4. Jangan Sok Kenal

1035 Kata
Malam sudah cukup larut, namun Dirga tak benar-benar bisa untuk tertidur. Pikirannya berkelana pada pesan milik Kania tadi. Namun walaupun begitu, ia juga tak tertarik untuk keluar malam-malam begini hanya demi sebuah pesan singkat. Dirga masih belum bisa menerima kemunculan Kinan kembali dalam hidupnya. walaupun kemunculan Kinan ada hubungannya dengan ibunya sendiri. namun ia benar-benar tak tertarik untuk sekedar haha hihi kembali dengan gadis tersebut. Dirga mematikan ponselnya dan kali ini, pria itu benar-benar memutuskan untuk tidur tanpa memikirkan hal yang lain. Di waktu yang sama dengan tempat yang berbeda, Kinan masih setia menunggu kehadiran Dirga. ia yakin Dirga akan datang menemuinya dan mereka akan makan bersama. sebenarnya ia sudah merasakan lapar sejak tadi. Tapi semenjak kemarin ia bertemu lagi dengan Dirga, ia benar-benar tak ingin sendiri lagi seperti dulu. Walaupun Dirga benar-benar akan sulit untuk memaafkan apa yang ia lakukan di masa lalu, namun ia yakin Dirga tak akan setega itu melihatnya kelaparan. Kinan melirik jam di ponselnya. untuk beberapa detik ia merasa tak ada harapan, karena jam juga sudah menunjukkan pukul 11.30 malam. sudah melewati beberapa jam setelah ia menghubungi Dirga tadi. Kinan mencoba menghubungi Dirga, namun faktanya ponsel pria itu tak berdering sama sekali. Entah rasanya seperti apa, ia benar-benar kesulitan untuk menggambarkan perasaanya saat ini. Ia menatap kosong ke depan. Tak banyak yang berlalu lalang lagi. "Mungkin memang tak akan datang." bisiknya. Kinan berdiri dari duduknya dan melangkah lesu menuju kontrakan kecilnya. Nafsu makannya sudah lenyap seiring tak munculnya Dirga. Namun dibalik itu, ia cukup kesal juga dengan pria tersebut. tak ada sedikit pun rasa kasihan. padahal dirinya sudah mengiba dan minta ditemani makan. Ia mem-pout kan bibirnya kesal. "Lihat saja, aku akan bikin kamu dekat lagi sama aku Dirga." Kania melayangkan kepalan ke udara pertanda memberi semangat untuk dirinya sendiri. Kali ini tak apa. ia kecewa namun tidak untuk berikutnya. __ Pagi sudah menyapa. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi dan aktivitas sudah dimulai sejak subuh tadi. seperti kebanyakan orang Indonesia, saat subuh sudah mulai beraktivitas, seperti itulah Kania saat ini. Pagi-pagi sekali ia sudah tiba di pasar tradisional untuk membeli beberapa bahan masakan yang akan ia masak pagi ini. Ia ingin datang ke apartemen Dirga. Tentu saja sudah lewat izin ibunya Dirga. karena menurut info dari ibunya Dirga, pria itu tidur di apartemen. Ia juga sudah mendapatkan alamat apartemen Dirga dari Tante Ratna. Ia kembali berkeliling dan menemukan satu persatu apa yang ia cari. Menurut info, Dirga sangat menyukai nasi goreng udang pedas dengan telur ceplok setengah matang. Untung dirinya dulu pernah bekerja di warung makan yang menjual aneka sarapan, jadi lebih sedikitnya, ia mengerti cara memasak menu yang satu itu. Setelah semuanya ia dapatkan, Kania langsung memutuskan untuk pulang. Terlalu lama di pasar akan membuatnya membuang waktu saja. Ia segera memesan taksi online. Ia sangat tak sabar untuk bertemu Dirga dan menyerahkan masakannya pada Dirga. satu jam sudah berlalu. mentari pagi tak terlalu terang karena mendung juga menyapa. Dirga yang masih terlelap harus menerima kenyataan jika pagi indahnya diganggu dengan kehadiran ibunya. Ia memang memberi akses masuk untuk ibunya, jadi ibu negara itu tak perlu menggedor atau menekan bel untuk masuk. "Bangun Dirga!" ucap Ratna sambil menyibak selimut tebal yang Dirga pakai. "Mmmm, masih pagi Bu.." rengeknya. "Justru karena masih pagi kamu harus bangun cepat. Ayok buruan bangun Dirga!!" Dirga benar-benar merengek pada ibunya untuk membiarkannya tidur lebih lama. "Lima belas menit lagi.." bujuk Dirga namun Ratna tetap tak mengizinkan. Alhasil mau tidak mau, Dirga memaksa dirinya untuk bangun dan bersih-bersih. sementara wanita itu pergi menyiapkan pakaian sang anak. Setelah selesai, Ia keluar kamar dan mendapati ibunya sedang sibuk di dapur. Baru juga ia ingin menyapa, namun suara bel pintu menghentikan niatnya. Dirga melirik ibunya. "Biar ibu yang buka." Dirga mengangguk. Ia melangkah menuju dapur dan mengambil segelas air hangat yang tadi ibunya siapkan. Baru ia meminumnya beberapa teguk, suara bel apartemen berbunyi. Dirga melirik sebentar. Ia melihat ibunya melangkah menuju pintu masuk. Dirga melanjutkan minumnya, namun baru satu teguk, ia dibuat tersedak saat ibunya tiba-tiba bersorak memanggil nama Kania. "Oh sayaaang, Tante kangen." ucap Ratna lalu memeluk Kania erat. Dirga masih belum lepas dari keterkejutannya. Keberadaan Kania di apartemennya terasa cukup janggal. "Ayo masuk sayang." Lanjut Ratna sembari menarik pelan Kania masuk ke dalam. Dirga menatap tajam. Ia meletakan gelas minumnya dan langsung bergerak mendekati ibunya. "Siapa yang suruh dia kesini?" tanya Dirga tajam. Kania mencoba untuk bersikap santai. Ia tersenyum lalu mengangkat kotak bekal yang ia bawa, "Aku bawa sarapan buat kamu." ucapnya. "Aku nggak minta." "Dirga! tamu jangan diperlakukan begitu." tegur Ratna. "Siapa yang tamu? Aku justru berharap tak ada tamu seperti dia Bu." "Dirga.". Ratna menatap anaknya tajam. ia lalu menatap Kania dan seketika raut wajahnya berubah menjadi lembut. "Ayo nak, masuk dulu!" "Nggak ada yang ngizinin dia masuk!" "Kenapa? kamu nggak suka? ya sudah, kamu saja yang pergi." ucap Ratna membuat Dirga menganga tak percaya. Ibunya tega mengusirnya di apartemennya sendiri. Dan penyebabnya adalah gadis sialan yang sudah merusak mimpinya. Waahh! sungguh sangat luar biasa. Dirga memejamkan matanya penuh marah. Kesabarannya habis. Ia tak akan mentoleransi keberadaan Kania di apartemennya. Sampai kapanpun tak akan bisa ia terima. Dirga berjalan cepat dan menarik Kania dari ibunya, "Kau keluar dari sini!" "Dirga!" "Keluar!!! Jangan mentang-mentang ibuku menyukaimu, kau menjadi perempuan yang sok paham aku, Kania! Kita nggak kenal sama sekali, jadi jangan sok mengenaliku." "Dirga, kamu apa-apaan sih!" "Benar kan Bu? dia sok kenal sama Dirga. dia lupa kegilaan dia dulu yang bikin banyak mimpi hancur dalam waktu yang bersamaan. Setelah itu apa? dia menghilang?" Dirga menatap tajam pada Kania, "Kau menghilang? Kau pikir kau sudah menang karena menghancurkan mimpiku dan mimpi teman-teman lainnya? Kau tak lebih buruk dari penghancur masa depan, Kania!! Sekarang kau muncul lagi dengan rasa tak bersalahmu itu?" Kania menggenggam erat tas bekal yang ia bawa. Ia sangat ingin menjelaskan semuanya pada Dirga. tentang bagaimana dirinya setelah olimpiade tersebut. Namun ia tak mau membuat semua semakin runyam. Lagipula ia tak yakin ada yang peduli dengan kondisinya, sekalipun Dirga sendiri. Tapi ia sudah tak mau lagi kehilangan Dirga. Bisa bertemu Dirga membuat hatinya sedikit membaik. Ia tak mau kehilangan obatnya lagi. Kania memperpendek jaraknya dengan Dirga, "Dirga, aku..." "Kalau kau berani muncul lagi di hadapanku, kupastikan kau hanya tinggal nama!!" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN