Menikah Denganku!
"Argh! Pria gila itu telah memasukkan sesuatu ke dalam minumanku!"
Suara berat Samuel menggelegar, bergulung-gulung di lorong hotel yang seolah tak berujung.
Tubuhnya tiba-tiba terasa menyala, seakan ada bara api yang dinyalakan di dalam nadi usai ia meneguk lemon tea yang terlihat begitu polos, namun ternyata penuh pengkhianatan.
Aula hotel itu, megah dan dingin, kini terasa bagai gua panas yang mengurungnya.
"Kalian pikir jebakan kalian akan berhasil? Tidak akan!" desisnya. Suaranya serupa bisikan ular yang meluncur licin, namun menggigit di ujungnya.
Ia mencengkeram tubuhnya yang bergetar, gelombang panas menjalar seperti racun yang bergerak di bawah kulit.
Dengan langkah tertatih namun penuh amarah, ia berlari menuju kamarnya. Pandangannya buram, namun matanya menangkap sesosok siluet perempuan yang berjalan sendirian di ujung lorong.
Kulitnya seputih porselen di bawah sorot lampu, rambutnya bergelombang lembut seperti untaian malam.
"Ikut aku!" perintahnya, tangannya kasar merenggut pergelangan mungil perempuan itu.
"Hei! Apa yang kau lakukan? Kau siapa? Aku tidak mengenalmu, Tuan! Lepaskan tanganku!" Wanita itu, suaranya jernih seperti lonceng, memprotes dengan jerit yang memecah keheningan lorong.
Namun Samuel tidak peduli. Matanya tajam, seperti bilah pedang yang menyayat. Ia menariknya masuk ke dalam kamar yang telah ia pesan sebelumnya, pintu tertutup dengan dentuman keras yang menggema.
"Lakukan sesuatu untukku," desaknya, suara serak dan pecah, nyaris terseok-seok di antara gelombang hasrat yang membakar seperti api unggun liar. "Aku akan membayarmu. Berapa pun."
Wanita itu, Julia—usia muda terpahat di wajahnya yang penuh kebingungan—menggeleng kecil. "Aku tidak mengerti maksud—"
Namun sebelum kata-katanya selesai, Samuel sudah menyerbu. Ia mendorong tubuh mungil Julia ke dinding, jaraknya hanya setipis helai napas.
Bibirnya mendarat kasar, menuntut dan beringas, seperti badai yang menaklukkan samudra. Dunia seolah berhenti, hanya suara napas yang tersengal dan gemuruh liar yang tersisa di udara.
“Kau terlalu banyak bicara!” desis Samuel, suara parau itu seperti bara yang menyentuh dinginnya udara malam.
Semuanya terjadi begitu cepat. Tubuhnya terbakar panas, gairah liar yang tak terkendali seakan menguasai nalarnya. Kemeja putih yang dikenakan Julia kini teronggok tak beraturan di lantai, koyak oleh cengkeraman tangan yang tak mengenal kata maaf.
“Apa yang ingin kau lakukan? Lepaskan!” teriak Julia, suaranya pecah, menggema di ruangan kecil itu. Ketakutan terpancar jelas dari matanya yang mulai memerah. “Jangan sentuh aku!”
Namun Samuel tak mengindahkan teriakan itu. Wajahnya menyiratkan satu tujuan—mengembalikan kendali atas dirinya sendiri. Tubuhnya menggigil karena suhu yang tak stabil, dan ia tahu hanya ada satu cara untuk menghentikannya.
Ketika akhirnya keheningan kembali menguasai ruangan, Julia terisak. Tubuhnya terbungkus selimut, menggigil bukan hanya karena dingin, tetapi juga rasa sakit yang menyayat di tempat yang paling dalam. Sementara itu, Samuel berdiri di hadapannya, mengenakan kembali pakaian dengan gerakan santai yang mengerikan.
“Pria gila!” desis Julia, matanya menatap Samuel dengan kebencian yang membara.
Samuel hanya memandangnya dengan tatapan kosong, dingin seperti es. “Ya, aku memang gila,” balasnya. Ia mendekat, duduk di pinggir ranjang, dan menatap Julia yang wajahnya penuh dengan air mata dan peluh. Diam-diam, ia mengamati sesuatu yang sebelumnya tak ia sadari. Wanita ini... wanita yang baru saja ia sentuh ternyata masih perawan.
“Siapa namamu?” ucap Samuel dengan suara rendah, hampir seperti bisikan.
Julia memalingkan wajah, enggan menatap pria itu. Tak ada jawaban.
Samuel mengulurkan tangannya, menarik lengan Julia agar ia menghadapnya. “Aku tidak suka diabaikan, Nona. Jawab pertanyaanku.”
Julia mengerang, mencoba melepaskan lengannya dari cengkeraman itu. Matanya yang memerah menatap Samuel penuh kemarahan. “Aku tidak sudi memberitahu namaku pada orang yang telah menodai aku!” desisnya tajam, setiap kata adalah pisau yang menusuk kesadaran Samuel.
Samuel terdiam sejenak, lalu melepaskan tangannya. Ia menghela napas panjang, ekspresinya berubah lebih tenang, meskipun tetap tidak ada rasa penyesalan di wajahnya.
“Kalau begitu, sebutkan nominal yang harus kubayar,” katanya datar, seolah-olah ini hanyalah transaksi biasa.
“Kau pikir aku wanita bayaran?” Julia membentak, suaranya naik beberapa oktaf. Tangannya yang gemetar menggenggam erat selimut itu, mencoba mempertahankan sedikit kehormatan yang tersisa.
Samuel mengangkat bahu, ekspresinya tak berubah. “Lalu, apa yang kau inginkan? Aku terdesak, tidak ada cara lain selain melakukan itu denganmu.”
Julia menatapnya tak percaya, air matanya mengalir lebih deras. Ia menggeleng, menahan rasa sakit yang masih terasa di tubuhnya.
Keheningan kembali menguasai ruangan sebelum akhirnya Samuel berbisik, suaranya nyaris tak terdengar. “Kalau begitu... menikah denganku.”