Dijadikan sebagai Boneka?

815 Kata
“Istri?” tanyanya dengan nada terbata-bata. “Ba—bagaimana mungkin? Setahuku, Anda masih single dan bahkan tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun.” Samuel menatap Argus dengan senyum miring, senyum yang lebih menyerupai ejekan. “Berita akan menyebarkan gosip apa pun selama mereka mendapatkan uang. Aku sudah menikah, dan ini adalah istriku,” jawabnya dengan nada tegas, memastikan tidak ada ruang untuk keraguan. Julia, yang berdiri di sampingnya, memandang Samuel dengan ekspresi bingung dan penuh pertanyaan. Apa yang sedang pria ini lakukan? Siapa sebenarnya pria yang mengajaknya menikah, dan kini, tanpa pikir panjang, mengklaim dirinya sebagai istri di depan umum? Argus mengerjap beberapa kali, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. “Benar-benar di luar dugaan,” gumamnya akhirnya, berusaha menguasai diri. Ia mencoba tersenyum, tetapi jelas ada rasa tidak nyaman di balik wajahnya. Di sudut lain ruangan, para tamu mulai berbisik-bisik. Para jurnalis yang hadir tampak bergegas mencatat dan mengambil gambar, mengetahui bahwa pernyataan ini akan menjadi berita besar. Media telah kecolongan—lagi. Namun, pengakuan Samuel yang mengejutkan ini pasti akan menjadi tajuk utama esok hari. Samuel mengamati keadaan sekitar dengan sorot mata dingin yang penuh perhitungan. Ia menggenggam tangan Julia, membuat wanita itu tersentak. “Maaf, aku harus meninggalkan pesta lebih dulu. Istriku sedang tidak enak badan, dan kami harus pamit,” katanya kepada Argus, namun suaranya cukup keras untuk didengar semua orang di sekitarnya. Tanpa menunggu balasan, Samuel menarik Julia keluar dari aula. Langkahnya tegas, sementara Julia mengikuti dengan sedikit terpaksa, bingung dengan situasi yang semakin sulit dipahaminya. Di Depan Rumah Samuel Mobil berhenti di depan sebuah rumah megah berlantai tiga, dengan arsitektur modern yang mencerminkan kekayaan dan kemewahan pemiliknya. Lampu-lampu taman menyinari jalan setapak menuju pintu utama, sementara gerbang besar dari besi hitam menutup rapat properti itu dari dunia luar. Samuel membuka pintu mobil dan mempersilakan Julia turun. Wanita itu melangkah keluar, matanya terbelalak melihat kemegahan rumah tersebut. “Ini rumahku,” kata Samuel datar, menatap bangunan besar itu dengan ekspresi dingin. “Dan akan menjadi rumahmu juga, setidaknya selama kau menjadi istriku.” Julia tidak bisa menahan keterkejutannya. Matanya mengamati detail rumah tersebut—dari kaca besar yang memantulkan cahaya lampu hingga taman yang terawat sempurna. Bukan hanya tampan dan penuh aura otoritas, pria ini juga ternyata sangat kaya. Samuel menatapnya, dan suaranya kembali terdengar dingin dan tegas. “Selama menjadi istriku, kau harus patuh pada semua perintahku. Tidak ada diskusi. Tidak ada penolakan.” Julia menoleh, tatapan matanya tajam, penuh kemarahan yang ia tahan sejak kejadian di pesta. “Hanya satu tahun, kan?” tanyanya dengan nada datar, mencoba menyembunyikan rasa takut dan marah di balik suaranya. Samuel mengangguk kecil, ekspresinya tetap tidak berubah. “Ya, hanya satu tahun. Tapi aku tidak akan mentolerir ketidaktaatan.” Julia mendengus, mencoba menenangkan hatinya. “Dan sekarang jelaskan, Samuel. Apa maksudmu menikahiku selain karena kau telah menodaiku?” Samuel duduk di sofa dengan tubuh bersandar, tangannya terlipat di depan d**a, matanya tak lepas menatap wajah Julia. “Aku harus membersihkan namaku,” ucap Samuel akhirnya, suaranya berat, penuh dengan sesuatu yang tak diungkapkan. Julia mengerutkan keningnya, bingung sekaligus curiga. “Jadi—” “Ya,” potong Samuel tajam, tak membiarkan Julia menyelesaikan kalimatnya. “Aku tidak ingin jebakan pria gila itu berhasil. Dan akhirnya menyeretmu ke dalam masalahku.” Julia memandangnya, terperangah. Namun, rasa marah yang terpendam selama ini tiba-tiba meluap dalam bentuk tawa kecil yang sarkastis. “Aku telah menyelamatkan reputasi pria yang telah menodaiku,” katanya sinis, kemudian melipat tangan di dadanya. Samuel menatap Julia tanpa ekspresi, namun ada ketegangan yang jelas terlihat di rahangnya. Ia mendekatkan tubuhnya ke arah Julia, suaranya berubah lebih dingin. “Well. Kau sudah menyetujui permintaanku. Tidak bisa dibatalkan, apa pun alasannya!” Sebelum Julia sempat membalas, Samuel mengambil ponsel dari saku celananya. Ia mengetik dengan cepat sebelum menempelkan ponsel itu ke telinga. “Pram, siapkan kontrak pernikahan beserta isinya, dan daftarkan pernikahanku dengannya secepat mungkin,” perintahnya tanpa basa-basi. Setelah menutup panggilan, Samuel kembali menatap Julia. Matanya yang dingin kini seperti pisau yang siap mengiris apa saja. “Jangan pernah mengatakan hal apa pun jika media meliputmu. Tetap diam, dan jadi istri penurut. Jika hidupmu ingin selamat!” Julia mengangkat dagunya, menatap Samuel dengan sorot mata tajam. “Apa lagi yang kau katakan, huh? Aku harus jadi orang bisu, berdiam diri di rumah selama satu tahun? Itu, maumu?” nada suaranya semakin meninggi, menunjukkan kejengkelannya. Samuel menghela napas panjang, menutup matanya sejenak seperti seseorang yang berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesabaran. “Julia, cukup. Aku lelah. Aku tidak punya waktu untuk berdebat tentang ini sekarang.” Julia mendekat, tak ingin menyerah begitu saja. “Kau pikir aku tidak lelah, Samuel? Kau pikir semua ini mudah bagiku? Kau menghancurkan hidupku, lalu menyuruhku patuh seperti boneka?” Samuel berdiri, tubuh tingginya menjulang di hadapan Julia. Ia menatap wanita itu dengan tatapan tajam namun penuh ketegaran. “Sebaiknya istirahat, Julia. Besok, kau harus menandatangani perjanjian pernikahan kita.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN