Waktu terus bergulir, dan hari semakin siang. Namun, jualan Sachiko belum habis karena rata-rata langganannya senang makan di tempat atau anak kos yang sering beli nasi dengan sayur dan lauk. "Huft... harusnya aku ga' kelupaan masak nasi. Jadi sepi deh," keluh Sachiko seraya menggerakkan tangan untuk memijat bahu yang terasa pegal. "Udah, ga' usah disesali, namanya juga lupa. Anggap aja belum rezeki," sahut Alvito dengan tangan yang membantu memijat bahu wanita itu. Sachiko berdecak dan menepis pelan tangan Alvito. "Ya bener belum rezeki, tapi kalau ga' untung juga pusing aku. Mana gajian masih lama pula." Lagi-lagi dia mengeluh. "Nanti aku beli semua sisanya, kamu ga' usah khawatir." Alvito menepuk pelan paha Sachiko yang terbalut celana jeans itu. "Buat apa banyak-banyak beli sayur

