5

938 Kata
EPISODE 5   Pilu ku setelah menunggumu begitu lama terasa lebih bertambah menyakitkan saat kau bukan kau yang kukenal lagi. ***   Darel mencoba menahan emosinya yang meluap saat ia melihat kenyataan pahit didepannya ini, rahel begitu berbeda. Namun darel menguatkan tekadnya, ia memegangi lengan rahel penuh cinta dan menatapi nya serius. Sementara rahel terlihat mengelak dan melepaskan genggaman tangan darel membuat hati darel semakin teriris. Darel mengangkat alis nya "Rahel, its me" Rahel tak menatap darel ia masih mengelak "Aku tau" jawabnya cepat Darel berusaha menguatkan dirinya lagi, meski saat ini mereka menjadi tontonan malam. "Rahel, banyak yang ingin aku tanyakan! Ikut aku" ucap darel sambil memegangi tangan rahel dan menariknya Rahel murka, ia menatapi darel benci. "Untuk apa? Heuh? Kau bukan siapa-siapa ku! Semua lelaki didunia ini tak pernah mempunyai hubungan dengan ku sekalipun teman! Atau saudara! Faham?" Bentak rahel tepat di depan muka darel Darel menutup matanya, lagi-lagi ia tak menyangka akan disakiti bertubi-tubi oleh ucapan rahel. "Kau dengar? Rahel memang wanita menarik!" Bisik pria berbadan besar pada pria berjaket kulit bertulis HardRide. Pria yang dibisiki itu pun tersenyum sambil menatapi rahel dari kejauhan dengan penuh cinta "Aku semakin penasaran" Darel menatapi rahel dalam "Rahel? Apa ini kau?" Lirihnya lagi Rahel kembali mengelak "Untuk apa kau disini? Aku tak mengenalmu!" Tegasnya lagi, ia kemudian menaiki motor sportnya dan memakai helm. "Mulai pertandingannya!" Tegas rahel, membuat semua orang merinding karena siapa yang tak mengenal rahel? Dia ketua geng AngelRide sekumpulan wanita nakal yang suka balapan dan dunia malam. Banyak yang takut padanya karena sering kali kalah taruhan dalam balapan. Darel menatapi rahel tanpa berkedip yang kemudian pergi dengan motor sportnya dan memulai balapan. Darel pun pergi ke parkiran mobilnya lagi. Darel lagi-lagi tak percaya dengan kenyataannya, Niko, Martin, dan Jee mendekati darel. "Darel, kami baru satu hari mengenal mu. Tapi kami sudah sangat faham dengan mu" jelas Martin sambil memegangi bahu darel Jee menatapi darel dalam "Apa yang akan kau lakukan? Kau Darel Erik penerus Grup ErikLusi, apapun mau mu harus didapat!" Tegasnya lagi berusaha menguatkan Darel mengepalkan tangannya kuat. BUGH. tangan kekar putihnya mendarat tepat di body mobil sport miliknya. Niko dkk terlihat kaget. "Tenangkan dirimu" terus niko Darel menundukan kepalanya "Apa ini upah dari penantianku?" Lirihnya Rahel, hari ini pertama kalinya aku bisa melihatmu lagi. Tapi mengapa kau berbeda? Kenapa kau menyakiti? Sebelumnya aku sangat berharap lebih padamu. Tapi ingat bukan darel jika tak bisa berjuang! Martin dan Jee memegangi bahu darel. "Darel, berjuanglah! Kami siap membantu mu" Beberapa menit berlalu, beberapa pembalap kembali dan benar saja rahel yang pertama. Membuat Martin, Jee, Niko, dan terutama Darel tak menyangka. "Darel, aku pernah mendengar rumor tentang dia! Aku kira dia bukan rahel yang kau incar dari dulu" bisik Jee Darel hanya diam dan menatapi rahel tanpa bisa dideskripsikan. Darel melangkahkan kakinya mantap dan mendekati