Sachiko terus mengamati kekasihnya yang sedang mengobrol dengan wanita. Entah ada hubungan apa antara kedua orang tersebut. Dia tak ingin berburuk sangka, tapi kenapa hati terasa panas tat kala korneanya menangkap jelas saat orang yang duduk di hadapan Alvito itu sedang menyentuh punggung tangan pacarnya. "Waduh... jangan-jangan ada yang ga' beres, nih," cicit Sachiko bergumam untuk didengar dirinya sendiri. Sachiko menengok ke belakang di mana bagian dapur menyiapkan pesanan setiap konsumen. "Ada untuk meja atas nama Alvito atau Vito, Aparicio, Cio, atau yang sebelas dua belas dengan itu?" tanyanya menyebutkan semua kemungkinan sang kekasih menggunakan nama siapa. "Ini untuk meja Alvito lagi mau aku anterin," jawab salah satu pelayan yang siap membawa nampan. "Biar aku aja yang anter,

