Sesuai perkataannya tadi, Albert membawa istri dan Double Ell mengunjungi apartemennya yang menjadi persembunyian seseorang yang sempat dicurigai Cella sebagai selingkuhannya. Mengingat luapan emosi istrinya yang cemburu membuat Albert tersenyum sendiri, meski sebenarnya dia tidak kuasa melihat sorot terluka dari pancaran mata istrinya.
"Dad, mengapa senyum-senyum sendiri?" Ella terganggu melihat ayahnya yang tersenyum sendirian dari tempat duduknya di belakang.
Cella yang sedari tadi memandang keluar jendela menoleh saat mendengar pertanyaan putrinya yang tiba-tiba, sedangkan Albert hanya mengembangkan senyumnya kembali tanpa mau repot menoleh ke belakang.
"Mungkin Daddy sedang bahagia karena kita bisa pergi bersama lagi." Ello mewakili ayahnya menjawab pertanyaan dari Ella.
"Benarkah?" tanya Ella memastikan.
"Bukankah Daddy pernah mengatakan jika selalu bahagia ketika pergi bersama kita semua," jelas Ello mengingatkan dengan raut meyakinkannya sehingga membuat Ella membenarkan.
Albert yang hanya mendengarkan pembicaraan Double Ell di belakang tempat duduknya semakin tersenyum mendengar jawaban logis yang diberikan putranya. Berbeda dengan istrinya yang kini tengah menatapnya intens menuntut penjelasannya, dia menoleh ke samping lalu mengedipkan sebelah matanya kepada Cella sehingga membuat Cella mendengus.
Cella melirik ke belakang di mana Double Ell sedang sibuk bercerita entah apa yang diceritakan mereka, lalu berkata kepada suaminya dengan nada memperingatkan, "Jaga kelakuanmu di depan anak-anak!"
"Mereka tidak akan menghiraukan kita ketika sudah sibuk dengan dunia mereka sendiri," balas Albert tanpa mengindahkan peringatan dari istrinya.
"Al ...." Cella cepat mengatupkan bibirnya ketika menyadari salah menyebut panggilan kepada suaminya di depan anak-anak.
"Maaf ... maksudku, Dad," pintanya sambil menyengir. "Mengapa tadi kamu tersenyum sendiri begitu? Apakah kamu sedang mengerjaiku?" selidik Cella dengan raut waspada.
"Sekali lagi kamu mengulanginya, siap-siap saja kamu akan menerima hukuman dariku saat nanti sampai di rumah." Albert memperingatkan. "Aku tidak sedang merencanakan sesuatu untuk mengerjaimu, aku tersenyum karena mengingat ekspresi cemburu pada wajahmu. Dan itu menurutku sangat menggemaskan," sambung Albert sambil sebelah tangannya menjawil dagu Cella yang masih menatapnya.
Cella memukul pelan lengan suaminya sambil ekor matanya melirik ke arah Double Ell yang terlihat mengabaikan keberadaan orangtuanya karena masih dengan keseruannya. Cella merasakan pipinya memanas saat mendapati suaminya sedang menatapnya dengan mesra. "Fokuslah menyetir, Dad, bukankah kamu tidak mau kita semua celaka," ujar Cella setelah memalingkan wajah ke depan.
"As you wish, Honey," balas Albert sambil mengulum senyum manisnya.
***
Setelah memarkir mobilnya dengan rapi, Albert membantu istrinya keluar dari mobil, kemudian baru membantu Double Ell. Dia menggandeng tangan Ella, sedangkan Ello sudah bergelayut manja pada tangan Cella, dan mereka berempat pun berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.
Ketika sudah berada di dalam lift, Double Ell kembali melanjutkan pembicaraannya di mobil tadi, sehingga membuat Cella menghela napas. "Jika belum menemui persamaan pandangan, mereka tidak akan berhenti, Mom" ujar suaminya ketika mendengar helaan napasnya.
"Sepertinya begitu." Cella menanggapi pemikiran suaminya.
"Mom ... sepertinya kita pernah datang ke tempat ini?" Ello mengedarkan pandangannya setelah keluar dari lift.
"Benar, Mom. Kita juga pernah tidur di tempat ini, kan?" Ella menambahkan.
"Benar, Ell, ini tempat tinggal Dad, dan Mom dulu semasih kalian bergelung hangat di dalam perut Mommy," jawab Albert.
"Berarti kita akan tinggal di sini lagi sampai adik kami yang di dalam perut Mommy keluar, Dad?" Pertanyaan polos Ella mengundang Cella tertawa.
"Tentu saja tidak, Sayang. Kedatangan kita kemari karena Daddy akan mengajak kita bertemu seseorang," sahut Cella.
"Nanti saja kalian lanjutkan bertanya, Ell, sekarang kita harus memasuki salah satu unit ini." Albert kembali menggandeng tangan Ella berjalan menuju unit apartemennya.
"Dad, biar Ello yang mengetuk pintunya," pinta Ello.
"Ella juga, Dad," sambung Ella, dan Albert pun hanya bisa menyetujuinya. “Eh …, tapi, bukankah ini tempat tinggal Daddy dan Mommy? Lalu mengapa kita yang mengetuk pintu? Harusnya kan Daddy yang membukanya sendiri,” tambah Ella setelah menyadari sesuatu.
“Tempat ini benar milik Daddy, tapi bukankah tadi Mommy mengatakan jika kita datang ke sini untuk menemui seseorang, jadi kita harus mengetuk pintu,” jawab Ello yang membuat Ella mengangguk, mengingat perkataan ibunya, sedangkan kedua orangtuanya hanya mendesah.
***
Di sofa ruang tengah apartemen miliknya, Albert sudah duduk dengan didampingi dua orang wanita cantik, salah satunya wanita yang dicurigai menjadi selingkuhannya. Setelah tadi mereka berbasa basi, kini saatnya mereka berbicara serius. Double Ell sudah bermain di dalam kamar yang di tempati oleh Albert, dan Cella dulu bersama seorang anak perempuan cantik yang umurnya lebih besar dari mereka, dan seorang anak laki-laki tampan yang umurnya lebih kecil dari mereka.
"Siapa yang akan menjelaskan padaku apa maksud dari ini semua?" Cella membuka suara di antara ketiganya karena sedari tadi suasana berubah hening.
"Sekarang giliranmu yang harus menjelaskannya, kemarin aku harus merelakan pisah ranjang dengan istriku," sambung Albert menatap tajam wanita di depannya yang hanya menyengir.
"Baru juga pisah ranjang sekali, Al." Mendengar godaan wanita di depannya membuat Albert mendengus, sedangkan Cella bersikap tak acuh.
"Ehemm ...." Wanita itu berdehem sebelum menjelaskan. "Sebelumnya maafkan aku, Cell. Aku tidak ada maksud sedikit pun untuk membuatmu bertengkar dengan kakakku. Aku tidak menyangka jika kakakku ini ternyata tidak pandai menyimpan rahasia sehingga sangat cepat terbongkar, dan akhirnya membuatmu cemburu." Mendengar penjelasan dari adiknya, Albert membelalakkan matanya.
"Aku lihat saat pertemuan kita beberapa waktu lalu, kalian masih baik-baik saja." Cella menyuarakan rasa penasarannya.
"Sebenarnya aku tidak mau membaginya kepada kalian, mengingat ini merupakan masalah intern rumah tanggaku," ucap Christy.
"Ceritakan saja, Chris! Siapa tahu istriku bisa memberikanmu masukan. Apakah kamu tidak kasihan melihat Fanny, dan Evan yang begitu merindukan ayahnya?" Albert menyarankan.
"Benar yang dikatakan suamiku, Chris. Meskipun kita sudah mempunyai kehidupan rumah tangga masing-masing, tapi kamu jangan melupakan jika kita tetap berkeluarga. Walaupun aku tidak bisa menjamin membantumu menyelesaikan permasalahan yang terjadi di dalam rumah tangga kalian, tapi setidaknya kamu bisa membuat suatu keputusan dengan rasional setelah bertukar pikiran." Cella memberi pengertian.
"Jangan sampai suamimu mencurigaiku, dan mengetahui persembunyianmu di sini. Aku bisa membayangkan jika Steve akan menghajarku karena telah menyembunyikan keberadaanmu darinya," sahut Albert.
"Itu tidak akan mungkin terjadi, Al. Jika dia sampai berani memukulimu, maka aku yang akan menendang bokongnya." Jawaban Christy sontak membuat Cella tertawa, sedangkan Albert bergidik.
"Hah ...." Christy mengembuskan napasnya. "Baiklah, aku akan menceritakannya kepadamu, Cell, tapi sebelumnya buatkan dulu aku sarapan. Aku belum sarapan," pintanya memelas.
Albert, dan Cella tersentak mendengarnya, "Lalu anak-anak?" tanyanya bersamaan.
"Ishhh ... kalian membuatku terkejut. Tentu saja mereka sudah. Merekalah yang menghabiskan bagian sarapanku, lebih tepatnya Fanny," jujur Christy.
Cella, dan Albert mendesah lega. "Syukurlah," ujar Cella.
"Ayo ... Cell, tunggu apa lagi. Aku akan membantumu." Christy seperti anak kecil. Dia menarik tangan kakak iparnya setelah dia sendiri berdiri. "Al, tolong jaga anak-anak, jangan sampai mereka bertengkar, terutama putrimu yang selalu membuatku gemas," suruhnya pada Albert.