Tak Setia Kawan

1340 Kata
Siang harinya, Sachiko dan Mama Laily duduk di meja makan. Keduanya terlibat diskusi yang sangat serius. Wajah mereka tegang dan nampak pusing. Sepertinya memikirkan masalah yang kini sedang dihadapi. "Hutang mama masih berapa semuanya?" tanya Sachiko. Mungkin dia bisa sedikit membantu. "Kurang lebih dua miliar rupiah, itu total di lima bank," ungkap Mama Laily seraya menggaruk kepalanya. Sachiko sampai melongo mendengar nominal tersebut. "Banyak sekali," lirihnya berucap. "Namanya juga hutang untuk usaha, Chi. Pasti banyak." "Terus, kita bayar pakai apa cicilannya, Ma?" Mama Laily menyengir tapi jelas jika itu terpaksa. "Rumah ini sepertinya akan disita, Chi. Semua bangunan restoran yang ada di dalam dan luar kota juga." "Terus, kita tinggal di mana?" "Cari kontrakan saja, ya? Kita mulai hidup dari bawah lagi. Namanya rezeki tak ada yang tahu, kadang bisa di atas dan jatuh ke bawah. Setidaknya kita bisa hidup normal, tak terbelit hutang lagi. Tak apa, 'kan?" Mama Laily menggenggam tangan putrinya dan memberikan penjelasan dengan tenang agar Sachiko bisa menerima kenyataan tersebut. Sachiko mengangguk terpaksa. "Memangnya kapan rumah ini akan disita?" "Mungkin lusa rumah ini akan dilabeli oleh pihak bank. Mama sudah dapat surat teguran lagi. Tapi, karena tak bisa membayar, pasti ujung-ujungnya akan disita," tutur Mama Laily seraya memperlihatkan sebuah amplop berlogo bank tempatnya berhutang. "Berarti kita harus cari kontrakan dari sekarang?" Pertanyaan Sachiko dijawab anggukan kepala oleh Mama Laily. "Yasudah, lebih baik survei tempat sekarang aja, Ma," ajak Sachiko. Hidupnya sedang dijungkir balikkan oleh Sang Pencipta. Mulai dari kakeknya yang meninggal, mamanya ditipu, ditagih hutang oleh rentenir, restoran bangkrut dan disita bank, sekarang satu-satunya rumah yang dimiliki keluarganya itu terancam akan disita juga. Lengkap sudah cobaan hidup Sachiko. Walaupun sulit hidup sederhana, tapi Sachiko tetap harus membiasakan diri. Dia akan belajar mulai dari bawah lagi. Tak boleh mengeluh dan merepotkan orang tuanya karena dirinya sudah besar, bukan anak-anak lagi. Selama seharian ini, Sachiko berkeliling Kota Malang untuk mencari kontrakan. Dan akhirnya mereka menemukan tempat tinggal dengan harga yang cocok pada budget yang dimiliki. Meskipun lokasi rumahnya tak di perumahan, dan hanya pemukiman biasa yang berada di dalam gang. Bahkan jalannya pun hanya cukup dilewati satu motor saja. Tapi tak apa, setidaknya tidak terlilit hutang lagi. Tak lupa Mama Laily memberikan DP sebagai tanda jadi. Walaupun tidak ditinggali hari ini juga. Setidaknya sudah lega jika mendapatkan kontrakan. Sewaktu-waktu saat rumahnya disita, bisa segera keluar dan tak pusing mencari tempat tinggal. "Kuitansi jangan lupa, Ma," bisik Sachiko agar tak lupa meminta bukti penerimaan uang. Sudah trauma ditipu oleh orang lagi. Jangan sampai terulang untuk kedua kalinya. "Iya." Mama Laily mengelus lengan putrinya dan meminta seperti apa yang diinginkan Sachiko. Menjelang malam, mereka pulang. Dan saat sampai di depan rumah, Sachiko melihat dua sepeda motor berhenti di depan gerbang tempat tinggalnya yang sebentar lagi akan ditinggalkan. Sachiko memberhentikan kendaraan roda duanya dan turun untuk menyapa ketiga orang yang sepertinya menunggu dirinya. "Noel, Glory, Amira?" panggilnya. "Ada apa ke sini?" tanyanya. Setelah sekian lama, mereka menampakkan batang hidung di hadapannya lagi. "Main, yuk, Chi?" ajak Noel. "Kita sudah lama tidak ke mall bersama," imbuh Amira. "Iya, kangen ditrak—" Glory yang hendak keceplosan jika merindukan traktiran Sachiko itu langsung mengatupkan bibir saat lengannya terasa mendapatkan cubitan dari Noel yang duduk di jok belakangnya. Sachiko menatap mamanya yang sedang membuka gerbang. Melihat bagaimana wanita itu yang kelelahan, masa' dia tega untuk bermain bersama teman-temannya. Dan beralih memandang tiga wanita muda di hadapannya lagi. "Maaf, aku tak bisa, mamaku sudah tidak ada yang menemani," tolaknya dengan halus. "Yah... kok Sachi sekarang jadi gak asyik," ucap Noel yang kecewa dengan jawaban temannya. Mama Laily menyentuh lengan Sachiko. "Main aja, mama di rumah sendiri juga berani. Kamu sudah lama ga’ pergi keluar," ucapnya memberikan izin. "Tapi, Ma." Sachiko hendak mengelak, keluarganya saja sedang susah seperti ini. Tapi Mama Laily justru masuk meninggalkan dirinya. "Masuk dulu, aku ingin bicara dengan mamaku." Sachiko mendorong gerbang agar terbuka lebih lebar. Dia mempersilahkan teman-temannya masuk dan memarkirkan kendaraan di garasinya. "Duduk," perintah Sachiko seraya menunjuk sofa ruang tamunya. Dia pun masuk ke dalam kamar orang tuanya dan meminta penjelasan kenapa memberikan izin untuk keluar. Tak lupa pintu juga ditutup rapat agar obrolan tak keluar dari ruangan itu. Sebab, kamar pribadi Mama Laily ada di dekat ruang tamu. "Ma, kita sedang kesulitan ekonomi, kenapa menyuruhku untuk main ke mall bersama teman-temanku?" tanya Sachiko. "Hanya pergi ke mall, apa salahnya, Chi? Hitung-hitung cuci mata. Kamu sudah di rumah terus selama satu bulan ini, pasti butuh hiburan. Mama tak mau kamu stres," jelas Mama Laily dengan lembut. "Tapi 'kan kita sedang tak punya uang," protes Sachiko. "Memangnya jalan ke mall harus punya uang? 'Kan tidak, hanya melihat barang-barang di sana juga tak harus membayar. Waktu muda, mama juga sering seperti itu," ungkap Mama Laily. "Pergilah, hibur dirimu," perintahnya. Sachiko terdiam sejenak. Memang pikirannya sangat pusing dan butuh hiburan. Akhirnya, dia pun mengikuti ide orang tuanya. Bermain ke mall, tanpa membeli apa pun. Sachiko keluar lagi menemui teman-temannya. "Aku siap-siap sebentar," ucapnya memberi tahu. Dan dijawab oke oleh Noel, Glory, dan Amira. Tak berselang lama, Sachiko ke ruang tamu lagi dengan pakaian rapi. Kaus hitam yang dimasukkan ke dalam celana jeans yang tak menutup seluruh area pahanya, dan jaket denim sudah membalut tubuhnya. "Berangkat sekarang?" "Pakai mobilmu, ya, Chi?" pinta Noel seraya menaik turunkan alisnya. "Mobilku sudah dijual, kita boncengan motor aja, ya?" ungkap Sachiko. Dan seketika ketiga temannya saling pandang satu sama lain. "Yasudah, kita naik motor," ucap Glory dengan nada bicaranya yang sudah tak seperti biasanya. Empat wanita yang sama-sama masih berusia dua puluh satu tahun itu saling berboncengan menuju Malang Olympic Garden, atau biasa orang daerah sana menyebut MOG. "Aku lapar, kita makan dulu, yuk?" ajak Amira seraya mengusap perutnya. "Berangkat...." Mereka saling bergandengan tangan menuju lantai teratas di mall tersebut. Saat sampai di tempat tujuan yang ada banyak sekali penjual makanan, bahkan sampai bingung sendiri ingin memilih makan yang mana, Noel, Glory, dan Amira saling pandang. Ketiganya menatap Sachiko bersamaan. "Ini biasa 'kan, Chi?" Sachiko menggelengkan kepala. "Sorry, aku sedang tak ada uang," tolaknya yang sudah paham maksud teman-temannya itu minta ditraktir seperti biasa. Noel, Glory, dan Amira langsung melengos. Mereka bertiga bergandengan untuk memilih makanan, meninggalkan Sachiko sendirian di belakang. Sachiko menghembuskan napas. Dia tak ikut teman-temannya membeli makan, tapi duduk di salah satu kursi yang kosong. Tangan Sachiko melambai memberikan kode kepada temannya yang sudah selesai memesan makanan agar duduk satu meja dengannya. "Sini." Tak ada yang mau duduk di samping Sachiko. Noel, Glory, dan Amira, semua berjajar berhadapan dengan wanita yang kini jatuh miskin. "Aku boleh coba?" pinta Sachiko. Biasanya, mereka juga saling mencicipi makanan satu sama lain. "Tidak, aku lapar sekali," tolak Noel sedikit sinis. Glory dan Amira juga menjawab dengan hal serupa. Sachiko menghela napasnya. Sudahlah, tak mau memperbesar masalah sepele juga. Dia menatap bagaimana ketiga temannya saling bertukar makanan. 'Kan sialan, hanya ingin mencicipi saja tak boleh. Bibirnya mencebik sebal. "Bagaimana liburan kalian di Bali?" Sachiko ingin mencoba berbincang saja. Tapi, pertanyaannya tak ditanggapi. "Eh, ya ampun... inget ga’? Bule yang kemarin di pantai itu, ganteng banget, ya? Jadi pengen punya suami kaya' mereka," ucap Noel pada dua temannya. "Iya, gimana caranya biar dapet laki bule, ya?" timpal Glory. "Jadi TKW aja, pasti ketemu banyak bule," celetuk Amira. "Dih, TKW cuma buat orang-orang yang gapunya duit," sahut Glory dengan meremehkan salah satu pekerjaan tersebut. Sachiko berdiri dari tempat duduknya. Tak lupa menggebrak meja. Rasanya kesal sekali di sana, hanya tak mentraktir saja seperti dirinya memiliki kesalahan setinggi gunung. Bahkan sekarang dirinya diabaikan. Padahal selama berteman dengan mereke pun sudah banyak uang yang dikeluarkan untuk mentraktir jalan-jalan maupun sekedar makan. "Teman macam apa kalian ini," cibir Sachiko. Dia pun memilih untuk berjalan-jalan sendiri saja. Daripada sakit hati, lebih baik menjaga kewarasan. Noel, Glory, dan Amira pun saling pandang setelah kepergian Sachiko. "Sepertinya, sekarang Sachiko miskin, deh," cicit Almira. "Masa', sih? Atau dia sekarang mulai pelit sama kita? Perhitungan mungkin gara-gara kakeknya meninggal," timpal Glory. "Gausah temenan, yuk, dia udah gabisa diperes lagi," kompor Noel. "Yuk, cari temen baru yang tajir dan bisa dimanfaatin." Ketiganya pun sepakat untuk tak mendekat dengan Sachiko lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN