Rahel mengendarai motornya menuju rumah sakit, ia sangat bersemangat saat ini. Karena sudah lama sekali ia menginginkan kesembuhan ibunya. Raut wajahnya penuh kegembiraan, matanya berbinar seakan-akan ia sedang jatuh cinta. Namun, sesuatu hal menghentikan laju motor Rahel secara cepat. Pandangan Rahel terpaku pada satu pemandangan, matanya tak berkedip sedikitpun genangan air sudah mengumpul banyak dimata indahnya. Wajah Rahel memerah marah, ia ingin meluapkan namun takkan bisa. Matanya tertuju pada dua orang remaja yang sedang duduk santai di kursi taman, si pria memainkan sebuah gitar dengan asik dan si gadis tersenyum-senyum malu menatapi pria itu. “Tuhan? Apa ini? Baru saja aku ingin mempercayai seorang lelaki, tapi mengapa?” Rahel terpaku, matanya semakin berkaca-kaca. Sesak di da

