LG 10

1093 Kata
"Cepat katakan!" Suara Cella membuat Albert yang sedang menggosok rambut basahnya dengan handuk tersentak kaget. "Ngga sabar sekali istriku ini," ujar Albert geli. "Albert!!!" Cella melempari suaminya dengan bantal. Albert dengan cepat menangkap bantal tersebut, dan meletakkannya ke tempat semula, "Baiklah ... tapi izinkan aku menyapa anak kembarku yang ini dulu." Albert berlutut di depan istrinya lalu menyingkap dress yang digunakan istrinya. "Al ..." pekik Cella. Wajahnya memerah, menyadari posisi wajah suaminya tepat di depan perut telanjangnya, apalagi pakaian dalam bawahnya terlihat. Tubuhnya meremang ketika merasakan bibir Albert mengenai kulit perutnya, terlebih saat Albert berlama-lama mengecupnya. Seolah menyadari tubuhnya menegang, suaminya itu langsung menghentikan kegiatannya, dan menurunkan kembali dress yang tersingkap. Melihat kedua pipi istrinya tercetak semburat merah membuat Albert tersenyum geli, dengan berani dia mengecup bibir istrinya sehingga mata Cella membelalak karena kaget. Albert melumat lembut bibir itu sebelum istrinya mampu melontarkan keberatannya. "Itu morning kiss dariku untuk ibu anak-anakku." Albert menyeka sudut bibir Cella yang sedikit basah karena ulahnya setelah dia mengakhiri ciumannya. Mendengar perkataan suaminya membuat Cella memalingkan wajah. Jantungnya berdetak kencang. Meskipun dia sedang marah dengan suaminya, tapi dia tidak memungkiri jika perasaannya seperti melayang diperlakukan dengan lembut seperti itu, apalagi yang melakukannya merupakan laki-laki yang sangat dicintainya. Tidak mau memberikan kesempatan kepada suaminya untuk mengelak lagi, setelah mengatur napas agar degupan jantungnya berdetak normal, Cella kembali menatap tajam suaminya, "Yang kamu inginkan sudah kamu dapat, sekarang cepat katakan sebelum aku semakin marah padamu," ketus Cella. Albert menghela napas dengan sifat keras kepala istrinya. Albert yang kini sudah duduk di samping istrinya membalikkan tubuh Cella agar bisa berhadapannya. "Honey ... sebenarnya ini merupakan sebuah rahasia yang harus aku jaga, tapi karena kamu sudah terlanjur mengetahuinya, maka aku akan berterus terang. Namun, aku meminta padamu untuk tidak mengatakannya kepada yang lain. Aku juga akan membawamu, dan Double Ell ke apartemen agar kamu bisa mendengar sendiri alasannya. Supaya kamu tidak semakin menuduhku yang bukan-bukan, maka aku beritahu jika kontak yang bernama Maria itu adala ...." Albert membisikkan sebuah nama pada telinga istrinya sehingga membuat Cella terkejut, tak percaya. "Yang aku katakan padamu itu, benar. Jika kamu tetap meragukannya, kamu bisa tanyakan sendiri padanya nanti mengenai alasannya dia melakukan ini. Yang lain tidak mengetahui masalah mereka, jadi meskipun aku orang yang paling dekat dengannya, aku tetap tidak mempunyai hak untuk mengatakannya kepada yang lain. Aku hanya membantunya, dengan memberikan fasilitas yang dia butuhkan saat ini. Sekarang kamu sudah bisa mengenyahkan pikiran buruk terhadapku dari kepalamu cantikmu ini?" Albert mengelus kepala istrinya. "Tapi aku masih tidak mempercayainya, padahal sewaktu kita bertemu dengan mereka beberapa waktu lalu, mereka masih terlihat baik-baik saja." Cella menatap suaminya tak mengerti. "Jangankan kamu, aku sendiri kaget sewaktu diberitahu olehnya," balas Albert. "Karena aku sudah menjelaskannya, maka sekarang siapkan pakaianku supaya kita bisa segera sarapan. Aku yakin Double Ell sudah terlalu lama menunggu kita, dan Twins di sini pasti sudah lapar." Albert membantu Cella berdiri. "Al ... maafkan aku atas tuduhanku," sesal Cella tulus. Albert menyeringai. "Aku mau memaafkanmu asal kamu mau rencana babymoon kita dipercepat?" Albert menaik turunkan kedua alisnya. "Tidak! Babymoon kita tetap terlaksana setelah ulang tahun anak-anak," tolak Cella mentah-mentah. "Satu lagi ... selesaikan dulu kasus perselingkuhanmu sebelum kita pergi," tambah Cella. Saat Cella menyebut kata perselingkuhan tersirat nada menggoda di dalamnya. "Oh ... no!!!" geram Albert frustasi, apalagi mendengar Cella tertawa puas saat berjalan mengambilkannya pakaian. *** Seperti pagi-pagi biasanya, sarapan yang dilakukan oleh keluarga kecil Albert sangat riuh. Itu karena Double Ell selalu meributkan menu sarapannya. Namun, jika sudah mendengar teguran ibunya yang lembut tapi tegas langsung membuat Double Ell diam. Mereka akan berlomba mencari perhatian Cella supaya ibunya itu tidak marah. Sedangkan Albert hanya akan menjadi penonton setia, karena jika dia turun tangan menangani keributan Double Ell sudah dapat dipastikan jika Double Ell bukannya segan, melainkan ketakutan. Selama ini Albert selalu belajar, dan berusaha menjadi seorang ayah yang disegani oleh anak-anaknya, bukannya ditakuti. Double Ell bukannya senang membantah, ataupun melawan jika ditegur oleh ayahnya, hanya saja Double Ell kerap ketakutan saat melihat raut wajah ayahnya yang berubah serius. "Dad ... Ella boleh minta buatkan sandwhich lagi?" Ella menatap penuh harap ke arah ayahnya yang tengah asyik menikmati menu sarapannya. "Tentu saja boleh, Sayang, tapi sebelumnya habiskan dulu yang ada di tanganmu." Albert menunjuk tangan Ella yang masih memegang setengah sandwich. "Oke ... Dad." Ella menyengir sehingga gigi putihnya yang kecil-kecil terlihat. "Dad ... Ello juga mau." Ello tidak mau ketinggalan dengan kakaknya. "Tapi Ello sudah makan tiga buah sandwich, Dad." Ella mengingatkan jumlah sandwich yang dimakan adiknya. "Tapi Ello masih lapar, Dad," adu Ello. Albert, dan Cella hanya mendesah melihat perdebatan anak-anaknya. Cella mengangguk kepada Albert, sebagai isyarat untuk menjadi penengah di antara perdebatan Double Ell. "Oke ... oke ... Daddy akan membuatkan kalian masing-masing satu buah sandwich lagi. Ella ... karena Ello seorang laki-laki, maka porsi makannya lebih banyak. Itu karena suatu saat nanti ketika kalian besar, Ello yang akan melindungi Ella dari teman-teman yang suka mengganggu." Albert mencoba memberikan pengertian kepada putrinya. Seperti tidak yakin dengan ucapan ayahnya, sehingga membuat Ella menatap ibunya dengan serius—meminta pembenaran. Menangkap tatapan sang kakak kepada ibunya membuat Ello mengeluarkan suaranya, "Benar yang Daddy katakan, meskipun Ello lebih kecil dari Ella tapi Ello janji akan selalu melindungi Ella dari orang-orang yang ingin mengganggu. Itu tidak hanya untuk Ella, tapi untuk Mommy juga." celetuk Ello. Cella terkesiap mendengar celetukan Ello, walaupun diucapkan dengan polos, tapi keseriusan jelas terkandung di dalamnya. Albert sendiri terharu mendengarnya, dia tidak menyangka jika anak yang dulu ingin dia gugurkan akan mempunyai pemikiran seperti ini. Betapa jahatnya dia dulu karena menyia-nyiakan seorang malaikat yang kini sedang menatapnya sambil tersenyum. Malaikat yang merupakan darah dagingnya sendiri. "Lalu siapa yang akan melindungi Daddy jika Ello hanya menjaga Ella, dan Mommy?" celetuk Ella sehingga membuat Ello tampak berpikir. "Daddy yang akan menjadi pelindung, dan menjaga kalian semua. Tidak hanya salah satu dari kalian, tapi semuanya termasuk calon adik kembar kalian yang masih bergelung hangat di dalam perut Mommy." Albert menjawabnya dengan lantang, dan tegas sambil menatap istrinya. "We love, Daddy ..." sorak Double Ell serempak. Mereka bersusah payah menuruni kursinya, dan menghambur memeluk Albert. "Daddy love you too, Ell," balas Albert merengkuh erat tubuh Double Ell, dan menciumi kepala mereka bergantian. "Apakah Mommy tidak mau memeluk Daddy?" tambah Albert tersenyum jahil ke arah istrinya. Cella ikut tersenyum meski matanya berkaca-kaca. Dia mendekat ke tempat ketiga malaikatnya berada, dan memeluk suaminya dari belakang walau terhalang kursi, "Aku juga sangat mencintaimu, my beloved husband." Cella berbisik lembut pada telinga suaminya sambil ikut merengkuh tubuh Double Ell.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN