Cahaya temaram dari televisi memantulkan siluet samar di wajah Julia yang tengah bersandar di sofa, matanya menatap layar dengan sorot penuh selidik. Di sana, seorang pria berdiri di atas panggung dengan penuh percaya diri, suara lantangnya menggema di seluruh aula yang dipenuhi pendukungnya. Liam. Nama itu terasa asing di bibirnya, namun tidak di telinganya. “Liam? Bukankah pria itu adalah salah satu musuh Samuel?” Julia mengerutkan kening, mengingat berulang kali nama itu disebut dalam percakapan serius antara suaminya dengan asisten dan sahabatnya. Setiap kali Liam disebut, selalu ada ketegangan yang menggantung di udara—seolah hanya menyebut namanya saja sudah cukup untuk memancing api permusuhan yang membara. Dan kini, pria itu tampil di layar televisi dengan setelan jas rapi, m