rahel. Ia menarik lengan rahel dan membawanya pergi dari kerumunan orang yang mengerumuninya. Tepat di belakang parkiran, rahel dibawa oleh darel. Darel mengahalangi langkah rahel agar ia tak bisa lari lagi. "Rahel, lihat aku! Mengapa? Ada apa dengan mu? Jelaskan!" Perintahnya Rahel tak menatap darel, ia mencoba memberontak dan kali ini menatapi darel benci. "Buat apa heuh?" Bentaknya "Sekalipun dulu kau adalah temanku, sekarang semuanya tidak ada hubungan lagi dengan ku, apa kau faham?" Tegas rahel di muka darel Rahel memberontak lagi semakin keras, justru pertahanan darel semakin kuat dan terus menatapi rahel penuh kasih sayang. Namun brukkk, tubuh darel tersungkur ke tanah saat sebuah lengan kekar mendorongnya dari belakang, rahel terkejut hati kecilnya merasa kasihan pada darel namun ia menepis nya jauh-jauh. Rahel menatapi pria di depannya kali ini murka "Apa lagi ini" tegasnya menatapi Jack si ketua HardRide. Jack tersenyum begitu manis, karena memang dia manis. "Kan sudah aku bilang aku menyukai mu sejak kau balapan" jack memegangi pipi rahel namun rahel mendorongnya jauh. "Dasar laki-laki, gue ingetin ya kalian berdua jangan pernah deketin gue lagi! Faham? Gak punya kerjaan!" Tegas rahel sambil pergi dari tempat itu. Darel menatapi Jack sinis, begitu juga dengan Jack. "Sekali lagi loe deketin rahel, mampus loe?" "Memangnya kau siapa dia?" Jack marah ia memegangi kerah beju darel dan menatapi nya "Gue suka sama rahel makannya jangan deketi rahel!" Tegas nya lagi "Kalau saya jodoh dia? Anda bisa apa?" Jawab darel mantap Jack semakin menatapi darel sinis "Loe itu banyak bacot ya! Dasar anjing lo" "Diam, mulutmu busuk!" Ucapnya sambil mendorong tubuh jack dan menjauh darinya. Darel pun pergi dan menuju parkiran. Terlihat martin, niko, dan jee yang sudah menunggu diluar mobil darel. "Bagaimana?" Tanya Martin Niko berdiri dihadapan Darel "Dia bagaimana?" Martin dan jee menatapi niko aneh "Sejak kapan kau peduli tentang asmara?" Niko menarik nafas dalam-dalam "Aku bukan peduli tentang asmara, tapi peduli sesama sahabat!" Darel hanya diam dan langsung memasuki mobilnya. Wajah jee nampak kaget. "Ini buruk" tegasnya dengan penuh tekanan Martin dan niko menatapi jee aneh "Apanya yang buruk?" Jawab martin dan niko bersamaan "Kalian tahu kalau orang pendiam sedang marah?" Martin dan niko menggeleng "Dia akan semakin diam!" Teriak jee Martin dan niko terlihat datar "Niko, sebaiknya aku sekarang berteman dengan mu saja!" Tambah martin "Martin sebaiknya kita masuk mobil, sebelum si pendiam semakin diam" celoteh niko lalu memasuki mobil dan duduk di depan bersama darel. Diikuti martin yang duduk di belakang. "Apa yang salah dengan ku?" Celoteh jee sambil menggaruk belakang kepalanya, ia lalu mengikuti teman-temannya dan memasuki mobil. Mereka semua menuju rumah darel, karena hari ini mereka bertiga akan menginap di rumah darel. Ruang kamar. Darel memainkan piano di dalam rumahnya, berbeda dengan martin, niko dan jee yang duduk di kursi kamar darel. "Aku khawatir padanya" tambah niko Martin dan jee nampak berfikir "Apa sebaiknya kita ikut bertindak?" "Setuju!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN