Keadaan di dalam ruang tamu rumah lain sangat berbanding terbalik. Kini Rachel sedang menatap tajam putra bungsunya meminta penjelasan karena mendengar jika menantunya telah pergi dengan membawa kedua cucunya yang sudah berlangsung hampir seminggu.
Rachel, dan suaminya baru kemarin malam kembali dari perjalanan jauhnya menengok kedua cucunya yang lain di Jenewa. Karena sudah hampir dua minggu tidak mendengar keriuhan Fanny, dan Evan sehingga tadi setelah sarapan bersama suaminya, Rachel mendatangi rumah Steve. Betapa terkejutnya Rachel ketika mendapat laporan dari asisten rumah tangga anaknya jika Steve kemarin malam mabuk, dan hingga pagi tadi belum keluar dari kamarnya. Selain itu, dia juga tidak melihat menantu ataupun salah satu cucunya ada di dalam rumah itu.
"Katakan pada Mama apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian? Kalian sudah besar, bahkan sudah menjadi orangtua dari dua orang anak. Sudah tidak sepantasnya kalian seperti ini jika sedang bermasalah." Rachel terus berujar ketika melihat Steve hanya terdiam di depannya.
"Ini semua salahku, Ma. Aku yang menyuruhnya pergi," jawab Steve lirih.
Rachel mengernyit mendengar pengakuan anaknya, "Maksud kamu? Katakan dengan jelas, Steve! Jangan bertele-tele." Dengan nada kesal, dan dilingkupi kekecewaan Rachel menyuruh anaknya berbicara.
Melihat Steve kembali bergeming membuat Rachel berdecak jengkel, "Sudah kamu coba tanyakan atau datangi ke rumah orangtuanya? Ke tempat Albert, mungkin? Ataukah mereka sudah mengetahui kejadian ini?" Pertanyaan beruntun Rachel hanya dijawab dengan gerakan kepala oleh Steve.
Kesal dengan sikap anaknya, Rachel pun menyandarkan punggungnya pada sofa, "Mama tidak mau tahu bagaimana caramu membawa menantu, dan cucu-cucuku kembali ke rumah ini. Mama memberimu waktu dua hari, jika tidak, Mama akan memberitahu Papamu mengenai hal serius ini." Rachel berdiri, dan kembali menatap Steve.
"Jika dulu Mama ikut membantumu agar Christy mengurungkan niatnya yang ingin memutuskan pernikahan kalian karena kecerobohanmu, tapi sekarang Mama hanya akan melihat bagaimana upayamu," tambah Rachel sebelum keluar meninggalkan anaknya.
Rachel tentu tidak membiarkan begitu saja sesuatu yang buruk menimpa kelangsungan kehidupan rumah tangga para putranya, tapi kini dia akan melihat bagaimana putra bungsunya memecahkan permasalahan yang menimpa rumah tangganya sendiri. Jika Steve bisa membantu permasalahan para sahabatnya memecahkan masalah, tentu saja dia juga harus bisa memecahkan masalahnya sendiri. Memang di antara kehidupan rumah tangga kedua putranya, selama ini rumah tangga Steve yang sangat minim konflik.
***
Cella membuka pintu kamar dengan pelan-pelan, takut mengganggu aktivitas di dalam kamar tersebut. Dia tertegun, dan hatinya menghangat melihat pemandangan yang terpampang di depannya. Suaminya berada di tengah-tengah ranjang dengan posisi telentang, sedangkan di sisi kanannya ada Evan berbaring miring sedang dipeluk oleh Ello, dan di sisi kirinya terdapat Ella yang juga berbaring miring sedang dipeluk oleh Fanny. Evan, dan Ella sama-sama memeluk tubuh kekar Albert. Setelah puas menyaksikan pemandangan yang menyejukkan hati, Cella kembali menutup pintu dengan perlahan.
"Mereka tidur," beritahu Cella pada Christy yang sedang duduk sambil menikmati pie kiwi yang tadi dipesan dari Glory Cafe.
"Mereka pasti kelelahan setelah bercanda, dan bermain," balas Christy. "Albert, juga?" tambahnya.
Cella mengangguk setelah duduk di hadapan adik iparnya. Dia ikut mencomot salah satu cake dari cafe-nya. "Sekarang ceritakan, Chris." Cella kembali mengangkat topik pembicaraan yang sempat tertunda tadi.
Seketika raut wajah ceria Christy berubah muram. "Steve ... mengusirku, Cell." Pembukaan dari Christy langsung membuat Cella tersedak oleh cake yang dimakannya.
"Hati-hati, Cell. Jangan sampai Albert memusuhiku, mengira aku mencelakakan istri tersayangnya," ujar Christy dengan nada menggoda setelah menyodorkan segelas jus apel.
"Bagaimana bisa?" tanya Cella setelah meneguk setengah gelas jusnya.
"Kami terlibat pertengkaran. Saat itu Steve pulang malam, ketika aku menyambutnya, aku mencium wangi parfum wanita pada kemejanya. Awalnya aku mendiamkannya, tapi ketika seorang wanita menelepon, dan mengucapkan terima kasih atas waktu yang dihabiskannya bersama Steve langsung menyulut emosiku. Aku menerobos masuk ke dalam kamar mandi yang baru beberapa menit dimasuki oleh Steve. Ketika aku menanyakan nama wanita yang baru saja menghubunginya, dengan santainya dia mengatakan jika itu mantan kekasihnya, dan jawabannya itu semakin membuatku emosi serta terluka." Airmata Christy jatuh dari pelupuk matanya ketika mengingat kejadian itu.
"Setelah malam itu hubunganku dengan Steve dingin. Meskipun kami masih tidur satu ranjang, tapi aku selalu mengabaikannya. Puncaknya ketika aku memergoki Steve berpelukan dengan seorang wanita di ruangan dalam kantornya, saat itu aku datang sendiri mencoba untuk menanyakan baik-baik agar tidak terjadi salah paham dengan kejadian ini. Saat itu tanpa berpikir panjang aku langsung menarik rambut wanita itu sehingga membuat wanita itu terhuyung, dan dahinya membentur daun pintu. Tindakan Steve sungguh di luar dugaanku, dia membentakku, dan lebih memilih menolong wanita itu, yang aku prediksi sebagai mantan kekasihnya." Christy kembali menyusut airmata dari sudut matanya.
"Dengan perasaan terluka, dan tercabik-cabik aku melarang Steve yang hendak menggendong wanita itu yang sedang pingsan. Entah itu pingsan sungguhan, atau hanya pura-pura." Christy berdecih. "Namun, dia tak mengindahkan laranganku," tambahnya sedih.
"Hingga aku menyuarakan apa yang ada di benakku, yakni; memilihnya, atau membiarkanku pergi. Dan kamu pasti sudah bisa menebak apa jawaban yang diberikan Steve padaku sehingga aku sampai harus terdampar di sini." Mata merah dan basah Christy menatap kakak iparnya.
"Apakah suamiku tahu kejadian yang sebenarnya? Jika dia tahu, tidak mungkin dia akan berdiam diri melihat saudaranya seperti ini?" tanya Cella bingung.
Christy menggeleng. "Aku hanya mengatakan padanya jika aku sedang bertengkar dengan sahabatnya, dan ingin memberinya pelajaran. Aku menyuruh Albert mengganti nama pada kontak ponselnya untuk menghindari jika Steve dengan lancang mengotak-atik ponselnya. Eh ... tidak tahunya jika kamulah yang mengotak-atiknya." Christy terkekeh. "Kamu lupa jika Maria itu nama tengahku?" tambahnya dengan nada geli.
Cella tampak berpikir, dan mengingat kemudian dia menepuk dahinya sendiri seolah baru menyadarinya. "Maaf ... aku tidak berpikir sejauh itu. Entah kenapa belakangan ini rasa cemburuku sangat cepat sekali terpancing jika ada wanita lain yang berinteraksi dengan suamiku," aku jujur Cella dengan raut bersalah.
"Sudahlah ... karena sekarang kamu sudah mengetahuinya, masihkah kamu mencurigaiku sebagai selingkuhan Albert? Atau nama Maria yang membuatmu terbakar api cemburu?" goda Christy di sela-sela kesedihannya.
Cella hanya tertawa menanggapinya. "Oh ya, menurutku sebaiknya kamu bicarakan lagi secara baik-baik dengan Steve, siapa tahu waktu itu Steve sedang terdesak, atau apa. Eits … aku sedang tidak membelanya." Cella menatap serius Christy ketika hendak protes. "Ini demi anak-anak kalian. Aku yakin Steve saat ini pasti sudah sangat menyesal," saran Cella.
"Baiklah, nanti aku pertimbangkan lagi. Aku akui waktu itu juga aku sedikit emosi," jujur Christy yang langsung disambut senyum oleh Cella.
"Setidaknya sebelum ulang tahun Double Ell kalian harus sudah berbaikan," ucap Cella.
"Ya ... biar kalian tenang melakukan babymoon, dan Double Ell kalian titipkan padaku, begitu kan maksud terselubungmu, Cell?" selidik Christy dengan tatapan geli.
"Bukan aku, tapi kembaranmu. Apakah kamu tidak kasihan dengan kembaranmu?" Cella memperlihatkan mimik polosnya sehingga membuat Christy gemas.
"Semoga rumah tangga kalian selalu bahagia, Cell," ujar Christy ketika memeluk tubuh Cella.
"Kamu juga, Chris. Semoga masalah kalian cepat terselesaikan, dan tidak berlarut-larut," balas Cella.