EPISODE 6
Saat ini kau menyakiti, tapi entah besok. Mungkin kau akan menyayangi.
***
Darel, Niko, Martin, dan Jee datang kekampus bersama. Lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian.
Darel yang memimpin dengan langkah yang mantap tubuhnya yang tegap dan gagah, Mata elangnya, hidung mancungnya, tubuh putihnya, rambut coklat, dia sangat cool tanpa senyuman tatanan rambutnya yang berantakan namun membuat semua wanita terjerit-jerit melihatnya, dia sosok pria yang susah ditebak karena sangat pendiam namun sikapnya sangat patuh pada orang tua dan sangat pedulian pada teman-teman terdekatnya.
Di belakangnya ada Niko dengan langkah pasti sambil memegang buku ditangannya tubuhnya yang manly membuat pesonanya tidak hilang meski dia orangnya serius dan kadang juga bodoh, matanya yang agak sipit hidungnya yang mancung, rahang nya yang kokoh, berambut hitam dan bertubuh eksotis.
Ada juga Martin yang selalu rapi dan terkesan kekinian, rambutnya ditatan serapi mungkin dengan poni khasnya sama seperti opa-opa korea, tubuhnya putih, matanya belo, hidungnya yang pas dan rambutnya pirang.
Terakhir Jee diantara semuanya dia yang paling terlihat sangat muda, ciri khas dari dirinya adalah rambutnya yang sering diikat, matanya sedang, hidung nya mancung, dan dia sangat mabis. Semua orang bisa mengenalnya bahwa dia anggota termuda dari ketiga temannya.
Semua orang menyebut mereka the next succes. Mereka memasuki kelasnya setelah diperhatikan oleh seisi kampus.
16.00
"Martin sejak kapan kau suka membaca buku?" Celoteh jee sambil memandangi martin heran. Martin hanya diam dan terus membaca buku. "Apa jangan-jangan ayah mempengaruhi mu?" Teriaknya bodoh
Niko menatap jee sinis "Siapa yang kau sebut ayah?" Gerutunya
Jee tersenyum bodoh "Siapa lagi kalau bukan kau?" Ujarnya cengengesan
Niko marah dan menatapi jee sinis "Aku tak takut" celoteh jee
Sementara dari jarak yang cukup jauh, darel sedang duduk memandangi alam dari blangkon terlihat begitu damai.
Kedua sahabatnya darel menatapi darel penuh kasihan "Apa rencana kita akan berjalan lancar?" Ujar niko
Jee tersenyum "Pastinya, Marsha itu kan teman rahel. Jadi mudah sekali kita memecahkan masalah ini"
Martin menutup bukunya "Tapi menurut penilaianku, rahel wanita keras kepala dan tidak mau mendengarkan siapapun."
Jee dan niko nampak berfikir "Benar" jawab niko cepat
"Lalu?" Tambah jee
Martin nampak berfikir "Kita harus menyusunnya sebaik mungkin, jee panggil pacarmu itu"
Jee mengambil ponsel di saku celananya. Lalu mengetikan sesuatu. "Halo?"
"Ya? Ada apa jee?"
"Apa kau ada waktu luang?"
"Ada, memangnya kenapa sayang?"
"Baiklah kalau begitu temui aku marsha! Lokasinya akan kukirim"
"Baiklah. Tunggu aku"
Tutt.. Tutt..
Jee mematikan sambungan telponnya "Apa tak papa jika marsha dibawa kesini?"
Martin dan niko saling bertatapan "Kau beritahu darel dulu" suruh martin
Jee menggaruk kepala belakangnya "Hehe, apa itu harus?"
"Cepat!" Perintah martin "Rencana gagal! Aku rasa darel saat ini masih sangat sensitif tentang rahel" celoteh jee
"Cepatlah" suruh martin sambil mendorong tubuh jee
Jee melangkahkan kakinya, dan menelan salivanya kuat-kuat. Seiring langkah kakinya bertambah ia semakin dekat dengan darel.
"Darel?"
"Hmm"
Jee menatap darel serius "Pacar ku akan kemari"
Darel terdiam keadaan semakin hening Sudah kuduga dia akan semakin diam "kenapa kau ijin padaku?"
"Hmm aku takut kau tak memperbolehkan ku, karena saat ini kau masih galau"
Darel menatapi jee "Anggap rumah sendiri" jawabnya
Jee tersenyum dalam hatinya ia sangat riang "Oh iya, dia itu teman rahel. Kami sengaja menyuruh pacar ku marsha kesini untuk bisa menyadarkan rahel. Kami melakukan itu karena kau adalah sahabat kami darel, kami sudah cukup melihat kau semakin terpuruk"
Martin datang dan memegangi bahu darel "Dia benar darel, gak akan baik jika kau terus-terusan seperti ini"
Niko juga datang "Jadi apa kau mau menerima bantuan dari sahabatmu ini?"
Darel tersenyum "Terimakasih. Setidaknya, sebagai lelaki aku harus berjuang kan?" Jawabnya dengan senyuman.
Senyuman itu membuat ketiga sahabatnya ini lega, meski senyuman yang berselang beberapa detik bahkan tidak sampai 5 detik.
"Syukurlah" tambah niko
Sesudah itu, tak lama marsha datang ke rumah dengan memakai rok mini dan kaos putih, jee langsung menyambutnya, dan mulai mengenalkan marsha pada darel.
"Aku marsha" seru nya sambil mengulurkan tangan
Darel menyambutnya "Darel"
Jee duduk disamping marsha, sementara martin dan niko duduk berdampingan. Jee menatapi marsha "Kamu kenal rahel?"
Marsha menatapi jee aneh, karena baru pertama kalinya ia mendengar jee menanyakan rahel. "Tentu, memang nya kenapa?"
"Darel adalah teman masa kecilnya, tapi kenapa rahel terlihat membenci darel? Apa sebelumnya dia pernah menceritakan tentang darel?" Tanya jee sambil memegangi tangan marsha
Marsha mengerutkan keningnya dan menggeleng cepat "Yang aku tahu dia itu tidak pernah bergaul dengan laki-laki. Aku juga tidak tahu kenapa alasannya, karena aku tidak begitu dekat dengannya. Coba tanya pada Arumi, dan Diana mereka berdua yang selalu bersama rahel tapi hati-hati jee mereka itu w*************a aku takut kau.." ucapnya tergantung
Jee tersenyum dan mengacak-acak rambut marsha pelan "Mana mungkin, kalau ada w*************a hebat ku disini?" Ucapnya sambil tersenyum nakal
Niko menggelengkan kepalanya "Dasar jee"
"Coba lihatkan foto arumi dan diana pada kami" tambah martin sambil membereskan poninya
Marsha pun membawa ponsel di tasnya "Tidak perlu, aku akan cari tahu sendiri" potong darel sambil meninggalkan semua temannya
Martin tersentak "Apa kau yakin? Aku akan mengantarmu!"
Darel berhenti dan mengangguk "Aku juga" tambah niko
Darel membalikan badannya "Tidak perlu"
"Kenapa?" Aneh niko
Martin mengambil nafas dalam-dalam "Disini kan ada Jee dan Marsha! Seperti di rumah ku, kau harus menjaga mereka berdua!" Tegas martin
"Ah males"
Jee tersenyum pada darel "Ajak dia darel, aku gak mau diganggu olehnya!"
Martin membelototi jee "Gak mungkin ganggu ko jee, lagian anak kecil mau apa?"
Niko menyerah "Oke deh, aku tunggu!"
Jee menutup wajahnya kesal "Kenapa sih?" Tanya marsha
Jee tersenyum "Engga! Aku cuma kasian aja sama dia lihatin kita yang couple" ujarnya dengan senyuman nakalnya lagi
Niko marah "Sori ya, saya disini sibuk baca buku. Jadi gak akan ada yang ganggu" jee dan marsha pun tersenyum
Darel melangkahkan kakinya "Ayo martin" ajaknya, Martin mengikuti darel.