"Dokter Raihan nggak apa-apa?" Suara perawat pendamping menyadarkan Raihan setelah ia merasakan sesuatu yang aneh di tengkuknya yang tiba-tiba meremang. Jantungnya juga berdetak lebih kencang dari sebelumnya, padahal selama proses operasi, belum pernah ia merasakan hal seperti ini. Untunglah, Raihan sudah menyelesaikan tugasnya, dan hendak keluar keluar dari kamar OK, ketika ia menyaksikan beberapa perawat hilir mudik membawa brankar. "Nggak apa-apa, San. Makasih." Balasnya pelan. Saat berjalan menuju ruang ganti, ia melihat beberapa perawat memandang ke arah LCD di ruang tunggu dekat kamar operasi, dengan pandangan wajah cukup khawatir, sehingga Raihan menjadi penasaran lalu ikut mendongak ke arah televisi layar datar yang terpasang cukup tinggi dari jarak pandangnya. Wajah Bhumi, man

