“Menikah? Mudah sekali mulutmu mengatakan—”
Samuel mengangkat tangan, memotong ucapan Julia dengan nada tegas namun tenang. “Aku tidak yakin kau telah memiliki kekasih.”
Tatapan tajamnya menusuk Julia, seolah ia mencoba membaca pikirannya. “Tapi aku akan bertanggung jawab atas apa yang telah aku lakukan padamu.”
Julia mendengus sinis, senyum pahit menghiasi wajahnya yang masih basah oleh air mata. “Aku bahkan tidak tahu siapa dirimu dan apa maksudmu memperkosaku. Dan sekarang, kau mengajakku menikah?”
Samuel menatapnya tanpa ekspresi, wajahnya seperti batu yang tak dapat ditembus oleh emosi. “Mau atau tidak?” tanyanya, nada suaranya terdengar seperti ultimatum, bukan tawaran.
Julia terdiam, kata-katanya tercekat di tenggorokan. Ada kemarahan, kebencian, sekaligus ketakutan yang bercampur menjadi satu.
Samuel, seakan tidak peduli dengan ketertekanannya, mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya dan menyerahkannya pada Julia. “Namaku Samuel.” Kartu nama berwarna hitam dengan huruf emas itu terasa dingin di tangan Julia.
“Aku tidak pernah lari dari tanggung jawab. Jika kau setuju, kita akan menikah secepatnya. Aku tidak mengenakan pengaman. Kau pasti paham apa maksudku.”
Tubuh Julia menegang seketika. Kata-kata Samuel menggema dalam pikirannya, menguatkan rasa jijik yang semakin dalam. “Kau memang gila, Samuel!” teriaknya, matanya menatap pria itu dengan penuh kebencian.
Samuel tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip penghinaan daripada kepuasan. “Maka dari itu, aku memberimu pilihan. Menikah denganku. Meski hanya sebatas pernikahan kontrak. Selama satu tahun.”
Julia mengerutkan kening, alisnya bertaut. “Apa maksudmu?”
“Aku tidak akan menjelaskan secara detail jika kau belum memberiku keputusan.” Suara Samuel begitu dingin, seperti nada seseorang yang telah terbiasa memegang kendali atas segalanya.
Tanpa menunggu respon Julia, Samuel mengeluarkan ponselnya dan menekan beberapa tombol. Ia berbicara singkat dengan nada perintah, “Pram, bawakan dress ke kamar ini. Yang sederhana saja, ukuran kecil. Sekarang.”
Setelah menutup telepon, Samuel kembali menatap Julia yang masih terdiam di tempat. “Biaya hidupmu akan kupenuhi,” katanya, suara baritonnya begitu datar, seperti fakta tak terbantahkan. “Tapi kau harus paham bahwa ini bukan pernikahan biasa. Ini adalah kesepakatan. Dan aku akan memegang kendali.”
Julia menelan ludahnya perlahan, mencoba mencerna semuanya. Kata-kata Samuel mengguncang pikirannya. Ia merasa seperti seorang tahanan yang ditawari kebebasan, tetapi dengan rantai yang berbeda.
Namun, satu kenyataan menghantamnya dengan keras—entah akan tumbuh atau tidaknya benih yang telah Samuel tanam dalam dirinya, hidupnya kini berubah.
“Namaku Julia. Julia Stevani,” ucapnya pelan, suaranya serak, namun cukup jelas untuk didengar Samuel.
Senyum kecil terukir di bibir Samuel, senyum yang mengisyaratkan lebih banyak kekuasaan daripada kebahagiaan. “Good,” balasnya singkat sebelum beranjak menuju pintu. Ketukan pelan di pintu membuyarkan keheningan yang tersisa. “Itu pasti Pram,” katanya tanpa memandang Julia.
Pria itu membuka pintu, menerima sebuah dress berwarna krem lembut yang diberikan oleh asistennya. Gaun itu terlihat sederhana, tetapi elegan, dengan potongan yang memancarkan kesan anggun. Samuel melangkah mendekat ke arah Julia dan menyerahkan gaun itu.
“Pakai dress ini dan ikut denganku,” perintahnya, nadanya tegas tanpa ruang untuk perlawanan.
Julia hanya memandangi gaun itu sejenak, perasaan malu, marah, dan bingung bercampur aduk dalam dirinya. Tapi akhirnya, tanpa berkata apa-apa, ia mengambil gaun tersebut dan berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.
Sementara itu, Samuel kembali sibuk dengan ponselnya, berbicara pada Pram dengan nada perintah. Julia yang berada di balik pintu mendengar samar-samar percakapan itu, tetapi ia tak mampu menangkap arah pembicaraannya. Semuanya terasa misterius, membuatnya semakin waspada.
Setelah lima belas menit berlalu, Julia keluar dengan dress tersebut. Gaun itu pas di tubuhnya, menonjolkan kecantikannya meskipun wajahnya masih terlihat lelah dan matanya sedikit bengkak. Samuel mengangkat pandangan dari ponselnya, matanya menyapu Julia dari atas hingga bawah dengan ekspresi yang sulit ditebak.
“Bagus. Sekarang, kita pergi,” katanya datar, kemudian membuka pintu dan melangkah keluar dengan Julia mengikuti di belakangnya.
*
Di Pesta Malam Itu
Hiruk-pikuk pesta terasa seperti badai di telinga Julia. Semua orang berpakaian mewah, bercengkerama sambil menikmati wine mahal di bawah lampu kristal yang berkilauan.
Samuel melangkah masuk ke aula besar dengan tangan menggandeng Julia. Kehadirannya langsung menyedot perhatian.
Orang-orang terdiam sejenak, terkejut melihat Samuel bersama seorang wanita. Dalam benak mereka, ini adalah sesuatu yang tak terduga.
Samuel dikenal sebagai pria dingin yang seperti memiliki alergi terhadap wanita. Namun malam itu, ia tampak santai menggandeng seorang wanita cantik yang terlihat begitu cocok bersanding dengannya.
Seorang pria tua dengan rambut beruban mendekat, wajahnya menyiratkan keterkejutan. Ia adalah Argus, salah satu tamu penting di pesta itu, yang selama ini dikenal memiliki hubungan baik dengan Samuel.
Namun, tatapan Samuel kepadanya begitu dingin hingga udara di sekeliling mereka terasa membeku.
“Tuan Samuel? Bukankah tadi Anda datang seorang diri?” tanya Argus, suaranya mencerminkan kebingungan.
Samuel menghentikan langkahnya dan menatap Argus tajam, sorot matanya seperti pisau yang menusuk. “Aku datang bersama istriku.”