Setelah selesai kuliah, seluruh mahasiswa berbondong keluar ruangan. Namun karena Sachiko malas berdesakan, dia memilih untuk tetap duduk dan menunggu teman-temannya menghilang dari pandangannya.
Ternyata, Noel, Amira, dan Glory yang biasanya paling nomor satu jika meninggalkan kelas itu masih ada di dalam sana. Ketiganya segera menghampiri Sachiko yang baru saja berdiri dan hendak melangkahkan kaki.
Tiga wanita itu menghalangi jalan Sachiko agar tak bisa lewat.
"Minggir, aku mau balik," usir Sachiko seraya mengibaskan tangannya agar mantan temannya menyingkir dari pandangannya.
"Kamu gila, ya? Kita 'kan udah sepakat buat ga' umbar aib satu sama lain," omel Noel dengan matanya yang mendelik kesal.
"Tadinya aku emang ga' mau nyebarin kebobrokan sifat kalian itu, tapi ga' ada pilihan lain. Kalian udah ganggu aku di tempat kerja, ya itu balasannya," balas Sachiko dengan santai. Tiga lawan satu? Oh tidak masalah baginya. Toh dirinya juga tahu jika tak ada satu pun dari mereka yang pandai baku hantam.
"Parah banget, sih. Sama teman sendiri nusuk dari belakang." Glory yang kesal itu mendorong d**a Sachiko hingga terhuyung ke belakang dan p****t menubruk kursi.
Sachiko menepis tangan Glory dengan kasar. "Emangnya kita masih berteman? Bukankah kalian yang udah ninggalin aku?" sinisnya dengan menyindir secara terang-terangan.
"Lo miskin, sih. Kaga bisa gue peres lagi," cicit Amira dengan gaya bicara khas warga ibu kota. Mereka bertiga memang mahasiswa pendatang dari luar Kota Malang. Bisa dibilang, anak kos.
Sachiko menunjuk wajah ketiga mantan temannya. "Wah... bener-bener kalian ini ga' tau malu banget. Jadi, selama ini ngedeketin cuma mau jadi lintah?"
Noel, Amira, dan Glory tertawa sinis. "Emang, lo bego, sih. Kita porotin aja mau."
Sachiko hanya bergeleng kepala melihat kelakuan tiga manusia yang ternyata hanya manis di depan tapi sepet belakangnya. "Oh... ga' apa, anggap aja itu sedekah buat kaum miskin hati kaya' kalian," balasnya mengejek juga.
"Maksud lo apa?"
"Ga' ada maksud apa pun. Udah, ah, mau balik. Males ngeladenin orang kaya' kalian." Sachiko hendak berjalan dengan mendorong tubuh Noel dan Amira agar menyingkir, tapi mendadak merasakan rambutnya ditarik.
Sachiko otomatis menginjak kaki mantan temannya agar melepaskan tangan yang melukai rambut kasarnya karena tak memakai kondisioner. "Ngapain, sih. Ga' kapok cari masalah sama aku? Masih banyak loh aib kalian yang belum aku bongkar," ancamnya. Tangannya pun merapikan rambut dengan menyisir menggunakan jari.
"Hapus story yang tadi!" perintah Noel dengan angkuh.
"Ga', biar kalian ga' semena-mena sama orang, supaya jera," tolak Sachiko seraya melipat tangannya di d**a.
Plak!
Bunyi tamparan sebanyak tiga kali pun menggema di ruangan itu. Sachiko langsung mendelik saat merasakan pipinya panas.
"Kalian itu ga' tau diri banget, ya? Dulu aku udah baik loh sama kalian. Travelling aku bayarin, makan ditraktir. Sekarang kacang lupa kulitnya." Sachiko meniup rambutnya yang menutupi dahi. Dan dia membalas perbuatan kasar mantan temannya.
Tak apa bar-bar sedikit. Sachiko meninju bagian tubuh yang kembar dan kenyal milik ketiga temannya. Tangannya segera mendorong hingga Noel, Amira, dan Glory menyingkir. Sebelum meninggalkan ruangan, tubuhnya berbalik untuk memberikan peringatan. "Kalau kalian mau tetap kuliah di sini dengan tenang, ga' usah cari gara-gara sama aku. Mulai sekarang, kita hidup masing-masing dan anggap aja ga' pernah kenal. Atau—"
"Apa?"
"Ku bongkar kalau kalian buka jasa VCS buat om-om kesepian," ancam Sachiko seraya tersenyum sinis dan menaikkan kedua alisnya.
Sachiko meninggalkan Noel, Amira, dan Glory yang terdengar sedang menghentakkan kaki. Dia memilih untuk kembali ke rumah karena sudah tidak ada jadwal kuliah lagi.
"Kok udah pulang, Chi?" tanya Mama Laily yang mendengar suara pintu rumah terbuka dan langsung melihat siapa yang datang.
Sachiko segera menundukkan kepala agar pipinya yang sepertinya bengkak itu tak terlihat oleh orang tuanya. "Iya, Ma. Cuma satu mata kuliah aja hari ini," jawabnya.
"Oh... yaudah kalau gitu istirahat aja dulu, Chi. Kamu sore kerja, 'kan?"
"Iya, Ma. Ini mau duduk dulu di sini," balas Sachiko seraya menunjuk kursi yang terbuat dari bambu. Dia menyatukan pantatnya di sana agar Mamanya tak bisa melihat wajahnya karena saat ini posisinya menghadap ke arah luar.
Saat Sachiko mendengar ada suara pintu yang tertutup, barulah dia berani masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa menutup selot kuncinya agar tak bisa diterobos masuk.
Tangan Sachiko masuk ke dalam tas, mencari kaca kecil miliknya. Dia melihat pantulan wajah di cermin itu. "Wah... gila, ini mah keliatan jelas bekas kena tampar," gumamnya.
***
Sore ini Sachiko memilih untuk berangkat kerja dengan menggunakan make up tebal untuk menyamarkan pipinya yang memar.
"Menor banget, sih. Mau godain Mas Bim?" sinis salah satu karyawan yang bertemu Sachiko di ruang karyawan saat menaruh tas dan jaket.
"Enggak, ngapain juga godain laki. Kurang kerjaan banget," balas Sachiko dengan malas.
"Terus ngapain kaya' badut begitu? Emang dikira bakalan ada cowo' yang naksir?"
"Sstt...." Sachiko menempelkan telunjuknya di depan bibir. "Udah, deh. Gausah banyak tanya, aku mau kerja."
Sachiko pun meninggalkan rekan kerjanya itu. Dia langsung bekerja mengantarkan makanan pesanan pelanggan. Kebetulan hari ini tak seramai kemarin.
Hari sudah gelap, waktu menunjukkan pukul delapan malam. Dari posisi Sachiko berdiri, dia bisa melihat jika ada pria yang sedari kemarin selalu tak sengaja bertemu itu sedang mengantri untuk memesan makanan.
"Pasti hari ini dia sengaja ke sini," gumam Sachiko seraya menatap Alvito yang sialnya pria itu menoleh ke arahnya dan mengedipkan sebelah mata. "Ih... apa coba maksudnya kaya' gitu."
Sachiko menghiraukan pria itu dan berkeliling ke lantai satu, menjalankan pekerjaan sesuai tugasnya. Dan dirinya menelan saliva saat mendapatkan nampan dengan nama pemesan Alvito. Hembusan napas kasar pun keluar dari bibirnya. Tapi yasudah, mau bagaimana lagi, ini tugasnya.
Kaki Sachiko pun mengayun menuju area luar di mana Alvito berada. Dari posisinya saat ini, matanya bisa melihat pria itu duduk seorang diri dengan pakaian santai. Sepertinya sudah ganti tak memakai baju dinas lagi.
"Pesanannya mie setan dan cappuccino satu, benar?" tanya Sachiko mengulangi menu yang dipilih oleh salah satu konsumen itu.
"Benar." Pandangan Alvito sedari tadi terus fokus pada wajah Sachiko. Tak berkedip sedikit pun untuk menyusuri pahatan yang nampak berbeda dari setiap kali mereka bertemu. "Kamu pakai make up?" tanyanya seraya melihat bagaimana Sachiko menurunkan piring juga gelas ke hadapannya.
Sachiko hanya menjawab dengan ulasan senyum. Bukan urusan Alvito juga jika dirinya memakai make up. "Selamat menikmati." Tubuhnya pun kian mengayun pergi meninggalkan pria yang terlalu banyak ingin tahu itu.
Beruntung hari kedua Sachiko training tidak terjadi insiden yang buruk atau memalukan seperti kemarin. Kali ini semuanya aman, nyaman, tenteram, dan damai. Kecuali satu hal, Alvito yang saat ini terlihat berdiri menyandar di mobil seraya menatapnya yang baru saja keluar dari tempat kerja.
Sachiko tak mau kepedean seperti saat di Bali. Bisa saja pria itu bukan menunggunya. Dari pada malu sudah terlalu percaya diri, lebih baik dia melengos saja. Apa lagi banyak karyawan di sana yang belum pulang dan pastinya akan ada beberapa yang melihatnya.
Saat Sachiko berjalan melewati Alvito, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pergelangan kanannya. Dan sudah dipastikan pelakunya adalah pria yang seperti hantu itu, tak diundang tapi selalu ada dihadapan Sachiko.
Sachiko menatap ke arah Alvito dengan sorot sinis. "Apa?"
"Ingin memastikan sesuatu." Alvito pun membuka pintu mobilnya dan memaksa Sachiko untuk masuk ke dalam.
"Eh... kamu kok ngawur, mau culik aku, ya?" tuduh Sachiko seraya memukuli lengan Alvito. "Teriak, nih," ancamnya kemudian.