5. Aku Tak Akan Menyerah

1148 Kata
Kania terdiam mendengar kalimat yang keluar dari mulut Dirga. Ia masih mencerna isi kalimat tersebut sampai akhirnya ia tersenyum. Ia menatap Dirga dengan tatapan kosong, "Hanya karena aku ingin mendekatimu, aku harus membayar konsekuensi dengan menghilang dari dunia ini." ucapnya sembari terus menatap Dirga dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan. Ia menatap Ratna sekilas dan kembali menatap Dirga, "Kenapa semua orang sangat ingin melenyapkanku dari sini." lanjutnya. Dirga menautkan alisnya mendengar kalimat terakhir Kania. Namun dia mencoba untuk tidak memperdulikan itu. "Jangan pernah mengiba padaku Kania. Karena kau tak akan pernah mendapatkan belas kasihan dariku. Kau pikir aku manusia yang bisa memberi ampun hanya dengan menatap wajah kasihanmu itu. Kenapa? Kau terkejut melihatku? Kau yang membuatku seperti ini." Ratna menatap pertengkaran anaknya dengan Kania. Sungguh, ini diluar prediksinya sendiri. Ia yang meminta Kania untuk datang pagi-pagi sekali ke apartemen Dirga, namun ia tak menyangka bisa berakhir seperti ini. Ratna mendekati anaknya. "Dirga, kamu nggak boleh begitu sama tamu." "Tamu? ibu bilang tamu? Dirga nggak ngundang dia ke sini!" "Tapi dia tamunya ibu." "Ya udah di rumah utama aja dia datangnya, kenapa ke sini?" "DIRGA!!" Suasana seketika menegang. Kania menatap ibu dan anak tersebut. Ia memejamkan matanya cukup kuat sebelum ia buka kembali. Ia menatap Dirga. Tatapan itu sangat dalam. "Apa lihat-lihat??" Kania menekan pipi dalamnya dengan ujung lidah. Tatapan matanya terlihat ingin menggoda Dirga. Bukannya takut melihat amarah pria tersebut, Kania justru ingin semakin terus menggodanya. Baginya saat ini, sudah cukup ia dipaksa pergi dari orang-orang yang ingin selalu ia bersamai. Sekarang Dirga sudah di depan matanya lagi, dan ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan padanya. Kania menatap Ratna sekilas lalu mengalihkan tatapannya pada Dirga kembali. Ia tersenyum usil lalu detik berikutnya ia merangkul pundak Dirga membuat pria itu terkejut. "Pak Dirga jangan marah-marah, nanti gantengnya hilang lho." ucapnya dengan godaan. Dirga membola, begitu juga Ratna. Namun saat Ratna tertawa, Dirga justru mendorong Kania. "Apaan sih!" "Ck! Jangan di dorong!.." Ia merangkul lengan Dirga. "Lepasin!! Apaan sih!!" "Nggak mau. Aku bawa makanan buat kamu, jadi harus di makan!!" "Lepas!!" Dirga benar-benar mencoba melepaskan Kania dari tubuhnya. "Nggak mau! ikut aku." Gadis itu menarik Dirga cukup susah. "Tante, cobain nasi goreng Kania ya.." ucapnya juga pada ibunya Dirga. Tentu saja Ratna menerimanya dengan senang hati. "Jangan mau Bu. makanannya diracun sama dia!" "Iya! Racun cinta! Biar kamu klepek-klepek sama aku!" Dirga menatap Kania horor, "Gila ni perempuan." umpatnya. Kania yang dikatai gila hanya tersenyum. Ia menarik satu kursi dan memaksa Dirga untuk duduk di sana. "Makan dulu!" ucapnya pada Dirga. Dirga tersenyum sinis, "Aku nggak lapar!!" Baru juga ia mengatakan tidak lapar namun perutnya seketika mengkhianatinya. Ratna dan Kania tersenyum menatap Dirga. "Makanya sayang, kalau lapar jangan gengsi. udah ih! mumpung Kania bikinin makanan, dimakan aja dulu." ucap Ratna. Dirga ingin membalas lagi namun Kania langsung menghentikannya. "Sudah. aku nggak larang kamu buat ke kantor. Tapi makan dulu!! "Nggak mau!!" "Ih! kok bandel banget sih! kamu tahu nggak gimana aku effort nya. Subuh subuh aku udah ke pasar buat beli semua bahannya. setidaknya hargai." Dirga tersenyum sinis. Ia menatap Kania, "Nggak ada yang nyuruh." Kania menatap kesal. Ia mengatupkan bibirnya muak. "Kamu beruntung ada ibu kamu di sini! Kalau nggak, udah aku cium kamu Dirga." ucapnya pelan memastikan hanya bisa didengar Dirga saja. "Hah! Kau mengancam ku?" "Nggak. Aku serius." "Apa kau perempuan murahan?" deg! Kania sempat terdiam sebentar. Namun ia memilih tersenyum dan mencebik tipis, "Kalau kamu maunya aku begitu, aku bisa wujudkan." balasnya. Dirga sungguh dibuat tak berkutik. "Dasar gadis gila!" umpatnya. Ia mengalihkan pandangannya dari Kania. memilih menatap piring kosong di depannya. Respon Dirga semakin membuat Kania gemas. Ia tersenyum geli melihat reaksi Dirga. Ratna sendiri tersenyum lucu melihat anaknya yang mendadak tak berkutik di hadapan Kania. Sepertinya keputusannya untuk meminta bantuan Dion menarik Kania kembali adalah hal yang tepat. Walaupun ia yakin jalannya tidak akan mulus seperti apa yang Dion katakan, namun ia percaya suatu saat nanti Dirga dan Kania bisa saling bersama. Ratna menatap anaknya, "Ya sudah ayo, makan dulu. Makin kalian bertengkar, mataharinya makin naik tuh, dan kamu makin telat ke kantornya Dirga. Tinggal mangap aja susah banget sih." Dirga semakin dibuat menganga. "Waah, kalian berdua sungguh luar biasa." Kania dan Ratna saling tatap. Keduanya tersenyum menang. Ratna memberikan kode pada Kania untuk mengambilkan Dirga makanan. Kania yang baru tersadar langsung melirik ke arah Dirga yang ternyata saat itu sedang menyendok nasi ke dalam piring. Spontan saja Kania langsung merebut sendok tersebut, "Biar aku aja.." ucapnya. Kali ini, Dirga tak melawan sama sekali. Ia akan membiarkan semuanya berlalu dan tak benar-benar ingin merusak moodnya. pasalnya Ia ada rapat pagi ini, jangan sampai moodnya yang buruk menghancurkan persentasi yang akan ia sampaikan nanti. __ Dirga sudah berangkat ke kantor sejak lima menit yang lalu. sementara Kania masih berada di apartemen Dirga bersama Ratna. Setelah membereskan semua peralatan makan yang tadi terpakai, kini Kania dan Ratna sedang duduk di ruang TV apartemen tersebut. "Tante," panggilnya. "Sebelum kamu bicara, Tante yang bicara dulu ya." Kania mengangguk. "Dulu, Tante ingat betul bagaimana hancurnya Dirga saat kembali ke Indonesia dan mengatakan jika timnya di diskualifikasi dari Olimpiade." Kania tertunduk seketika. Namun ia tak mau memotong ucapan Ratna. Ia hanya diam. "Olimpiade yang ia ikuti saat itu, adalah hasil kesepakatan bersama ayahnya. Dirga sangat suka berenang. Dia bahkan bercita-cita sebagai atlet renang. Namun tak pernah mendapatkan izin dari ayahnya." tatapan mata Ratna seolah menerawang jauh, "Suatu hari, ayahnya menyerahkan selembaran olimpiade itu padanya dan membuat sebuah perjanjian. Jika Dirga berhasil mengambil juara 1 dalam olimpiade tersebut, dia akan diizinkan berenang dan tidak akan dilibatkan dalam pengembangan perusahaan. Dia akan benar-benar menjadi atlet dan didukung penuh oleh ayahnya. Tapi ternyata kejadian itu benar-benar merusak semuanya. Ia kehilangan impiannya, kehilangan cita-citanya. Ia harus mengubur dalam-dalam perihal tentang berenang dan kolam renang saat itu juga." Kania semakin tertunduk. Sekarang ia paham kenapa Dirga begitu marah padanya. "Maaf." ucap Kania semakin tertunduk dalam. Ratna menggeleng, "Kamu nggak perlu minta maaf sayang. Mungkin ini juga jadi takdir dari Tuhan. Karena setelah olimpiade tersebut, Dirga mulai mempelajari hal mengenai perusahaan. Dan satu tahun setelahnya, di saat Dirga sudah matang dengan perusahaan, Ayahnya meninggal." Kania mengangkat kepalanya menatap Ratna yang terlihat sedih. Tetap ia belum bisa berucap. Lidahnya kelu. "Karena itu Tante bilang sama kamu, jangan merasa bersalah. Bayangkan jika saat itu Dirga menang olimpiade, Perusahaan ayah Dirga sudah pasti akan jatuh ke tangan keluarga yang lain. Karena memang itu bentuk perjanjian Dirga dengan ayahnya. Jika Dirga menang, ayahnya tak akan melibatkan perusahaan pada Dirga bagaimana pun kondisi perusahaan saat itu." Ratna meraih jemari Kania dan menggenggamnya lembut, "Jangan menyerah ya. Tante milih kamu juga bukan tanpa sebab. Memang jalannya akan sulit. Karena Dirga bukan tipe yang mudah memaafkan jika sudah kecewa. Tapi Tante yakin kamu bisa." Kania terdiam. Ia menatap tatapan serius dari Ratna. Kania mengangguk. Seutas senyum terbit dari bibirnya. "Kania nggak bakalan nyerah, Tante. Kesempatan ini nggak akan Kania sia-siakan." *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN