Jika saat tinggal di mantan rumah Sachiko yang bagus, wanita itu selalu bangun siang karena terlalu nyaman bergelung di atas kasur empuk dan dinginnya AC yang menusuk ditangkal menggunakan selimut tebal membuatnya selalu enggan membuka mata. Tapi tidak dengan kondisinya saat ini. Sachiko pasti akan bangun pukul setengah empat pagi. Dia tak bisa tidur nyenyak karena memang masih butuh terbiasa.
Suara kipas angin bekas yang mengganggu telinganya, hembusan angin dari luar yang membuat bunyi di jendelanya terasa horor, ditambah ada kecoa terbang yang membuatnya parno sendiri karena takut dikencingi saat tidur. Tikus pun banyak sekali mondar mandir di kamarnya. Haduh, lengkap sudah penderitaan hidupnya ini.
Sachiko mengucek matanya sembari menguap. Terlalu lelah semalam, membuatnya langsung ketiduran tanpa berganti pakaian atau mandi terlebih dahulu. Dan lampu yang biasanya kalau tidur dimatikan pun masih hidup.
Tangan Sachiko meraih ponsel. Jika sudah terbangun seperti ini, dia tak akan bisa tidur lagi. "Kapan tidurku akan seperti dulu, ya?" gumamnya yang merindukan kamar nyamannya.
Sachiko teringat kejadian semalam yang membuatnya sebal bukan main dengan kelakuan mantan temannya. Dia bermain ponsel untuk mencari bukti aib Noel, Amira, dan Glory yang masih ada di dalam benda pintar miliknya.
"Waktunya pembalasan," lirih Sachiko seraya menarik sudut bibirnya sinis.
Sachiko menyebarkan beberapa bukti kebobrokan mantan teman-temannya di i********: story miliknya. Pasti nanti seisi kampus akan heboh karena dia memiliki followers puluhan ribu dan hampir seluruh mahasiswa tempatnya mengemban ilmu pasti mengikuti media sosialnya.
"Lihat saja, hari ini pasti semua akan heboh. Makanya, jadi orang tahu diri sedikit. Apa lagi mengusik aku yang bahkan tak pernah mencampuri urusan kalian," ucap Sachiko pada ponselnya sendiri.
Sachiko sudah bisa membayangkan kalau teman-temannya akan panik dan marah padanya. Tapi masa bodo. Mereka sudah tak ada ikatan pertemanan lagi karena Noel, Glory, dan Amira yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan baik itu. Dia tak tahu jelas apa salahnya sampai dijauhi. Tapi berdasarkan informasi yang didapat, semua disebabkan karena dirinya jatuh miskin dan tak bisa dimanfaatkan lagi.
"Ternyata dihidup ini bukan hanya ada pacar matre dan keluarga parasit saja, tapi teman pun ada juga yang matre sekaligus parasit," seloroh Sachiko seraya meletakkan ponselnya secara asal di atas kasur.
Sayup-sayup telinga Sachiko mendengar ada seseorang yang membuka pintu rumahnya. Buru-buru dia memastikan siapa orang yang ingin masuk atau keluar kontrakan sederhananya.
"Ma?" panggil Sachiko yang melihat orang tuanya menenteng sebuah tas lumayan besar.
"Chi, udah bangun?" tanya Mama Laily. Dia mengurungkan niat untuk menutup pintu lagi.
Sachiko menangguk memberikan jawaban. "Mama mau ke mana?" Dia balas mengajukan pertanyaan juga.
"Pasar, mau belanja buat jualan."
"Ikut, Ma. Aku ga' bisa tidur lagi, dari pada ga' ngapa-ngapain juga di rumah," pinta Sachiko seraya menyengir.
"Yaudah ayo."
"Bentar, cuci muka dulu sama ganti baju."
Sachiko pun menuju ke kamar mandi, membersihkan wajahnya yang berminyak. Lalu mengganti kemeja serta celana kainnya dengan pakaian santai.
"Yuk, Ma." Sachiko sudah siap walaupun rambutnya acak-acakan karena belum disisir. "Naik motor aja, ya? Jalannya jauh, 'kan?" Dia memberikan penawaran agar lebih cepat.
"Jalan aja, sambil olahraga. Sepuluh menit doang," tolak Mama Laily.
"Yaudah deh." Sachiko pun mengikuti keputusan mamanya. Dia berjalan mendekati wanita yang sudah melahirkannya dan mengunci pintu.
"Sini, Ma. Aku bawain." Sachiko mengambil alih tas yang ditenteng Mama Laily. Sepertinya itu mau dijadikan tempat untuk belanjaan.
Masih sangat pagi dan langit pun setia dengan gelapnya saat kedua wanita itu menuju pasar. Jalan yang dilewati juga sepi, hanya ada satu atau dua kendaraan yang sesekali lewat.
Setelah sampai di pasar, Sachiko hanya melihat orang tuanya membeli dan memilih sayuran, ikan, ayam yang segar. Dia memperhatikan, siapa tahu mamanya butuh bantuan suatu saat nanti, pasti dia bisa menolong tanpa harus banyak tanya.
Setelah semua bahan sudah terbeli, mereka langsung pulang. Sachiko seperti biasa akan membantu mamanya memasak. Namun kali ini dirinya benar-benar memperhatikan langkah-langkah dan juga takaran bumbu yang dimasukkan. Hanya berjaga-jaga, siapa tahu suatu hari nanti berguna juga.
"Aku mandi dulu, biar nanti setelah bantuin Mama jualan bisa langsung berangkat ke kampus," ucap Sachiko setelah semua masakan siap di dalam wadah putih yang besar.
Mandi Sachiko sekarang tak selama dahulu. Jika saat kondisi ekonominya masih di atas, dirinya bisa menghabiskan waktu selama satu jam hanya untuk membersihkan diri, sekarang cukup lima belas menit. Dahulu dia anak gadis yang tak memiliki kesibukan kecuali kuliah dan jalan-jalan. Sekarang banyak yang harus dilakukan sampai tubuhnya terasa remuk dan setiap malam harus menggunakan koyo untuk membantu mengendurkan ototnya yang tegang. Maklum, pemuda jompo.
Tepat pukul tujuh pagi, warteg milik Mamanya Sachiko itu sudah buka. Keduanya sibuk membungkuskan pesanan pembeli yang berdatangan untuk sarapan.
Sachiko melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Tumben jam segini udah habis," gumamnya dengan rasa syukur. Waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi, biasanya bisa sampai siang atau sore baru ludes.
"Mungkin karena ada kamu, Nduk. Lihat aja yang dateng aja dari tadi cowo' semua," jawab Mama Laily hanya asal.
Sachiko terkekeh pelan. "Ada-ada aja Mama tuh. Aku langsung berangkat ke kampus, ya? Setengah sebelas ada kelas," pamitnya.
"Iya, udah sana berangkat, sebelum terlambat."
"Mama ga' apa beresin sendiri?"
"Tenang, Mamamu ini 'kan tangguh," kelakar wanita berusia empat puluh delapan tahun itu.
Sachiko pun mencium tangan orang tuanya dan meninggalkan kecupan di pipi. Segera menuju tempatnya mengemban ilmu.
Sesampainya di sebuah bangunan berlantai sepuluh, Sachiko langsung menuju lift untuk ke lantai lima. "Buset, antri," gumamnya saat melihat lebih dari dua puluh mahasiswa ingin naik lift juga.
Sachiko tak bisa mengandalkan lift, dosennya hari ini galak sekali. Tidak suka jika ada mahasiswa yang terlambat bahkan satu detik pun.
Sachiko melihat jam, hanya tersisa tiga menit lagi. Dia tak bisa menunggu lift karena pasti akan membuatnya terlambat.
Baiklah, Sachiko akan berolahraga lagi pagi ini. Menaiki anak tangga hingga lantai lima. Napasnya sampai terengah-engah saat sampai di tempat tujuan.
"Sial, telat satu menit," gerutu Sachiko saat melihat jam sudah menunjukkan sepuluh lebih tiga puluh satu menit.
Buru-buru Sachiko mengintip kondisi kelasnya. Ternyata tak ada dosen. Dia pun berani masuk.
Kedatangan Sachiko langsung dipandang tajam oleh Noel, Amira, dan Glory yang satu kelas dengannya di semua mata kuliah yang dia ambil. Ia tak peduli dengan tatapan ketiga wanita itu. Hanya balasan dengan senyuman smirk tercetak di wajah cantiknya.
"Wah... kayanya lagi ada perang antar teman, nih. Seru juga saling bongkar aib," celetuk salah satu mahasiswa yang sudah melihat story i********: Sachiko.
"Udah ga' bertemen sekarang," jawab Sachiko dengan santai seraya duduk di kursi kosong.
"Gila, ya. Ga' nyangka loh kita kalau Noel, Amira, sama Glory yang katanya anak orang tajir itu, masa' sampai nyuri duit panitia dies natalis kampus."
"Wajah doang cakep, tapi maling."
"Dih, mana cakep, sih. Muka tebel make up begitu."
"Jangan-jangan tuh make up dibeli pake duit nyuri, ya?" tuduh semua mahasiswa seraya menatap ke arah tiga wanita yang duduk paling belakang.
"Udah gitu masih punya muka buat berangkat ke kampus pula."
"Ga' punya malu!"
"Gimana mau punya malu, 'kan mukanya tebel, kaya' tembok didempulin."
Semua mahasiswa yang ada di dalam kelas itu pun tertawa terbahak-bahak. Mereka masih kesal sehingga merundung ketiga wanita yang sepertinya tak memiliki urat malu setelah semua orang di kampus mengetahui kebobrokan mereka.
"Gila, ya. Untung Sachiko punya rekaman obrolan mereka pas teleponan yang menyusun rencana pencurian duit panitia. Kalau enggak, pasti kita ga' akan tau kenapa dies natalis bisa devisit padahal dapet sponsor banyak."
“Pantesan daftar jadi bendahara sama divisi sponsorship, ternyata cuma mau ngambil duitnya.”
"Thanks to Sachiko," ucap seluruh mahasiswa itu seraya mengacungkan jempol.
"Sama-sama." Sachiko pun tersenyum puas. Bukankah itu pembalasan yang setimpal? Jika dirinya semalam menjadi pusat perhatian di restoran dan mendapatkan peringatan pertama, maka mantan temannya akan merasakan dibenci oleh seluruh mahasiswa. "Itu balesan dari aku," komat-kamitnya pada Noel, Glory, dan Amira.
Brak!
Ketiga wanita yang sedang dibicarakan itu menggebrak meja yang menyatu dengan kursi masing-masing. Menatap penuh permusuhan kepada Sachiko. "Awas, ya, Chi," gumam mereka.
Noel, Amira, dan Glory hendak keluar dari ruangan karena tak tahan dengan olokan teman-temannya. Tapi dosen sudah masuk, sehingga mau tak mau harus duduk lagi dan mengikuti kelas.
"Maaf, terlambat. Saya baru saja selesai rapat dengan yayasan," ucap dosen yang terkenal jarang sekali mengenal kata tidak tepat waktu. Tapi maklum untuk hari ini, karena bapak yang sudah tua itu memiliki jabatan yang tinggi di sana dan tidak semua dosen memiliki prinsip yang sama.