
“Cell ... be ....”
“Aku sudah membaca semua percakapanmu dengannya,” sambung Cella datar. Dia menatap nanar sorot mata suaminya.
Albert terhenyak mendengar pengakuan istrinya. Dia memejamkan mata karena kembali melihat bulir bening menetes dari kedua mata istrinya yang sedang berkedip. “Cell ... ini tidak seperti yang kamu kira. Kamu hanya salah paham, aku tidak melakukan perbuatan yang kamu tuduhkan itu. Kumohon ... Cell, percaya padaku. Besok kita bicarakan la ....”
“Kenapa harus menunggu hingga besok? jika kamu memang tidak berselingkuh.” Cella memotong kalimat suaminya. “Baiklah ... jika itu maumu, lakukanlah sesukamu!” Cella mengempaskan tangan suaminya yang memegang bahunya.
“Cell ..., tunggu. Dengarkan aku dulu.” Albert mengejar Cella yang telah berlari keluar kamar. “Cella ...,” teriak Albert.
Blaamm....
Cella membanting dengan keras pintu kamar yang di tempati oleh Double Ell karena saking emosinya. “Mom ...” panggil Double Ell karena terkejut dengan suara yang ditimbulkan oleh Cella.
“Maafkan Mommy, Ell. Ayo ... tidur lagi, Mommy akan menemani kalian tidur hingga pagi,” ujar Cella yang kini berbaring di ranjang Ella. “Ello di sana saja, Sayang,” tambah Cella karena melihat Ello hendak turun.
Tak menunggu lama Double Ell kembali tertidur, sedangkan Cella mendengar beberapa kali Albert memanggilnya dari luar pintu yang dia kunci dari dalam.