LG 13

1209 Kata
Albert, dan keluarga kecilnya sedang dalam perjalanan kembali menuju rumahnya setelah sore menjelang. Dia, dan istrinya sudah membujuk Christy agar mau ikut tinggal di rumahnya, tapi dengan memberikan alasan konyol adiknya itu menolaknya. 'Aku tidak mau menggangu kemesraan kalian jika aku, dan anak-anakku tinggal di rumah kalian.' Itulah alasan konyol Christy yang tadi diberikan, sehingga membuat Albert jengkel, lalu menjewer sebelah telinga adiknya itu. "Dad, mampir ke cafe sebentar," suruh Cella memecah keheningan di dalam mobil. "Apakah ada hal penting yang terjadi di sana?" Sepertinya Albert masih kesal mengingat alasan konyol yang Christy lontarkan tadi, sehingga terbawa pada nada bicaranya yang datar kepada istrinya. "Tidak. Aku hanya ingin mengunjungi cafe saja." Cella tidak terlalu memasukkan ke hati nada bicara suaminya. "Sebaiknya langsung pulang saja, lagipula Ell sudah tidur." Albert melirik spion atasnya untuk melihat keadaan Double Ell yang sudah pulas. "Ke Cafe sekarang!" Cella keukeuh dengan perintahnya yang tidak ingin dibantah, sehingga Albert hanya bisa mendesah pasrah menurutinya. Dalam hati Cella tertawa melihat reaksi wajah suaminya. "Jangan terlalu memikirkan perkataan konyol Christy, aku yakin dia baik-baik saja di apartemenmu. Lagipula keamanan di gedung apartemenmu cukup ketat." Cella kembali membuka topik pembicaraan agar suasana tidak sepi. Albert kembali mendesah frustasi, "Aku kira keadaan rumah tangga Steve, dan Christy tidak ada masalah. Namun, ternyata ... sama saja," balas Albert. Cella tersenyum mendengar balasan suaminya, dengan lembut dia mengelus sebelah lengan suaminya yang sibuk menyetir, "Yang namanya hidup itu tidak ada yang selamanya nyaman, dan tanpa timbul masalah di dalamnya, Daddy. Orang yang berstatus single saja sangat memungkinkan mempunyai masalah pelik, apalagi orang yang sudah berumah tangga, pasti ada saja masalahnya," ujar Cella sambil terkekeh. "Kamu lupa jika masalah yang datang itu merupakan pendewasaan diri?" tambahnya. "Tapi tetap saja aku tidak pernah membayangkannya, Honey." Albert menurunkan tangan Cella yang mengelus lengannya, lalu membawa tangan itu ke bibirnya. "Nothing impossible, Daddy," balas Cella. "Permasalahan setiap orang itu berbeda-beda, waktu datangnya pun tentu berbeda. Masalah yang muncul pada rumah tangga itu bisa di awal seperti kita, mungkin di pertengahan, bahkan saat anak-anak beranjak dewasa," jelas Cella yang kini menyandarkan kepalanya pada lengan suaminya. Albert tersenyum, tangannya mengelus pipi istrinya, "Tadi aku yang disuruh menjaga sikap di hadapan anak-anak, tapi kini kamu sendiri yang bersikap seperti ini saat anak-anak masih bersama kita," goda Albert. "Mereka sedang tidur, jadi tidak mungkin melihat kita," balas Cella dengan mata terpejam, dan menikmati belaian hangat dari tangan Albert pada pipinya. "Jangan tidur, katanya mau ke Cafe. Jika kamu tidur, maka aku akan langsung membawa kalian semua pulang," ujar Albert karena saat menoleh Cella telah memejamkan mata. "Iya, Daddy-ku yang cerewet. Namun, tampan.” Cella menjawab menirukan gaya bicara Double Ell ketika kesal dengan ayahnya. *** Amanda menanti kepulangan tuan rumahnya di depan pintu utama rumah yang bergaya modern klasik itu. Setelah melihat mobil tuannya memasuki pelataran halaman rumah, Amanda bergegas menghampiri, "Nyonya ... biar saya saja yang menggendong Nona Ella ke kamar," ujar Amanda setelah Cella dibantu keluar oleh Albert. "Baiklah ... terima kasih, Amanda." Cella berjalan memasuki rumahnya berdampingan dengan suaminya yang sedang menggendong Ello, dan dia sendiri menjinjing beberapa kotak cake dari Cafe-nya. "Mereka lelap sekali tidurnya," ujar Cella yang berada dalam rengkuhan sebelah tangan suaminya. "Sepertinya mereka sangat kelelahan," jawab Albert tersenyum. "Apakah Daddy juga kelelahan hari ini?" tanya Cella sambil berjalan. "Jika Daddy kelelahan, Mommy akan melakukan apa untuk Daddy agar rasa lelah itu hilang?" Albert bertanya balik pada istrinya saat mulai menaiki anak tangga. "Perhatikan langkahmu, Honey." Albert mengingatkan. "Hmmm ... memangnya Daddy mau diperlakukan bagaimana?" tanya Cella cekikikan. "Tidur dipeluk sampai pagi olehmu," jawab Albert sambil mengerling. "Yakin hanya dipeluk?" tantang Cella sambil mengedipkan sebelah matanya. "Maunya lebih dari sekadar dipeluk, tapi mengingat keadaanmu yang sekarang, takutnya aku yang akan balik membuatmu kelelahan." Jawaban Albert langsung membuat Cella tertawa renyah sehingga membuat Ello yang berada dalam gendongan suaminya menggeliat. "Ups ... pengertian sekali suamiku sekarang." Cella berjinjit kemudian mencium cepat, dan singkat sudut bibir suaminya. "Sudah mulai berani sekarang, Mommy?" Albert dengan cepat menahan pinggang istrinya yang ingin menjauhkan diri. Cella langsung menutup bibir Albert yang hendak membalasnya, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidurkan dulu Ello di kamarnya," suruh Cella yang langsung dituruti oleh suaminya. *** "Tuan ...  Nyonya ...." Terdengar suara Amanda diikuti ketukan pada pintu kamarnya dengan tak sabar, sehingga membuat Albert terbangun. Dengan hati-hati Albert memindahkan kepala Cella yang menggunakan sebelah lengannya sebagai bantal. Setelah memastikan tidur Cella tidak terusik oleh suara berisik Amanda, Albert menuruni ranjang pelan-pelan. "Ada apa tengah malam begini membangunkanku, Amanda? tanya Albert dengan suara parau khas bangun tidur. "Maaf ... Tuan, saya tidak bermaksud menggangu waktu istirahat Anda. Namun, di ruang tamu Tuan Smith sedang menunggu, Anda," beritahu Amanda. "Keadaan beliau sangat kusut, dan sedikit kacau," tambahnya dengan nada cemas. Tanpa mendengarkan lebih jauh pemberitahuan Amanda, Albert bergegas menuruni tangga menuju ruangan yang dimaksud. "Steve ..." panggil Albert ketika melihat Steve duduk bersandar pada sofa di ruang tamunya dengan mata terpejam. Mendengar ada yang memanggil namanya membuat Steve membuka matanya dengan malas, karena pasti Albert pemilik suara itu. Berbeda dengan Albert yang sangat jelas melihat kesedihan dari sorot mata sahabatnya yang kini tengah memandang ke arahnya. "Amanda ... kembalilah beristirahat," suruh Albert kepada asisten yang merangkap membantu Cella mengurus Double Ell. "Baik, Tuan." Amanda membungkuk sebelum meninggalkan dua pria dewasa itu. Saat hanya ada mereka berdua di ruang tamu, Albert kembali membuka pembicaraan, "Apa yang membawamu datang selarut ini ke rumahku, Steve? Apakah ada hal penting yang tidak bisa ditunda, dan dibicarakan besok pagi?" Albert bersikap sebiasa mungkin, seolah tidak mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh sahabatnya ini. Jika saja kembarannya mengizinkan, mungkin Albert akan langsung menanyakan sejelas-jelasnya penyebab Christy meminjam apartemennya untuk sementara waktu. "Al ... aku ingin mengatakan sesuatu padamu yang berkaitan dengan adikmu." Steve tanpa berbasa basi lagi langsung berbicara kepada kakak iparnya. Albert memasang mimik tak mengerti menanggapinya, "Apakah kalian bertengkar? Lalu adikku menutup pintu rumahmu rapat-rapat sehinggga kamu terdampar di sini?" tanya Albert pura-pura tidak tahu. Steve tersenyum masam. "Bukan hanya sekadar bertengkar, ataupun pertengkaran biasa," jawab Steve jujur. "Sepertinya serius?" selidik Albert. Mungkin dari Steve, dia bisa mengetahui duduk permasalahan yang menimpa kembarannya sampai harus pergi dari rumah, dan membawa kedua keponakannya. "Lalu sekarang kamu biarkan adikku sendirian di rumah kalian?" pancing Albert. Steve lagi-lagi tersenyum masam. "Dia pergi membawa anak-anak entah ke mana. Aku sudah mencarinya ke tempat yang biasa dia kunjungi, tapi tetap tidak ketemu," jawab Steve dengan sendu. "Sudah hampir seminggu dia pergi," tambah Steve yang kembali mengusap kasar wajahnya. "Penyebabnya apa?" tanya Albert datar, tidak mau salah paham. Steve mengembuskan napasnya sebelum menjawab pertanyaan Albert yang mungkin akan membuatnya sekarat di rumah sakit, "Aku yang menyuruhnya pergi," jawab Steve dengan lirih. "Mengusirnya tepatnya," koreksi Steve. Albert yang tadinya memasang wajah biasa saja kini berubah menjadi merah padam. Emosinya meluap mendengar adiknya di usir oleh suaminya sendiri. Tanpa bisa memendam lagi, Albert langsung menerjang tubuh sahabatnya, dan mendaratkan pukulannya pada rahang kasar Steve. Melihat Steve tidak melawan membuat Albert menghentikan olahraga tangannya di tengah malam. Dia harus menggunakan kepala dinginnya untuk menyikapi ini, dia jadi teringat pada kesalahannya dulu sehingga membuat Cella pergi meninggalkan apartemennya hanya gara-gara dirinya tidak bisa mengontrol emosi. "Kita bicara di luar, aku tidak mau Cella terbangun oleh ulah kita." Albert membantu Steve berdiri setelah dia terjang.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN