Sedikit Perhatian Alvito

1461 Kata
Alvito tetap mendorong tubuh Sachiko untuk masuk ke dalam mobilnya. Tidak peduli jika saat ini ada beberapa pasang mata yang memperhatikannya dari dalam restoran. Dia segera masuk ke dalam kursi kemudi dan mengunci pintu. "Kamu apa-apaan, sih? Aku udah ga' mau ada urusan sama kamu, loh. Aku udah bayar jasa buat anterin balik dari Bali ke Malang. Terus kemarin bantuin aku beres-beres juga udah aku bayar pakai kuwaci sama mijon." Sachiko terus saja menyerocos. Bagaimana tidak gemetaran kalau tiba-tiba ada pria yang dia sendiri belum kenal dekat, mendadak memasukkan secara paksa ke dalam mobil. Otaknya yang sering menonton banyak genre film itu jadinya berpikiran yang tidak-tidak. "Tapi aku mau deket sama kamu," balas Alvito dengan santai. Tubuhnya menyandar dengan posisi sedikit miring ke arah kiri di mana Sachiko duduk. Mendengar penuturan tersebut, mulut Sachiko terbuka dengan matanya yang membulat. "Kamu gila, ya? Sakit?" Tangannya terulur menyentuh kening Alvito untuk merasakan suhu tubuh pria itu. "Oh, panas. Pantesan ngomongnya kaya' orang ngelindur," ejeknya mencoba tak terlalu percaya diri seperti saat di Bali lagi. Alvito memegang tangan Sachiko yang masih berada di keningnya. Menatap dengan sorot datar. Ucapannya seperti dianggap bercanda oleh wanita yang ingin dia dekati. "Aku serius, Sachiko." Suara yang terlontar dari bibirnya terdengar sangat tegas dan tak main-main. Sachiko tertawa terbahak-bahak seraya menarik tangannya kasar agar tak digenggam oleh Alvito lagi. Kedua telapaknya saling bertepuk hingga menimbulkan bunyi. "Kamu lucu sekali, kita baru berapa kali bertemu dan itu pun karena tak sengaja, tiba-tiba mengatakan ingin mendekatiku," tuturnya mencoba membuat jarak diantara keduanya. Alvito menghela napas seraya memejamkan mata. "Dekat bukan berarti kita pasangan, yang aku maksud adalah berteman," jelasnya meluruskan. Dan seketika Sachiko merubah raut wajah menjadi datar. 'Kan benar, pria ini memang mengesalkan. Untung saja dirinya tak sepercaya diri seperti saat di Bali, jadi tak terlalu malu karena salah menafsirkan perkataan Alvito. "Bagaimana, kamu mau jadi temanku?" tanya Alvito memastikan. "Tidak, aku malas memiliki teman. Apa lagi kalau ujung-ujungnya ninggalin dan ngelupain semua yang udah aku kasih," tolak Sachiko dengan yakin. Tak ada keraguan sedikit pun. "Yasudah, jika kamu ga' mau berteman sama aku, bagaimana kalau jadi pacarku aja?" Alvito menawarkan hal lain. Dia seperti memaksakan diri untuk terus bisa terhubung dengan Sachiko yang sekarang sinis dan acuh padanya. Sachiko menggelengkan kepalanya. "Semakin gila permintaanmu itu, tidak mau!" tolaknya. Alvito menghela napasnya. Dia kira mendekati spesies wanita yang kepedean seperti Sachiko akan mudah didapatkan, tapi rupanya tidak. Ternyata sulit sekali. "Oke, tapi jika kamu mau berubah pikiran, hubungi aku segera." Sachiko mengedikkan bahu. "Aku tidak terlalu yakin. Sudahlah, aku mau pulang." Dia hendak membuka pintu mobil untuk turun dari kendaraan roda empat itu. Tapi tangan Alvito sudah mencegah. Otomatis membuat sorot matanya kembali tertuju pada pria tersebut. "Apa lagi?" tanya Sachiko dengan ketus. "Wajahmu." Alvito menunjuk Sachiko seraya memutarkan jarinya membentuk bulatan. Sachiko memegang wajahnya. "Kenapa?" "Kamu memakai make up tebal?" "Iya, memangnya kenapa?" "Tidak, tumben sekali." Sachiko terdiam dengan alisnya naik sebelah. "Kamu merhatiin penampilanku, ya?" tebaknya. Bagaimana bisa pria itu mengatakan kata tumben jika tak tahu kebiasaannya. Alvito menyengir. "Namanya juga cowo' liat cewe' cakep dikit juga dipandang wajahnya dulu," jelasnya dengan jujur. Pletak! Sachiko menyentil kening pria itu. "Tidak sopan, main pandang-pandang aja," omelnya. "Hehehe...." Alvito mengulas senyumnya. "Kenapa pakai make up? Bagus kaya' biasanya tau. Cantiknya natural." "Rahasia, kepo aja kamu tuh," cibir Sachiko seraya mencebikkan bibirnya. Diam-diam tangan Alvito mengeluarkan sebuah tisu basah yang ada di antara jok mobil. Dan tanpa permisi, dia menghapus riasan Sachiko. "Aku bantu bersihkan," ucapnya seraya memegangi kepala wanita itu. "Aw," pekik Sachiko saat tangan Alvito menekan pipinya. Mendengar suara Sachiko yang seperti kesakitan, Alvito pun menghentikan tangannya dan menatap wajah wanita itu lagi. Tangannya menghidupkan lampu dan memfokuskan pandangan pada wajah Sachiko. "Pipimu kenapa?" tanyanya. Sachiko menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan. "Ga' apa-apa, bukan urusan kamu juga." Alvito mencoba menyingkirkan tangan Sachiko. Pantas saja saat melihat wajah wanita itu walaupun menggunakan make up tebal seperti pipi bengkak meski tak menunjukkan bekas memar. Tapi setelah dia bersihkan riasannya, barulah sekarang bisa melihat kemerahan. "Kamu abis ditampar?" "Udah deh, ga' usah kepo," ketus Sachiko seraya melengos. "Siapa yang udah ngelakuin itu?" Alvito masih terus saja menginterogasi, padahal Sachiko sudah tak mau dikulik masalah pribadinya. "Bukan urusanmu! Kita urus kepentingan masing-masing aja." Sachiko hendak membuka pintu. Tapi sudah dikunci oleh Alvito. Dan pria itu mencongdongkan tubuh semakin mendekati Sachiko. "Eh, mau ngapain kamu? Jangan macem-macem, ya!" omel Sachiko yang sudah berpikiran buruk karena posisi mereka saat ini benar-benar berjarak tipis. "Aku colok nih matamu kalau berani melecehkan!" ancamnya. Saat wajah Alvito hanya berjarak satu jengkal dari Sachiko, dia mengulas senyumnya yang mengesalkan. "Cuma mau pasang seatbelt," tuturnya seraya menarik sabuk pengaman. Sachiko pun menghembuskan napas lega. Pikirkannya ini selalu ke mana-mana. Sungguh memalukan, tapi untungnya dia bisa tetap mengulas wajah biasa saja dan mencoba menutupi grogi. Alvito terkekeh saat kembali duduk tegak. "Tegang banget, emangnya pengen aku apain?" godanya seraya menghidupkan mesin mobil. "Ga' diapa-apain," balas Sachiko seraya mengalihkan pandangan agar tak ditatap terus oleh Alvito. "Eh, kamu mau bawa aku ke mana? Motorku di sana!" tanyanya saat menyadari jika mobil yang ditumpangi mulai bergerak maju. "Bentar doang, mau cari es batu yang jual malem-malem sama beli salep," jawab Alvito. Kepalanya menengok dan melihat wajah Sachiko yang sedikit tegang walaupun tak terlalu jelas. "Buat apaan?" "Ngobatin memar di pipimu, keliatan banget, loh. Emang Mamamu ga' akan nanyain kalau lihat itu?" Tunjuk Alvito pada pipi kanan dan kiri Sachiko. Oke baiklah, jika dilihat dari nada bicara dan wajah Alvito, sepertinya jawabannya meyakinkan. Sachiko pun duduk dengan santai dan mengikuti ke mana perginya kendaraan itu. Tak berselang lama, Alvito pun berhenti di depan Indomaret yang lokasinya bersebelahan dengan Alfamaret. Entah bagaimana bisa kedua minimarket itu berdampingan, padahal jika dilihat dari namanya seperti pesaing. Namun siapa yang tahu jika pemilik saham keduanya mungkin bisa saja sama, sehingga tak mempermasalahkan lokasi usaha yang berdekatan. Oke, lupakan masalah dua tempat usaha itu, yang terpenting barang yang ingin dicari oleh Alvito setidaknya ada di salah satu minimarket tersebut yang buka selama dua puluh empat jam. "Kamu mau ikut masuk apa tunggu di sini?" tawar Alvito setelah membuka seatbelt. "Tunggu di sini aja deh," jawab Sachiko. "Jangan kabur, udah malem. Nanti kalau diculik terus dijual ke tempat prostitusi gimana?" Alvito mencoba menakut-nakuti. "Iya, udah sana," usir Sachiko seraya mengibaskan tangannya. Alvito pun turun, tak berselang lama masuk lagi ke dalam mobil dengan membawa kantung kresek berwarna putih dengan tulisan nama minimarket tempatnya belanja. Pria itu mengeluarkan satu botol air mineral dingin. "Ga' ada es batu, pakai ini aja. Sama aja dingin," ucapnya. Alvito pun meraih rahang Sachiko untuk diarahkan ke hadapannya. Mengompres pipi wanita itu kanan dan kiri semuanya secara bersamaan. "Biar aku aja." Sachiko ingin mengambil alih botol tersebut. Tapi Alvito sudah mendelik. "Udah deh, aku aja. Aku lagi coba merhatiin kamu, nih. Biar ga judes lagi," tegas Alvito membuat Sachiko mencebikkan bibir seperti mencibir dirinya. "Udah ih, lama-lama dingin tau," celetuk Sachiko setelah tiga menit pipinya dikompres. Alvito menurunkan botol tersebut, mengambil tisu kering dan mengelap wajah Sachiko agar tak basah. "Jangan marah-marah terus, tambah manis kalau kaya gitu," godanya. "Sejak kapan orang marah jadi manis? Ngawur banget. Kalau mau gombalin yang masuk akal dikit napa." Alvito terkekeh pelan. "Nanti aku tambah pengen deketin terus loh kalau kamu sinis kaya gitu," tuturnya seraya tangan membuka salep. Alvito mengoleskan krim tersebut ke pipi Sachiko dengan hati-hati. Dan memberikan sisanya kepada wanita itu. "Nih buat ngeredain memarnya biar ga' ditanyain sama Mamamu." "Makasih." Sachiko pun menerima obat tersebut dan memasukkan ke dalam saku celananya. "Udah, anterin aku balik lagi ke Mie Gacoan," pintanya. "Motorku masih di sana, itu satu-satunya kendaraan mahal yang sekarang aku punya. Jangan sampai ilang." "Oke." Alvito melajukan mobilnya lagi menuju tempat kerja Sachiko. Keduanya sampai di tempat parkir Mie Gacoan. Dan di sana hanya tersisa motor Sachiko saja, Alvito menengadahkan tangan sebelum wanita itu turun. "Pinjem hapemu." Sachiko menatap tangan Alvito dengan kening yang mengernyit. "Buat apa?" "Minta nomernya." "Hapeku mati," kilah Sachiko hanya beralasan. Dia tak mau memberikan nomor ponselnya. Alvito mengeluarkan ponsel pintarnya dan menyodorkan pada Sachiko. “Yaudah, tulis nomormu di sini.” Sachiko hanya menatap benda itu. “Ga’ hafal,” kilahnya beralasan. Alvito pun mengambil selembar kertas bekas struk membeli air mineral dan salep. Menuliskan nomor ponselnya di sana. "Ini nomorku, kalau hapemu udah hidup lagi, hubungi aku." Sachiko mengambil kertas tersebut dengan tak bersemangat. "Ga' janji," ujarnya seraya turun, lalu menutup pintu. Sebelum mendekati motornya, Sachiko melihat tulisan angka itu. Dia menyobek hingga kertas tak berbentuk dan membuang secara asal. Belum tertarik untuk dekat atau memberikan nomornya dengan seorang pria. Tapi entah suatu saat nanti, namanya manusia pasti bisa berubah. Dan malam ini Sachiko pulang dengan dikawal oleh Alvito lagi seperti kemarin. "Keras kepala benget sih itu orang," gerutu Sachiko saat melihat pantulan mobil pria itu dari spion.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN