Pagi ini Sachiko benar-benar bingung mau melakukan aktivitas apa. Ingin keluar sekedar bermain, tapi rasanya seperti tak tahu situasi jika seperti itu. Mamanya saja baru kemarin didatangi rentenir untuk ditagih hutang yang tergolong sangat banyak menurutnya.
Sachiko berjalan menuruni anak tangga. Dan langsung menangkap sosok orang tuanya yang sedang memasak di dapur. "Tumben jam segini masih di rumah, Ma," ucapnya seraya duduk di kursi ruang makan.
Mama Laily menghembuskan napas kasar dan terdengar sangat frustasi. "Sepertinya restoran akan mama tutup," beritahunya. Tangannya dengan lihai menyusun makanan untuk sarapan dirinya dan Sachiko.
Sudah dua minggu ini rumah tersebut tak memakai Mbak yang biasa bantu-bantu membersihkan rumah. Dan kini Sachiko tahu alasan mamanya memberhentikan pembantu rumah tangga yang sudah bekerja dengan mereka selama dua tahun belakangan.
"Kenapa ditutup?" tanya Sachiko seraya mengambil nasi ke atas piringnya.
"Mama sudah mendapatkan surat teguran ketiga dari bank, mungkin sebentar lagi akan disita," tutur Mama Laily. Jujur, kepalanya pusing. Sebagai orang tua dan tulang punggung keluarga, dia harus mendapatkan cobaan finansial yang lumayan merugikan akibat ditipu oleh teman sendiri.
"Apa kita cari tante Reni aja, Ma? Dia sudah keterlaluan, siapa yang berhutang, tapi kita yang ditagih," cetus Sachiko. Tangannya mulai menyendok makanan, tanpa berhenti berbincang dengan orang tuanya.
"Dia kabur ke luar negeri, sudah susah dicari keberadaannya. Mama juga tak tahu ke mana perginya si Reni itu," jelas Mama Laily diiringi desahan frustasi.
"Memangnya bagaimana ceritanya sampai bisa kejadian hutang dan tak dibayar?" Sachiko semakin ingin tahu cerita runtutnya seperti apa. Matanya terfokus pada sosok wanita yang memperjuangkan hidup dan mati untuk melahirkan dirinya.
Mama Laily menghela napas. "Sebenarnya mama tak mau kamu kepikiran dengan masalah ini. Aku ingin menyelesaikan semuanya sendiri. Tapi karena kamu sudah tahu, maka akan aku ceritakan."
Sachiko mengangguk dan siap mendengarkan kisah pedih yang dialami mamanya. Dia bisa melihat orang tuanya menelungkupkan sendok dan garpu untuk berhenti makan.
Mama Laily pun menceritakan awal mula dirinya bekerja sama dengan temannya yang bernama Reni. Lima tahun lalu, saat usahanya sedang berkembang naik, teman semasa sekolahnya datang dan menawarkan kerja sama. Dia diajak merger atau menggabungkan dua perusahaan dengan tujuan dan harapan agar semakin berjaya. Proposal rancangan bisnis yang ditunjukkan oleh Reni sangat menggiurkan, sehingga dirinya tertarik untuk melakukan kerja sama tersebut.
Satu tahun berlalu, memang kondisi perusahaan meningkat pesat, cabang restoran bahkan sampai ke luar kota. Kemudian, Reni menawarkan untuk membuat usaha mereka lebih besar lagi, tapi membutuhkan modal yang banyak. Mama Laily tentu saja tergiur, sukses dan restorannya bisa memiliki nama besar adalah keinginannya. Dia menyetujui untuk ide peminjaman uang ke bank, karena Reni tak memiliki banyak aset, akhirnya Mama Laily pun bersedia untuk menggunakan sertifikat rumah, dan seluruh aset restorannya sebagai agungan pinjaman di bank. Toh setiap bulan terus mendapatkan pemasukan dan bisa digunakan untuk mencicil.
Tiga tahun cicilan lancar, walaupun keuntungan restoran jadi berkurang karena untuk membayar hutang saja sudah tujuh puluh lima persen dari pendapatan perbulan. Tapi masih ada dua tahun tersisa, dan ditahun itu mulailah sedikit terlambat membayar hutang, sampai mendapatkan surat peringatan dari bank. Pada satu tahun terakhir ini, Reni membawa pergi semua uang hasil penjualan. Dan Mama Laily kebingungan untuk biaya operasional.
Sebetulnya sudah terancam bangkrut, tapi Mama Laily masih percaya bahwa bisa bangkit lagi. Ternyata, saat dirinya mulai mengelola usaha sendiri, Reni diam-diam datang ke restoran untuk mengambil uang hasil penjualan yang disimpan pada berangkas kantor. Dan ternyata Reni juga meminjam pada rentenir dengan memanfaatkan foto copy KTP Mama Laily.
Sachiko sampai tak berkedip saat mendengarkan cerita yang begitu detail, bibirnya menganga tak percaya jika ada orang sejahat itu pada teman sendiri. Dirinya foya-foya terus satu tahun terakhir ini, mentraktir teman-temannya untuk jalan-jalan, makan, dan mengeluarkan uang seperti air. Ternyata dibalik itu ada orang tuanya yang banting tulang dan dihadapi masalah besar.
Sachiko berangsur berdiri dari tempat duduk. Memutari meja makan dan mendaratkan p****t di samping mamanya. Dia memeluk dan mengelus lengan orang tuanya. Berkali-kali meminta maaf karena sudah boros.
"Kok mama gak coba tangkep tante Reni satu tahun ini?" tanya Sachiko. "Dia keterlaluan sekali jika sudah seperti itu, harusnya dikasuskan saja!" cetusnya dengan geram.
"Mama sudah coba cari sejak tahun lalu, ternyata dia ke China. Tapi mencari orang di negara lain tak mudah, di sini saja cari orang juga susah. Sekarang sudah tak tahu dia pindah ke negara mana lagi," jelas Mama Laily.
"Kita lapor polisi saja, siapa tahu bisa membantu."
Mama Laily menggelengkan kepala. "Lapor polisi juga belum tentu tertangkap, aku tak bisa percaya seratus persen dengan kinerja mereka. Nyatanya banyak kasus yang tak terselesaikan," tuturnya.
Sachiko menghela napas kasar. Kehidupan keluarganya ternyata pelik juga. "Lalu, apa yang bisa aku bantu?"
Mama Laily menggelengkan kepala. "Tidak perlu, kamu kuliah saja yang pintar, biar mama yang menyelesaikan ini sendiri."
Disaat sepasang ibu dan anak itu berpelukan, bunyi bel menggema berkali-kali. Membuat Sachiko mengurai pelukannya.
"Aku yang bukakan, Mama di sini saja," ucap Sachiko. Dia meninggalkan meja makan dan keluar, melihat siapa tamu yang datang.
Sachiko mengintip dari balik gerbang, tapi tak langsung membuka. Ternyata tiga orang yang kemarin menagih hutang di restoran. Dia tak berniat menerima rentenir bersama antek-anteknya. Dengan mengendap-endap, kakinya menuju dalam rumah lagi.
"He! Bocah! Buka gerbangnya!" bentak rentenir itu. "Aku tau kau diam-diam ingin masuk lagi! Memangnya aku ini bisa kau bodohi?" imbuhnya dengan nada berteriak.
Sachiko menelan saliva, kepalanya berbalik melihat gerbang. "Kenapa yang buat rumahku harus memberikan sela yang bisa digunakan untuk mengintip," gerutunya pelan.
"Mamaku pergi, tak ada di rumah!" balas Sachiko dengan suara yang tak mau kalah garang.
"Ke mana?"
"Restoran."
Rentenir itu terdengar menertawakan bualan Sachiko. "Aku baru saja ke restorannya dan tutup. Anak kecil seperti dirimu jangan coba-coba membodohi aku!"
Sachiko memukul pelan kepalanya, merutuki bibirnya yang salah berkilah. "Mamaku tidak ada ya tidak ada! Jangan ngeyel!"
"Ku dobrak gerbangmu sampai rusak, kalau kalian berani membohongi aku!"
Suara rentenir itu terdengar tak main-main. Gerbang didorong hingga menimbulkan bunyi gaduh.
"Wey! Sialan rentenir itu, benar-benar meneror keluargaku terus!" gerutu Sachiko. Kakinya pun mengayun mendekati gerbang. "Oke! Aku bukakan, tapi jangan merusak rumahku, sialan!" Dengan berani, dia mengumpati rentenir beserta antek-antek tersebut.
Dengan berat hati, Sachiko pun membukakan gerbang. Bibirnya mencebik memberikan cibiran pada tiga pria yang terlihat sangat arogan.
Tubuh Sachiko didorong agar menyingkir dan tak menghalangi jalan rentenir itu. "Panggilkan Laily!" titahnya.
Namun, sebelum Sachiko mengeluarkan suara, mamanya justru sudah keluar dari dalam rumah. "Siapa yang datang, Chi? Kenapa ribut sekali?" tanyanya. Dia berhenti di teras rumah saat melihat tiga pria yang kemarin menagih hutang dengannya. "Ada apa?" tanyanya ketus.
"Waktunya membayar hutang! Aku sudah katakan, hari ini adalah waktunya kau melunasi semuanya!" tagih rentenir itu. "Jika kau tak melunasi tiga ratus juta hari ini, maka jangan salahkan aku jika meneror hidupmu setiap hari!" ancamnya.
Mama Laily menggemelatukkan gigi. Tangannya terkepal erat dengan emosi yang begitu membara. Berhutang dengan rentenir memang selalu membuat hidup tak nyaman. "Oke, aku akan transfer sekarang," finalnya.
Baik Sachiko atau Mama Laily, keduanya tak ada yang berinisiatif untuk menawarkan rentenir itu masuk ke dalam rumah. Bahkan wanita berusia empat puluh delapan tahun itu melakukan transaksi pembayaran di teras.
Mama Laily terlihat membuka mobile banking. "Berapa nomor rekeningmu?"
Rentenir itu menyebutkan nomor rekeningnya.
"Sudah aku transfer dua ratus lima puluh juta, batas transaksiku hanya sebanyak itu!" ucap Mama Laily seraya memperlihatkan bukti transfernya.
"Sisanya? Lima puluh juta bagaimana? Aku ingin dibayar hari ini juga!" Rentenir itu terus mengotot.
"Itu 'kan bunganya, nanti aku cicil lagi."
"Tidak bisa! Aku mau semuanya beres hari ini!"
Sachiko memasang wajah melotot. "Mamaku pasti bayar, beri dia waktu," pintanya.
"Anak kecil diam saja, jangan ikut-ikut!"
Mama Laily memegangi tangan Sachiko agar tak terpancing emosi. "Cash, aku ambilkan ke bank."
"Oke."
Dengan mengendarai sepeda motor, Sachiko mengantarkan mamanya ke bank untuk menarik uang. Rentenir itu benar-benar pemeras, hutangnya berapa, bunganya bahkan besar sekali.
Dua puluh menit berlalu, Sachiko dan orang tuanya keluar dengan menenteng tas. Mereka berjalan menuju parkiran di mana mobil rentenir berada.
"Biar aku saja, Ma." Sachiko mencegah saat orang tuanya hendak memberikan uang ke rentenir. Dia mengambil alih amplop cokelat berisi lima bundelan uang sejumlah lima puluh juta.
Sachiko mengetuk kaca jendela dan mulai dibuka ke bawah oleh pemilik mobil tersebut. "Nih! Sudah lunas hutang mamaku!" ucapnya seraya melemparkan uang ke wajah rentenir. "Jangan ganggu mamaku lagi!" peringatnya. Seperti tak ada takut dirinya dengan orang yang lebih besar badannya.
Sachiko langsung menarik tangan mamanya. "Ayo, Ma. Kita pergi dari sini," ajaknya.
Kedua wanita itu pun kembali ke rumah. Satu hutang terselesaikan. Tapi kini orang tua Sachiko sudah tak memiliki banyak uang dan pemasukan lagi. Padahal cicilan masih banyak di lima bank yang berbeda.
Hasil jual mobil yang rencananya ingin digunakan untuk membuka usaha pun sudah lenyap untuk menutupi hutang ke rentenir.