6. Luka dan Rindu

1142 Kata
Sudah seharian ini kantor mendadak suram. Dan Dion yang baru saja sampai langsung mendapatkan aduan dari beberapa karyawan jika bos mereka terlihat sangat menakutkan. Tentu saja kabar ini membuat Dion bertanya. Pria itu langsung melangkah menuju ruangan Dirga. Baru saja ia membuka pintu, tatapan Dirga seketika membuatnya merinding. "Waaah, ada apa ini? kau kalah tender lagi?" tanyanya sembari berjalan mendekat pada sahabatnya itu. "Ck! Aku sedang malas bercanda." "Hah? aku tak mengajakmu bercanda. Kau tahu? saat aku baru sampai, karyawanmu mengadu padaku dan mengatakan kalau auramu gelap sejak pagi. Kau kenapa? Apa terjadi sesuatu saat aku meninjau proyek di Bandung?" Dion menatap Dirga. Ia menanti jawaban dari sahabatnya tersebut. Dirga menghela napas berat. "pagi ini Kania datang ke apartemen." ucapnya yang tentu saja langsung membuat Dion terkejut. "Kau serius?" "Apa di wajahku tertulis kata bercanda?" Dion masih terkejut, "Bukan itu maksudku, tapi, Kania? Kau serius Kania ke apartemen mu?" "Aku tak ingin bercanda kali ini Dion. Kau bisa tanya pada ibuku Jika kau tak percaya kehadiran gadis itu di apartemenku tadi pagi." Dion tersenyum usil. Jika Dirga sudah bawa-bawa ibu, itu artinya ini adalah info yang valid. "Ngapain senyum senyum gitu?" ucap Dirga sewot membuat tawa Dion kini terdengar renyah. "Jangan bilang tadi di apartemen, ada Tante juga?" Dirga tak menjawab. Ia malah menatap tajam Dion. "Ini juga salahmu. Kalau bukan karena kau yang memberi info pada ibuku, beliau tak akan seperti ini." "Hehehe. Itu juga demi kedamaian tidur malamku Dirga. Kau tahu? ibumu tak pernah berhenti menghubungiku hanya untuk mencari info perihal perempuan mana yang saat ini dekat denganmu. Ibumu tak ingin predikat gay itu tersemat di pundakmu." Dirga berdecak, "Gay dari mana sih? aku tak punya pacar bukan berarti aku pecinta sesama jenis." "Itu menurutmu. tidak bagi ibumu yang begitu khawatir saat berita miring itu menyebar ke permukaan publik." Dirga berdecak kesal. Ia merasa ibunya benar-benar sudah kelewatan. "Tapi sebanyak ini perempuan, kenapa harus dia sih?" Dion mengangkat bahunya, "Awalnya aku tak ingin merekomendasikan Kania. Tapi ibumu selalu memaksaku untuk bertanya apakah ada perempuan yang dekat denganmu atau yang pernah dekat denganmu walaupun dari masa lalu." Dirga masih fokus mendengarkan. "Dan beberapa hari yang lalu, aku bertemu Kania di sebuah minimarket. Saat itu juga otakku langsung berpikir cerdas. Aku menyapanya dan meminta nomornya lalu memberikannya pada ibumu. Dan selebihnya aku sudah tak tahu lagi." Ucap Dion dengan santainya. Sungguh, Dirga sangat ingin melempar Dion saat ini ke lantai dasar. "Aku sangat ingin mengirim mu ke Antartika." ucap Dirga kesal. Pria itu berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangan tanpa mempedulikan teriakan Dion yang memanggilnya. Berada terlalu lama di kantor, justru akan membuatnya semakin sakit kepala. Dirga menghentikan langkahnya di meja sekretaris. wanita itu sedang sibuk mengaplikasikan lipstik ke bibirnya tanpa menyadari jika bosnya sudah berdiri di sampingnya. Dirga mengetuk meja dua kali. "Risa," panggilnya. wanita bernama Risa itu terkejut. Bahkan lipstik yang harusnya teroles rapi, justru bergaris sampai pipi seiring ia melirik ke arah bosnya. Risa membola. Ia langsung melempar lipstiknya ke atas meja dan spontan berdiri. "Eh, pak bos. Ini pak," "Kosongkan jadwal saya hari ini. Rapat nanti sore, ganti jam 10 besok." Risa mengangguk cepat. Dirga kembali melangkah namun terhenti setelah dua langkah. Ia kembali melirik Risa, "Make up mu bagus." ucapnya sebelum benar-benar keluar dari ruangan. Risa langsung mencari kaca setelah Dirga keluar. "Haaaaaa! Ya Tuhan, kok kayak badut gini." rungutnya. Ia meraih tisu dan baru saja ia hendak menghapus, Dion keluar dari ruangan Dirga. Pria itu nyaris tertawa, "Waw, riasan terbaru 2026 kah?" Risa menatap Dion sewot, "Bukan urusanmu. pergi sana!!" Risa kembali melanjutkan menghapus goresan lipstik di pipinya. Dion melangkah mendekat, "Dirga pesan apa tadi?" "Kosongkan jadwal." jawab Risa singkat. Dion mengangguk. Pria itu kembali melirik Risa, membuat Risa berdecak kesal, "Kamu bisa pergi nggak sih! Bikin mata sakit aja tahu nggak!" "Dih, sewot banget sih. Lagi datang bulan ya?" "Terserah aku. Mau datang bulan kek, Mau darah tinggi kek, tensi tinggi kek, terserah aku! Pergi nggak!!" Dion tersenyum gemas melihat Risa. "Jangan galak-galak sayang.." "Sayang p****t monyet. Pergi sana!!" Tawa Dion pecah seketika. Ia mencolek dagu Risa sebelum keluar. Aksi sekilas Dion semakin membuat Risa mengamuk. Dion benar-benar membuatnya naik darah. ***** keluar dari kantor, Dirga berhenti di sebuah cafe. menikmati secangkir cappucino latte kesukaannya. Bahkan sehancur apapun mood-nya, segelas cappucino latte bisa mengembalikan mood itu kembali menjadi lebih segar. Setelah ia memesan minuman dan beberapa cemilan, Dirga mencari tempat duduk bagian sudut yang sedikit tersembunyi. Sembari menunggu, Ia memilih untuk memantau perkembangan pasar saham dunia. Hal biasa yang selalu ia lakukan ketika sedang duduk-duduk santai atau sedang menunggu seperti ini. Sesekali Dirga melirik ke sekelilingnya. Tak ada yang spesial dari pandangannya sampai akhirnya tatapan itu tertuju pada satu titik. Kania. Ia melihat Kania sedang duduk di halte dekat cafe sendirian. Gadis itu sedang sibuk dengan ponselnya. Dirga nampak fokus menatap ke arah gadis tersebut sampai ponsel ditangannya tiba-tiba berdenting. Ia seketika mengalihkan pandangannya. Dirga melirik Kania dan ponselnya secara bergantian. Pesan masuk tersebut ternyata dari Kania. Dirga membacanya. Sepinyaaaa Itulah bunyi pesan yang tertera. Tak lama ponselnya kembali berdering. Aku lapar Dirga. Kamu dimana? Apa masih di kantor? Karena kamu bos nya, kamu pasti bisa keluar dengan bebas bukan? Aku sedang di halte dekat Cafe Tristan. Temani aku makan. Dirga hanya melihatnya saja tanpa berniat membalas. Ia kembali memperhatikan Kania. Gadis itu terlihat sewot. Bahkan Dirga bisa melihat dengan jelas betapa kesalnya Kania saat ini. Gadis itu bahkan mengamuk pada ponsel yang kini Kania genggam. "Gadis aneh." ucapnya. Dirga meletakkan ponselnya saat pesanan yang ia pesan datang. Dirga mengambil satu Berger lalu menggigitnya. Ia kembali melirik ke arah Kania, namun ia tersedak. Gadis itu kini menunjuk ke arahnya. "Sial!" umpat Dirga. Ia mengambil buku menu dan langsung menutup wajahnya. Entah yang keberapa kali ia mengumpat dan tatapannya seketika tajam saat Kania muncul di hadapannya. "Hai ganteng." sapanya. Rasa muak terlihat begitu jelas di wajah Dirga. "Aku boleh duduk sini?" "Terserah!" Dirga mengambil minuman dan makanan yang ia pesan lalu berdiri. Ia hendak pergi tapi Kania menahannya. "Mau kemana?" "Kamu bilang mau duduk di sini kan? silahkan." "Tapi aku maunya sama kamu." Dirga tak menjawab. Ia mencoba beranjak namun lagi-lagi Kania tak memberinya izin. "Aku nggak bisa makan sendiri." "lebai." "Aku serius Dirga. Aku," "Bisa diam nggak? kamu pikir, dengan kamu akrab sama ibuku, kamu bisa leluasa denganku? jangan harap!!" Kania terdiam. Ia sudah tak tahu harus berkata apa lagi. Kesalahannya memang sangat fatal. Dirga berhak untuk tidak memberi maaf padanya, tapi ia tak ingin kehilangan Dirga lagi. "Maaf." satu kata itu lolos dari mulut Kania. "Maaf karena aku," "Cantik banget gilaaaa..." "Siapa yang beruntung dapatin Liona ya?" "Seksi banget dia Weh!" Baik Kania maupun Dirga sama-sama menatap pada layar televisi yang sedang menampilkan berita tentang Liona, Artis sekaligus model ternama keturunan Indonesia yang kini menjajakan karirnya di negeri Jiran Malaysia. Namun ada satu hal yang berbeda. Tatapan keduanya berbeda. Luka dan Rindu. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN