LG 9

1103 Kata
Flashback on Sebelum Cella memutuskan untuk melabrak suaminya, dia masuk ke dalam ruang kerja suaminya berharap ada suatu petunjuk yang mengindikasikan jika suaminya benar kembali berselingkuh. Setelah membuka, dan mengacak tempat yang diyakini sebagai tempat penyimpanan barang bukti yang bisa membuat suaminya tidak mampu menyangkal perbuatannya, akhirnya dia berhasil menemukan sebuah ponsel di antara bingkai foto dirinya, dan mereka berempat—di atas meja. Dengan tangan gemetar Cella memberanikan diri menggeser layar agar bisa masuk, dan mengecek isi ponsel tersebut. Saat menemukan perintah untuk memasukkan kata sandi, Cella mengernyit karena tidak yakin jika kata sandi yang akan dimasukkannya benar. Tanpa pikir panjang pun Cella mulai memasukkan kata sandi yang sempat diberitahukan dulu oleh suaminya. 'Semoga belum berubah,' batinnya. Apa yang diharapkannya terkabul, ponsel itu sekarang siap untuk diotak-atik isinya. Cella mulai membuka kontak, dan meneliti nama yang tersimpan, hingga matanya menangkap sebuah nama kontak yang dianggapnya aneh. Maria–nama yang asing di telinganya. Dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu, dia membuka aplikasi w******p milik suaminya. Cella memejamkan mata, dan mengembuskan napas sebelum lebih jauh membaca percakapan yang akan menyayat hatinya. Meski tidak ada banyak percakapan yang bisa dia baca, tapi dari isi beberapa percakapan itu sudah menyiratkan ada hubungan khusus antara suaminya dengan kontak bernama Maria. "Ingat belikan kebutuhanku. Aku bisa saja keluar dari apartemenmu untuk membelinya, tapi anak-anakku tidak ada yang menjaga." "Al ... cepatlah datang! anakku terus saja merengek menanyakan kedatanganmu." "Iya, sabar! Istriku baru saja tertidur, takutnya dia belum pulas." "Katakan padanya aku akan segera datang." "Thanks, Dad. Love you." Isi percakapan paling akhir antara suaminya dengan Maria sukses membombardir perasaan Cella, sehingga membuat tubuhnya hampir meluruh jika saja dia tidak kuat mencengkeram pinggiran meja. Tangisnya pecah di sela-sela merasakan denyutan nyeri pada dadanya. Flashback off *** Tidur Cella merasa terganggu oleh tepukan-tepukan ringan pada kedua pipinya. Dengan berat hati dia harus membuka matanya untuk melihat siapa pemilik tangan dingin itu. Senyum tipis mengembang dari bibirnya ketika melihat Ella sedang menatapnya lekat. Cella kembali memejamkan mata ketika wajah Ella mendekat, dan memberikannya morning kiss. "Mommy masih mengantuk?" tanya Ella saat sudah duduk di atas paha ibunya yang telah duduk menyandar. Ella hanya mengenakan handuk yang membelit tubuh mungilnya, serta handuk kecil yang membungkus rambutnya yang basah. "Tidak juga, Sayang. Ello mana?" Cella mengendus aroma lembut yang menguar dari tubuh putrinya. Aroma sabun khas anak-anak. "Sedang mandi bersama Daddy, tadi Ella yang lebih dulu dimandikan oleh Daddy," jawab Ella sambil mengusap wajah ibunya yang sedikit sembab, dan pucat. Cella tidak heran jika suaminya bisa masuk, dan sekarang sedang berada di dalam kamar Double Ell, jelas saja itu bukan hal sulit bagi Albert karena masih ada kunci cadangan yang bisa digunakannya untuk membuka pintu. Pikiran Cella kembali melayang pada kejadian kemarin malam, saat dirinya, dan Albert terlibat pertengkaran. Hati Cella terasa perih ketika suaminya kembali melakukan kesalahan yang sama. Tidak mau Ella melihat kesedihannya, dia menyuruh Ella turun dan segera mengganti pakaiannya. "Sayang ... ayo cepat pakai bajumu supaya tidak masuk angin," ujar Cella lembut. "Mom ... kata Daddy kita akan keluar, memangnya kita mau diajak ke mana?" tanya Ella sambil memerhatikan wajah ibunya dari pantulan cermin yang sedang membantunya mengeringkan rambut. Sebelum Cella menjawab, sapaan Ello menginterupsinya, "Morning, Mom ..." sapa Ello riang. Cella menoleh sambil menyunggingkan senyum lembutnya, "Hai ... Sayang," balas Cella tanpa menghiraukan tatapan sendu suaminya yang mengikuti langkah Ello. "Cepat pakai bajumu, Sayang, supaya tidak masuk angin." Cella memberikan perintah yang sama dengan Ella kepada Ello. Albert membantu putranya berganti baju sambil sesekali melirik Cella yang masih mengeringkan rambut Ella. Saat Albert sudah selesai membantu Ello, dia mendekati Cella ingin memberikan morning kiss, tapi Cella dengan cepat menghindar. Dia hanya diam memerhatikan Cella yang sedang berbicara kepada kedua anaknya untuk meminta izin ingin mandi, setelah disetujui Cella pun berlalu begitu saja keluar, tanpa perlu bersusah payah meliriknya. "Ell ... Daddy juga ingin berganti pakaian, jadi kalian jangan bertengkar setelah Daddy keluar. Sebentar lagi Amanda akan Daddy suruh mengawasi kalian," ujar Albert tegas. "Oke, Dad ..." jawab Double Ell serentak. *** Albert menyusul Cella memasuki kamar mereka. Albert mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi, yang menandakan istrinya sedang mengguyur diri. Timbul niatnya ingin langsung masuk, dan ikut mengguyur diri, tapi akal sehatnya dengan keras melarangnya mengingat dia, dan istrinya sedang dalam kondisi tidak seperti biasa. Cukup lama Albert duduk sambil menunggu istrinya selesai mandi, sampai akhirnya pintu kamar mandi terbuka. Dia memerhatikan Cella yang keluar hanya berlilitkan handuk dari d**a hingga atas pahanya. Albert mengernyit saat melihat arah jalan Cella yang sedikit sempoyongan. Dengan cepat dia menghampiri Cella, dan menyanggah tubuh itu untuk menghindari sesuatu yang buruk terjadi. "Lepaskan!" desis Cella, dan berusaha menepis tangan suaminya. Tidak mendengarkan desisan istrinya, dengan cepat Albert menggendong Cella, dan mendudukkannya pada ranjang, "Aku akan membantumu berganti pakaian, jadi duduklah dulu," kata Albert lembut. Tak terpengaruh oleh nada bicara istrinya. "Tidak usah repot-repot mengurusiku! Kerjakan, dan selesaikan saja rutinitasmu!" tolak Cella dengan nada dingin. Albert jengah melihat sikap dingin istrinya, dengan kesal dia menyugar rambutnya,"Cell ... jangan keras kepala. Kumohon jangan bersikap seperti ini," pinta Albert memelas. Emosi Cella terpancing, dengan tajam dia menatap suaminya, "Lalu aku harus bersikap lembut, dan manis padamu setelah mengetahui suamiku menyembunyikan selingkuhannya di dalam apartemennya? Apa sikap itu yang kamu ingin lihat dariku, hah?" geramnya. "Demi Tuhan ... Cell, aku tidak berselingkuh," jawab Albert frustasi. "Jika bukan selingkuhanmu, lalu siapa yang kamu sembunyikan di sana? Siapa yang memberimu kata-kata cinta di akhir percakapan kalian? Siapa itu Maria?" jerit Cella. Napasnya terengah sehingga dadanya naik turun karena emosinya menggebu-gebu. Albert tercengang mendengar teriakan istrinya, apalagi wajah Cella sudah merah padam, dan matanya berair. Albert mengacak rambutnya kasar, dan memejamkan matanya. Tanpa berpikir dua kali Albert langsung mendekap tubuh bergetar istrinya, meski Cella terus saja meronta, dan memukulinya membabi buta. "Tenanglah dulu, Honey. Aku akan mengatakan yang sejujurnya padamu sekarang juga. Namun, sebelumnya aku mohon padamu untuk tenanglah, jangan sampai terjadi apa-apa denganmu, dan mereka," ucap Albert lembut, tanpa mau menghentikan tangan Cella yang memukuli d**a bidangnya. "Sekarang katakan!" ucap Cella parau setelah berhasil mengontrol emosinya, dan menghentikan tangisannya. "Apa tidak sebaiknya kamu memakai pakaianmu dulu, takutnya nanti kamu masuk angin?" Albert mencoba mencairkan suasana dengan mengingatkan istrinya akan perkataan yang disampaikannya tadi pada Double Ell, sehingga membuat Cella memasang raut merengut. Albert tersenyum lembut melihatnya, "Sambil menunggumu selesai berganti pakaian, aku akan mandi dulu. Tenang saja, aku tidak akan mengelak, ataupun menunda lagi." Albert kembali berbicara ketika Cella ingin memprotesnya. Setelah mengempaskan tangan Albert yang berada di pundaknya, Cella berjalan sambil menghentakan kaki menuju walk in closet, sedangkan Albert yang memerhatikan dari belakang hanya menggelengkan kepala.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN