Ajakan Makan Bersama

1376 Kata
"Ada yang liat Mas Bim?" Sachiko bertanya pada karyawan di tempatnya bekerja setelah mengembalikan piring dan gelas ke bagian yang terkait untuk membersihkan alat makan tersebut. "Tuh ditungguin di ruang karyawan," balas sinis salah satu karyawan yang tak suka dengan si anak baru tersebut yang di matanya suka tebar pesona pada manajernya. "Makasih." Sachiko pun mengayunkan kaki menuju tempat yang dimaksud. Tubuhnya memasuki sebuah ruangan yang tak terlalu besar. Tempat di mana karyawan restoran itu menyimpan tas ataupun benda lainnya, serta biasa untuk istirahat. Sachiko bisa melihat tubuh kurus namun tegap dengan kulit hitam manis sudah berdiri menatapnya. "Mas Bim," panggilnya. "Gimana bisa kamu numpahin minuman ke pengunjung?" Mas Bim mulai menginterogasi salah satu bawahannya. Sachiko menunduk karena dia memang merasa bersalah. "Kesandung kaki pelanggan, Mas," jelasnya. "Maaf aku ga' hati-hati." Mas Bim terdengar mengeluarkan decakan. "Kamu ini masih training loh, Chi. Hari pertama kerja aja udah teledor kaya' gini," omelnya. Sebagai manajer, dia tak mungkin mendiamkan dan tidak memberikan teguran pada karyawan yang salah. "Sorry, Mas. Enggak sengaja." "Ini peringatan pertama buat kamu, ya. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Pikirkan citra restoran juga. Lain kali hati-hati kalau masih mau bekerja di sini." Sachiko mengangkat kepalanya yang menunduk, menatap Mas Bim yang berwajah seperti kesal padanya. "Aku ga' dipecat, Mas?" tanyanya memastikan. "Ga', aku masih kasih kesempatan. Katanya udah berpengalaman jadi pelayan di restoran Hide Out yang udah tutup itu, tapi masih aja teledor. Buktiin kalau kamu emang kompeten dan pantas dipertahankan kerja di sini," jelas Mas Bim. "Siap, Mas. Enggak akan kejadian lagi kaya' gini," ucap Sachiko dengan hatinya yang lega. "Yaudah, bersihin dulu kepalamu itu yang basah, terus lanjut kerja lagi!" titah Mas Bim seraya mengayunkan kaki menuju pintu. Tangan Sachiko reflek menyentuh bagian paling atas kepalanya. Rambutnya sudah lengket karena yang disiramkan adalah minuman manis. "Memang sialan nenek lampir itu," gerutunya. Sachiko pun keluar dari ruangan khusus karyawan. Dan kini menjadi bahan lirikan pegawai lainnya. Dia menghela napas, sudah di atas menjadi pusat perhatian pengunjung, sekarang rekan kerjanya. Sebenarnya kenapa orang-orang ini tak membiarkannya hidup tenang? Sudah terlalu banyak kejadian yang menimpanya. Dia hanya ingin menjalani hari-hari tanpa masalah. Tapi ada saja yang membuatnya terusik. Sachiko sebisa mungkin terlihat tak terganggu. Dia tersenyum seraya menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa liatin?" tanyanya. "Kamu bikin onar, ya? Mas Bim sampai marah kaya' gitu." Sachiko mengedikkan bahunya. "Kepo banget," jawabnya tanpa rasa takut. Dia tak peduli jika masih junior di sana. Sachiko tak mau terlihat lemah. Sachiko pun meninggalkan area dapur yang langsung bisa terlihat jelas dari tempat duduk pengunjung. Tak memperdulikan sindiran lirih yang dilontarkan dari beberapa karyawan, walaupun tak semuanya. Tapi hanya satu atau dua orang saja yang seperti tak menyukainya. Sachiko masuk ke dalam kamar mandi, membasahi rambutnya di wastafel agar tak lengket lagi. Karena tak ada handuk, dia mengeringkan menggunakan alat yang biasa digunakan untuk mengeringkan tangan. Sachiko melihat kondisi tubuhnya yang sudah tak rapi. Ditambah kemejanya sudah basah. Kakinya mengayun untuk mencari Mas Bim lagi yang ada di ruangan khusus manajer. "Mas," panggil Sachiko. Mas Bim tak mengeluarkan suara. Tatapannya masih terlihat kesal tapi ditahan. "Mau izin," ucap Sachiko. "Apa lagi?" "Tukeran kerjaan bentar sama yang tukang cuci piring boleh, ga'? Pakaianku kotor, 'kan ga' enak kalau nganterin makanan tapi kondisinya kaya' gini." "Boleh." Mas Bim mengibaskan tangannya agar Sachiko keluar. Dia bisa menilai jika Sachiko memiliki tanggung jawab dan itikad baik. Terbukti dari inisiatif wanita itu yang meminta izin untuk bertukar job dengan bagian lain saat kondisi Sachiko tidak mungkin menjalankan tugas sesuai bagian yang seharusnya. "Makasih, Mase...." Sachiko meninggalkan ruangan Mas Bim. Dia menemui bagian untuk mencuci piring dan kebetulan orangnya pun mau setelah dijelaskan jika dirinya sudah meminta izin dengan manajer. Ternyata menjadi tukang cuci alat makanan di restoran yang sangat ramai itu sangat lelah. Lebih enak menjadi pelayan. Tangan Sachiko sekarang rasanya sangat pegal. Tidak ada berhentinya piring dan gelas kotor berdatangan. Untung hanya malam ini saja dia melakukan itu. Tapi tetap saja, selama tiga jam penuh dia berkutat dengan air. Dan saat Sachiko membuka sarung tangan, dia bisa melihat jika jemarinya berkeringat. "Oh... akhirnya, terbebas juga kalian," cicitnya seraya menggerakkan jemarinya seolah baru keluar dari penjara dan menghirup udara segar. Jam sebelas malam, Sachiko baru selesai bekerja. Dia memijat pundaknya yang terasa sangat kencang ototnya. Kakinya seraya mengayun menuju tempat parkir. Fokusnya saat ini hanya ingin pulang ke rumah, sehingga dia tak memperhatikan suasana tempat parkir. "Sachiko," panggil seorang pria yang baru saja turun dari sebuah mobil kijang innova. Orang yang dipanggil pun menatap ke arah pria yang tak lain adalah Alvito. Tubuhnya sudah lelah dan pandangannya sayu ingin segera tidur. Manusia satu itu kenapa seperti hantu, tiba-tiba bisa muncul di hadapannya tanpa diundang. "Di mana-mana selalu aja ketemu kamu. Jangan-jangan kamu ngikutin aku, ya?" tuduhnya. Alvito semakin mendekati Sachiko yang sudah siap ingin naik ke atas motor matic berwarna putih. "Mungkin jodoh kali, ya?" "Dih, ogah," cibir Sachiko dengan mencebikkan bibirnya. "Nyatanya tanpa janjian pun kita udah tiga kali ketemu secara tiba-tiba, loh. Apa namanya kalau bukan jodoh?" goda Alvito. Sachiko berdecak malas. "Udahlah, langsung ke intinya aja. Ada apa mencariku?" tanyanya bernada sinis. "Aku minta maaf atas perlakuan mamaku tadi," ucap Alvito sangat tulus. Dia merasa tak enak karena perlakuan orang tuanya yang sangat arogan. "Sudahlah, aku juga salah," balas Sachiko malas mengungkit kejadian yang telah berlalu. Alvito mengangguk paham. Sesaat tak ada obrolan diantara keduanya. "Sudah? Kamu ada yang mau diomongin lagi, ga'? Aku mau pulang, nih," ucap Sachiko sembari menguap. "Kamu sudah makan?" "Belum, nanti aja di rumah." "Mau cari makan di luar denganku? Sebagai permintaan maaf?" Sachiko menggeleng lemas. Sudah tak ada tenaga untuk makan di luar, hanya ingin rebahan saja saat ini. "Enggak, aku mau pulang," tolaknya. Tangan Sachiko meraih helm dan menghiraukan Alvito yang masih berdiri seraya memandangnya. Dia naik ke atas motornya. "Kamu mau tetap di situ? Minggir dikit, motorku kehalang tubuhmu," usirnya seraya mengibaskan tangan ke arah kanan agar Alvito bergeser ke arah yang dia tunjuk. Alvito menahan motor Sachiko agar tak keluar. Wanita itu jutek sekali dengannya. "Kamu ga' dipecat 'kan dari kerjaanmu?" Dia akan merasa sangat bersalah jika karena orang tuanya sampai membuat seseorang kehilangan mata pencaharian. "Enggak, udah minggir, ih... aku capek banget, pengan balik." Sachiko mengusir lagi. Waktunya sudah berkurang sepuluh menit hanya untuk meladenin anak dari nenek lampir. Tapi anehnya, pria itu tak sejahat dan sepedas wanita yang sudah mengomeli dirinya malam ini. Alvito pun menyingkir saat wajah Sachiko terlihat malas menatapnya. Dia bisa bernapas lega karena tak ada kejadian pemecatan sesuai permintaan mamanya. "Lain kali kita makan berdua, ya?" ajaknya. "Ga' ada lain kali. Aku sibuk." Sachiko pun mengeluarkan motornya dari parkiran, dibantu Alvito yang berinisiatif menarikkan kendaraan roda dua itu. Tanpa pamit, Sachiko langsung menancap gas meninggalkan Alvito sendirian. Tapi tak berselang lama, pria itu juga masuk ke dalam mobil. Sachiko melihat ke arah kaca spion saat pantulan lampu dari kendaraan di belakangnya memantul dari cermin yang ada di kanan dan kiri motornya. Membuatnya silau. "Ck! Manusia satu itu kenapa mengikutiku?" gumamnya. Sachiko pun menepi agar mobil Alvito melaju mendahuluinya. Tapi justru ikut pelan. Dan akhirnya dia berhenti di pinggir jalan. Alvito juga melakukan hal sama. Tubuh Sachiko pun turun dari motor. Mengetuk kaca bagian supir ingin menegur Alvito. Pria berparas manis dengan kulit kuning langsat itu menurunkan kaca. "Kok berhenti?" tanyanya. "Kamu ngapain ngikutin aku?" "Mau mastiin kamu pulang ke rumah dengan selamat." "Ga' usah, aku berani sendiri." "Lah, aku yang pengen anterin. Kamu cewe', loh. Dan ini udah malem, kalau ada orang jahat gimana?" Sachiko mencebikkan bibirnya. Pria ini untuk apa perhatian dengannya? Padahal dirinya saja judes seperti ini. "Udah, kamu balik aja." "Ga'," tolak Alvito. "Dah sana naik motor lagi, aku anterin sampai rumah," titahnya seraya menyenggol pundak Sachiko agar kembali melanjutkan perjalanan. Sachiko mendengus, Alvito keras kepala sekali. Rasanya percuma mengusir pria itu. Yasudahlah, dirinya mau tak mau pulang dikawal. Alvito berhenti tepat di depan gang kontrakan Sachiko. Memandang wanita itu dan memastikan sampai masuk ke dalam rumah. Barulah dia kembali ke tempat tinggalnya sendiri, tidak menginap di rumah neneknya karena besok harus berangkat kerja. Sachiko mendorong motornya untuk masuk ke dalam rumah. Memarkirkan kendaraannya di ruang tamu. Dia tak memiliki garasi, sehingga memanfaatkan ruangan yang ada saja di sana. Tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, Sachiko langsung merebahkan diri di kasur. "Akhirnya... ketemu kasur juga."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN