4

942 Kata
EPISODE 4   Jalan-Jalan Ketiga sahabat baru darel mengajak darel untuk keluar rumah malam ini, mereka hendak mengajak darel untuk bisa menghibur diri tidak untuk didalam rumah saja. Mereka berada di bar, memesan minuman yang tak beralkohol karena mereka sangat pandai menjaga kestabilan tubuh. "Kalian tak minum?" Ujar darel menatapi mereka Mereka saling menatap "Tentu tidak" jawab niko cepat "Niko memang tidak, tapi aku dan jee kadang-kadang minum" tambah martin "Hmm" gerutu darel Martin berdiri nampak melihat seorang gadis sexy berdiri di seberang sana "Kirana?" Desisnya lalu langsung berjalan kearahnya "Itu pacar martin" tambah niko sambil menatapi darel serius, darel tak berkomentar apa-apa. "Selera jee dan martin itu memang cewe-cewe sexy. Tapi entah kenapa aku tak tertarik, kau?" Darel nampak berfikir "Selera ku hanya ada pada satu wanita" Jee dan niko sontak kaget "Siapa?" Ujarnya berbarengan Darel tersenyum "Dia masa lalu ku, rahel. Teman saat kecilku, kami belum pernah bertemu lagi" Jee mengangkat alisnya bingung "Hah? Artinya kau menunggu dia? Kenapa? Padahal kau itu pria populer, banyak wanita yang ingin menjadi pacar mu. Kenapa kau yakin sekali dia akan kembali?" Celoteh jee Darel tersenyum "Itu hanya feeling" Niko tersenyum lebar "Wahh! Hebat kau ini. Kau memang pantas menjadi CEO masa depan, dengan sikapmu yang optimis dan tak mudah menyerah. Pasti keterusan Grup ErikLusi akan lebih baik" "Tak seperti jee dan martin" tambahnya lagi Jee mendengarnya "Hah, kau ini memang suka menilai ku dan martin!" Kesalnya Martin datang dan membawa pacarnya "Darel, kenalkan dia pacarku kirana. Kirana kenalkan dia sahabat baruku, Darel" Darel tersenyum, lengan kirana mengarah pada darel hendak memberi salam namun darel hanya diam. "Senang berkenalan denganmu" jawabnya Lengan kirana kembali memegang martin. "Aku ke sana dulu" ujar martin sambil mengajak kirana Jee tersenyum "Hah kencan lagi" gumamnya "Memangnya pacarmu kemana?" Tanya niko "Dia sedang keluar kota" "Kenapa?" "Holiday lah" Niko menggelengkan kepalanya "Kenapa?" Aneh jee "Itu hanya menghambur-hamburkan uang saja tau! Ajari pacar mu itu" Jee menoleh ke niko "Baiklah ayah" Niko tersentak "Hah? Kenapa kau memanggilku ayah?" "Karena kau tak jauh berbeda dengannya! Kolot" ucapnya sambil tersenyum "Kurang ajar" ketus niko marah sambil menggelitik tubuh jee Jee tertawa "Nik, stop! Kenapa sih setiap kau marah pasti menggelitik? Seperti perempuan saja" kekeuh jee Niko semakin marah kemudian menarik telinga jee sampai memerah, darel hanya tersenyum melihat perlakuan mereka berdua. "Aww" "Aku sudah merasa sangat dekat dengan mu dan martin, makannya aku ingin yang terbaik buat kalian!" Jee membalikan wajahnya "Ah syudahlah" "Dan darel itu teman baru kita, seharusnya kita memberi contoh yang baik pada nya" Jee tersenyum lalu membungkukan badannya pada niko "Baik ayah, sebaiknya ayah segera menikah lagi agar ayah tidak depresi" "Kurang ajar!" Tegas niko Darel semakin tersenyum melihat perlakuan bodoh mereka, Niko yang kolot, Jee dan martin yang bodoh, tapi mereka bertiga sangat tampan sama seperti darel. Niko Kassano bertubuh tinggi eksotis, berambut hitam pekat, dan berhidung mancung meski dia sipit. Banyak yang menyukainya, hanya saja dia pria berpendidikan dan selalu memikirkan masa depan. Martin Ardana bertubuh manly, putih, berambut pirang dan rapi, matanya yang belo, dan hidung yang mancung. Membuat semua orang wanita selalu mendekatinya, apalagi dia anak orang kaya wanita semakin menempel padanya, tapi sayang dia playboy. Jee Brian Jaya bertubuh putih, berambut hitam pekat sama seperti Niko, hidung mancung dan mata sedang, dia pria manis dan banyak memikat wanita karena pesonanya. 21.00 "Ah disini semakin bosan, martin kemana sih?" Ujar jee Niko dan darel hanya diam menikmati kopi panas yang dipesannya. Martin datang sendirian "Hey mana pacarmu?" Tanya jee "Dia sedang diluar, ada balapan!" Tambahnya membuat jee langsung berdiri dan bersemangat. "Ayo kita lihat" ujar nya semangat, niko dan darel tak peduli mereka tampak diam dan pura-pura tak mendengar apapun. "Ayolah darel, nik!" Ajak martin Jee nampak berfikir, dan lalu membisikan sesuatu pada martin. Setelahnya mereka berdua menggusur paksa darel dan niko, martin membawa niko, dan jee membawa darel. "Yaampun kalian apa-apaan" teriak niko "Kalian benar-benar gila" tambah darel "Aku bisa jalan sendiri!" Tegas darel dan niko bersamaan, jee dan martin melepaskan keduanya mereka lalu tersenyum bangga. "Ide kita berhasil" semangatnya Mereka berempat berjalan santai dengan pesonanya yang benar-benar membuat semua orang terpana. "Bukannya mereka penerus grup ErikLusi?" "Yaampun apa benar ini mereka?" "Ternyata mereka benar-benar tampan" "Andai saja aku diterima di Universitas KL yang terkenal itu" "Aduh hati ku meleleh" Begitulah teriakan-teriakan dari mereka yang menatapi darel dan kawan-kawan dengan terpana. Darel dan ketiga kawannya berada di baris paling depan untuk menyaksikan balapan, mereka duduk di depan mobil lamborghini merah milik darel. Membuat semua wanita semakin berteriak histeris memandangi keempatnya, Darel yang tampan, Niko yang sexy, Martin yang kekinian, dan Jee yang manis. Tak lama beberapa motor besar berjajar di seberang sana, bersamaan dengan kirana yang datang dan duduk disamping martin, martin merangkulnya. Darel dan Niko nampak biasa saja, mereka tak berkutik sama sekali. Namun saat motor sport merah yang dibawa oleh seorang perempuan lalu menjajar diantara barisan pembalap pria membuat darel nampak berfikir. Darel mengerutkan keningnya, ia mencoba menyadarkan diri apakah yang dilihat kali ini memang nyata? "Kenapa darel?" Ujar jee yang menatapk bingung darel Darel berdiri "Itu rahel" ia melangkahkan kakinya percaya diri, mereka semua menatapi darel. "Wanita pembalap itu pacar darel?" Tanya mereka Darel berjalan di tengah-tengah jalanan yang akan di lalui seluruh pembalap, otomatis kali ini ia diperhatikan oleh semua orang yang ada di sana. "Apa kita perlu mengikuti darel?" Tanya niko Namun langkah darel semakin percaya diri dan semakin mendekati gadis itu. Darel sekarang berada dihadapannya, ia perlahan membuka helm si gadis dengan lembut dan penuh perasaan, sontak semua orang yang berada di area ini tiba-tiba diam tak bersuara. Sekarang terbuka sudah helm itu, darel menatapi gadis itu kecewa, penampilannya yang berandalan dan hancur. Rahang darel mengeras "Rahel?" "Da-darel?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN