Ponsel Julia berdering lagi. Nada itu menggema di udara seperti lonceng peringatan, memecah keheningan kamar dengan irama yang terasa mengusik. Entah sudah dering keberapa, namun kali ini Julia akhirnya mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah dibacanya, menatap layar ponsel yang berkedip. “Nomor siapa ini?” gumamnya pelan, suaranya lebih seperti bisikan kepada dirinya sendiri. Alisnya terangkat sedikit, menciptakan kerutan kecil di dahinya. Ia memiringkan kepala, menimbang, sebelum akhirnya menyentuh layar untuk menerima panggilan. “Tidak mungkin para pekerja di hotel,” lanjutnya, berusaha mencari alasan. “Meskipun, ya, beberapa di antaranya masih penasaran bagaimana aku bisa menikah dengan si empat musim itu.” “Halo?” ucap Julia akhirnya, suaranya terdengar santai meski ada

